TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 376


__ADS_3

HAPPY READING


Karena terus berjalan tanpa arah mereka pun kini tidak tau sedang berada dimana.


Beruntung sekarang ponsel mereka mendapatkan sinyal, dengan segera mereka menelepon Papa Adit.


Sementara itu Adit yang sejak tadi sudah tiba ditempat acara merasa khawatir kerana hingga orang terakhir ia tidak melihat kedua anak gadisnya.


Berkali-kali Adit berusaha menelpon Rania dan Ardina namun selalu diluar jangkauan.


Ia semakin khawatir saat menelepon Nayla ternyata mereka belum tiba dirumah.


"Aduh gadis nakal, liat aja ya nanti Papa hukum gak boleh lagi ikut acara party kalo kaya gini" gerutu Adit sambil terus melihat layar ponselnya berharap ada telp dari salah satu putrinya.


Sementara itu dirumah Nayla menjadi ikut khawatir saat Adit bilang ia tidak menemukan apapun kedua putrinya.


Radit yang berada didekat Nayla teus menenangkan Mamanya.


Ia pun mencoba menghubungi Rania dan Ardina namun tidak dapat terhubung.


Setelah berputar-putar mencari Ardina dan Rania akhirnya ponselnya berbunyi, Adit pun segera melihat siapa yang telah menghubunginya.


Ia pun langsung menerima panggilan masuk saat melihat nama Rania yang tertera disana.


"Hallo kamu dimana Nak?" tanya Radit begitu telp tersambung.


"Papa aku gak tau ini dimana, jemput Pah.....Rania sama Ardina takut" ucap Rania sambil menangis.


"Kamu tenang dulu sayang, sekarang coba kamu inget-ingat kamu ada di daerah mana biar papa gampang jemputnya" ucap Adit.


"Rania gak tau ini di mana, ini gelap banget Pah gak ada rumah" ucap Rania lagi dari seberang sana.


Samar-samar Adit mendengar suar Ardina yang sedang terisak.


Ia semakin khawatir akan keselamatan putrinya.


"Ran.. sekarang kamu Sherlock ya biar Papa Jemput" ucap Adit .


Tidak butuh waktu lama ia pun mendapatkan lokasi keberadaan putrinya.


Ia pun segera menuju ke titik yang tertera di ponselnya.


"Kalian jangan kemana-mana ya, Papa kesana sekarang" sebuah pesan singkat Adit kirim untuk putrinya.


"Iya Pah" balas Rania.


Dinginnya udara malam membuat Rania dan Ardina merasa kedinginan.


Setelah menunggu hampir satu jam dari jauh terlihat sorot lampu mobi, semakin lama semakin dekat dengan mereka.


"Berdoa aja Ar yang datang ini Papa" bisik Rania.


"Iya Ran" jawab Ardina.

__ADS_1


Setelah mobil benar-benar berhenti mereka tidak mau langsung masuk, mereka tidak ingin hal sama terulang lagi.


Aditpun menurunkan kaca mobilnya.


"Ran ayo masuk kok malah pada diem" ucap Adit dari dalam mobil.


"Papa nyalain dulu lampu depannya, Rania mau lihat wajah Papa" pinta Rania yang masih belum mau masuk kedalam mobil papa nya.


"Ini Papa, kalian kenapa sih?" tanya Adit sedikit kesal.


Rania dan Ardina pun mendekati mobil lalu berputar mendekati Adit.


"Coba Ardina pegang wajah Papa" pinta Ardina ragu.


"Kalian kenapa sih?" tanya Adit bingung.


"Boleh gak?" tanya Rania mestikan.


Akhirnya Aditpun mendekatkan wajahnya dan membiarkan kedua putrinya untuk menyentuhnya.


"Beneran ini Papa" bisik Rania dan Ardina pun mengangguk bertanda setuju dengan pendapat Rania.


Dengan segera mereka pun langsung masuk kedalam mobil namun keduanya duduk didepan.


Adit semakin heran dengan tingkah keduanya.


"Dibelakang satu, kenapa maunya sempit-sempitan sih" ucap Adit.


Akhirnya Adit pun mengalah, ia pun kembali menjalankan mobilnya menjauh dari tempat yang ia tau sedikit angker dan rawan.


Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada keduanya, namun ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Nayla yang mendapat kabar dari Adit jika keduanya sudah ketemu akhirnya dapat sedikit lega.


Begitu tiba dirumah barulah terlihat semuanya wajah keduanya terlihat pucat dan kotor, begitu juga dengan pakaian yang mereka kenakan begitu kotor.


"Kalian sebenarnya abis ngapain sih kok pada kotor semua?" tanya Nayla heran.


"Itu mah... tadi....." Rania sedikit ragu untuk bercerita.


"Ini mah tadi tuh kita dikerjain sama hantu, dia mirip sama papa" ucap Ardina.


Nayla semakin penasaran ia pun meminta Ardina untuk menceritakan semuanya.


"Lah kok bisa kaya gitu sih, masa iya kalian gak bisa bedain papa kalian yang asli sama yang jadi-jadian" ujar Nayla.


"Ih mama kalo kita tau juga gak mungkin kita sampai ke bawa ketempat itu" ucap Rania.


"Ya sudah sekarang kalian bersih-bersih abis itu istirahat" titah Nayla.


Rania dan Ardina pun langsung masuk kedalam kamar.


Setelah mandi dan ganti pakaian mereka pun langsung beristirahat.

__ADS_1


Pagi pun tiba kedua gadis itu belum juga mau bangun.


Nayla yang melihat tempat duduk di meja makan masih kosong langsung menuju kamar Ardina dan Rania.


"Ayo pada bangun, kalian gak sekolah, ini udah siang sayang" ucap Nayla sambil membangunkan kedua anak gadisnya yang masih setia dengan selimut nya.


"Mama badan Ran sakit bangt kaya abis di pukulin" ujar Rania dengan wajah yang sedikit pucat.


Naylapun langsung menempel tangannya didahi Rania.


"Kamu demam lagi Ran" ujar Nayla pelan.


"Ardina juga sama Mah, pada sakit ni badan" ucap Ardina.


Naylapun melakukan hal yang sama kepada Ardina.


"Astaghfirullah kalian berdua demam nak, haduh pasti ini gara-gara tadi malam" ucap Nayla.


"Ya sudah kalian sarapan dulu lalu minum obat" Naylapun langsung keluar dan mengambil sarapan untuk kedua putrinya.


"Loh buat siapa itu yank?" tanya Adit yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Ini loh yank, Ardina sama Rania demam, emangnya kamu nemuin mereka dimana?" tanya Nayla


"Mareka ada di dekat tempat pembuangan mobil sama motor yang bekas kecelakaan Mah, Papa juga bingung kenapa mereka bisa sampe disana" ujar Adit sambil menikmati sarapan paginya.


Nyala seakan tidak percaya dengan apa yang baru diucapkan oleh Adit.


"Assalamualaikum pagi mah, pagi Pah" Radit yang sudah rapi sedikit heran melihat kedua adiknya tidak ada ditempat biasa mereka duduk.


"Ni anak dua kemana mah?" tanya Radit.


"Mereka gak enak badan, nanti tolong ya bilangin samaa wali kelasnya" pinta Nayla.


Radit hanya mengangguk sambil menikmati makan paginya.


Setelah memasukkan bekalnya Raditpun pamit untuk berangkat kesekolah.


Setibanya disekolah ia singgah dahulu ke gedung sebelahnya tempat Rania dan Ardina bersekolah.


Setelah menemui wali kelas mereka ia pun segera kembali ke gedung tempat kelasnya berada.


Sementara itu Aa Iwan yang kebetulan lewat depan rumah Nayla merasa ada yang tidak beres, ia pun singgah sebentar hanya untuk sekedar memastikan.


"Assalamualaikum " ucao Aa dari luar pagar.


Nayla yang kebetulan sedang menjemur pakaian disamping rumahnya langsung menghampiri dan melihat siapa yang datang.


"Eh Aa kebetulan banget" ucap Nayla sambil membuka pagar.


Setelah membersihkan Aa Iwan masuk dan membuatkan minum Naylapun menceritakan kejadian yang dialami oleh kedua putrinya.


Aa pun langsung masuk kedalam kamar Rania dan Ardina, ia hanya tersenyum tipis melihat kedua gadis yang masih tidur dengan selimut yang masih melekat.

__ADS_1


__ADS_2