
SELAMAT MEMBACA
Setelah mendapatkan bantuan dari Aa Iwan dan dibantu juga oleh Adit akhirnya ruh Fahri pun bisa kembali kedalam tubuhnya.
Tubuh Fahri sesaat menegang dan tidak lama kemudian kejang-kejang, dengan sigap papa Fahri langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
Seorang dokter dan beberapa suster pun masuk dan segera memeriksa kondisi Fahri.
"Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat pak, kita lihat beberapa jam kedepan kalau kondisinya semakin baik kita bisa pindahkan ke ruang perawatan" ucap dokter memberi informasi.
Mereka pun bisa bernafas lega karena kondisi Fahri yang jauh lebih baik.
Aa Iwan dan juga Adit serta Rania pun pamit pulang.
Papanya Fahri pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Rania dan juga keluarganya.
Karena lelah begitu tiba dirumah Rania pun langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Saat pagi tiba Rania dan Ardinapun seperti biasa pergi kesekolah.
Rania menceritakan semuanya kapada Rahmat saat mereka di kantin.
Ada rasa tidak suka dihati Rahmat saat Rania terus menyebut nama Fahri.
Ardina hanya senyum-senyum saja memperhatikan wajah Rahmat yang terlihat kesal.
"Ran ada yang cemburu tuh"bisik Ardina
"Kenapa juga dia cemburu,kan dia sukanya sama loe"balas Rania.
"Gak juga Ran, dia juga sama loe" bisik Ardina lagi.
"Bodo lah itu mah urusan hati dia aja" jawab Rania sambil memakan bakwan udang.
Begitu bel masuk berbunyi meraka pun segera kembali kedalam kelas.
Pulang dari sekolah rencananya Rania akan langsung kerumah sakit untuk melihat keadaan Fahri sedangkan Ardina akan langsung ke salon.
Di parkiran meraka pun berpisah, Ardina diantar oleh Rahmat, sedangkan Rania membawa motor sendiri menuju rumah sakit.
Toko kue Nayla yang semakin ramai membuat Nayla tidak bisa meninggalkan tokonya sebelum tutup.
Sementara itu Ardina semakin mahir memotong rambut hingga ia bisa sedikit membantu saat salon salam kondisi ramai.
Begitu juga dengan Adit yang sibuk dengan tempat usaha kebugarannya yang baru saja membuka cabang baru.
Begitu tiba di rumah sakit,Rania langsung disambut oleh papanya Fahri.
Raut wajahnya terlihat sedikit lebih segar karena ia sempat pulang dan beristirahat saat salah satu art nya datang untuk gantian menjaga Fahri.
Fahri yang saat ini sudah berada di dalam ruang perawatan masih terlihat pucat.
"Ri, bangun dong loe tidur lama amat sih, apa gak pegel ya" ucap Rania yang duduk disebelah Fahri yang masih terpasang beberapa selang.
"Berisik banget sih loe Ran" tiba-tiba saja mata Fahri terbuka perlahan.
"Alhamdulillah loe udah sadar Ri"ucap Rania senang saat mata Fahri sudah terbuka walaupun masih terlihat sayu.
"Loe takut ya kalo gw mati" ucap Fahri sambil tersenyum.
Ada rasa bahagia di hati Rania saat ia bisa kembali melihat senyum Fahri.
"Biasa aja" jawab Rania pura-pura acuh.
Fahri pun tersenyum lalu ia kembali memejamkan matanya.
"Ri, Fahri.." panggil Rania panik saat melihat Fahri kembali memejamkan matanya.
Fahri yang tadi hanya ingin memejamkan matanya sebentar langsung mempunyai ide untuk mengerjai Rania.
Ia diam saja saat Rania memanggil-manggil namanya.
"Ri, jangan bikin gw panik RI, loe gak koma lagi kan" ucap Rania di sela-sela paniknya.
"Kurang asem Rania masa iya dia mau gw koma lagi sih" batin Fahri.
Ada rasa bahagia saat melihat Rania begitu khawatir dengan kondisinya.
"Ri... Fahri,jangan bikin gw takut dong RI" ucap Rania lagi.
Karena tidak tega Fahri pun membuka matanya dan tersenyum.
"Alhamdulillah gw kira loe ..." ucap Rania sambil memasang senyum yang dipaksakan.
"Jahat banget sih loe Ran ngarepin gw koma lagi" ucap Fahri.
"Dih bukan begitu RI" sangkal Rania
"Ran...loe takut ya kalo gw mati" ucap Fahri
"Loe jangan ngomong soal mati dong RI" protes Rania.
"Kenapa? loe takut ya kalau gw mati nanti gw bakal gentayangin loe terus" ucap Fahri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Loe gak mati aja gangguin gw terus RI, gimana loe jadi hantu" jawab Rania asal.
Wkwkw
Fahri tertawa mendengar perkataan Rania, ya mamang sih selama ruh nya keluar dan tidak bisa kembali ia selalu mengikuti gadis itu, hingga tidurpun ia berada disebelah Rania.
Papanya Fahri yang ternyata dari dari sudah berada didepan ruangan itu hanya tersenyum mendengar candaan mereka berdua.
Dalam hatinya ia berharap jika Rania adalah jodohnya Fahri.
Saat ia termenung sambil duduk dibangku tunggu entah karena pikirannya yang kosong atau memang Mamanya Fahri menampakkan wujudnya dihadapan sang suami.
Wanita itu tersenyum kearah suaminya.
"Mah itu benaran kamu kah?" ucap pria itu dan tanpa terasa air matanya mengalir.
Setelah sekian lama akhirnya baru kali ini ia dapat melihat kembali sosok istrinya.
Beberapa hari kemudian Fahri pun sudah mulai masuk sekolah.
Kembali seperti dahulu pergi dan pulang Rania selalu bersama Fahri.
Sedangkan Ardina hanya pagi saja bersama mereka, sedangkan jika pulang ia selalu bersama Rahmat.
Rahmat sedikit cemburu saat melihat Rania yang terlihat seperti mesra kepada Fahri namun jika berbicara dengannya maka Rania akan berubah menjadi galak, hingga Rahmat pun berpikir jika Fahri menggunakan pelet untuk mendekati Rania.
"Ar, si Fahri bener make pelet kali ya, kok bisa sih dia naklukin Rania yang galak gitu"
"Jangan punya pikiran jelek sama orang, gak bagus kaya gitu"ucap Ardina mengingatkan Rahmat.
"Bukan begitu Ar, coba aja perhatiin sodara loe kalo sama gw galaknya minta ampun" ucap Rahmat kesal.
"Kayanya ada yang cemburu nih" goda Ardina
"Gw gak cemburu Ar, cuma kesal aja" jawab Rahmat.
Setelah mengantar Ardina,Rahmat tidak langsung pulang, ia singgah ke rumah seorang temannya, lalu mereka pun pergi kesebuah rumah yang menurut temannya itu bisa membantu Rahmat untuk mendapatkan Rania.
Setelah bertemu dengan orang itu Rahmat pun pamit pulang.
Dirumahnya ia nampak berpikir-pikir lagi apakah niatnya salah jika ia menginginkan Rania juga.
Malam itu saat Rahmat sedang termenung memikirkan tindakannya, tiba-tiba saja gelas yang berisi kopi yang ada di mejanya jatuh.
Ia begitu terkejut sekaligus heran, bagaimana bisa gelas yang ada di tengah meja tiba-tiba saja bisa jatuh.
Awalnya Rahmat tidak mau ambil pusing, namun lagi-lagi ada kejadian aneh yang ia alami,pintu kamarnya terbuka sendiri namun tidak ada orang didepannya.
"Sial siapa sih yang iseng" maki Rahmat kesal.
"Dih tumben banget sih loe takut sama hantu" ucap temannya saat ia tiba dirumah Rahmat yang kebetulan sedang sepi.
Kedua orang tuanya sedang tugas diluar kota, sedangkan Rahmat anak tunggal, kedua orang art nya sudah tidur mungkin karena terlalu lelah.
Mereka pun langsung masuk kedalam kamar Rahmat dan mereka pun saling bercerita.
Deni nama teman Rahmat yang memperkenalkan Rahmat pada orang pintar dan saat ini mereka sedang membahas persyaratan yang harus mereka bawa jika memang Rahmat sudah benar-benar yakin ingin melakukannya.
Tanpa mereka sadari sosok kecil yang yang selalu mendampingi Rania ada disana dan ia nampak begitu marah mendengar semua rencana Rahmat dan temannya itu.
Prankkkkk
Tiba-tiba saja gitar milik Rahmat yang tergantung jatuh dan menimbulkan suara yang lumayan kencang hingga keduanya begitu terkejut.
Deni yang awalnya tidak percaya dengan perkataan Rahmat waktu di telp tadi kini ia pun merasa takut.
Ia yang awalnya ingin menemani Rahmat langsung pamit pulang karena takut.
Lama-lama Rahmat pun ikut takut, akhirnya ia pun membangunkan kedua orang artnya untuk menemaninya hingga ia tidur.
Rahmat yang kesiangan karena tidak bisa tidur nyenyak akhirnya tiba juga disekolah,namun saat ia akan ke kantin bel lebih dulu berbunyi akhirnya ia pun mengurungkan niatnya dan berbalik arah menuju kelasnya.
Sosok yang selalu menemani Rania langsung mengerjai Rahmat saat pria itu akan melewati Rania.
Brukkk
Rahmat pun terjatuh karena ulah sosok anak kecil itu
"Loe jail banget sih cil"bisik Rania pada sosok kecil yang selalu mengikutinya.
Sosok itu hanya nyengir memperlihatkan gigi nya yang kuning.
"Bisa gak kalo loe mau nyengir ganti dulu giginya sama yang bersih jangan kuning gitu" bisik Rania lagi
lagi-lagi sosok itu hanya tersenyum.
Rania pun berdecak kesal karena sosok itu hanya tersenyum tanpa mau berkata.
Karena hari ini Fahri tidak masuk sekolah Rania pun pulang sendiri.
Seperti biasa Ardina sibuk belajar disalon.
Karena merasa jenuh di rumah ia pun tidak langsung pulang.
__ADS_1
Rania mampir ke toko kue mamanya dan disana ia hanya makan kue yang ia suka dan sedikit usil tanpa mau membantu mamanya.
Setelah puas ditoko kue mamanya ia pun pamit pulang namun tidak lupa ia meminta sedikit uang untuk jajan saat pulang nanti.
Lagi-lagi Rania mampir ke salon untuk sedikit merusuh lalu ke tempat fitnes milik Papanya.
Lagi-lagi disana ia hanya merusuh dan setelah puas ia pun pamit pulang.
Tanpa ia sadari ia melewati jalan yang dikenal angker beberapa minggu belakangan ini karena ada kejadian wanita yang gantung diri dan konon katanya arwahnya gentayangan mengganggu orang yang lewat.
Saat Rania baru ingat hal itu ia pun yang tadinya ingin berbalik arah namun terasa begitu susah seperti ada yang menarik dan memaksanya untuk terus berjalan.
Entah kenapa tiba-tiba saja jantung nya berdebar kencang semakin dekat dengan tempat orang gantung diri itu semakin cepat juga jantung Rania berdetak.
Namun saat melewati rumah itu tidak ada hal aneh yang terjadi, ia pun bernafas lega dan menarik gas motornya sedikit lebih dalam.
Baru saja beberapa meter ia melewati rumah itu tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu derasnya hingga mau tidak mau ia pun mencari tempat untuk berteduh.
Saat melihat ada rumah kosong ia pun menepi dan berteduh sejenak menunggu hujan reda.
Kebetulan saat itu ada seorang wanita yang sedang berdiri disana.
Sambil menunggu hujan reda Rania pun mengeluarkan ponselnya.
Semakin lama hujan turun semakin lebat, untuk menghilangkan rasa sepi ia pun mencoba mengajak ngobrol wanita disebelahnya.
"Haii, mbak mau pulang kemana?" tanya Rania ramah.
Wanita itu hanya diam saja tidak menjawab.
Setelah beberapa kali bsrtanya namun tidak ada satu pun pertanyaannya yang di jawab akhirnya Rania memilih diam sambil menunggu hujan reda.
Karena merasa pegal Rania pun duduk diatas motornya.
Saat sedang asik ngaca Rania langsung terkejut saat tanpa sengaja ia melihat wanita itu lewat spion motornya.
Karena tidak yakin dengan penglihatannya Rania pun kembali melihat spion motornya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat wanita itu sedang menatapnya dengan wajah yang pucat dan lidah yang terjulur keluar.
Tanpa pikir panjang Rania pun langsung menyalakan motor nya dan tancap gas.
Namun karena terburu-buru dan jalanan licin Rania pun jatuh.
"Astaghfirullah apes banget sih gw" desis Rania sambil berusaha bangun dan melihat lutut serta tangannya yang berdarah.
Saat ia bisa berdiri ia baru bisa merasakan disekitar mata kakinya yang sakit hingga ia pun sedikit terpincang-pincang mendirikan motornya dan berusaha untuk naik.
Setelah berhasil naik ke atas motornya ia pun mulai menjalankannya pelan.
Setelah penuh perjuangan dan sedikit menahan sakit ia pun tiba dirumahnya.
Beruntung saat itu Radit sedang menunggunya diteras.
Radit begitu panik saat melihat keadaan Rania yang basah kuyup dan ada noda darah di pakaian seragamnya.
"Astaghfirullah Ran kamu kenapa" Radit langsung memegang motor Rania, dan setelah Rania turun ia langsung menstandar motor Rania lalu membantu adiknyanya untuk segera masuk.
Dengan bantuan dari abangnya Rania pun langsung membersihkan diri dan berganti pakaian sedangkan Radit membuatkan susu hangat untuk adiknya itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian dengan susah payah Rania berjalan ke arah tempat tidurnya.
Ia pun langsung duduk disisi tempat tidurnya sambil melihat luka apa yang ia dapat tadi.
Adit pun masuk dengan membawa satu gelas besar susu hangat.
Setelah meminum habis satu gelas susu Rania pun menceritakan apa yang baru saja ia alami barusan.
Radit langsung melihat mata kaki Rania yang terkilir dan sudah mulai membengkak.
Karena tidak ingin membuat mamanya khawatir Rania melarang Radit untuk memberitahu mamanya.
Saat Rania tidur Raditpun langsung menelpon Mamanya untuk memberitahu kondisi Rania .
Saat mendengar Rania jatuh dari motor Naylapun langsung pamit pulang dan kebetulan tokonya pun sudah mau tutup.
Begitu tiba dirumah Nayla langsung menuju kamar Rania untuk melihat kondisi putrinya.
Nayla yang begitu panik saat melihat luka-luka yang Rania dapat dan badannya yang panas langsung menghubungi Adit dan memintanya untuk segera pulang.
Adit yang mendapatkan kabar jika Rania jatuh dari motor langsung menghampiri Ardina disalon lalu mengajaknya untuk pulang.
Sementara itu Nayla langsung mengompres kening Rania yang panas lalu mengobati luka di siku dan juga lututnya.
"Aaww mama sakit tau" rintih Rania
"Ditahan sayang nanti infeksi kalau gak dibersihkan"
Radit langsung mengambil satu buah coklat miliknya dan memberikannya kapada Rania agar gadis itu lupa sejenak dengan rasa perih dari lukanya.
Adit yang baru saja tiba langsung masuk dan menuju kamar Rania.
Ia begitu terkejut saat melihat beberapa luka Rania dan tanpa banyak bicara ia langsung menggendong Rania bermaksud membawanya ke rumah sakit.
"Papah, Ran gak apa-apa kok nanti juga sembuh" teriak Rania tidak mau diajak untuk kerumah sakit.
__ADS_1
Naylapun segera membuka pintu mobil lalu ikut duduk disebelah Rania.
Radit dan Ardinapun tidak mau ditinggal.