
Selamat Membaca
Berbeda dengan yang sudah-sudah. Kali ini Nayla hanya diam tak banyak merengek ataupun melawan.
Ia pasrah apapun yang terjadi padanya nanti sudah pasti itu adalah takdir yang harus dijalaninya.
Anto nampak bingung memperhatikan wajah Nayla yang sedikit memucat.
"Apa kamu Sakit Nay???" tanyanya sambil menjulurkan tangannya ingin menyentuh dahi Nayla.
"Gak .."jawab Nayla sambil berusaha menghindar agar tangan Anto tak menyentuhnya.
Anto hanya tersenyum melihat Nayla yang terus menghindar darinya.
"Sayang kamu kenapa pucet sihh"
"Aku buatin susu ya?"
Anto terus membujuk Nayla agar mau menimum susu atau memakan sesuatu.
" Aku gak mau To.."
"Udah sihh gak usah ganggu aku, aku mau tidur To" Nayla yang kesal akhirnya memaki Anto yang teruss mengganggunya.
"OK Nay...kalo kamu mau tidur ya tidur aja,aku tetep disini buat jagain kamu"
cup...
Anto kembali mendaratkan bibir tebalnya di kening Nayla.
"Apa'an sih nyiumin aku teruss, gak pantes tau.."Maki Nayla lalu menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Nayla ...kamu tuh sebentar lagi bakalan jadi milik aku seutuhnya, terserah kamu mau terima atau tidak yang pasti kamu hanya untuk aku" desis Anto lalu ia pun keluar dari kamar Nayla dan tak lupa menguncinya.
Setelah Anto keluar Nayla langsung membuka bantal yang menutup wajahnya.
Saat Nayla ingin turun dari tempat tidur ia baru ingat jika kakinya terikat.
" Ahhhhh aku benci Anto.."
Tiba-tiba Nayla berteriak sekencang mungkin, ingin rasanya ia meluapkan semua kekesalannya.
Anto yang berada tak jauh dari ruangan Nayla langsung membuka kamar dan melihat apa yang membuat gadis itu berteriak kencang.
"Ada apa Nay...?"
"Kenapa kamu teriak kaya gitu" tanya Anto
"Pergi...kamu..."
"Aku gak mau liat kamu..."
Nayla terus mamaki dan memukul Anto yang berusaha menenangkannya.
"Nayla diam..." bentak Anto yang mulai habis kesabarannya.
Ia pun menangkap kedua tangan Nayla dan memegangnya erat.
Naylapun sedikit meringis saat tangan Anto memegang luka di pegelangan tangannya.
"Lepasinn..Anto...ishhh..." Nayla mencoba membuka satu persatu jari Anto namun hasilnya nihil.
Anto yang sudah terlanjur emosi akhirnya menarik paksa tubuh Nayla lalu mendekapnya erat.
Nayla yang kesal berusaha melepaskan diri dari Anto, ia terus memukul apa saja yang dapat ia gapai.
" Adittt tolong aku...hu...hu"
"Adit...."
Teriak Nayla yang terus memanggil nama suaminya.
"Diam Nayla..jangan sebut nama itu di hadapanku.." bentak Anto yang marah
"Aa Adit...tolong ....hu..hu" teriak Nayla tak menghiraukan ucapan Anto.
__ADS_1
"Nayla....Diamm" bentak Anto yang semakin marah.
Karena kesal Anto pun mencium paksa bibir Nayla.
Nayla yang tak sudi disentuh oleh Anto memalingkan wajahnya bahkan ia menggigit bibirnya sendiri hingga mengeluarkan darah.
Anto yang semakin marah melihat Nayla yang mengbungkam rapat bahkan menggigit bibirnya sendiri sangat emosi hingga
Plaakkk
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Nayla.
Nayla meraba pipinya yang panas dan perih disudut bibirnya.
Ia menangis sambil mengusap kasar sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.
Nayla terus menangis tersedu-sedu sambil terus memegangi pipinya.
Ia pun membelakangi Anto yang masih berdiri di sampingnya.
"Nay...maafin aku sayang.." Anto berusaha menarik Nayla agar menghadapnya.
"Jangan megang aku.."
"Pergi To aku gak mau liat kamu.." ucap Nayla disela-sela tangisnya.
"Nay...liat aku.." Anto menarik paksa Nayla hingga mau tak mau Nayla menghadapnya.
"Aku minta maaf Nay..aku marah gara-gara kamu" Ucap Anto yang merasa menyesal karena telah membuat pipi Nayla memerah dan sedikit membesar.
Tanpa aba-aba Anto langsung mendekap tubuh Nayla.
"Lepasinn To..." Nayla mendorong tubuh Anto agar menjauh..
Bukan Anto namanya jika ia menyerah begitu saja.
Sementara itu Adit,Dedi dan Dadang sudah hampir sampai di rumah Anto.
Rumah itu berada di tengah bukit dan posisi rumah Anto berada di paling ujung jalan dengan banyak pohon-pohon besar di bagian depan dan sisisnya.
Kini Mereka berada didepan rumah.
Adit memperhatikan sekeliling rumah itu.
" Iya A dia ada disini" bisik Dadang sambil menunjuk kearah mobil yang terparkir digarasi yang sedikit terbuka.
Mereka pun berpencar, mengendap-endap mencari jalan masuk soalnya pintu depan terkunci rapat.
Setelah Yakin Anto berada dirumah itu Aditpun menghubungi Polisi dan orang tuanya dan memberitahu posisi mereka kini.
Sementara itu dikamar tempat Nayla disekap nampak wajah gusar Anto karena Nayla terus memanggil nama suaminya.
"Diamlah Nayla jangan sebut nama itu" bentak Anto sambil mencekram dagu Nayla
"Aku gak mau diem..."
"Adit....tolongggg aku, Adit...." teriak Nayla yang tak perduli jika Anto semakin marah.
Sedangkan di luar Adit langsung panik saat sayup-sayup mendengar suara Nayla memanggil namanya.
" Sayang...sabar...Nay...aku udah ada disini.." Adit berbicara sendiri sambil berusaha mengintip dari kaca trasnparan.
"Dasar berengsek lepasinn gw .."
Nayla mendorong tubuh Anto yang kini berada diatas tubuhnya.
Anto yang sudah kalap dengan brutalnya mecium Nayla.
Dengan tangan yang kembali di ikat dengan sebuah tali Anto terus menciumi Nayla dari pipi, leher sedangkan Nayla terus menangis tak bisa melawan.
"Brengsekkk lepasinnn gw..."
"Tollolllonggg.... "
"Ttolllonggg...enggg...."
__ADS_1
Anto terus mencium Nayla.
Nafsunya yang sudah naik ke ubun-ubun membuatnya hilang kendali.
Sementara itu Adit yang sudah berhasil masuk melalui jendela yang ia congkel langsung mencari asal suara.
Hingga akhirnya ia berdiri didepan sebuah pintu dan mendengar suara tangisan Nayla langsung membuat amarahnya memuncak.
Tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung mendobrak pintu.
Alangkah terkejutnya Adit saat melihat Anto yang sedang mengukung Nayla.
Sedangkan gadis itu hanya bisa menangis dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Berengsekk apa yang kau lakukan pada Istriku..." Adit langsung menghambur kearah Anto dan menariknya paksa.
Bugh...
Sebuah pukulan berhasil mendarat diwajah Anto.
Bugh...
Tanpa memberi kesenpatan pada Anto untuk melawan Adit terus menghajar Anto hingga wajahnya pun membengkak lalu Antopun muntah darah.
Beruntung Dadang dan Dedi datang dan menahan Adit yang sudah terbawa emosi apa lagi tadi ia melihat Anto yang kembali hendak melecehkan istrinya.
"A' Adit udah a..lebih baik sekarang aa tolonhin dulu si tetehnya itu" ujar Dedi yang menahan Adit saat ia hendak kembali menghajar Anto.
Seketika itu juga Adit langsung melihat kearah Nayla yang menangis antara bahagia dan sedih.
Ia pun langsung menghampiri Nayla dan membuka ikatan yang melingkar di pergelangan tangan dan kakinya
"Aa aku takut.....hu..hu" Nayla langsung memeluk erat suaminya sambil menangis.
"Tenang sayang aku udah ada disini..." Adit berusaha menenangkan istrinya yang terus saja menangis dengan tubuh yang gemetar.
Adit menangkup wajah Nayla, ia melihat miris luka-luka di wajah istrinya.
" Maafin aku sayang, andai aku datang lebih cepat semua gak akan begini" ucap Adit sambil mengelus lebam di pipi Nayla dan luka di sudut bibirnya.
"Maafij aku yang gak bisa jagain kamu beib" ucap Adit tak mampu menahan air matanya.
Ia pun mendekap erat tubuh Nayla.
Sementara itu Dadang dan Dedi memegang tangan Anto erat sambil menunggu polisi datang.
Anto terus saja memaki kedua temannya yang malah membantu Adit.
Saat kedua orang itu lengah Anto segera mengambil pisau belati dari balik bajunya.
Ia pun berlari kearah Adit yang sedang menenangkan Nayla.
Nayla yang melihat Anto berlari kearahnya dengan membawa sebilah pisau langsung mendorong tubuh Adit hingga Anto pun gagal menusuk Adit.
Aditpun berusaha mengambil pisau dari tangan Anto hingga terjadilah perkelahian yang tidak seimbang karena Anto menggunakan senjata tajam.
Entah bagaimana tiba-tiba saja pisau itu berhasil menusuk bagian kiri lambung Adit dan seketika itu juga darah mengalir deras dari luka Adit.
Ha....ha....ha
"Jika aku tak bisa memilikimu, Maka dia pun tidak Nay..." terdengar suara tawa Anto yang menggelegar.
" Tidak...Adit...."
Nayla langsung menghambur memeluk Adit yang sudah bersimbah darah.
Semetara Dadang dan Dedi berhasil meringkus kembali Anto dan mengikatnya.
**Haii maaf ya hari ini aku telat up nya
Maaf keun authorr jika banyak typo bertebaran.
Jangan lupa tetap kasih authorr dukungan ya sebagai penyemangat.
Salam Maniss
__ADS_1
Amellajj/authorr**