TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 385


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Beberapa hari ini Rahmat sering membuatnya kesal, namun terkadang ia begitu perhatian dan baik kepadanya.


Seperti saat ini saat hujan turun begitu deras disertai petir yang menyambar sesekali membuat Rania ketakutan dan saat ini Kakanya yang ia tunggu belum juga tiba dan ponselnya pun tidak bisa dihubungi.


Rania hanya pasrah menunggu hujan reda di sebuah halte didepan sekolahnya.


Tiba-tiba saja sebuah motor yang cukup ia kenal berhenti.


"Ran...ayo gw anter pulang" teriak sang pengendara sepeda motor tanpa turun dari motornya.


Sesaat Rania terdiam, ia ragu apa yang harus ia lakukan.


Jika ia pulang bersama Rahmat ia takut Radit akan datang .


Namun jika ia menolak Rahmat ia takut kakanya Radit tidak datang.


"Ran....ayo cepat makin deras ini ujannya" teriak Rahmat lagi.


Akhirnya Rania pun pulang bersama Rahmat walaupun harus basah kuyup karena tidak memakai jas hujan .


Hujan yang terun begitu deras jarak pandang pun hanya beberapa meter saja hingga Rahmat pun tidak berani memacu kencang motornya.


Mereka pun tiba dirumah Nayla dalam keadaan basah kuyup.


Nayla yang kebetulan sudah pulang dari salon langsung mengambil dua buah payung saat melihat ada motor masuk ke parkirannya.


"Loh kok sama Rahmat, Radit nya Kemana Ran?" tanya Nayla saat melihat Rania dibonceng oleh Rahmat bika oleh Radit.


"Aa tadi gak ada Mah, Rania nunggu sendirian di halte, mana gak bisa dihubungi lagi telponnya" ucap Rania menjelaskan kepada Mamanya.


Rahmat yang sudah basah kuyup diminta untuk masuk dan berganti pakaian dengan menggunakan pakaian Radit.


Saat mereka sudah berganti pakaian Naylapun membuatkan minuman hangat untuk keduanya.


Kini mereka duduk diruang tengah sambil menunggu kedatangan Radit.


Ardina yang mendengar suara sedikit berisik pun akhirnya keluar dari kamarnya dan melihat Rahmat yang sedang minum teh hangat.


"Lah kok ada loe Mat?" tanya Ardina heran.


"Oh ini tadi gw liat Rania sendirian di halte pas ujan, ya udah gw anterin aja sekalian"


"Loe gimana kabarnya Ar, udah sehatkan?" Rahmat terlihat sumringah saat bertemu dengan Ardina.


"Cieeeea ada yang kangen nih" celetuk Rania sambil berpura-pura minum teh yang sudah dibuatkan oleh Mama Nay.


"Ish apa sih Ran"Wajah Ardina langsung bersemu merah.


"Cieee ada tomat Mateng tuh" ucap Rania lagi menggoda Ardina saat melihat wajah Ardina yang memerah.


Saat sedang asik ngobrol diruang tengah sambil menunggu hujan rada akhir Raditpun tiba dengan pakaian yang basah kuyup dan wajahnya terlihat kedinginan.

__ADS_1


Dengan segera Naylapun mengambilkan handuk dan memasakkan air untuk mandi Radit.


Setelah berganti pakaian Raditpun ikut bergabung diruang tengah sambil minum susu hangat yang sudah dibuatkan oleh Nayla.


"Loe pulang sama siapa Ran?" tanya Radit


"Gw dianterin sama Mamat aa jawab Rania dengan cueknya.


"Oh...maafin aa ya tadi motor AA tiba-tiba aja kempes jadi aa kebengkel dulu pas mau nelpon kamu ternyata batre aa juga abis, maaf ya Ran" ucap Radit sambil mengelus kepala Rania yang sedang asik makan keripik.


"Ih si aa, Ran lagi makan juga ih" decak Rania.


Rahmat pun tersenyum saat melihat tingkah Rania dan Radit.


"Makasih ya MAT udah nganterin adek gw pulang" ucap Radit


"Iya aa, maaf ya bajunya saya pake dulu soalnya baju saya basah" ucap Rahmat sopan.


Setelah makan malam dan hujan reda Rahmat pun pamit pulang.


Karena suasana yang begitu dingin setelah hujan Meraka pun segera masuk kedalam kamar masing-masing.


Setelah mengerjakan pr nya Raniapun tidur.


Seperti biasanya tiap tengah malam Rania pasti terbangun untuk minum.


Lagi-lagi ia lupa mengisi botol minumnya.


Dengan malas ia pun turun untuk mengambil air, namun saat melewati kamar Ardina ia sedikit penasaran karena pintunya yang sedikit terbuka ia mengintip dari celah pintu.


Wanita itu tersenyum saat melihat ke arah Rania.


Rania pun langsung berlari kembali masuk kedalam kamarnya.


Niat awalnya yang ingin kedapur mengambil air minum pun ia lupakan.


Setelah masuk kedalam kamarnya ia pun menutup wajahnya dengan bantal.


Masih terbayang wajah wanita yang duduk di sini Ardina.


Wajahnya begitu cantik namun sangat pucat


"Itu hantu apa manusia sih" batin Rania


"Kalau itu manusia, itu siapa perasaan tadi gak ada tamu" lanjutnya merasa aneh.


Karena penasaran ia pun memberanikan diri untuk kembali ke kamar Ardina untuk melihat apakah sosok itu masih ada atau tidak.


Ia pun membuka pintu perlahan, dengan jantung yang berdegup kencang antara takut dan penasaran ia pun membuka pintu kamar Ardina namun kedua matanya ia pejamkan.


Setelah ia merasa pintu sedikit terbuka, Rania pun membuka matanya perlahan sedikit demi sedikit.


Namun pada saat matanya terbuka semua

__ADS_1


Aaaaaaaaa


HANTUUUUUU


Teriak Rania kencang karena saat ia membuka matanya ternyata sosok itu berada tepat didepannya sambil tersenyum.


Rania ingin berlari namun kakinya serasa menempel dengan lantai yang ia injak tidak dapat digerakkan sama sakali.


"Mamaaaa tolongggg ada hantuuuu" teriak Rania lagi.


Nayla yang kebetulan terbangun hendak ke kamar mandi begitu terkejut mendengar teriakkan Rania.


Ia pun bergegas mencari Rania ke kamarnya.


"Bangun sayang, Rania kamu mimpi apa sayang" Nayla terus saja menepuk-nepuk pipi Rania untuk membangunkan gadis itu .


Naylapun menepuk pipi Rania sedikit lebih kencang agar gadis itu bangun dari mimpi buruknya.


Keringat sudah membasahi wajah Rania, beberapa kali Nayla menepuk pipi Rania namun gadis itu tidak juga bangun .


Adit yang kebetulan mendengar Nayla keluar kamar langsung ikut bangun dan mengikutinya.


"Sayang ada apa?" tanya Adit saat melihat Nayla berusaha membangunkan Rania.


"Ini loh Dit kayanya Rania mirip buruk tadi dia terik-terik, ayo bangunin kasihan dia" pinta Nayla.


Adit pun ikut berusaha membangunkan Rania .


Setelah mencoba berkali-kali akhirnya Rania pun terbangun dengan wajah seperti orang bingung.


"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga sayang"


"Ini dimana Mah?" tanya Rania masih terlihat bingung.


"Ini di kamar kamu sayang" jawab Nayla.


Rania pun terdiam, apakah yang ia lihat tadi hanya mimpi, seingatnya tadi itu dia bwray didepan kamar Ardina.


Setelah minum satu gelas air yang diberikan oleh papanya barulah Rania bisa menceritakan apa yang baru saja ia alami.


Nayla dan Aditpun saling berpandangan.


"Apa mungkin yang Rania lihat adalah almarhumah mamanya Ardina ya" batin Nayla


Aditpun berpikiran sama dengan Nayla.


"Itu kamu cuma mimpi sayang, ya udah sekarang kamu tidur lagi ya masih malam" ucap Nayla.


"Mama, Rania boleh tidur sama mama gak, Rania takut" punya Rania ragu.


Naylapun tersenyum, ia jadi ingat dengan dirinya sendiri waktu mama sama papanya masih ada.


Kelakuan Rania tidak jauh beda dengan dirinya.

__ADS_1


"Mah boleh gak?" pertanyaan Rania menyadarkan Nayla dari lamunannya.


Ia pun tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2