
Happy Reading
Seminggu setelah Nay diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan kondisinya pun sudah mulai membaik.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk kerja.
Seperti biasa begitu tiba di Pt tempatnya bekerja ia langsung ganti pakaian dan menuju kantin.
Dua minggu tidak masuk kantin serasa ada yang berubah tapi ia tidak tahu apa,akhirnya ia pun mendaratkan bokongnya dikursi yang biasa ia dan teman-temannya duduk.
"Hai...Nay sudah sembuh"
"Haii Nay turut berduka cita ya,yang sabar"
"Nay kok nyokap loe gak ada tambah begenk aja"
dan banyak lagi comen yang Nayla dapatkan, namun ia hanya tersenyum saat mendengar ucapan yang sedikit tak mengenakan hatinya.
"Nay...loe udah sehat,wah tinggal tulang doang ni badan"sapa Tari sambil menepuk bahu Nyala.
Teri cewe tomboy dibagiannya,Nayla sedikit heran sebab tak biasanya Tari menyapanya.
"ada angin apa loe ikutan duduk disini"tanya Nyala sedikit ketus
"woiii galak amat mbak,slow aja napa,emang gak boleh ya gw duduk dimari"ucap Tari dengan logat Bekasinya
"boleh aja tapi jangan berisik loe,gw lagi gak mau rame"
"sepi mah dikuburan Neng"sahut Tari yang memang suka bercanda dan ceplas ceplos.
Untungnya Dian,Erni dan yang lain mulai datang jadi aku gak harus ngeladenin cewe tomboy yang katanya sih suka sesama Cewe.
"eh..Tarjo ngapain loe disini,loe mulai naksir ama si Nay ya" tanya Dian sedikit bercanda
"Nama gw Tari bukan Tarjo Safitroy"protes Tari
"iya elo kan cewe keker makanya nama loe jadi Tarjo"celetuk Erni dan terdengar tawa dari orang yang ada disekitarku.
__ADS_1
"Nay..mulai hari ini kan loe pasangan ama gw ya di Line jadi kalo anak buah loe bikin masalah loe ya yang gw hukum" ucap Tari
"kenapa mesti loe yang bantuin gw,biasanya juga gw sendirian"jawabku tak terima
"Tanya sono ama si bos gw mah cuma ngikut aja,iya gak mami Safitri" celetuk Tari sambil memainkan alisnya seakan mengejekku.
"bodo ah..."jawab ku malas.
"gw duluan ya semua"pamitku pada Dian,Erni dan semua teman-temanku yang biasa.
Akupun segera menuju mushola bawah dan segera melaksanakan sholat dhuha.
Setelah selesai aku pun langsung menuju line tempatku bekerja.
"kagen sama tempat ini "batinku
akupun mengecek semuanya perlatan,komponen,dan model apa yang sedang running di Line.
Akhirnya bel masuk pun berbunyi dan benar ternyata Tari diperbantukan di Line ku untuk membantuku karena kondisiku yang baru pulih.
"bukan gw yang milih Nay tapi itu...si bos"jawab Dian tak mau disalahkan
"gw takut tau ama dia,tar kalo dia suka ama gw gimana??"tanyaku pada Dian
"itukan cuma rumor doang Nay kan belum tentu dia ...penyuka sesama jenis"ucap Dian mencoba menenangkan ku sedikit.
Akhirnya Dianpun meninggalkan aku yang masih sedikit kesal.
Aku berusaha menyibukan diri dengan berbagai pekerjaan yang sebenarnya tidak penting.
"he...Nay gimana nih masa jem'an segini banyaknya sih,loe pake speed berapa"tanya Tari sambil berjalan menghampiriku,aku pun berusaha biasa saja saat berbicara dengannya siapa tau apa yang Dian bilang benar belum tentu dia itu lesbi.
Seminggu sudah aku berpatner dengan Tari mungkin dengan orang lain atau orang yang tidak dia suka ia akan kasar baik dari kata-katanya ataupun lainnya tapi padaku tidak dia berusaha selalu lembut bahkan setiap hari selalu memberiku coklat kesukaanku.
"Nay..besok kan gak lembur ya,kita ke Villa gw yuk di cimelati,loe kan penyuka mistis ya disono banyak Nay"ajak Tari
"ngaco loe,gw gak suka mistis tapi gak tau kenapa gw bisa liat doang Ri"jawabku
__ADS_1
"ya pokoknya gitu dah mau gak?"paksanya
Entah kenapa saat aku melihat wajah Tari hati kecilku seakan melarangku untuk ikut.
"gak ah,kasian bokap gw sendirian"tolakku
"dasar anak papa,ya udah kalo gitu tar pulangnya kita jalan dulu yu kita makan bareng"ajaknya lagi
"gak mau ah,gw mau jalan ama cowo gw"tolakku
"gw gak perduli,pokoknya tar gw cegat loe trus gw masukin ke tas gw biar gak keliatan ama cowo loe"ucap Tari sambil berlalu meninggalkan aku yang masih bingung dengan ucapannya.
"masukin dalem tas ,dia pikir gw sekecil itu apa" gerutu Nayla.
"hi....hi...hi"
tiba-tiba Nyala mendengar suara wanita tertawa,bulu-bulu halus ditangannya pun berdiri.
"diem loe jangan ketawa tante kunti"ucap Nayla pelan sambil memberanikan diri pada hal sebenarnya ia takut.
aaww
Nayla terpekik saat sebuah benda mendarat dibahunya dengan sedikit kencang
ia pun melihat kearah benda itu dan ternyata sebuah tray kecil
"pantesan sakit dasar hantu sue"gurutu Nayla yang mulai bisa mengendalikan rasa takutnya.
Ia pun berlalu meninggalkan tante kunti yang masih tertawa dan kembali ke tempat kerjanya untuk mengecek hasil kerja anak buahnya.
Haii para reader terima kasih sudah mampir diceritaku.maaf kalau masih banyak typo yang bertebaran.
Jangan lupa Like,vote,rate dan juga Kritsarnya aku tunggu.
Salam Maniss
Amellajj/author
__ADS_1