TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 406


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Dibawah sebuah pohon yang lumayan rindang,Rania duduk sambil membuka buku yang ia pinjam tadi, disebelahnya ada satu botol minuman kopi dingin dan juga beberapa bungkus makanan ringan.


Ia begitu asik membaca buku tanpa ia sadari sepasang mata sedang memperhatikannya.


Sosok kecil yang sudah lama menghilang entah kemana kini tiba-tiba saja muncul kembali.


Rania sedikit terkejut tiba-tiba saja ia merasa ada yang berdiri didepannya.


Hanya kain putih yang sedikit kotor dan tertiup angin yang ia lihat.


"Masa iya hantu siang-siang gini muncul sih" batin Rania malas untuk melihat siapa yang berdiri.


Pketak


Sebuah biji salak yang entah darimana datangnya tiba-tiba saja menimpa kepalanya.


"Kurang asem lu berani ya nimpuk gw" umpat Rania kesal lalu mengakat wajahnya.


"Lah bocil kemana aja loe udah lama ilang tiba-tiba muncul pake nimpuk lagi"ucap Rania seperti berbicara dengan manusia saja.


Beberapa orang yang melintas menatap heran kearah Rania.


Pria penguntit itu pun tersenyum saat kembali melihat suasana sepi.


Ia pun diam-diam mendekati Rania.


Namun saat tinggal beberapa meter lagi seorang wanita berlari mendekati Rania, hingga pria itu pun mengurungkan niatnya.


"Woiii Ran bukan masuk kelas malah jadi penunggu pohon beringin tua" teriak teman Rania yang bernama Mega.


"Dih ngapain loe ikutan kesini Meg?"tanya Rania


"Sama kaya loe lah,gw bt" ucapannya santai sambil mengambil cemilan Rania.


Setelah pulang kuliah Rania pun berniat kesalon untuk mengajak Ardina pulang bersama.


Seperti biasa sebelum sampai disalon banyak tempat yang ia singgahi


Begitu tiba disalon ternyata salon ditutup lebih cepat begitu juga dengan papanya Yeng ternyata sudah pulang bersama Ardina.


Rania pun berniat untuk segera pulang.


Ia pun melewati jalan lain yang lebih dekat dengan maksud agar lebih cepat tiba dirumah.


Suasana jalan yang sepi membuat Rania merasa sedikit takut.


Bukan hantu yang ia takutkan namun ia lebih takut dengan manusia seperti begal, jika hantu mungkin hanya menakut-nakuti saja paling parah ya kesurupan atau pingsan karena takut,tapi jika manusia bukan hanya menakut-nakuti bahkan nyawa pun bisa melayang, kira-kira itulah yang ada dalam pikiran Rania saat ini.


Ia ingat jika saat ini sedang rawan pembegalan walau pun ia bisa karate tapi jika sedang apes apapun bisa terjadi.


"Dih tumben banget sih ni jalan sepi,sampe hantu aja gak keliatan" Rania bermonolog sendiri sambil bersenandung apa saja yang ia bisa.


Tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dari tikungan kecil dan itu membuat Rania terkejut dan langsung mengerem mendadak.


"Woii kalo mau belok tuh liat-liat dulu kanapa" teriak Rania yang hampir saja terjatuh.


Mobil itu pun berhenti dan pengemudinya pun turun.


"Mam mam gw" batin Rania saat melihat seorang pria menghampirinya.


"Dasar cewe ceroboh, loe yang harusnya liat-liat ada mobil apa gak yang muncul dari gang" ucap pria itu tidak mau kalah.


"Dih yang oon itu siapa ya?" Pikir Rania


Rania baru menyadari jika pria dihadapannya ini adalah orang yang sama dengan orang yang selalu mencari gara-gara dengannya beberapa hari ini.


"Kenapa sih loe cari gara-gara terus ama gw?" Tanya Rania kesal.


Pria itu hanya tersenyum seperti mengejek Rania.


"Minggiran gak mobil loe,gw mau lewat"


"Lewat aja kalo muat" ucap sang pengendara mobil yang membuat Rania semakin esmoci.


"Mending kita berantem aja yuk, gw gak takut biarpun loe cowo" tantang Rania sambil turun dari motornya.


"Rania.....nama loe Rania kan?"

__ADS_1


Rania pun heran dari mana pria didepan ini tau namanya.


"Loe ngajakin gw berantem?boleh nanti ya gw kabarin lagi" ucap pria itu lalu menepuk bahu Rania


Lalu pria itu pun meninggalkan Rania yang masih heran dengan pria tadi.


Setelah mobil pria itu menjauh Rania pun segera menjalankan motornya menuju rumahnya yang tidak jauh lagi.


Begitu tiba dirumah Rania pun menceritakan apa yang ia alami pada keluarganya.


"Mungkin tuh cowok suka sama kamu Ran" ucap Papa Adit.


"Dih papa, menurut mama kamu itu harus hati-hati Ran,mama takut dia orang jahat" ucap Nayla


"Kalo Radit setuju sama mama, bisa jadi itu orang jahat" ucap Radit.


Akhirnya Aditpun memutuskan agar Radit mengantar dan menjemput Rania agar aman.


Rania sebenarnya tidak ingin diantar oleh Radit, bukan apa-apa masalahnya beberapa waktu lalu saat Radit mengantarnya begitu banyak teman-temanya yang minta untuk dikenalkan pada Abangnya itu.


Sementara itu Karin sudah mulai bisa masuk dalam kehidupan Radit sedikit demi sedikit.


Terkadang mereka mulai jalan bersama tanpa Rania atau Ardina.


Fahri yang kini sudah kembali ke Jakarta nampak begitu susah untuk kembali dekat dengan Rania karena gadis itu kembali menutup diri dan enggan dekat dengan pria.


Sifat Rania yang acuh membuat beberapa cowo penasaran untuk bisa dekat dengannya.


Sementara itu Ardina sudah kembali dekat dengan Rahmat.


"Ran....Rania" panggil seorang pria tampan setengah berlari menghampiri Rania.


"Berisik banget sih loe" ucap Rania kesal karena merasa terusik.


"Kita jalan yuk pulang nanti"


"Gak"


"Ayo lah Ran,kita kan dah lama gak jalan bareng"ucap Fahri yang rela jauh-jauh hanya untuk melihat Rania.


Karena merasa kesal Rania terus menolaknya, Fahri pun menarik paksa Rania agar mau ikut bersamanya.


Fahripun menjelaskan semuanya pada Rania apa yang terjadi beberapa tahun silam.


Sosok wanita itu pun kini kembali Rania lihat.


Rania pamit untuk ke toilet sebentar, didalam toilet itu Rania merasa begitu tidak nyaman ia seperti ada yang memperhatikannya.


Ia pun segera menuntaskan buang air kecil yang sejak tadi ia tahan.


Saat Rania membuka pintu sosok wanita yang Rania tahu mamanya Fahri berdiri didepan pintu, wajahnya nampak begitu sedih.


"Tante maaf ya bisa minggir sebentar gak, aku mau lewat" ucap Rania pada sosok itu.


Sesaat kemudian ia baru ingat jika ia tetap bisa lewat walaupun sosok itu berdiri tepat didepan pintu.


"Permisi tante" ucap Rania sambil sedikit berjalan cepat.


Begitu tiba di tempat Fahri melihat Rania yang seperti habis berlari jauh.


Ia pun menyodorkan segelas jus jeruk miliknya dan Rania pun langsung meminumnya hingga habis.


"Loe kaya abis dikejar apa sih Ran"


"Gw tadi liat anu..."jawab Rania tidak dapat meneruskan kata-katanya karena sosok itu kini berdiri dibelakang Fahri.


"Anu apa sih Ran, kalo ngomong itu yang jelas gw gak ngerti artinya anu loh" ucap Fahri lagi.


"Itu loh Ri mama loe kok kaya marah ya sama gw"ucap Rania ragu.


Fahri hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.


"Mungkin dia gak mau kalo kita pisah Ran, dia tau banget kalau gw sayang banget sama loe" ucap Fahri


"Mana bisa kaya gitu RI"


"Bisa Ran, coba liat aja kalo kita barengan lagi kaya dulu pasti dia gak akan terlihat marah atau sedih lagi" tutur Fahri


"Kok bisa begitu" tanya Rania masih tidak percaya

__ADS_1


"Karena cuma loe yang ngertiin gw Ran,loe juga bisa lihat sosok mama gw" jawab Fahri.


Rania pun diam, sejujurnya memang hingga saat ini ia masih sayang sama Fahri namun karena ia begitu egois ia pun tidak mau mengakuinya.


"Pulang yuk dah malem" ucap Rania mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu, mau gak loe balik lagi sama gw Ran" tolak Fahri sambil menarik tangan Rania


"Iya, gw mau"jawab Rania


Fahri pun langsung tersenyum bahagia.


Mereka pun segera pulang namun Rania heran saat berada didalam mobil Fahri ia melihat sosok pocong ada di jok belakang mobil Fahri.


"Loe kanapa Ran"


"He...he gak apa-apa kok" jawab Rania sambil nyengir.


"Loe liat yang di belakang ya,tenang aja dia gak akan ganggu kok" ucap Fahri santai.


"Loe tau?" tanya Rania


"Iya"


"Gak takut?"tanya Rania


"Gak lah" jawab Fahri sambil tersenyum.


Rahmat sore itu menjemput Ardina disalon, mereka pun jalan-jalan dulu sebelum akhirnya Rahmat mengantar Ardina pulang.


Begitu mereka tiba Rania sudah dirumah, ia begitu terkejut saat melihat Rahmat lagi.


Ia pun segera masuk dan bersembunyi didalam kamar dan tidak ingin keluar.


Saat Rahmat pamit pulang, tanpa sengaja Rania melihat Rahmat dari balkon kamarnya, kebetulan juga Rahmat seperti tau jika ada yang memperhatikannya ia pun melihat keatas.


Jantung Rania berdegup kencang,entah kenapa ia merasa takut saat melihat seringai Rahmat.


"Kenapa mukanya kaya orang yang suka cari gara-gara sama gw dikampus ya" pikir Rania sambil mencoba menyamakan wajah Rahmat yang baru saja ia lihat dengan cowok ngeselin di kampusnya.


Setelah memastikan Rahmat pulang, Rania pun langsung turun menemui Ardina yang hendak masuk kedalam kamarnya.


"Ar, tadi tuh beneran si Rahmat?"tangan Rania


Hmmm


"Kenapa Ran?" Ardian seperti menunggu jawaban Rania.


"Gak apa-apa kok" jawab Rania sambil meninggalkan Ardina yang masih heran dengan Rania.


Hampir setiap hari Rahmat menjemput Ardina disalon, biasanya dari salon mereka makan malam diluar dahulu baru ia mengantarkan Ardina pulang.


Namun hari ini Rahmat mengajak Ardina untuk singgah ke kemah nya.


Memang selama ini Ardina tidak pernah main kerumah Rahmat.


Mereka pun tiba dirumah Rahmat, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga, mereka pun masuk kedalam rumah.


Saat Ardina masuk ia merasa begitu tidak enak, namun karena tidak enak pada Rahmat jika ia minta pulang saat ini juga ia pun terpaksa bertahan sebentar.


Lama kelamaan Ardina semakin tidak nyaman apalagi saat ia meminta untuk diantar pulang namun Rahmat menolak dengan alasan masih ingin berduaan dengan Ardina.


"Kenapa Ar,kok kayaknya loe gak nyaman banget, loe takut ya sama gw" tanya Rahmat yang merasa jika Ardina takut kepadanya.


"Gak kok tapi gw udah ngantuk Mat" ucap Ardina berbohong.


Akhirnya Rahmat yang terlihat enggan mengantarkan Rania pulang dengan terpaksa mengalah.


Saat tiba dirumah mereka berpapasan dengan Rania yang baru saja habis membeli jajanan.


"Dari mana Ran?" tanya Ardina saat melihat motor Rania berhenti dibelakang mobil Rahmat.


"Abis jajan" jawab Rania singkat.


Tanpa sengaja mata Rania bersibobok dengan tatapan Rahmat yang terlihat aneh dimata Rania


Jantung Rania berdegup kencang tiba-tiba saja ia ingat dengan pria penguntitnya.


Ia pun bergegas masuk, namun saat akan melewati Rahmat "Miss you sayang RANIA" ucapnya pelan tepat ditelinga Rania.

__ADS_1


Rania pun langsung lari ke dalam rumah, ia merasa begitu seram melihat Rahmat yang sekarang


__ADS_2