
Selamat Membaca
Sore itu pulang kerja Ryan langsung menghampiri Nayla disalon.
"Assalamualaikum " Ryan langsung masuk dan melihat Nayla sedang duduk dengan mengenakan kain sarung.
Ryan berusaha menahan senyumnya melihat Nayla.
"Jangan di ketawain dong Yan" protes Nayla yang tau jika saat ini kekasih nya itu sedang menertawakan dirinya.
"Maaf sayang abis kamu lucu pake sarung kaya gitu" ucap Ryan yang langsung duduk di samping Nayla.
"Iya soalnya baju aku basah, padahal seinget aku tuh gak mau pipis tau-tau dia ngucur begitu aja" ucap Nayla tanpa ditanya yang langsung tau kemana arah pembicaraan Ryan.
"Ya udah gak apa-apa sayang"
"Damra mana?" tanya Ryan sambil mengedarkan pandangannya mencari Damra.
"Lagi kerumah aku ambil baju" jawab Nayla.
"Oh ya udah abis ini kamu sekalian siap-siap sayang kita ke dokter kandungan" ucap Ryan.
"Ehh besok Yan jadwal nya" tolak Nayla.
"Hari ini sayang, kalo gak percaya liat aja dibuku"
Nayla yang penasaran akhirnya melihat buku jadwal kunjungan dan ternyata Ryan benar.
Bagitu Damra tiba Ryan langsung pamit pulang untuk berganti pakaian dan mengambil mobil.
Tak sampai satu jam Ryan pun sampai dan langsung mengajak Nayla dan Damra berangkat.
Setibanya di rumah sakit meraka langsung menuju ke poli kandungan sementara Ryan mengurus di pendaftaran.
"Ra masih lama kayanya" Nayla mulai merasa ada yg aneh tapi ia tak tau apa.
"Loe kenapa sih Nay kayanya gelisah" tanya Damra yang melihat Nayla serba salah.
"Gak tau Ra kayanya ada yang liatin aku" ucap Nayla sambil matanya mencari tau sosok apa yg sedang memperhatikan dirinya.
Dan benar saja di sudut rumah sakit ia nelihat sosok ibu-ibu itu lagi sedang melihat kearah nya.
Nayla langsung memalingkan wajahnya melihat kearah lain.
Kebetulan Ryan datang "Kamu kenapa sayang" tanya nya heran.
"Enggak apa-apa" balas Nayla
Tiba-tiba Nayla merasa lapar ia pun meminta pada Ryan dicarikan bakwan yang berbentuk bulat dan masih panas.
Ryan yang mendengar permintaan Nayla sedikit bingung.
"Sayang kan masa ngidamnya dah lewat"
"Masa iya kamu ngidam lagi sayang" ucap Ryan.
"Bakwan sih banyak yang jual tapi kalo bentuknya harus bulet ..."Ryan tak lagi melanjutkan ucapannya ia tukut jika mood Nayla akan memburuk jika ia menolaknya.
__ADS_1
Damrapun yang mendengar permintaan Nayla sedikit heran.
"Gw aja yg beli Yan,tadi kayanya pas didepan ada tukang gorengan" Damra langsung berdiri dan tanpa mendengar jawaban Ryan langsung berjalan keluar.
Begitu tiba ditukang gorengan Damra langsung meminta di gorengkan bakwan dengan bentuk bulat dan beruntung saja si penjual bersedia mengorengkan bakwan dengan bentuk yang diminta.
Setelah matang Damra langsung membayar dengan sedikit lebih mahal lalu kembali masuk menemui Nayla.
Wajah Nayla berbinar senang melihat ksntong plastik yang Damra bawa.
Damra langsung menyerahkan bungkusan yang ia bawa pada Nayla.
"Makasih aunty Damra" ucap Nayla bahagia.
Setelah memakan dua buah bakwan susterpun memanggil Nayla.
Dengan ditemani Ryan mereka pun langsung masuk.
Setelah menceritakan semua keluhan yang dirasakan, dokter pun menyuruh Nayla untuk berbaring dan akan dilakukan USG.
dokter kandungan yang bernama Heri sedikit mengerutkan dahinya.
"Sesuai dengan perkiraan saya, itu yang tadi ibu bilang air ketuban ibu bocor, saran saya lebih baik kita langsung melakukan operasi Caesar" dokter Heri langsung duduk dan menunggu jawaban dari Nayla.
"Memangnya itu berpengaruh pada bayi saya dokter?" tanya Ryan sedikit khawatir.
"Kalau air ketuban terus-menerus keluar akan berbahaya buat bayi pak, saran saya segera operasi lebih aman" ucap sang dokter.
"Saya setuju dokter, lakukan yang menurut dokter terbaik buat anak sama istri saya" ucap Ryan.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya Nayla pun segera dibawa ke sebuah ruangan yang disana hanya ada dirinya sendiri.
Hawa ruangan terasa begitu dingin apa lagi ia hanya menggunakan selembar kain tipis berwarna hijau.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari salah satu pintu dan langsung mendorong tempat tidurnya memasuki sebuah ruangan.
Didalam ruangan sudah menunggu dokter Heri dan beberapa orang yang tak ia kenal.
Seorang perawat langsung memasangkan
selang oksigen dan beberapa alat lainnya.
Akupun disuruh duduk sambil menunduk tiba-tiba aku merasakan sakit seperti ditusuk ditulang belakang dan ternyata seorang dokter sedang menyuntikan obat bius seketika itu semua saraf terasa kaku.
Seketika itu juga detak jantung ku berdetak begitu cepat dan dokter pun menyuruh ku untuk tarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
dokter pun berkata menyemangati ku"Harus kuat ya Bu jangan panik sebentar lagi ibu akan bertemu dengan anak ibu" yang ucap sang dokter.
Saat itu kematian seakan mendekatiku suara monitor detak jantung yang setiap sekian detik berbunyi "tiit" membuat suasana semakin terasa mencekam.
Saat aku merasa sesuatu menyayat perutku tiba-tiba aku merasakan gelap, masih dapat kulihat dari pantulan lampu operasi yang terbuat dari stainless saat pisau operasi merobek perutku dan darah mengalir lalu para dokter itu pun mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku.
Entah apa lagi yang mereka lakukan saat itu aku hanya merasakan seperti diguncang dan itu membuat aku mual dan akhirnya aku pun muntah.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi seketika itu juga air mataku mengalir bahagia.
"dokter itu anak saya?" tanya ku pada seorang dokter yang menggendong bayi yang masih terdapat banyak darah
__ADS_1
"Sabar ya Bu dibersihin dulu bayinya" ucap dokter itu sambil tersenyum.
"dokter mau liat sebentar aja" pintaku
dokter itu pun menghampiri ku sambil memperlihatkan anakku yang ternyata laki-laki.
Sekilas kulihat wajahnya sangat mirip dengan Adit hingga tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja.
Sementara itu Ryan langsung memberitahu Adit soal Nayla yang akan melahirkan.
Ia tak mau jika Adit akan menyalahkannya toh biar bagaimanapun juga Adit berhak tau jika putranya telah lahir.
Adit yang mendapat kabar jika Nayla melahirkan langsung menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Ryan.
"Gimana Yan, apa anak gw dah lahir?" tanya Adit dengan nafas yang tersengal-sengal karena ia tadi jalan dengan sangat tergesa-gesa.
"Udah Dit, anak loe cowo selamat ya" Ryan langsung mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Adit.
"Dimana anak gw, gw mau azanin dulu" tanya Adit begitu bersemangat.
Bukan nya Ryan tak mau azan diteliga putra Adit namun ia sadar jika Adit yang lebih berhak.
Adit langsung mengejar seorang suster yang sedang menggendong seorang bayi
"Suster maaf tunggu sebentar" teriak Adit sambil berlari.
Suster itu pun berhenti"Ada perlu apa ya Pak?" tanya suster.
"Apa ini anak dari Nayla?" tanya Adit memastikan.
"Iya betul Pak, ini mau saya bawa keruangan bayi" ucap sang suster.
"Boleh saya azanin dulu sus sebentar" pinta Adit.
Suster itu pun langsung memberikan bayi yang ia gendong pada Adit
Dengan sigap Adit langsung azan diteliga putranya.
Tanpa ia sadari air matanya mengalir ditatapnya wajah anaknya lalu ia pun mecium pipi lalu kening putranya lalu memberikannya kembali pada suster yang sudah menunggunya.
Adit lalu menghampiri Ryan yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya.
"Terimakasih ya udah ngasih tau gw" ucap Adit lalu duduk disalah satu kursi.
"Sama-sama"jawab Ryan lalu ikut duduk disamping Adit.
Entah apa yang mereka bicarakan namun yang pasti terlihat sangat akrab.
Hallo semua aku up lagi.
Terima kasih buat para reader yang selalu nyemangatin Aku.
Jangan lupa ya tetap kasih aku dukungan dengan cara Like,Rate, komen nya.
Salam Manis
Amellajj/Author
__ADS_1