TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 421


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Semakin hari Rania semakin tidak suka dengan Fahri yang suka sekali menyuruh seenaknya dia saja.


Kebetulan hari Sabtu ini ada acara ulang tahun perusahaan dan masing-masing bagian akan jalan-jalan ketempat yang berbeda-beda, bagian Rania kebetulan mereka akan ada acara menginap disebuah Villa dikawasan Bandung.


Fahri yang kebetulan ikut dengan bagian Rania sudah menyusun rencana untuk Rania, dengan dibantu oleh teman-temannya.


Memang selama ini ia sengaja membuat Rania kesal,ia ingin tau bagaimana sikap Rania jika bersikap sombong.


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba,bagian Rania yang memang hanya terdiri dari 6 orang saja mereka pergi dengan menggunakan dua mobil minibus milik perusahaan.


Karena memang sudah diatur Rania pun satu mobil dengan Fahri.


Ada rasa kesal saat Rania harus duduk berdampingan dengan Fahri.


Sepanjang perjalanan Rania hanya memejamkan mata pura-pura tidur.


"Gak usah pura-pura tidur sayang, mending kita ngobrol aja"bisik Fahri tepat ditelinga Rania


"Bapak gak salah ngomong kan"tanya Rania sambil menyoppot salah satu aerphonenya.


"Ini bukan lagi dikantor,jadi gak usah manggil bapak,panggil sayang aja" ucap Fahri membuat Rania memalingkan wajahnya.


"Makin suka kalau lagi liat kamu begini Ran" ucap Fahri menggoda Rania.


Selama perjalanan Fahri terus saja menggoda Rania hingga Rania merasa kesal belum lagi teman-temannya yang seakan mendukung Fahri


Setelah empat jam perjalanan akhirnya mereka pun tiba di Villa yang telah mereka sewa.


Setelah membagi kamar mereka pun langsung beristirahat sejenak.


Rania yang merasa bosan akhirnya memutuskan untuk duduk diteras villa sambil menikmati sejuknya udara kota Bandung.


Fahri yang kebetulan sedang ingin duduk santai sambil menikmati satu cangkir kopi secara tidak sengaja melihat Rania yang sedang duduk sambil menikmati udara sejuk.


"Sayang kamu kok gak istirahat"ucap Fahri sambil duduk disebelah Rania.


Rania menatap heran kearah Fahri


"Bapak kenapa?kok tumben manggil sayang segala?"ucap Rania


"Ish jangan manggil bapaklah ini kan bukan lagi jam kerja sayang"ucap Fahri sambil menyeruput kopinya yang hampir dingin.


Awalnya memang canggung tapi lama kelamaan Fahri dapat mencairkan suasana hingga mereka pun nampak asik ngobrol berdua hingga tidak terasa hari pun sudah sore.


Satu persatu meter mulai bangun dan ikut bergabung bersama mereka.


"Kayanya ada yang sudah baikan ni, jangan lupa ya makan-makannya" ucap Alpian menggoda Rania dan juga bosnya.


"Ran kamu udah maafin aku kan? tanya Fahri sambil menatap Rania.


"Sebenarnya sih masih mau marah,tapi kadang gw kangen dijajanin sama loe bos"ucap Rania sambil bercanda.


"Masa cuma kangen mau dijajanin aja Ran"


"Lah terus maunya apa? tanya Rania bingung.


"Ya kangen pengen liat muka gw yang ganteng gitu" ucap Fahri sambil tersenyum.


"Dih sejak kapan loe jadi narsis"ucap Rania


"Sejak gw makin sayang sama loe Ran"jawab Fahri sedikit gombal.


"Ri...gw mau dong nikah secepatnya ama Lo" ucap Rania malu-malu.


"Loe lagi gak kesambet kan yank"tanya Fahri yang merasa heran karena tiba-tiba saja Rania memintanya untuk segera dinikahi.


"Ya udah,pulang dari sini ya kita nikah"jawab Fahri bergurau.


Rania hanya tersenyum saja mendengar perkataan Fahri.


Alhamdulillah acara di Villa berjalan lancar dan tidak ada hal aneh yang terjadi hingga mereka pulang kembali dirumah masing-masing.


Keesokan harinya saat pulang kerja Fahri mengajak Rania untuk makan diluar,tanpa menolak Rania pun langsung setuju.


Saat pulang pun tiba, Fahri yang sudah bertekad untuk segera melamar Rania, rencananya malam ini ia akan mengutarakan maksud hati nya.


Fahri pun memberi sebuah helm yang langsung dipakai oleh Rania.


"kamu mau makan apa yang?"


"makan bakso Wonogiri aja ya,kayanya enak "


"baik nyonya"jawab Fahri dan mereka pun melaju menuju warung bakso langganan mereka.


Fahri hanya memperhatikan Rania yang sedang menuang sambal kedalam mangkok baksonya


"Ran udah jangan banyak-banyak tar sakit perut"Fahri menahan tangan Rania yang hendak menambahkan sambal lagi


"iya..."jawabnya


"tumben langsung nurut,coba kaya gini teruss"ucap Fahri saat melihat Rania tidak jadi menuangkan sambal.


Rania pun tersenyum namun terpaksa.

__ADS_1


Merekapun makan dengan hening tak ada satupun yang berbicara hanya Fahri saja yang sesekali melihat kearah rania yang berkeringat karena kepedasan.


"Ran...kamu serius minta aku nikahin"tanya Fahri tiba-tiba


Rania yang sedang menyeruput es jeruknya pun langsung tersendak


uhuukkk


uhhuuuk


"pelan-pelan yang"Fahri pun langsung berpindah tempat duduk disamping Rania dan langsung mengelus-elus punggungnya.


"kenapa?kok kaget sih yang,kan kemaren kamu yang minta aku buru-buru nikahin kamu"


"emmm iya sih,tapi kan itu kemaren Ri,kalo sekarang gak jadi deh"jawab Rania


"pas banget ama perkiraan aku Ran"jawab Fahri lalu mengeluarkan sebatang rokok dan menyelipkannya diantara bibirnya


"jangan ngerokok lagi dong RI,kan kamu tau aku gak kuat asep rokok"pinta Rania dan Fahri pun memasukan lagi rokoknya.


"Rania sayang dengerin ya,kayanya aku harus mulai tegas ama kamu,aku rasa aku udah cukup ngasih kamu kebebasan" ucap Fahri lalu ia menjeda sebentar ucapannya


"Ran..sekarang aku mau kita seriusss,aku harap kamu gak lupa sama janji kamu waktu dirumahsakit"ucap Fahri


Rania tak bisa berkata-kata,ia menundukan wajahnya.


"iya..aku tau Ri"jawab Rania pelan


"hari minggu aku mau ngelamar kamu Ran,besok om sama tante aku datang dari kampung"ucap Fahri


"apa?mau ngelamar?"ulang Rania seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan


"he'em.."angguk Fahri sambil meneguk es kopinya


"Fahri...kamu kok gak nanya dulu sih ama aku soal itu"ucap Rania kesal


"Dihhh kenapa jadi aku yang salah,kan kamu sendiri yang kemaren ninta aku nikahin buru-buru"jawab Fahri sambil tertawa melihat Rania yang kebingungan


"ihh itukan aku ngomongnya setengah sadar Ri"


"justru itu yang,kalo kamu pas sadar kan selalu gak mau kalo aku ajak nikah,nah numpung kamu sendiri yang minta makanya aku kabulin pernintaan kamu"


Rania benar-benar tak dapat berkata-kata lagi,ia bingung harus gimana.


Fahri tersenyum puas nelihat Rania yang kebingungan.


"ya udah gak apa-apa lamaran dulu aja ya tapi nikahnya nanti-nanti ya RI jangan taun ini"pinta Rania


"jutru aku maunya 3 bulan setelah lamaran kita langsung nikah yang"


"kalau nungguin kamu siap mah kapan tau Ran"


"Ri.....please dong ..."


"udah lah Ran gak usah bahas itu kita serahin aja sama orang tua kita bagus nya gimana,yang penting hari minggu ini aku mau ngelamar kamu ok..."


"udah malem ayo aku anterin kamu pulang"


Setelah selesai membayar Fahri pun segera bersiap-siap diatas Motornya.


Rania menyusul Fahri dengan langkah gontai,saat ini ia sedang bingung entahlah ia harus senang atau bagaimana karena Fahri akan segera melamarnya


"Fahri...."


"Fahri..."


Rania merengek seperti anak kecil namun Fahri pura-pura tak mendengarnya.


"Fahri...aku belum mau nikah"ucap Rania pelan sambil naik keatas motor Fahri.


Fahri yang mendengar ucapan Rania hanya tersenyum dan pura-pura tak mendengar,ia pun mulai malajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah Rania yang lumayan jauh.


Keesokan harinya sebelum berangkat kerja Rania menghampiri Papanya untuk bilang kalau Fahri serta om dan tantenya akan datang pada hari Minggu.


Tanpa Rania duga ternyata sang Papa sudah tau karena Fahri sudah menelfon Papanya Rania terlebih dahulu.


"kamu sendiri gimana Ran,apa sudah siap untuk berumah tangga"


Rania terdiam sejenak


"Ran...Rania ditanya malah bengong"tegur Papanya


"Ran masih bingung Pah"jawab Rania


"ya udah kalo kamu belum siap ditunda aja dulu"


"emm tunangan aja dulu Pah,nikahnya nanti dirundingin lagi gimana pah" usul Rania


"tapi Fahri bilang sama Papa 3 bulan setelah lamaran dia maunya,gimana?"


"Pah...jangan lamaran dulu tapi tunangan aja"Rania mulai merengek


"mending kamu omongin lagi sama Fahri yah Ran"


"udah ah..Ran mau berangkat"akhirnya Rania berangkat kerja dengan wajah kurang semangat.

__ADS_1


Sementara itu di ruangan kerjanya Fahri nampak tersenyum bahagia karena ia melihat Rania yang selalu uring-uringan, dan ia tau pasti apa penyebabnya.


Dreett


suara notifikasi ponsel Fahri,ia pun langsung membuka ponselnya dan melihat ada chat dari Rania ia pun senyum-senyum membacanya.


"kenapa loe Ri"tanya Agus penasaran dengan isi chat yang dikirim Rania


"cuma diajakin ketemuan aja girang amat Ri"ejek Agus


"ettt loe gak tau kan apa penyebab dia ngajakin ketemuan" tanya Fahri


"apa emangnya?"tanya temannya yang penasaran


"gw yakin dia pasti mau bahas soal lamaran gw besok"ucap Fahri yang berhasil membuat keempat sahabatnya saling tatap seakan tak percaya.


"loe yakin mau ngelamar tuh cewe"tanya salah seorang temannya menyakinkan Fahri


"iya,emang kenapa?"tanya Fahri


"gak kenapa-napa sih,emang sih dia asik anaknya tapi kan nanja banget Ri"timpal Alpian


"gak masalah buat gw,ni aja dia masih nolak mau gw ajak nikah"


"lah...kok nolak?"tanya teman-temannya Fahri yang kebetulan hari itu sedang berkumpul diruangan Fahri dan mereka pun semakin penasaran dengan Rania


"katanya belum siap,tapi gw paksa aja ama gw bohongin gw bilang aja om sama tante gw udah disini"jelas Fahri


Sorenya Fahri sudah menunggu Rania didepan pintu utama,mereka pun mencari tempat yang pas untuk ngobrol.


Disinilah sekarang mereka berada,disebuah rumah makan saung yang terletak ditengah-tengah antar kota "C" dan kota "B"


Setelah selesai makan Fahri segera bertanya pada Rania apa yang hendak ia bicarakan.


"Please RI, kasih aku waktu,setelah tunangan jangan langsung nikah"pinta Rania


"aku rasa 3 bulan itu udah kelama'an Ran,kalo perlu bulan depan aja kita nikahnya"ucap Fahri dengan santainya


"Apa Ri?jangan ngaco deh,3 bulan kecepetan Ri"


"ya udah 6 bulan"ucap Fahri


"Satu tahun deh gimana?"tawar Rania


"gak ahh kelamaan Ran satu tahun sih"tolak Fahri


"Ri...gak mau,aku belum siap"ucap Rania


Rania pun cemberut dia kesal karena Fahri tak mau mengundur pernikahan mereka.


"achh sudah lah untuk saat ini aku iyain aja,nanti aku tinggal cari alesan buat mengundur pernikahannya ,percuma debat juga aku pasti kalah" batin Rania


Akhirnya ia pun pasrah Fahri pun tersenyum bahagia akhirnya Rania pun setuju dan mau menikah setelah 6 bulan dari pertunangan mereka.


"Ri...itu apa ya diatas pohon"tanya Rania sambil melihat keatas pohon Nangka yang berada tak jauh dari saung tempat mereka duduk.


"itu baju Ran"jawab Fahri ngasal


"baju??bukan Ri itu ..."Rania tak melanjutkan kata-katanya ia langsung menutup matanya dengan tangan


"itu baju Ran,positif thinking aja"ucap Fahri dengan santainya


"itu...kunti Ri,ihhh serem banget"ucap Rania masih dengan menutup wajahnya dengan tangan


"bukan Ran itu nangka yang dipakein kaos putih"


Fahri pun langsung bergeser tempat duduk menjadi disamping Rania


"udah gak usah takut yang,ada aku,mending kita pulang aja yuk"ajak Fahri dan Rania pun menyetujuinya.


"Yang kok kamu masih takut aja sih,kan udah sering liat begituan"tanya Fahri


"biarpun sering tetep aja takut Ri"


"nanti kita beli rumahnya deket ama makam aja ya Ran,biar kamu berani"ucap Fahri menggoda Rania


"apa'an sih gak lucu tau,kamu aja yang tinggal disitu"jawab Rania kesal


"aku suka kalau liat kamu lagi marah gitu yang,lucu"ucap fahri sambil mencubit pipi Rania.


"Fahri...sakit tau" Rania mengelus pipinya yang sedikit sakit


"oh...sakit ya,maaf deh kalo gitu ini aja gak bakal sakit "


cup...


tiba-tiba Fahri mencium pipi Rania pas ditempat yang ia cubit tadi.


"Ri...apa'an sih,malu tau diliatin orang"gerutu rania makin kesal karena Fahri mencium pipinya


"biarin aja gak kenal ini"jawab Fahri sambil menakai helmnya


Rania naik kemotor Fahri dengan masih memasang wajah cemberutnya.


Ia kesal karena Fahri gak mau diajak nego soal penundaan pernikahan mereka udah gitu Fahri juga dengan tidak tahu malunya maen cium aja ditempat umum biarpun cuma dipipi tetap saja Rania merasa risih dan malu.

__ADS_1


__ADS_2