TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 155


__ADS_3

\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=


Setibanya dirumah Nayla langsung mengurung diri dikamarnya,beruntung dikamarnya masih terdapat banyak cemilan hingga ia tak begitu merasa kelaparan.


"Haii tv,udah lama kamu gak aku nyalain,mulai hari ini aku bakal nonton dikamar jadi sekarang kamu aku pakai"ucap Nayla pada sebuah TV yang memang kemarin-kemarin tidak pernah ia pakai.


Dengan santai ia pun menganti-ganti chanel namun tak ada satupun acara televisi yang menarik perhatiannya ia pun mematikan tvnya lalu menyetel musik.


Jam 8 malam perutnya merasa sangat lapar minta di isi,dengan perlahan Nayla mengintip kebawah ternyata Papa dan istri barunya sedang asik menonton tv di ruang keluarga.


Dengan perasaan kesal Naylapun naik kembali kekamarnya.


"Ngapain sih pake nonton disitu,aku kan jadi gak bisa keluar"gerutu Nayla kesal


Nayla melihat jendela kamarnya,ia pun ingat dulu jika ingin kabur ia selalu lewat jendela itu kamarnya yang terhubung dengan pohon mangga membuatnya mudah untuk turun.


Setelah mengantongi uang dan ponselnya Naylapun memulai aksinya,dengan sangat lihay ia memeluk pohon mangga dan mulai menuruninya melalui dahannya.


"Woii Nay..loe kan punya pintu,masa mau keluar rumah sendiri aja udah kaya maling" teriak Susi yang melihatnya turun dari pohon mangga sambil tertawa.


Kebetulan juga Adit sampai dirumah Nayla dan melihatnya yang baru turun dari pohon.


"Kamu ngapain yang di pohon mangga"tanya Adit pura-pura tak tahu kebiasaan Nayla.


Nayla pura-pura tak mendengar pertanyaan Adit.


"eh..udah balik loe,dasar nene lampir berisik loe"


Susi hanya tertawa mendengar perkataan Nayla.


"Eh...loe punya ibu tiri ya,hati-hati loe tar disiksa,kaya difilm itu ha...ha"Susi tertawa dengan sangat kencangnya hingga Naylapun sedikit kesal


"Harusnya mah emak loe nikah ama bokap gw aja ya,jadi gw gak mesti kaya gini"ucap Nayla sambil bercanda


"ogah gw mah saudara'an ama loe"jawab Susi lalu kembali masuk kedalam rumahnya sambil tertawa.


Nayla hanya cemberut mendengar ejekan Susi.


"Kamu mau kemana Yang,kenapa juga harus turun lewat pohon,kalo jatoh gimana?"tanya Adit


"Abis tadi dua orang itu ada dibawah lagi nonton tivi,aku males liat mereka"jawab Nayla


Adit hanya menarik nafas dalam,ia tahu saat ini Nayla masih belum bisa menerima kehadiran ibu barunya.


"Kamu mau kemana?"tanya Adit


"Mau beli makan,aku laper"jawab Nayla


"Ayo,aku juga belum makan"


Akhirnya merekapun kembali makan diluar.


"Nay...emang kamu belum bisa maafin Papa ya,kasian tau kayanya Papa tuh pengen banget kamu kaya dulu" ucap Adit dengan sangat hati-hati agar tidak merusak mood Nayla kembali down,namun sayang perkiraan Adit salah.


Wajah Nayla kembali berubah sedih,ia pun meletakan sendok dan garfu diatas piringnya lalu mendorong piringnya yang masih terdapat banyak nasi dan lauknya menjauh.


"Kok gak diabisin yang?"tanya Adit heran


"Aku udah kenyang Dit,udah cepet abisin makanan kamu abis itu kita pulang"


Adit merasa begitu bersalah,seharusnya ia membiarkan Nayla makan dulu sampai habis barulah membicarakan soal Papanya.

__ADS_1


"Kamu mau jajan apa lagi beib?"tanya Adit sambil menstarter motornya.


Nayla tak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya.


Entahlah Adit merasa sakit melihat Nayla seperti itu,dia juga bingung harus bagaimana,satu-satunya orang yang dapat mengendalikan dan menasehati Nayla hanyalah aa namun saat ini aa sedang pulang kampung karena istrinya sedang melahirkan anak keduanya dan entah kapan akan kembali.


Setelah mengantar Nayla,Adit langsung pamit keluar lagi namun tak lama kemudian ia kembali dengan membawa dua kotak martabak bangka,satu untuk Papa Nay dan istri barunya dan satu lagi untuk Nayla.


tok...tok...


"Nay...Nayla...buka pintunya dong "ucap Adit dari balik pintu


Dengan malas Nayla membuka pintu kamarnya.


"Apa Dit,aku mau tidur"ucap Nayla dengan malas


"Maaf ya yang aku bikin mood kamu ilang,ini aku beliin martabak bangka,coklatnya banyak loh"


Naylapun menyuruh Adit masuk dan meletakan martabaknya diatas meja.


"Dimakan dong yang mumpung masih anget"


Naylapun mengambil sepotong martabak lalu memakannya.


"Dit..untuk saat ini aku mohon jangan ngomongin soal bokap gw dulu ya"pinta Nayla


Kini wajah Nayla sudah lebih baik dari sebelumnya


Nayla menjilati sisa coklat yang masih menempel dijarinya,ia mengulum jarinya satu per satu seakan tak rela jika ada coklat yang masih tersisa disana.


"Nay...jangan kaya gitu sih jorok tau,kamu masih mau coklat,aku beliin ya"celetuk Adit yang melihat kelakuan Nayla


"justru enaknya disini Dit,kalo masih banyak mah gak enak dijilatin"jawab Nayla seenaknya


Hari berganti hari Nayla mulai terbiasa melihat Papa dan istri barunya,namun ia masih tak mau berbicara dengan Papanya.


Jika memang ada yang ingin disampaikan maka ia akan menyampaikannya lewat wa.


Nayla memang jarang berada dirumahnya,ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kosan.


Nayla memang sengaja tidak memberitahu Adit dan Papanya kalau ia kos,jika ia tidak pulang ia akan beralasan nginap dirumah temannya.


Hari ini Nayla memang sengaja pulang kerumahnya untuk mengambil beberapa barang pribadinya.


"Neng Nay tumben ke dapur,mau bikin apa"tanya Empok yang melihat Nayla sedang sibuk membuat sesuatu.


"Mau bikin jus Alpuket ama es susu coklat Pok"jawab Nayla sambil senyum


Saat ia hendak membuang sampah kulit alpukat ia melihat gayung yang biasa ada di kamar mandi telah pecah dan tak jauh dari tempat sampah ia melihat cobek yang biasa Mamanya dulu pakai telah terbelah dua.


"Pok..itu siapa yang mecahin cobek ama gayung?"tanya Nayla sedikit kesal


"emmn itu Nay...istri baru bapak yang mecahin,kalo gayung udah 3 hari pecahnya,kalo cobek baru kemarin"jawab Empok sedikit takut.


Soalnya Empok tahu itu adalah cobek kesayangannya Almarhumah Mama Nayla,walaupun ada blender dan masih ada 2 cobek yang ukurannya sama Mama Nayla dulu suka sekali memakai cobek itu.


Nayla menunduk untuk mengambil cobek itu,nampak ada air mata disudut matanya.


"Pok tolong bawain jus ama es susu aku kekamar ya"pinta Nayla


Ia pun membawa cobek yang sudah terbelah itu kekamarnya.

__ADS_1


Ia kembali menangis saat teringat kenangannya bersama Mamanya waktu pertama kali ia belajar mengulek sambal.


"Neng Nay besok kan ada acara disini,Nay gak apa-apa"tanya Empok ragu


"Iya pok,Nay udah tau kemaren Papa wa Nay bilang kalau besok ada acara orang batak sekalian mau ngenalin istrinya"jawab Nayla sedikit kesal


"Tapi Neng Nay gak apa -apa kan?"tanya Empok menyakinkan


"Gak apa-apa Pok,paling juga Nay gak akan keluar kamar"jawab Nayla sendu.


"Ya udah Neng Nay yang sabar ya,Empok mau masak dulu" Empok pun keluar dari kamar Nayla dan kembali melanjutkan pekerjaanya didapur.


Nayla memandang sedih pada cobek kesayangan Mamanya itu.


"Mah..apa semua kenangan Nay ama Mama harus ilang,kemarin Papa yang ilang,sekarang barang-barang peningalan Mama yang dia ambil,Nay gak rela Mah" Ucap Nayla lirih sambil mengelus cobek yang sudah terbelah dua.


Nayla membaringkan tubuhnya diatas kasur,ingatannya kembali pada saat Mamanya masih ada.


Masih terekam dengan jelas saat Mamanya mengajarinya mengulek cabe,bukannya ditekan dan diulek Nayla malah menumbuknya hingga cabe dan bawangpun berpindah tempat menjadi dilantai.


Nayla menyeka air matanya dengan kasar,besok ada Pertemuan keluarga Batak pasti mereka akan kembali menyudutkan Nayla.


"Besok aku harus pergi,aku gak mau ngeliat semua bou yang jahat itu" batin Nayla.


Nayla pun berniat untuk pergi dari rumah besok pagi,namun mau kemana ia masih belum tau,yang ada dalam pikirannya hanya menghindari orang-orang yang membuatnya jadi seperti ini.


Tak ingin ada barang-barang peninggalan Mamanya yang rusak lagi Naylapun segera turun kedapur namun langkahnya terhenti saat melewati meja makan.


Disana Nayla melihat ada segelas kopi hitam yang masih panas,ia pun menghampiri meja lalu melihat kekiri dan kekanan setelah dirasa aman ia pun meminum kopi itu perlahan hingga tersisa setengahnya.


Nayla meletakan kembali gelas kopi yang tadi ia minum lalu ia mengambil termos air panas lalu menuangkan air nya hingga kopi itu terlihat kembali penuh seperti semula namun Nayla sudah pastikan kopi itu tidak ada rasanya lagi.


Naylapun melanjutkan niatnya menuju dapur,disana ia mengambil beberapa peralatan dapur peningglan Mamanya lalu membawanya kekamar.


Ia pun memasukan benda-benda itu kedalam lemarinya yang sudah sebagian kosong lalu menguncinya.


Sementara itu dilantai bawah Papa Nayla merasa ada yang aneh dengan kopi yang ia minum


"Kenapa kopi ini gak ada rasanya ya"batin Papa Nay saat meneguk kopi yang dibuatkan oleh istri barunya


Ia pun memanggil sang istri untuk menanyakan berapa sendok kopi yang ia masukan hingga tak terasa.


Sementara itu Empok yang tadi melihat Nayla menuang air panas ke kopi Papanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Pagi-pagi sekali Nayla sudah keluar dari rumah,dan kini ia berada diterminal.


Nayla duduk disebuah bangku sambil berpikir mau kemana tiba-tiba matanya melihat bus jurusan kota kelahiran Mamanya kota "G" tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung naik dan duduk dibaris kedua dibelakang supir.


Saat ia sudah merasa nyaman ia pun mengaktifkan ponselnya ada banyak chat dari Papanya dan juga Adit namun tak satu pun ada yang ia balas.


Haii semua terima kasih sudah mampir diceritaku yang abal-abal ini,maklum authornya masih amatiran he...he


jangan lupa tetap dukung author ya seperti biasa tap tanda :


- Like


- Vote


-Rate dan juga


kritsarnya author tunggu

__ADS_1


salam Maniss


Amellajj/author


__ADS_2