TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 420


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Karena tidak sabar menunggu kedatangan Rania Fahripun menyusulnya ketempat fitness.


Dan benar saja saat tiba disana Rania sedang berlari diatas treatmill.


Fahri pun dengan sabar menunggu Rania hingga selesai.


"Sudah selesai sayang fitness nya?"tanya Fahri saat melihat Rania sudah selesai.


"Udah dong,loe tumben banget sih dateng kesini"


"Gw kangen,masa iya gak boleh sih"ucap Fahri sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Itu mata kenapa? cacingan ya"ucap Rania sambil tertawa.


"Astaghfirullah punya pacar kok begini banget sih"ucap Fahri sambil menepuk jidatnya.


Rania hanya tertawa mendengar ucapan Fahri.


Mereka pun pamit pulang kepada Adit, sebelum pulang mereka pun mampir sejenak disebuah tempat makan pinggir jalan kesukaan Rania.


Setelah selesai makan mereka pun langsung pulang dan kebetulan Nayla dan Aditpun sudah tiba dirumah.


"Tadi pamit pulang duluan tapi malah papa duluan yang sampe"ucap Adit saat melihat keduanya baru saja tiba.


"Jajan dulu lah Pah,percuma dong punya pacar bboss" ucap Rania.


"Ish kamu,oh iya om kalo om sama tante ijinin saya mau ngajak Rania kerja buat jadi sekertaris saya" ucap Fahri sambil tersenyum kearah Rania.


"Wah bagus itu,om sih setuju aja,terserah sama Rania nya aja" ucap Adit.


"Nanti ya Ran mikir dulu"


"Mau mikir apa sih yang, banyak loh yang mau jadi sekertaris aku" ucap Fahri menggoda Rania.


"Ya udah yang lain aja, emang gak takut kalau aku nanti malah ngerusuh di kantor kamu"ucap Rania yang gantian menggoda Fahri dengan memainkan salah satu alisnya.


"Aku maunya kamu yang jadi sekertaris aku,dan juga aku udah biasa kok kalau kamu rusuh"jawab Fahri lagi.


"Berhubung susah malem aku pamit pulang dulu ya jangan lupa besok pagi aku jemput buat kerja" ucap Fahri lalu pamit pada Nayla dan Adit.


"Dih kan gw bilang mau mikir-mikir dulu,kenapa jadi besok sih" protes Rania masih belum setuju dengan yang Fahri ucapkan.


"Ya udah kalo besok gak mau kerja juga gak apa-apa,tapi besok sore gw bakal dateng kesini buat ngelamar loe" ucap Fahri sambil tersenyum.


"Dih kok gitu sih"


"Ya terserah kamu sayang mau pilih yang mana,dah ah aku pulang dulu" ucap Fahri sambil keluar dari rumah Rania dengan senyum bahagia.


Keesokan paginya Raniapun terpaksa bangun pagi ia pun bergegas mandi,namun saat membuka lemari pakaiannya ia baru menyadari jika ia tidak mempunyai pakaian layaknya orang kerja di kantor.


Ia pun duduk termenung diatas kasur.


Nayla yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar nya berhasil membuyarkan lamunannya.


"Kok belum rapi,Fahri udah nungguin tuh didepan"ucap Nayla sambil tersenyum.


"Mah Ran baru sadar kalau Ran itu gak punya baju buat kerja"


"Masa sih Ran, kayanya baju kamu banyak deh" ucap Nayla tidak percaya.


"Iya mah banyak tapi gak ada rok,masa iya Ran harus pake celana jeans, yang ada Ran nanti malah diomelin tuh sama Fahri" ucap Rania sambil cemberut.


"Ya udah untuk sementara mama pinjemin sama Ardina dulu ya" ucao Nayla yang langsung menuju kamar Ardina yang kebetulan berada di depan kamar Rania.


Setelah menunggu hampir lima belas menit akhirnya Raniapun turun dengan wajah cemberut.


Fahri berusaha menahan tawanya karena baru kali ini ia melihat Rania memakai rok.


Setelah pamit pada Mamanya mereka pun langsung berangkat.


Sepanjang perjalanan Fahri terus tersenyum sambil sesekali melirik kearah Rania.


"Kalo mau ketawa gak usah ditahan Ri"ucap Rania kesal.


Fahripun tersenyum sambil mencium kepala Rania.


"Ayo turun Ran,udah sampe" ucap Fahri setelah ia memarkirkan mobilnya.


Rania nampak ragu saat Fahri menarik tangannya untuk masuk kedalam.


"Gak usah takut Ran, awalnya memang begitu tapi nanti juga terbiasa" ucap Fahri sambil menggandeng tangan Rania.


Saat mereka masuk kedalam ada banyak mata yang memandang kearahnya.


Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk sambil mengucapkan salam.


Saat berada di dalam lift tiba-tiba saja Rania ingat dengan sosok wanita yang ia jumpai kemarin.


"Kamu nyariin apa sih sayang?"tanya Fahri yang melihat Rania sepersssisedang mencari sesuatu.


"He..he bukan apa-apa kok"jawab Rania sambil cengengesan.


Mereka pun tiba dilantai 15 tempat ruangan Fahri berada.


Tepat didepan pintu ada beberapa kubikel dan ada beberapa orang yang sudah mulai bkenalikww


Fahri pun mengenalkan Rania pada staf sekertaris yang ada disana.


Setelah itu ia pun langsung menarik tangan Rania untuk ikut masuk kedalam ruangannya.


Tidak lama kemudian masuklah seorang pria yang tidak kalah tampan dengan Fahri.


"Ran kenalin ini Alfian sekertaris pribadi aku,Al kenalin ini Rania pacar gw, tempatin di di posisi staf buat gantiin yang kemarin cuti melahirkan" titah Fahri sambil berjalan menuju bangku kebesarannya.


"Rania tolong tanda tangan dulu"


Rania pun mendekat lalu menandatangani beberapa berkas, setelah itu ia diantar menuju tempat nya berkerja.


Beberapa orang langsung mengajari tentang beberapa hal dan beruntungnya otaknya sedang dapat diajak berkerja sama hingga dengan cepat ia dapat mengerti dengan apa yang diterangkan oleh beberapa teman barunya.


Fahri yang kebetulan ada meeting diluar kantor membuat hari pertama Rania harus makan sendirian dikantin.


Ia yang masih belum tau dimana letak kantin terpaksa harus bertanya dengan beberapa orang.


Begitu tiba di kantin ia sedikit bingung karena hampir semua bangku sudah terisi.


Ia pun langsung tersenyum saat melihat ada satu buah bangku yang kosong,ia pun langsung menghampiri tempat itu sambil membawa tempat makannya.


"Maaf apa disini kosong?" tanya Rania pada. Pria yang duduk didepannya.


"Kosong kok"jawab pria itu.


"Boleh saya gabung?" tanya Rania lagi.


Pria itu hanya mengangguk, Raniapun langsung duduk dan menikmati makan siang nya.


Rania tau jika saat ini ada beberapa pasang mata yang sedang menatap kearahnya entah apa yang salah ia pun tidak mau ambil pusing.


Tanpa ia sadari pria didepannya sedang menatap kearahnya sambil tersenyum tipis.


"Kamu anak baru ya?" tanya pria itu


"Iya"jawab Rania saambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Kapan masuknya?" tanya pria itu lagi


"Baru tadi pagi"jawab Rania dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Oh.. pantesan aja,dibagian mana?" tanya pria itu lagi sambil memperhatikan wajah Rania yang terlihat cubby saat sedang mengunyah makananya.


"Saya lupa nama bagiannya"ucap Rania jujur,pria itupun hanya tersenyum.


Seketika itu juga Rania langsung tersendak saat tanpa sengaja melihat senyuman manis dari pria didepannya


Pria itu pun langsung memberikannya satu gelas air tanpa banyak tanya Raniapun langsung meminumnya hingga habis.


"Terimakasih ya"


Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi Raniapun langsung pamit dan segera menuju lantai tempat nya bekerja.


Begitu ia tiba ternyata Fahri sudah berdiri didepan meja kerjanya.


"Besok-besok sebelum bel kamu harus udah disini ya, karena ini hari pertama kamu kerja masih aku maklumi" ucap Fahri dengan nada yang tidak seperti biasanya

__ADS_1


"Siap bos,maaf"jawab Rania sedikit kesal.


Jam pun menunjukkan pukul 4 sore semuanya bersiap-siap untuk pulang, begitu juga dengan Rania.


"Ran aku pulang duluan ya" ucap beberapa orang rekan kerja Rania


"Iya"jawab Rania.


Ia pun melihat sekitarnya sudah sepi,lalu ia pun mencoba mengintip ruangan Fahri ternyata sudah tidak ada oransiduu


"Kapan dia pulang ya kok aku gak liat" ucap Rania sambil naik lift dan menekan angka 1.


Setelah pintu lift tertutup lift pun meluncur turun,tanpa sengaja Rania kembali melihat sosok wanita itu lagojee


Ia berdiri di salah satu sudut lift sambil menunduk.


Rania yang memang sudah terbiasa melihat hantu hanya acuh saja berpura-pura tidak melihat apapun.


Akhirnya ia pun tiba dilantai bawah,disana pun sudah terlihat sepi.


Ia pun langsung memesan ojek online dan tidak lama kemudian ojek pesanan nya pesanannya pun tiba.


Harri ini ia betul-betul kesal pada Fahri,pria itu tidak mengabarinya jika ia sudah pulang duluan.


Begitu tiba dirumah ia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur tanpa menganti pakaiannya terlebih dahulu.


Setelah meeting Fahri langsung pulang,ia lupa jika mulai hari ini Rania sudah berkerja diperusahaannya.


Ia tau jika gadis itu pasti marah,ia pun bergegas menuju rumah Rania


Kebetulan Nayla sudah dirumah,ia pun langsung membersihkan Fahri untuk masuk.


Melihat Ranpnia yang tertidur pulas Naylapun tiddak tega untuk membangunkannya .


Fahri pun meminta maaf pada Nayla karena tadi sudah meninggalkan Rania dikantor, ia pun menceritakan alasannya.


Nayla pun memakluminya, karena tidak ingin menggangu Rania yang sedang beristirahat Fahripun pamit pulang


Selepas magrib Raniapun baru bangun,ia pun langsung mandi dan bergegas sholat magrib.


Setelah sholat ia pun langsung turun dan bergabung bersama kami yang lainnya untuk makan malam.


"Mah Ran mau berenti kerja aja lah, cape mah kerjanya" ucap Rania sambil memakan sayur sop.


"Emang kenapa,baru juga satu hari sayang" ucap Nayla.


"Fahri kalo disana galak mah"


Nayla hanya tersenyum mendengar penuturan Rania.


Sebenarnya ia kasihan melihat Rania yang manja kini harus bekerja namun ia juga setuju dengan pemikiran Fahri yang ingin Rania lebih mandiri.


keesokan harinya Rania masih belum siap, ia masih memakai pakaian rumahan saat Fahri datang untuk menjemputnya.


"Loh kok belum rapi?"tanya Fahri


"Gw mau berenti aja,gw ngundurin diri"jawab Rania.


"Emang loe mau bayar pinalti?"tanya Fahri


"Emang kemarin loe gak baca ya,disitu ditulis kalo loe ngundurin diri sebelum habis kontrak sisa masa kerja harus dibayar"ucap Fahri menjelaskan.


"Gak usah nakut-nakutin deh" ucap Rania tidak percaya


"Itu bukan nakut-nakutin Ran, memang sekarang hampir semua perusahaan begitu"ucap Radit yang tiba-tiba saja muncul dari kamarnya.


"Iya deh sebentar gw ganti baju dulu" Raniapun bergegas menuju kamarnya dan segera berganti pakaian.


Setelah rapi ia pun langsung turun dan pamitan kepada Mamanya.


Sepanjang perjalanan ia hanya diam saja,ia masih kesal pada Fahri karena telah meninggalkannya.


Begitu tiba di perusahaan Rania langsung turun meninggalkan Fahri.


Fahri pun tersenyum melihat tingkah Rania yang sedang merajuk.


Begitu tiba didepan pintu lift Rania sengaja memilih lift untuk Karyawannya


Fahri yang melihat Rania antri langsung menarik tangan Rania agar ikut masuk kedalam lift bersamanya


"Masih lah,pake nanya"jawab Rania ketus.


"Ya udah ngambek aja terus sampe bosen sayang,aku gak mau ganggu" ucap Fahri sambil menatap Rania.


"Iya"jawab Rania ketus.


Begitu lift berhenti Fahri langsung keluar meninggalkan Rania dibelakangnya.


Ia pun langsung masuk kedalam ruangannya.


"Oranng lagi ngambek bukannya dibaikin malah dicuekin" ucap Rania kesal.


Sementara itu dari balik tirai Fahri tersenyum melihat Rania yang terlihat kesal.


Rania yang sedikit bt berniat ke toilet untuk mencuci muka lalu setelah itu ia berniat membuat kopi.


Setelah ia mencuci muka ia pun berniat keluar dari kamar mandi namun sialnya ia terkunci.


Ia pun langsung mengerti karena pernah mengalaminya beberapa kali.


"Kalau mau nampakin diri keluar aja,gw gak takut" ucap Rania entah kepada siapa.


Sesuai dengan dugaannya tiba-tiba saja ia mendengar suara wanita tertawa, walaupun sebenarnya ia merinding namun ia tidak mau terlihat takut namun sialnya pintu tidak mau juga terbuka.


Ia pun langsung menghubungi Fahri untuk meminta bantuannya membuka pintu toilet.


Lagi-lagi ia dibuat kesal pria itu bilang ia sedang berada diluar.


Akhirnya sosok itupun menampakkan dirinya entah karena sedang kesal atau memang ia sedang berani Rania tidak merasa takut samasekali.


Akhirnya sosok itu pun menghilang dan pintu toilet pun dapat ia buka.


Rania pun langsung menuju dispenser air dan langsung membuat kopi,namun belum ia sempat menuang kopi saset tiba-tiba saja air panas itu tumpah dan mengenai tangannya.


Aaapanaa


Rintih Rania merasakan panas di lengannya.


Melihat tangan Rania yang memerah salah satu temannya langsung membawa Rania ke klinik yang ada di perusahaan itu.


Fahri yang saat itu sedang meeting bersama staf perusahaaan dan mendapatkan kabar jika Rania tersiram air panas langsung menyerahkan meeting kepada Alfian.


Ia pun segera menuju klinik dan melihat Rania yang terbaring dan sedang dioleskan salep oleh perawat yang ada disana.


"Sayang kamu gak apa-apa kan?ayo kita kerumah sakit aja Ran" ucap Fahri yang terlihat begitu panik.


"Gak usah,ini juga gak apa-apa udah diobatin sama susternya kok"tolak Rania saat Fahri hendak membawanya ke rumah sakit.


Perawat yang ada disitu seakan tidak percaya bos besarnya ternyata begitu bucin ia juga tidak menyangka jika akan bertemu dengan kekasih bos besarnya.


Setelah mengucapkan terima kasih Fahripun langsung menggendong Rania menuju mobilnya di basemen.


Banyak pasang mata yang melihat sisi lain dari bos mereka.


"Ri turunin ish malu tau diliatin orang"ucap Rania sambil menyembunyikan wajahnya.


"Aku gak perduli sayang, justru yang aku takutkan jika tante Nay marah-marah liat tangan putrinya yang nakal melepuh" ucap Fahri.


Mereka pun tiba diparkiran,Fahri langsung membawa Rania pulang namun sebelum itu ia mampir keklinik untuk membeli obat untuk luka Rania.


Begitu tiba dirumah Rania langsung diminta untuk beristirahat oleh Fahri, sementara itu ia langsung kembali ke kantor karena ada meeting penting.


Sementara itu Radit yang baru saja pulang begitu terkejut saat Fahri memberitahunnya jika Rania tersiram air panas.


Ia langsung membuka matanya kamar Rania dan melihat gadis itu sedang tertidur dengan tangan yang ia biarkan terkena kipas angin.


Ardina yang kebetulan pulang cepat dari salon langsung menghampiri Rania dikamarnya.


Malam itu Rania tidak berani mandi, ia hanya mengelap badannya ia takut lukanya yang sudah melendung dan berisi cairan akan pecah.


Saat ia mendengarkan ceramah ia merasa apa yang diucapkan oleh sang pencerah seperti dirinya.


"Bener juga kata ustadz nya gw tuh gak boleh serba tergantung sama orang lain,gw harus bisa mandiri,dan itu akan gw buktiin" ucap Rania bermonolog sendiri.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali ia sudah berangkat bekerja.

__ADS_1


Fahri begitu terkejut saat ia tiba untuk menjemput Rania ternyata gadis itu sudah berangkat terlebih dahulu.


Begitu tiba dikantor ia melihat Rania sedang sarapan dikantin bersama seorang pria.


Ia pun langsung menghampiri mereka.


"Sayang tadi aku jemput kok kamu malah udah berangkat duluan sih"ucap Fahri sambil mencium ujung kepala Rania.


Pria yang tadi bersama Rania pun tersenyum


"Selamat pagi pak" ucap pria itu


"Pagi juga"jawab Fahri


Fahripun ikut bergabung bersama mereka, hingga akhirnya suara bel pertama pun berbunyi.


Saat didalam lift hanya mereka berdua tiba-tiba saja Rania merasa suasana sedikit dingin.


Begitu lift berhenti Fahripun langsung meninggalkan Rania.


Rania pun berusaha bersikap biasa saja walaupun sebenarnya ia merasa kesal juga.


Saat ia mulai bekerja tiba-tiba saja ada sosok yang jahil mengerjainya.


Awalnya hanya bolpoin yang jatuh, lama-lama beberapa kertas yang sedang ia kerjakan berterbangan.


"Ish iseng banget sih loe jadi hantu" ucap Rania kesal sambil mengambil kertas yang berserakan dilantai.


Beberapa orang temannya langsung melihat kearah Rania.


"Ran loe ngomong sama siapa?" tanya mbak Tuti


"He..he bukan siapa-siapa mbak,tadi cuma ngomong Ama diri sendiri" ucap Rania berbohong.


"Kamu emangnya bisa ngeliat hantu ya" tanya yang lainnya.


Rania pun terpaksa berbohong agar teman-teman tidak merasa takut.


Sebulan sudah Rania berkerja diperusahaannya Fahri akhirnya hari ini ia pun menerima gaji pertamanya.


Ia begitu bahagia karena telah bisa menghasilkan uang sendiri.


Sore ini rencananya Rania hendak mentraktir teman satu ruangannya.


Ia pun mengajak Fahri,namun karena satu hal Fahri pun tidak dapat ikut.


Setelah pulang kerja, dengan menggunakan taksi online mereka pun menuju salah satu mall yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berkerja.


Mereka pun memasuki satu demi satu toko yang mereka sukai, setelah puas berbelanja mereka pun segera menuju salah satu tempat makan siap saji.


Sambil menunggu pesanannya datang Rania pun pamit ke toilet sebentar.


Namun tanpa sengaja dari kejauhan ia melihat Fahri yang sedang menemani seorang wanita berbelanja.


Begitu sesak rasanya dada Rania saat tau jika kekasihnya berdusta.


Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Fahri yang bertanya dia sedang dimana.


Tidak lama kemudian sebuah balas pesan masuk di ponsel Rania.


"Aku lagi dirumah saudara aku sayang" balas Fahri.


Sebenarnya siapa wanita itu,kenapa juga Fahri harus membohonginya" batin Rania.


Setelah menghapus air matanya ia pun segera bergabung dengan teman-temannya.


Saat mereka sedang asik makan tiba-tiba saja salah satu dari mereka melihat Fahri bersama seorang wanita dan kebetulan mereka memasuki restoran yang sama.


"Udah pada Kenyang belum? kalo udah ayo kita keluar,nanti dipecat loh gangguin bos pacaran" ucap Rania sambil mengemas barang-barang yang ia beli.


Keempat temannya pun tercengang mendengar perkataan Rania.


Mereka pun mengikuti apa yang Rania ucapankan.


Rania sengaja melewati tepat didepan tempat Fahri dan wanita itu duduk.


Fahri yang baru menyadari jika Rania melihatnya berusaha untuk menghentikan Rania.


Sedangkan wanita yang bersamanya hanya terlihat bingung.


"Ran...tunggu kamu jangan salah sangka dulu,aku bisa jelasin kok" ucap Fahri sambil berusaha mengejar Rania.


"Ssss itu cewe loh ditinggal sendirian nanti ada yng godain loh"ucap Rania


Rania semakin mempercepat langkahnya, kebetulan taksi online yang mereka pesan sudah datang.


Dengan segera mereka pun langsung naik dan meninggalkan Fahri yang terlihat begitu kesal.


Begitu tiba dirumah Rania berusaha bersikap biasa-biasa saja,ia tidak ingin keluarganya mengetahui permasalahannya dengan Fahri.


Setelah bercerita sebentar ia pun pamit masuk kedalam kamarnya dengan alasan mau mandi dan beristirahat.


Setelah mandi ia pun teringat kembali saat Fahri menggandeng wanita tadi, hatinya terasa begitu sakit.


Akhirnya ia pun tertidur.


Fahri yang merasa perlu memberikan penjelasan kepada Rania langsung mendatangi kediaman Rania namun sayang saat ia tiba disana Rania sudah tertidur pulas, karena tidak ingin menggangu ia pun pamit pulang.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Rania sudah berangkat dengan menggunakan ojol.


Ia sengaja mampir dahulu disebuah gerobak bubur ayam dan sarapan disana.


Ia tau jika ia datang terlalu cepat pasti Fahri akan memaksanya untuk berbicara.


"Rania gw mau ngomong " Fahri langsung menarik tangan Rania saat gadis itu baru saja tiba.


Ia menarik Rania untuk masuk kedalam ruangannya lalu mengunci pintunya.


"Ish mau ngomong apa sih sampe dikunci segala pintunya"decak Rania kesal.


"Gw cuma mau jelasin soal kemarin Ran


"Gw rasa gak ada yang perlu dijelasin RI,udah jelas kok kelihatan kalo tuh cewe penting banget buat loe" ucap Rania berusaha menahan air matanya agaRr tidak jatuh.


"Bukan begitu Ran,gw gak ada maksud buat bohongin loberr


"Terus?" tanya Rania berusaha tegar


"Dia itu cuma sepupu aja Ran gak lebih"ucap Fahri berusaha menjelaskan.


"Mana ada sih sepupu jalan sambil pegangan pinggang,gw emang bodoh tapi gw bisa bedain RI" ucap Rania


"Itu gak seperti yang loe liat Ran"ucap Fahri lagi.


"Udah lah RI gw lagi males bahas itu"ucap Rania sambil berusaha untuk keluar dari dalam ruangan Fahri.


Fahri yang faham dengan sifat Rania akhirnya mengalah untuk hari ini,ia tau jika Rania masih emosi.


Semakin hari Rania semakin menjaga jarak dengannya,


Ia lebih asik bermain bersama teman-temannya yang barunya


"Rania dipanggil bos tuh" tsaaiak Alfian dari depan pintu ruangan Fahri.


Dengan rasa malas ia pun masuk kedalam ruangan Fahri.


Seperti biasa Fahripun memasang wajah datarnya.


"Siang pak, bapak manggil saya?"


"Kamu udah berapa lama kerja disini?"tanya Fahri.


"Kalau gak salah sih hampir 6 bulan pak"


"Sudah lumayan lama,tapi kenapa kerja kamu seperti anak baru,kamu bisa kerja gak sih?" ucap Fahri sambil melemparkan laporan yang Rania kerjakan.


"Maksudnya apa ya?"tanya Rania bingung


"Semua yang kamu kerjakan tidak ada benar,coba kamu kerjakan ulang semuanya dan saya mau dalam satu jam harus sudah selesai" ucap Fahri dengan ketusnya.


Tanpa banyak kata Rania pun langsung mengambil laporan yang Fahri suruh kerjakan ulang.


Iapun mengecek ulang dan menurutnya tidak ada yang salah begitu juga dengan apa yang dikatakan oleh teman-temannya.


"Sial gw dikerjain Ama dia,liat aja jangan mentang-mentang bos bisa seenaknya aja" batin Rania

__ADS_1


__ADS_2