TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 427


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Siang itu saat mereka sudah makan siang,tanpa sengaja Rania melihat ikan yang ia simpan di dalam sebuah ember terlihat seperti kekurangan oksigen dengan mulut yang kadang terbuka dan tertutup,ia pun langsung menambahkan air hingga hampir penuh.


Dari kejauhan Radit memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Rania,ia tersenyum melihat kelakuan adiknya itu.


Ia pun tidak mampu menahan tawanya saat melihat Rania yang seperti sedang menyuapi ikan itu dengan susu coklat yang sedang diminumnya.


"Ran lagi ngapain lor?"tanya Radit pura-pura tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Rania.


"Ini loh aa kasian ikannya aus,dia bosen katanya minum air putih, kebetulan Ran lagi minum susu,ya udah Ran kasih aja"tutur Rania polos.


Haaaaaaaaa


Tawa Radit pun pecah mendengar perkataan adiknya yang memang kadang aneh.


"Aa kenapa ketawa sih,ada yang salah?"tanyanya bingung.


"Ya salah lah, dari dulu juga ikan minumnya air putih kan emang dia hidupnya di air Ran,loe kasih susu yang ada dia malah mati" ucap Radit sambil menahan tawanya.


Asep yang memang kebetulan ada di sana juga ikut tersenyum mendengar penuturan Rania.


Nayla yang mendengar sedikit keributan langsung menghampiri ketiga anaknya, ia pun hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan penjelasan Radit dan juga Ardina.


Rania yang merasa  kesal langsung meninggalkan ruangan itu lalu masuk kedalam kamar.


"Apanya yang aneh sih, emang gak boleh apa ikan minumnya susu coklat"gerutu Rania sambil memukul-mukul bantal yang ia pegang.


Adit yang tau jika Rania sedang merajuk langsung menghampiri putri nya didalam kamar.


"Anak papa kenapa sih,kok mukanya cemberut begitu" Adit duduk disisi Rania lalu mengelus rambutnya.


"Gak usah pura-pura deh,papa pasti udah tau kan apa yang mereka ketawain"


Adit langsung tersenyum "iya papa udah tau kok,masa iya cuma begitu aja kamu ngambek sih" ucap Adit berusaha membujuk putri nya itu.


"Rania tuh cuma kesal aja pah"


"kesel kenapa?" tanya Adit


"Kesel aja pah, mereka pada ngetawain Ran"


"Udah jangan ngambek terus, mendingan kita jajan,mau gak?"bujuk Adit yang memang hafal betul sifat Rania yang mudah untuk dibujuk dengan aneka jajanan jika sedang merajuk.


"Mau,tapi jajan apa?"


"Terserah kamu aja,yang penting anak papa gak ngambek lagi" ucap Adit sambil mencubit hidung Rania.


"Naik motor aja pah biar Ar sama aa gak bisa ikut" pinta Rania yang ditanggapi dengan anggukan dari sang papa.

__ADS_1


"Mau kemana pah?"tanya Ardina saat melihat papanya mengeluarkan motor.


"Mau anterin Ran muter-muter sebentar"jawab Adit


"Ikut dong Pah"


"Gak muat"jawab Rania sambil duduk di jok belakang.


"Dih pelit banget sih"


"Suruh siapa tadi ngeledekin aku"jawab Rania masih dengan rasa kesal.


"Idihh... dendam"


"Ayo pah jalan" rengek Rania


"Iya nona ini juga mau jalan"ucap Adit sambil tersenyum.


Mereka pun melaju di jalan kota Garut , walaupun siang itu cuaca panas namun hembusan angin tetap terasa sejuk.


Rania pun membeli makanan apa saja yang belum pernah ia coba, walaupun ia masih kesal dengan kedua saudaranya namun ia masih tetap membelikan untuk mereka dan juga Asep,saat melihat tukang rujak ia pun membeli beberapa bungkus untuk mamanya yang memang begitu suka rujak.


Begitu banyak yang meraka beli hingga Rania sedikit kerepotan memegang kantung makanan yang mereka beli.


Begitu tiba Rania langsung berteriak memanggilnya Radit dan Ardina untuk meminta tolong membawa masuk makan yang ia beli.


"Udah mah jangan diledekin lagi,nanti kalo ngambek lagi bisa bangkrut papa"ucap Adit sambil tersenyum melihat kearah Rania.


"Papa gak Ikhlas ya"ucap Rania pura-pura marah.


"Gak kok sayang,papa ikhlas kok,kan uang papa emang untuk kalian"ucap Adit sambil meangkul Nayla.


Mereka pun langsung menikmati apa yang Rania belikan.


Selepas sholat ashar mereka pun langsung bersiap-siap untuk kembali.


Setelah semua siap mereka pun langsung berpamitan.


Mobil pun berjalan perlahan keluar dari pekarangan rumah lalu menuju jalan raya .


Entah kenapa tiba-tiba saja Rania begitu rindu dengan Fahri sepanjang perjalanan ia menatap layar ponselnya yang memang wajah Fahri yang menjadi wallpaper nya.


"Kayanya ada yang lagi kangen nih"goda Ardina saat tanpa sengaja memergoki Rania yang sedang memandang foto Fahri.


"Gak tau ni tiba-tiba aja ingat dia"


"Sabar besok juga ketemu" ucap Ardina


"Iya sih"jawab Rania pelan.

__ADS_1


Saat mereka melintasi jalan tol ada begitu banyak penampakan yang Rania lihat,namun ia berusaha untuk tidak berbicara karena tidak ingin membuat Ardina takut.


Adit yang memang tau jika ada sosok yang ikut didalam mobilnya berusaha tenang sambil berusaha mengusirnya .


Memang diantara mereka hanya Ardina saja yang tidak dapat melihat mahluk halus namun terkadang ia pun dapat merasakan jika ada sesuatu.


"Kita cuma berdua, tapi kok kayaknya sempit banget ya Ran" tanya Ardina 


"Gak ah, cuma perasaan loe aja kali Ar" jawab Rania menyembunyikan hal yang sebenarnya.


"Gak usah bohong Ran, ngomong aja,gw gak takut kok"ucap Ardina.


Awalnya ia merasa ragu, namun akhirnya Rania pun berkata yang sebenarnya


Karena merasa begitu lelah Adit meminta putranya untuk menggantikannya untuk menyipit.


Mereka pun berhenti di rest area dan setelah beristirahat sejenak mereka pun langsung melanjutkan perjalanan dengan merubah posisi Radit yang kini gantian mengemudi sedangkan Rania kini duduk di jok paling belakang.


Ia pun membuat dirinya senyaman mungkin, sambil mendengarkan musik ia pun merebahkan diri nya dan entah kenapa ia merasa begitu mengantuk hingga tidak butuh waktu lama ia pun langsung terlelap.


Dalam tidurnya ia bermimpi membunuh seekor ular yang sangat besar dan ia pun langsung terbangun dengan nafas tersengal-sengal seperti habis berlari jauh.


"Astaghfirullah Al azim, kok aku mimpi nya kaya gitu ya?"gumam Rania dan perkataan nya itu pun didengar oleh mamanya Nayla.


"Kamu mimpi apa Ran?"tanya Nayla


"Kok mama tau Rania mimpi aneh?"bukannya menjawab pertanyaan mamanya ia malah balik bertanya.


"Ya mama denger lah kamu ngomong nya lumayan kencang kok"jawab Nayla


"He....he gitu"Rania hanya nyengir sambil menggaruk tangannya yang terasa gatal.


"Mimpi apa Ran?"tanya Nayla lagi


"Oh...itu mah,Ran mimpi matiin ular, padahal kan Ran paling takut sama ular"ucap Rania menjelaskan.


Nayla pun ingat jika dirinya dulu jika bermimpi seperti itu pasti ia akan ada suatu rahasia yang berhasil ia bongkar.


"Kalau mama biasanya kalo mimpi kaya begini pasti ada sesuatu yang akan terungkap Ran" ucap Nayla.


"Maksudnya gimana ma?" tanya Rania masih belum mengerti dengan apa yang mamanya ucapakan.


Nayla pun menjelaskan apa yang ia maksud hingga putrinya itu benar-benar mengerti.


Hari sudah malam saat mereka keluar tol.


Saat di lampu merah tanpa sengaja Rania melihat mobil Fahri berhenti tepat disebelah mobilnya.


Awalnya ia ingin membuka kaca dan memanggilnya, namun saat ia melihat ada seorang wanita yang duduk disebelahnya hal itu pun langsung urung ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2