TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 390


__ADS_3

HAPPY READING


Karena sering mengantar Rania dan Ardina pulang Fahripun jadi lebih dekat dengan keluarga Rania.


Tidak jarang pula ia menjemput mereka berdua.


Namun selama ini Rania dan Ardina tidak pernah tau dimana rumah Fahri, selalu saja ada alasan jika mereka berdua ingin berkunjung.


Hari Minggu siang Nayla masih sibuk di toko kuenya karena banyak pesanan.


Rania dan Ardina merasa begitu lapar, namun saat membuka tuding saji tidak ada makanan apa pun diatas meja.


Mereka pun berinisiatif untuk memasak, Rania membuka kulkas untuk melihat ada bahan apa saja yang kira-kira bisa di olah oleh mereka.


"Ada apa Ran disana?" tanya Ardina


"Cuma ada ayam tapi belum diapa-apain, di potong juga belum" ucap Rania


"Terus ada apa lagi selain ayam?" tanya Rania lagi.


"Ada Ikan sih udah di bumbuin lagi"


"Ya udah kita goreng ikan aja" ucap Ardina.


"Emang loe bisa masak ikan, kalo gw jujur aja ya gak bisa"


"Gw juga gak bisa, kan itu udah dikasih bumbu tinggal goreng aja" jawab Ardina sambil meyiapkan penggorengan lalu lalu ia pun menyalakan kompor .


Saat minyak sudah cukup panas Ardina pun memasukkan dua potong ikan.


Sambil menunggu ikan matang mereka pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


"udah gak sabar nih, wangi banget ya ikannya" ucap Rania sambil melihat kearah penggorengan.


bledukkkk


dan saat itu juga minyak panas mengenai tangan Rania.


Gadis itu pun langsung meringis menahan rasa perih di tangannya akibat kena percikan minyak panas.


Ardina yang panik langsung menantikan kompor dan menarik tangan Rania dan mengguyurnya dengan air kran.


"Aduh perih Ar..." ringis Rania sambil menip-niup tangannya.


Radit yang kebetulan baru pulang bermain langsung menghampiri kedua adiknya.


"kalian pada kenapa?" tanya nya saat melihat Rania meringis dan Ardina sibuk menip-niup tangan Rania.


Radit pun terkejut saat melihat tangan Rania yang memerah.


Ia pun segera mencari salep untuk luka bakar.

__ADS_1


"Emang lagi ngapain sih kok bisa kena minyak panas gini" tanyanys sambil menatap kedua adiknya itu.


Ardina pun menceritakan semuanya.


"Ya ampun kan bisa pesen aja kenapa harus masak sih"


"Kan kita mau mandiri aa dan belajar masak juga" jawab Rania


"Ya sudah kalian mau makan apa biar aa pesen aja" Radit pun mengeluarkan ponselnya lalu memesan beberapa makanan.


Sementara itu Nayla yang baru saja bisa istirahat baru ingat jika ia tidak meninggalkan makanan untuk anak-anaknya yang saat ini sedang berada dirumah.


Ia pun langsung menelpon Ardina.


Ia sedikit panik saat Ardina bilang jika Rania kena cipratan minyak panas saat sedang menggoreng ikan.


Karena khawatir ia pun langsung pulang, sebelum tiba di rumah ia mampir sebentar ke warung nasi Padang untuk membeli lauk untuk makan.


Saat tiba dirumah Nayla langsung mencari Rania.


Nayla sedikit terkejut saat melihat luka di tangan Rania sudah menggelembung dan berair.


"Sayang kamu lagi apa sih kok sampe kena minya gini" tanya Nayla


"Kita itu tadi laper mah, tapi gak ada apa-apa cuma ada ikan aja yang udah dikasih bumbu jadi itu aja yang kita goreng, tapi pas mau dibalik malah meletup" ucap Rania menjelaskan.


Naylapun merasa bersalah karena terburu-buru sampai tidak membuatkan lauk untuk mereka makan.


"Gak apa-apa sayang itu tandanya cewe sejati, cewe itu kalo gak ada luka bekas cipratan minyak belum keren" ucap Adit sambil tersenyum.


"Dih Papa kok gitu" tanya Ardina.


Adit hanya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya.


Sedangkan Nayla yang sindir oleh suaminya berpura-pura tidak mendengar.


Rencananya hari Sabtu ini Fahri mengajak Rania dan Ardina bermain kerumah Neneknya di daerah Tangerang


Awalnya Nayla tidak mengijinkan namun karena Radit juga ikut akhirnya ia pun membolehkan kedua putrinya untuk ikut.


Pagi sekitar pukul 7 Fahri datang untuk menjemput mereka bertiga.


Begitu banyak nasehat yang Nayla ucapkan untuk ketiga anaknya terutama kedua anak gadis.


Sepanjang perjalanan mereka ngobrol apa saja namun saat hampir tiba ketiganya pun tertidur dan terbangun saat mereka sudah sampai.


Rania yang masih sangat mengantuk dengan mata yang masih sedikit terpejam ia pun memaksakan turun.


Sambil menunggu yang lain mengeluarkan barang-barang dari atas mobil ia pun duduk di bangku yang ada diteras depan.


Saat matanya setelah terpejam saat itulah ia melihat ada sosok wanita yang sedang duduk di ayunan yang terbuat dari ban bekas.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum kearahnya.


Rania pun beberapa kali mengucek matanya seakan belum yakin dengan penglihatan nya.


"Loe kenapa, kelilipan ya" tanya Ardina yang ingin membantu meniup Maya Rania.


"Gak, cuma matabgw kaya burem aja" jawab Rania..


"ayo neng pada masuk" tiba-tiba saja seorang nenek-nenek datang dari samping rumah.


"Teman-teman kenalin ini nenek gw" ucap Fahri mengenalkan neneknya pada mereka bertiga.


Mereka pun masuk kedalam rumah.


Lagi -lagi Rania melihat sosok wanita yang tadi bermain ayunan melintas didekat mereka berkunjung seakan ingin berkenalan.


Radit yang mengetahui jika Rania melihat sesuatu langsung memegang tangan adiknya


Rania pun terkejut saat Radit menyentuhnya.


"Jangan terlalu diliatin Ran, dia penghuni disini" bisik Radit.


Rania pun hanya mengangguk tanda ia faham apa yang dikatakan oleh Kakanya.


Sementara itu Ardina hanya diam menyimak percakapan mereka berdua.


"Kok pada melamun, ayo dimakan kue nya" ucap neneknya Fahri sambil tersenyum.


Mereka pun langsung mencoba beberapa cemilan yang ada diatas meja.


Rania yang memang pada dasarnya suka ingin tahu, apalagi dengan hal yang baru ia lihat pasti saja rasa penasarannya muncul.


"Itu pohon apa Ri, kok buahnya begitu" tanya Rania sambil menunjuk ke arah pohon kecapi yang ada di depan rumah Neneknya Fahri.


"Itu pohon kecapi namanya, buahnya asem manis gitu kalo udah matang" ucap Fahri menjelaskan.


Rania dan Ardina hanya ber oh saja menanggapi perkataan Fahri.


Karena penasaran Raniapun menghampiri pohon besar itu, ia pun melihat keatas pohon bermaksud ingin melihat seperti apa buah kecapi itu.


Namun saat ia melihat ke atas lagi-lagi ia melihat sosok itu kini sedang duduk disalah satu ranting pohon yang terbilang cukup rimbun.


Ia pun setengah berlari kembali masuk kedalam rumah.


Radit yang memang sejak tadi memperhatikan Rania hanya tersenyum saja saat tau jika adiknya takut juga melihat sosok itu.


"Masa iya siang-siang begini ada itu sih" ucap Rania saat duduk disebelah Ardina.


"Itu apa sih?" tanya Ardina pura-pura tidak tau.


"Ya itulah pokok nya" ucap Rania sedikit kesal.

__ADS_1


Radit dan Fahri hanya tersenyum melihat Rania yang sedang kesal karena terus saja melihat sosok itu.


__ADS_2