
\=\=\= Happy Reading All \=\=\=
Malam itu Nayla tidak bisa tidur dengan nyenyak pikirannya mengembara entah kemana.
Sebentar lagi Tia adiknya akan segera dilamar walaupun ia iklas namun tetap saja ia sedikit sedih.
Apa mungkin selama ini ia asik bersenang-senang hingga ia lupa jika sekarang umurnya semakin tua.
Namun saat terlintas kejadian sahabat masa kecilnya Susi yang harus bercerai dengan Nandy Naylapun berpikir ulang untuk menikah,ia tak mau kejadian Susi menimpa dirinya apa lagi kelakuan Adit hampir sama dengan Nandy suka selingkuh.
Naylapun berpikir keras bagaimana caranya agar bisa putus dari Adit,belum apa -apa saja ketiga mahluk jail itu sudah mencelakai dirinya apa lagi jika nanti mereka beneran putus.
"ahhhh "teriak Nayla kesal sambil membanting ponselnya kekasur dan tanpa sengaja mengenai jidat Fatimah atau Fety yang sedang tidur dengan lelap.
"aduhhhh..."
"loe kanapa sih Nay,benjol dah pala gw"gerutu Fety dengan mata yang masih terpejam
"he...he maaf Fet gak sengaja"ucap Nayla lalu kembali mengambil ponselnya.
Nayla pun merebahkan tubuhnya di samping Fety,matanya menatap kearah tembok.
Nayla merasa ada yang aneh dengan tembok didepannya "kok ada bayangan sih,kan gw tiduran harusnya tuh bayangan gak setinggi itu"guman Nayla sambil memegang dagunya seperti sedang berpikir
"ahh bodo amat lah,mending gw tidur"gerutu Nayla lalu mulai memejamkan matanya
Namun kerena ia penasaran Nayla kembali membuka matanya dan melihat bayangan itu semakin tinggi hingga menembus pelapon
Naylapun mulai tersadar jika yang kini didepannya adalah sejenis jin apa lagi semua bulu-bulu halus ditangan dan tengkuknya berdiri.
Ia pun memejamkan matanya kembali tak ingin melihat bayangan ditembok kamarnya.
Karena rasa takut yang begitu mendera akhirnya ia pun membangunkan kedua temannya.
"Apaan sih Nay,ngantuk nih"ucap Nining saat Nayla menguncang-guncang bahunya.
Begitupun dengan Fety "ihhh bangun dong gw takut nih"ucap Nayla sambil terus membangunkan kedua temannya.
Akhirnya Fety dan Niningpun bangun sambil mengucek-ucek matanya.
"Apa'an sih Nay,masih ngantuk tau"gerutu Nining masih dengan mata yang terpejam
"itu ada bayangan gede banget Ning"tutur Nayla sambil menunjuk kearah tembok tempat bayangan tadi berada.
"manaa?lu mah gangguin aja"gerutu Fety dan Nining lalu mereka langsung kembali membaringkan tubuhnya ditempat semula.
Saat mereka sudah diposisi yang nyaman menurut mereka tiba-tiba Nayla menyelip ditengah-tengah hingga merekapun kembali terusik.
__ADS_1
"ihh...Nay ngapain sih nyelip-nyelip" Nining dan Fety pun langsung membuka kembali mata mereka dan melotot kearah Nayla..
"He..he maaf,gw tidur ditengah yah"
sambil menggerutu merekapun langsung membalikkan badan sama-sama membelakangi Nayla.
Akhirnya merekapun tertidur juga.
Bunyi alarm yang cukup kencang terpaksa membangun kan mereka dari tidur nyenyaknya.
"mati'in alarmnya berisik"
"Nay loe mandi duluan gih,gw masih ngantuk"
Fety dan Nining sama-sama enggan untuk segera bangun.
Nayla yang sadar akan ulahnya tadi malam yang telah menggangu kedua temannya akhirnya rela duluan kekamar mandi.
Setelah rapi merekapun berangkat bersama.Begitu tiba ditempat kerja merekapun berpisah.
"Nay tar sore temenin kerumah Ita ya,gw dapet kabar tadi pagi dia kecelakaan dan rencananya mau besuk pulang kerja"ajak Dian dan Nayla pun mengiyakan.
Sore harinya dengan bermodal alamat yang didapat dari anak-anak line Dian dan Naylapun menyambangi kediaman Ita.
Nayla sedikit ragu saat turun dari angkot
"ayo Nay"ajak Dian yang melihat Nayla masih berdiri ditempatnya
"Bener Nay,ini kober namanya dan rumahnya Ita tuh dibelakang kuburan ini"jelas Dian
"maksud loe kita lewat tengah-tengah kuburan ini"tanya Nayla seakan tak percaya
"iya"jawab Dian
"ihhh gak mau ahhh"tolak Nayla saat Dian menarik tangannya agar segera masuk kearea pemakaman dan berjalan dijalan yang sudah disemen.
"udah sihh ayo loe jangan mikir yang aneh-aneh deh"ucap Dian sambil terus menarik tangan Nayla
Setelah adegan tarik menarik akhirnya Naylapun mengikuti Dian sambil memegang tangan Dian erat.
Saat berada ditengah tengah area pemakaman dia asik memperhatikan makam orang cina yang nampak beraneka rupa dengan gundukan tanah yang tinggi dan dihias begitu bagus.
"Bu kok kuburan orang cina bagus-bagus ya,trus itu kok tanahnya tinggi banget ya"tanya Nayla pada Dian
"katanya sih kalo orang cina meninggal semua barang kesukaanya ikutan dikubur Nay"jelas Dian
"oh....gitu ya" ucap Nayla lalu lalu manarik tangan Dian
__ADS_1
"apa lagi sih Nay"tanya Dian dengan sedikit kesal
Nayla tak menjawab ia seakan membatu dengan tatapan mata tak lepas melihat kearah samping
"loe kenapa Nay"tanya Dian mulai khawatir
"jangan macem-macem ya Nay"lanjutnya
"loe liat apa sih Nay"tanya Dian
Tanpa menjawab pertanyaan Dian tiba-tiba Nayla berlari kencang sambil berteriak "hantuuuuu"
Dian pun yang tak tahu apa-apa ikutan berlari mengejar Nayla yang sudah jauh didepannya.
Setelah dirasa jauh Nayla pun berhenti dengan nafas yang ngos-ngosan
"loe ngapain lari sih Nay"tanya Dian yang ikutan berhenti dan sama halnya dengan Nayla nafasnya ngos-ngosan.
"ad--ada--ada hantu Dian jawab Nayla dengan nafas yang terengah-engah
"mana?"tanya Dian lagi
Nayla tak menjawab ia hanya menujuk kearah tadi dia melihat seoarang wanita dengan rambut yang panjang tergerai sedang berdiri menghadap samping.
Dian pun mengikuti arah tangan Nayla yang menujuk pada sebuah rumah,Dian langsung menepuk bahu Nayla kencang hingga Nayla meringis
"aduhhh ...sakit tau bu"protes Nayla
"loe tuh ya Nay parah banget sih,itu orang Nay lagi nyisir"
"masa sih" Nayla masih tak percaya dengan yang Dian ucapkan ia pun menegaskan penglihayannya dan sesaat kemudian Naylapun tertawa "maaf bu,gw kira itu kunti"
Dian cemberut mendengarkan ucapan Nayla
"makanya tuh mata jangan liat hantu melulu sampe gak bisa bedain mana hantu mana orang"ucap Dian sambil meninggalkan Nayla yang masih tertawa
**Haiii para reader terima kasih sudah mampir dikaryaku,author mohon maaf jika masih banyak typo.
Author juga mohon dukungannya dengan cara
- Like
- Vote
- Rate dan juga kritsarnya author tunggu
like dari kalian penyemangat buat author
__ADS_1
salam manis
Amellajj/author**