TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 287


__ADS_3

Selamat Membaca


Malam itu Nayla tak pulang ke rumahnya, ia menginap dirumah Damra.


Semalaman Nayla menangis mengingat Adit yang hanya mengakuinya sebagai sepupu saja bukan istri.


"Apa salah gw Ra?"


"Dulu juga bukan gw yang ngajak di nikah, malah dia Yang culik gw buat dinikahin dikampungnya" ujar Nayla sambil menangis terisak.


"Nay udah dong nangisnya, liat tuh muka loe sah merah sama bengkak gara-gara nangis terus" Damra dengan sangat perlahan menghapus air mata yang bercampur keringat di wajah Nayla.


"Dia jahat Ra"


"Gw benci Adit"


"Gw mau cerei aja Ra, gak sanggup gw kalo terus sama dia Ra"


Dek...


Tiba-tiba hati Damra merasa sakit mendengar kata-kata cerai yang keluar dari mulut Nayla.


"Sekarang kamu istirahat dulu Nay, kita pikirin lagi semuanya besok saat hati dan pikiran loe tenang" ucap Damra lembut.


Nayla pun menurut ia lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur milik Damra.


Damra yang masih belum tidur masih dapat mendengar suara isak tangis Nayla yang tertahan.


Dalam diamnya Damrapun ikut menangis seakan ia ikut merasakan sakit hati yang Nayla rasakan.


"Kasian banget sih kamu Nay, maafin aku yang dulu ikut dukung Adit biar jadi sama kamu" ucap Damra dalam hati.


Mungkin karena kelelahan Nayla pun tertidur sambil meringkuk seperti anak bayi.


Damra yang belum tertidur pun langsung bangun dan menyelimuti Nayla.


"Liat ya Adit tunggu pembalasan gw karena loe udah nyakitin adik gw" Damra meremas kertas yang ia pegang karena kesal dengan Adit.


Sementara itu Adit yang pulang kerumah Nayla langsung masuk kedalam kamar ia yakin Nayla tak ada dirumah.


Rencananya besok ia akan menjemput Nayla di salon dan mengajaknya berbicara secara pribadi.


Pagi pun tiba Damra yang bangun terlebih dahulu langsung membuat sarapan untuk mereka berdua, ia yakin Nayla pasti akan sulit makan jika sedang seperti ini.


Setelah selesai masak Damra duduk di kursi sambil memikirkan cara membujuk Nayla nanti.


Nayla terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Matanya terasa sangat perih dan sedikit bengkak.


Nayla duduk disisi tempat tidur terbayang kembali dalam ingatanya saat Dina memanggil Adit dengan sebutan sayang dan Adit yang hanya diam saja saat tangan Dina merangkulnya.


Air matanya kembali mengalir


"Ya Allah apa aku kuat menjalani semua ini" Nayla menutup wajahnya dengan tangan sambil menahan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh Damra.


Damra langsung naik ke kamar dan ia terkejut saat melihat Nayla yang sedang menangis sesenggukan.


Damrapun menghampiri Nayla dan memeluknya.


"Sabar Nay kita liat aja apa maunya Adit, berani gak dia datang kesini" ucap Damra sambil mengelus bahu Nayla.


"iya"


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nayla.


"Aku sama Ryan selalu ada buat kamu Nay,apa pun keputusan kamu kita dukung" ucap Damra


Setelah membersihkan dirinya Damra mengajak Nayla untuk sarapan.


Seperti yang sudah diperkirakan oleh Damra sulit sekali membujuk Nayla untuk makan.


"Mending salonnya kita tutup aja Nay biar kamu tenang dulu baru kita buka lagi" ucap Damra.


"Jangan Ra mending buka aja biar aku ada kesibukan, kalo diem gini aku malah jadi inget trus" jawab Nayla.


Namun belum sempat Damra membuka salon nya Ryan datang dan mengajak mereka untuk pergi ke sebuah taman bermain ternama di Jakarta.


Tanpa menolak merekapun setuju.


Setelah hampir dua jam karena macet akhirnya mereka pun sampai.


Setelah membeli tiket merekapun masuk dan wahana pertama yang ingin Nayla naiki adalah Tornado.


Damra yang memang tak berani terpaksa ikut naik karena tak ingin Nayla sendirian.


Ryan hanya tersenyum melihat wajah Damra yang seketika itu juga langsung pucat saat melihat wahana itu.


"Nay...kayanya gw gak berani deh" ucap Damra ragu.


"Ahh Cemen kamu Ra masa gak berani cuma itu" tantang Nayla pada Damra.


"Ih kan loe lagi patah hati jadi wajar loe berani" sahut Damra.


"Gak juga Ra dari dulu aku berani kok" jawab Nayla tak mau kalah.


"Ihh udah sih kok jadi debat ayo abis ini gw traktir apa pun yang kalian minta gw beliin" ucap Ryan menyemangati dua wanita cantik yang sedang berdebat itu.


Akhirnya giliran mereka pun tiba.


Setelah hampir 5 menit mereka diputar-putar diatas dengan berbagai posisi akhirnya permainan pun selesai.


Damra terlihat sangat pucat tanpa menunggu Nayla ia langsung berlari mencari toilet.


"Ryan kejar tuh Damra tar dia bingung lagi" titah Nayla pada Ryan.

__ADS_1


"Trus kamu Gimana" tanya Ryan yang nampak bingung harus mengikuti Damra atau menemani Nayla


"Aku tunggu disini aja Yan janji gak akan kemana-mana,udah sana buruan tar Damra nanti keburu ilang" Nayla mendorong Ryan agar segera mencari Damra.


Nayla duduk disalah satu bangku yang ada di dekatnya sambil melihat-lihat sekitarnya.


"Kayanya abis ini naik kira-kira enak nih gw bisa teriak sepuas hati gw biar plong" Nayla berbicara sendiri tanpa ia sadari Damra dan Adit sudah berdiri dibelakangnya.


Nayla tersenyum sendiri saat membayangkan wajah Damra yang ketakutan.


"Maaf kk ku sayang aku cuma butuh pelampiasan biar hati aku plong" lanjut Nayla sambil tersenyum.


"Ohh jadi kamu mau ngerjain aku ya Nay,dasar adik nakal" ucap Damra dari belakang.


Nayla tersentak kaget saat melihat Damra dan Ryan sudah berdiri dibelakangnya sambil berkacak pinggang.


"He...he maaf kk Ra aku cuma mau naik kora-kora kok abis ini janji kita naik yang santai aja". Nayla menagkupkan kedua tangan seperti memohon.


"Kalian aja ya berdua,gw nyerah deh tar bisa lemes gw Nay" tolak Damra memelas.


"Ayo Yan mau kan temenin aku" pinta Nayla pada Ryan yang selalu ada disampingnya.


"Ayolah Nay apa sih yang gak buat kamu"ucap Ryan yang sebenarnya bukanlah sebuah gombalan namun Nayla menganggapnya sebuah gombalan.


Saat Nayla dan Ryan menaiki wahana kora-kora Damra dengan santai duduk di rumput tak jauh dari sana.


Aaaaaaa


Permainan yang berbentuk perahu itu berhasil membuat Nayla lega karena ia bisa berteriak sepuasnya.


Setelah puas bermain akhir merekapun keluar dari tempat bermain itu lalu menuju pantai sambil menikmati makan siang yang telat di salah satu restoran yang ada disana.


"Main air yuk" ajak Nayla pada kedua temannya.


"Gak bawa salin Nay" tolak Damra beralasan.


"Beli aja disana banyak yang jual baju kok" jawab Nayla tak mau kalah.


Setelah melalui perdebatan akhirnya Naylapun mengalah setelah makan mereka langsung pulang.


Sementara itu Adit nampak gelisah menunggu Nayla yang tak kunjung juga datang.


Dari tempat fitnes miliknya berkali-kali ia melihat kearah salon yang masih bertuliskan closed.


"Kemana sih kamu Nay kok belum juga pulang" ucap Adit sambil berdiri didepan ruko miliknya.


Berkali-kali Adit memastikan salon Damra sudah buka namun nihil salon itu masih terkunci.


Ryan sengaja tak langsung membawa. Nayla pulang karena ia mendapat pesan jika Adit sedang menunggu Nayla disana.


Mereka singgah dahulu di danau Duta sambil menikmati malam.


Nayla duduk di rumput sambil melempar sesuatu kedalam danau.


Tiba-tiba saja ia ingat kenangan bersama Adit waktu disini.


"Kenapa saat aku ingin menjadi yang terbaik buat kamu tapi kamu malah berubah"


"Aku tau aku hanya wanita biasa tak ada yang istimewa, hak kaya dia yang cantik dan seksi" racau Nayla sambil terus melemparkan apa saja yang ada didekatnya kedanau.


Ryan merasa bersalah karena telah membawa Nayla kedanau yang pastinya banyak menyimpan kenangan buat Nayla.


"Ayo kita pulang Nay" ajak Ryan


"Aku mau makan baso dulu Yan" pinta Nayla.


Damra dan Ryan saling tatap.


"Loe laper lagi Nay, tadikan dah makan". ucap Damra.


"Iya aku tuh kalo lagi gini maunya makan terus tau" jawab Nayla.


"Ya udah loe aja yang makan ya gw cuma nemenin,gw dah kenyang gak muat lagi" ucap Damra.


Akhirnya merekapun menuju kedai baso langganan Nayla.


Nayla pun langsung memesan satu porsi baso dan es campur.


Damra dan Ryan saling tatap seakan tak percaya jika Nayla akan menghabiskan semuanya.


"Alhamdulillah kenyang banget abis ini tidur deh"ucap Nayla


"udah kaya kebo dong" timpal Damra


"Enak aja disamain ama kebo" jawab Nayla sambil cemberut.


"Iya maaf" Damra tertawa sambil mengelus rambut Nayla.


Begitu tiba di salon nampak Adit sudah menunggu kedatangan Nayla.


"Nay..dari mana kok baru pulang jam segini" tanya Adit saat Nayla berjalan menuju pintu salon.


"Kamu siapa nanya kaya gitu?" tanya Nayla dengan nada ketus.


"Nay aku ini suami kamu wajar dong kalo aku tanya kaya gitu" ujar Adit.


"Gak nyadar diri, kamu itu kan cuma sepupu jadi gak ada hak buat nanya aku kemana" jawab Nayla.


"Bukan gitu Nay,kita harus bicara" Adit menarik lengan Nayla dengan sedikit kencang hingga Nayla sedikit tersungkur kedalam pelukan Adit.


"Adit apa-apa'an sih" sentak Nayla kesal.


"Nay ayo kita pulang terus bicara dirumah" pinta Adit.


"Gak mau" tolak Nayla

__ADS_1


"Tapi kita harus bicara Nay biar selesai, aku gak mau kamu punya pikiran buruk soal aku" paksa Adit.


"Adit..."


" Nay..."


" Kalo mau ngomong mendingan di dalem, malu tau di liat orang" teriak Damra dari depan pintu salon.


Naylapun langsung berlari masuk kedalam salon.


Adit yang hendak menyusul Nayla langsung dicegah oleh Ryan.


"Mending besok aja kalo mau ngomong sama Nayla"


"Dia tuh masih sakit hati ama loe" ucap Ryan.


"Itu gak yang kaya kalian lihat Yan" sangkal Adit.


"Siapapun juga bakal berpikir sama jika ad a diposisi Nayla"


"Istri mana yang gak sakit liat ada wanita lain gelayutan sama suaminya, coba loe pikir Dit, udah gitu loe bilang Nayla sepupu loe lagi" ucap Ryan.


Adit hanya diam, semua yang Ryan bilang memang benar pasti saat ini Nayla sangat kecewa pasa dirinya.


Akhirnya Adit pun pulang dengan langkah gontai ia berjalan menuju motornya yang terparkir di depan tempat fitnes miliknya.


Malam itu Adit tak dapat tidur dengan pulas semua kata-kata Ryan terus mengiang ditelinganya.


Ia berharap hari segera berganti pagi, namun detik demi detik terasa begitu lama.


Sementara itu di dalam kamar Damra, Nayla sudah memutuskan akan kembali kerumahnya dan Adit yang harus keluar dari rumahnya.


Saat Nayla sudah terlelap tiba-tiba saja ia merasa sangat haus, dengan mata yang masih sangat berat untuk dibuka ia pun duduk disisi tempat tidur lalu setelah dirasa kuat ia pun segera mencari botol yang biasa ada di samping tempat tidur namun karena ia tidak menemukannya akhirnya ia pun turun ke lantai dasar.


"Kok tumben sih aus banget, apa kerena tadi kebanyakan teriak ya" ucap Nayla sambil menuruni tangga namun saat ia hendak menuju dapur ia melihat ada wanita yang sedang duduk di bangku salon sambil menunduk.


"Haii kamu siapa, kok bisa masuk sih kan udah ditutup" tegur Nayla pada wanita yang sedang duduk itu.


" Mbak ditanya juga" ucap Nayla kesal.


"Astaghfirullah Al Azim" ucap Nayla tiba-tiba Nayla baru menyadari jika wanita yang sedang duduk itu bukanlah manusia.


Hik.....hik....


Tiba-tiba saja sosok itu menangis dan suara tangisannya itu membuat bulu kuduk Nayla berdiri.


"Haii kok kamu nangis sihh"


"Kalo mau nangis jangan disini aku aja lagi sedih" usir Nayla pada sosok itu.


Entahlah apa yang membuat Nayla mempunyai keberanian untuk berbicara pada mahluk itu.


Nayla pun segera membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang ia hafal agar mahluk itu segera pergi.


Setelah mahluk itu menghilang tiba-tiba saja Nayla tak lagi merasa haus.


Karena terlanjur berada dibawah Naylapun tetap meminum air dingin dan membawa satu botol lagi untuk didalam kamar.


Begitu tiba dikamar Nayla pun kembali melanjutkan tidurnya dan tak butuh waktu lama ia pun segera terlelap.


Pagi-pagi sekali Adit sudah rapi hedak kesalon Damra.


Ia khawatir jika lebih siang sedikit Nayla akan kembali menghindarnya.


Begitu tiba di salon Damra ia pun tak langsung masuk namun menunggu ditempat fitnes miliknya.


"Ra gw udah mikir semalem gw bakal balik kerumah Ra, itukan rumah gw bukan punya Adit" ucap Nayla sambil memakan roti.


"Loe yakin?" tanya Damra


"Iya aku yakin,aku harus kuat Ra"


"Aku harus bisa mandiri mulai sekarang jadi kalau emang aku harus pisah sama dia aku dah siap" jawab Nayla begitu yakin.


"Ya udah gw selalu dukung loe kok" ucap Damra memberi dukungan dan semangat buat Nayla.


Baru saja mereka menyelesaikan makan paginya tiba-tiba saja pintu depan sudah diketuk dengan sangat kencang.


"Ayo tebak siapa?" tanya Damra bukannya membuka pintu malah mengajak Nayla untuk main tebak-tebakan.


"Paling juga si Adit" jawab Nayla malas.


"Iya gw juga yakin tuh buaya darat" ucap Damra kesal.


"Udah Ra biarin aja aku mau liat dia mau apa kesini pagi-pagi, ganggu aja sih" gerutu Nayla sambil meneguk susu yang dibuatkan oleh Damra.


"Apa'an sih masih pagi udah namu aja?" tanya Damra saat membuka pintu dan mendapati Adit sudah berdiri sambil tersenyum.


"Senyum-senyum lagi, mending manis senyum loe" ucap Damra ketus.


Nayla sudah berniat untuk mengerjai Adit dulu sebelum akhirnya ia akan kembali kerumahnya nanti.


Adit yang langsung masuk dan menemui Nayla di dapur langsung berlutut di kaki Nayla.


Nayla yang memang berniat mengerjai. Adit sengaja mengacuhkan Adit.


Setiap ucapan Adit tak ada yang ia tanggapi.


Adit yang memang berniat untuk bicara pada Nayla tetap berusaha membujuk Nayla walaupun akhirnya nanti akan kembali diacuhkan oleh Nayla setidaknya ia sudah berusaha.


**Hallo semua sampai sini dulu ya up nya.


Semoga kalian gak bosen dengan Adit dan Nayla.


Jangan lupa beri dukungan buat Author caranya tap tanda Like, Vote dan juga komen ya.

__ADS_1


Salam Manis


Amelajj/Author**


__ADS_2