TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 393


__ADS_3

Selamat Membaca


Setelah kejadian semalam Rania tidak berani sendirian begitu juga dengan Ardina yang tidak mau lagi meninggalkan Rania sendiri.


Hari ini rencananya mereka akan menuju sebuah kawasan wisata Kawah putih dan juga situ Patenggang.


Setelah selesai sarapan mereka pun kembali naik ke bis.


Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di kawasan kawah.


Kabut yang turun membuat hawa disana semakin dingin padahal jam baru saja menunjukkan pukul 10.00 pagi.


Setelah puas bermain di kawah mereka pun segera turun kembali ke area parkiran tempat dimana bis mereka berada.


Sambil menunggu semaunya kumpul Rania pun singgah disalah satu warung dan memesan satu mangkuk mie instan dan juga teh manis hangat agar tubuhnya lebih hangat.


Entah kenapa sejak kejadian tadi malam badannya terasa begitu dingin bahkan Ardina pun yang secara tidak sengaja menyentuhnya mengtakan jika badan Rania seperti es.


Awalnya ia mengira Rania hanya kedinginan saja, ia pun meminta Rania untuk memakai baju dobel dan juga jaket tebal miliknya.


Namun setelah memakai semua yang Ardina katakan tetap saja tubuhnya terasa dingin.


Saat ini Rania yang ditemani oleh Fahri sedang asik makan mie tanpa menawari Fahri yang ada disebelahnya.


"Bukannya loe udah makan ya tadi, kok masih kaya orang kelaparan sih" tanya Fahri yang heran melihat Rania makan begitu lahapnya.


"Gak tau RI, gw laper banget mungkin karena dingin ya" jawab Rania.


"Bisa jadi sih"


Ardina yang sudah kembali langsung ikut memesan satu cup mie siap seduh begitu juga dengan Rahmat.


"Loe gak mau pesen juga Ri?" tanya Ardina.


"Gak lah gw masih kenyang" jawab Fahri yang hanya memesan satu gelas kopi susu.


Saat sedang makan ada seorang penjaja aksesoris yang menghampiri mereka.


Mereka pun membeli beberapa gelang yang sama.


Iksan membeli dua buah kalung dan memberikannya kepada Rania satu dan satunya lagi untuk dirinya.


"Cieee yang couplean kalungnya" ucap Ardina menggoda Iksan.


Pria itu pun hanya tersenyum lalu memakaikan satu kalung untuk Rania.


Rahmat yang melihat hal itu pun tidak mau kalah ia pun membeli satu set aksesoris yang sama lalu meminta Adina memakainya.


Kini giliran Ikhsan yang menggoda kedua.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka pun langsung naik ke bis dan bersiap menuju tempat wisata satunya lagi yaitu situ Patenggang.


Dalam bis Rania memejamkan matanya, Ardina pun mematikan AC yang mengarah ke Rania agar saudaranya itu merasa lebih hangat.


"Ran...."panggil Ardina


"Apa Ar"


"Loe kok dingin kaya gini sih, loe kedinginan gak" tanya Ardina yang memegang tangan saudaranya yang seperti es.


"Cuma dikit dinginnya Ar, loe gak usah khawatir gitu" jawab Rania dengan mata yang masih terpejam.


"Gw telpon Aa aja oucpcatpttgppvr deh gw jadi khawatir sama loe Ran" ucap Ardina saat memperhatikan kulit Rania yang putih pucat seperti tidak ada aliran darahnya.


"Ran..." Ardina menguncang-guncang bahu Rania namun gadis itu tidak bereaksi sama sekali.


Ia pun mengambil foto Rania yang begitu pucat lalu mengirim nya kepada Radit dan Papanya.


Radit yang saat itu masih di rumah langsung menghampiri Adit yang hampir saja berangkat menuju tempat fitnesnya.


"Pah..lihat deh, tadi Ardina kirim ini, terus dia juga bilang kalau badan Rania dingin kaya es"


Aditpun langsung mengambil ponsel Radit dan melihat foto Rania.


"Coba kamu telp Ardina dulu tanyain ada kejadian apa kok bisa sampai kaya gitu" titah Adit pada putranya.


Nayla yang baru saja keluar rumah diam sesaat saat mendengar percakapan mereka.


Memang sebelum mereka berangkat Nayla merasa akan ada sesuatu tapi apa itu Nayla masih belum tau.


Karena penasaran ia pun mendekati Radit untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Karena di sana kadang susah sinyal percakapan mereka pun tidak begitu jelas.


"Radit...ada apa dengan adikmu" tanya Nayla sambil menepuk bahu Radit.


"Eh mama hemmm itu mah Radit juga belum begitu jelas cuma kata Ardina Rania badannya dingin banget" ucap Radit yang terkejut karena tiba-tiba saja mamanya sudah berada disampingnya.


Naylapun diam nampak sedang berpikir.


"Mungkin Rania gak kuat dingin Mah" ucap Radit berusaha untuk menenangkan mamanya.


"Bisa jadi sih, coba mama lihat foto yang tadi dikirim"pinta Nayla


Raditpun menujukan foto yang tadi Ardina kirim.


"Astaghfirullah ini sih kaya...." Rania tidak melanjutkan kata-katanya.


Air matanya tiba-tiba saja mengalir.

__ADS_1


"Mama harus kesana Dit, ayo anterin mama" pinta Nayla saat melihat foto Rania yang sedang memejamkan matanya.


Entah kenapa ia begitu khawatir melihat Rania yang seperti mayat.


Karena Nyala terus menagis akhirnya Raditpun menghubungi papanya dan menceritakan semuanya.


Adit pun sejujurnya sangat panik namun ia tidak ingin anaknya tau jika saat ini ia begitu takut.


Saat mendapat telepon dari Radit ia pun segera pulang.


Begitu tiba ia melihat Nayla yang masih sesenggukan.SsseS


"Kamu yang tenang dulu sayang, semoga aja Rania gak apa-apa" ucap Adit sambil memeluk Nayla.


"Tapi Pah,muka Rania kaya mayat, aku takut terjadi sesuatu, ayo kita kesana Pah" ucap Nayla


Karena tidak ingin membuat Nayla begitu khawatir Aditpun menuruti kemauan Nayla.


Sementara itu di sebuah kawasan wisata Lembang saat semua orang sedang bersenang-senang ada yang naik perahu,ada yang foto-foto.


Rania hanya duduk sambil diam disebuah warung dengan tatapan yang kosong.


Kulit nya semakinm pucat hingga tidak hanya satu atau dua orang yang mengatakan jika lebih baik ia dibawa kerumah sakit mungkin ia kena hipotermia.


Karena tidak tau apa yang harus dilakukan Ardina pun mengajak Rania untuk diam saja didalam bis.


Sambil menunggu yang lain datang Ardina pun berusaha mencari sinyal agar dapat menghubungi orangtuanya.


Kebetulan saat dapat sinyal segaris sebuah pesan masuk dan meminta Ardina untuk mengirimkan share lokasi tempat dimana ia berada.


Dan Radit juga berpesan agar ia selalu menemani Rania.


Ardina sedikit lega saat tau jika kedua orang tua nya akan datang.


Sementara itu sepanjang perjalanan Nayla terus saja berdoa untuk keselamatan putrinya.


Rania yang terpejam ia merasa berada disebuah tempat yang ia juga tidak tau dimana.


Tempat itu begitu gelap dan menakutkan, ia berusaha mencari jalan untuk keluar namun setelah ia berputar-putar tidak menemukan apapun.


"Mamah"


"Kaka Radit...."


"Ar ...."


Panggil Rania dengan suara kencang.


Namun sekuat apapun ia berteriak tidak ada yang menolongnya karena memang tidak ada siapa-siapa disana.

__ADS_1


"Aku dimana ini, kenapa begitu sepi" ucap Rania yang ketakutan.


Ia berusaha untuk tenang walaupun sebenarnya ia merasa begitu takut


__ADS_2