
SELAMAT MEMBACA
Aa Iwan yang tau jika Rania terkena pelet dari seseorang segera membantu untuk menyembuhkannya.
Ia pun langsung ingat kejadian beberapa tahun yang lalu hal serupa pernah terjadi pada Nayla.
"Ngapain loe kesini, pergi sana"usir Rania saat melihat Aa Iwan.
"Kalem atuh Ran, mamang gak ngapa-ngapain kok kaya ketakutan begitu" ucap Aa santai.
Entah apa yang aa Iwan lakukan beberapa saat kemudian Rania pun berteriak sambil menangis meminta tolong kepada Rahmat.
Ardina begitu terkejut saat Rania menyebutkan nama laki-laki itu.
Setau Ardina saudaranya itu begitu tidak suka dengan pria itu.
"Lah kok minta tolongnya sama Rahmat sih?"tanya Ardina bingung.
Aa Iwan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ardina.
Sebenarnya dari beberapa hari lalu aa Iwan sudah membantu Rania namun memang setiap orang pasti ada saatnya untuk lengah.
Sementara itu dirumahnya Rahmat merasa kan badannya terasa sakit semua ia tidak tahu apa yang ia alami saat ini.
Lagi-lagi Rania tidak masuk sekolah karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
"Mah, Ran mau ketemu Rahmat sebentar aja mah" Rania terus merengek
"Gak boleh sayang,kamu kan lagi gak sekolah masa iya mau main"ucap Nayla
"Tapi mah Ran kangen tau sama dia"
"Gimana kalau dia aja yang disuruh kesini ya"
Rania pun tersenyum bahagia saat mamanya menelpon Ardina dan memintanya untuk bilang pada Rahmat agar menemui Rania siang ini.
Sebenarnya Ardina sedikit kesal karena Rahmat telah berpaling darinya namun ia sadar ia tidak bisa memaksa Rahmat agar kembali menyukainya.
Ardina berusaha menepis rasa sakit dihatinya demi Rania, namun ia juga tau jika Rania tidak menyukai pria itu.
"Mat,loe disuruh kerumah tuh sama Ran, katanya dia mau ketemu loe"
Senyum Rahmat langsung mengembang saat mendengar Rania minta bertemu dengannya.
Mungkin saat ini Rahmat sedang dibutakan dengan rasa sukanya pada Rania hingga dia lupa jika ia juga menyukai Ardina.
Saat pulang sekolah Rahmat pun langsung menuju rumah Rania namun ia tidak bersama Ardina karena Ardina langsung ke salon.
Begitu tiba dirumah Rania, Rahmat langsung dipersilahkan masuk.
Dengan ditemani Nayla, Rahmat pun menemui Rania dikamarnya.
"Assalamualaikum, Ran" sapa Rahmat sambil mengetuk pintu kamar Rania yang kebetulan terbuka.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,wah kamu udah sampe" ucap Rania gembira.
Ia pun langsung menghampiri Rahmat "kok gw pengen banget liat loe sih Mat" ucap Rania bahagia dan ingin memeluk Rahmat.
Namun saat Rania hampir memeluk Rahmat Nayla langsung mencegahnya.
"Ran,, gak boleh begitu main peluk cowo aja" tegur Nayla.
"Tapi mah Ran kan kangen" jawab Rania
"Masih kecil gak boleh peluk cowo kecuali papa sama aa kamu" ucap Nayla sedikit tegas.
Rahmat yang tadinya bahagia karena akan dipeluk oleh Rania langsung merasa malu.
Sementara itu Aa terus berusaha mengobati Rania dari jauh.
Rania yang sedikit demi sedikit mulai sadar berusaha melawan sesuatu yang ia juga tidak tahu apa.
"Gak mungkin gw suka sama dia, gw malah benci sama dia" batin Rania terus melawan rasa suka sesaatnya pada Rahmat.
"Ngapain loe ada disini" tanya Rania saat sudah mulai sadar.
Sementara itu Aa Iwan yang membantu dari jauh terkena serangan dari orang yang membantu Rahmat.
Ia merasakan dadanya begitu sesak, bahkan dari hidungnya keluar darah segar.
Namun ia begitu lega saat dapat mengalahkan serangan dari dukun yang Rahmat suruh.
Aa Iwan pun beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya sebelum nanti sore akan kerumah Rania.
Sementara itu Rania yang sudah mulai sadar nampak sedang memaki Rahmat.
Bahkan sekarang rasa bencinya lebih besar dari semula.
Selepas magrib Aa Iwan pun tiba dirumah Nayla.
Nayla sengaja melarang Rahmat untuk pulang karena ia ingin mempertemukan Aa Iwan dengan Rahmat.
Setelah makan malam mereka pun berkumpul diruang tengah dan saat itulah Rahmat diminta untuk mengakui perbuatannya terhadap Rania.
Awalnya ia tetep menyangkal namun setelah dipaksa oleh Aa Iwan akhirnya ia pun mengakuinya.
Namun yang membuat semua terkejut alasan Rahmat melakukan itu bukan karena ia mencintai Rania namun karena ia kesal selalu diremehkan oleh Rania.
Niat awalnya setelah Rania bisa ia taklukan ia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Rania lakukan kepadanya.
Rania begitu marah saat mendengar penjelasan Rahmat, ingin rasanya ia meninju wajah pria itu namun segera ditahan oleh Aa Iwan dan papanya.
__ADS_1
Aa Iwan juga menasehati Rania,jika memang ia tidak suka dengan Rahmat maka usahakan biasa saja karena sebenarnya rasa benci dan suka itu hanya beda tipis.
Rahmat yang telah mengakui perbuatannya merasa begitu malu pada keluarga Rania,ia pun merasa begitu menyesal.
Karena ego nya ia mengorbankan perasaannya kepada Ardina.
Bahkan sekarang hubungannya dengan Ardina semakin jauh.
Keesokan harinya Rahmat hanya menunduk saat bertemu dengan Rania ataupun Ardina.
Memang tidak ada yang tau permasalahan antara mereka kecuali Fahri dan Ardina.
Rania merasa begitu bersalah kepada Fahri, ia pun mendekati pria itu.
"Ri.."panggilnya
"Hmmm" jawab Fahri dingin
"Loe marah ya"
"Gak" jawab Fahri singkat
"Tapi kayanya loe marah, maafin gw ya" ucap Rania
"Gak usah merasa bersalah gitu Ran, gw ngerti kok itu bukan salah loe" jawab Fahri dengan merubah mimik wajahnya.
"Tapi....gw malu RI, kesanannya gw cewe gimana gitu ngejar-ngejar cowok" ucap Rania
"Tapi gw gak mikir kaya gitu Ran, rasa sayang aku sama kamu gak berubah kok" ucap Fahri lembut sambil mengelus kepala Rania lembut.
Dari jauh Ardina tersenyum melihat Rania sudah kembali bersama Fahri namun ia sedih karena Rahmat jadi menjauh dari mereka.
Ia merasa malu karena telah berbuat hal yang bodoh.
Karena merasa begitu bersalah Rahmat pun berniat untuk pindah sekolah bahkan pindah daerah.
Secara diam-diam ia pun pindah,hanya sebuah pesan yang ia kirim kepada Rania dan Ardina.
Rania yang tadinya hanya mengira jika Rahmat hanya bercanda begitu merasa bersalah karena setelah kepindahan Rahmat Ardina terlihat begitu sedih.
Ia pun berusaha menghibur Ardina dengan berjalan-jalan.
Wajah Ardina yang murung membuat Rania semakin merasa begitu bersalah.
"Ar...loe pasti kehilangan banget ya, si Mamat pindah sekolah"
"Gak juga" jawab Ardina berusaha menutupi kesedihannya.
"Loe gak bisa bohong sama gw, gw merasa bersalah banget Ar" sesak Rania.
"Jangan begitu Ran, gw gak apa-apa kok, ini kan baru ya masih berasa aja nanti juga lama-lama biasa Ran" ucap Ardina berusaha untuk biasa saja didepan saudaranya itu.
Ardinapun tertawa mendengar penuturan Rania.
Radit yang baru saja pulang camping terlihat begitu lelah.
Tas besarnya terlihat begitu kotor.
"Wah aa udah pulang, bawain Ran oleh-oleh gak?" tanya Rania dengan wajah riang menghampiri Aa nya.
"Aa tuh pulang camping Ran buka jalan-jalan"jawab Radit.
"Wkwkkwk kirain aa biar di gunung tetap ingatnya sama Ran gitu" ucap Rania
"Punya adek kok gini banget sih, aa tuh capa bikinin minum kek ini malah nanya oleh-oleh" gerutu Radit sambil mengacak-acak rambut Rania.
"Woiii ini kepala malah di pegang-pegang sih" ucap Rania sambil menepis tangan Radit dari kepalanya.
Radit hanya tersenyum melihat Rania yang kesal karena rambutnya ia acak-acak.
Ardina yang masih terlihat sedih hanya duduk melamun sambil memegang ponselnya seperti sedang menunggu telpon dari seorang.
"Ar loe lagi nunggu telp dari siapa?" tanya Rania penasaran.
"Dari temen"jawab Ardina dengan senyum yang dipaksakan.
"Ar..besok kita lihat yang latih marching band mau gak" ajak Rania penuh semangat.
"Liat besok aja ya,gw masih belum bisa mikir" jawab Ardina.
"Maaf ya gara-gara gw loe jadi patah hati" ucap Rania seakan ia merasa kepergian Rahmat karena dirinya.
Mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing.
Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu sekolah libur biasanya Ardina dan Rania akan bangun sedikit siang.
Namun berbeda dengan hari ini sejak pagi Ardina sudah bangun namun dia enggan untuk move on dari tempat tidurnya.
Ia masih ingat saat pertama kali dekat dengan Rahmat.
Tiba-tiba saja ia begitu rindu dengan Rahmat, ia juga ingat dengan perjanjian yang mereka buat, saat usia Ardina tujuh belas tahun nanti mereka akan meresmikan hubungan mereka.
Rahmat juga berjanji akan tetap setia pada Ardina, namun apa yang terjadi sebelum mereka resmi pacaran ternyata Rahmat telah mengingkari janjinya, ia menyukai wanita lain dan ternyata wanita itu adalah saudaranya sendiri hingga ia nekad berbuat hal yang tidak baik dan akhirnya ia pun pergi entah kemana.
"Ar..loe udah bangun belum, jalan-jalan yuk"teriak Rania dari depan pintu kamar Ardina
Awalnya Ardina malas untuk menjawab namun karena ia mempunyai sifat yang lembut ia pun tidak tega membiarkan Rania untuk jalan-jalan sendiri.
Dengan malas Ardina berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Emangnya mau kemana Ran?" tanya Ardina
__ADS_1
"Kita liat yang latihan marching band yuk, keren-keren tau" ucap Rania penuh semangat.
"Ya udah, sebentar ya gw mandi dulu, loe tunggu didepan aja" ucap Ardina.
Raniapun hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar Ardina dan menunggunya didepan.
Kebetulan diteras depan Radit sedang berolah raga ringan.
Saat sedang push up tiba-tiba saja Rania langsung duduk diatas punggung Radit.
Dengan santainya ia duduk sambil memakan roti.
"Dek turun ih berat tau" ucap Radit yang sedikit keberatan.
Wkwkkwk
Rania tertawa bahagia saat melihat Radit yang meringis.
"Kan katanya aa kuat masa segini aja gak kuat sih" ucap Rania dengan santainya.
Nayla yang kebetulan pulang dari belanja hanya tersenyum melihat kelakuan Rania yang hampir sama seperti dirinya.
"Kamu itu duplikatnya mama kamu Ran, gak jauh beda" tiba-tiba saja Adit muncul.
"Masa sih Pah?" tanya Radit seakan tidak percaya.
"Iya, dulu juga dia begitu, pas liat papa lagi push up mama kamu duduk santai mirip kaya Rania tadi" ucap Adit sambil tersenyum.
Adit tersenyum saat ingat dengan kelakuan Nayla yang terkadang konyol dan itu menurun kepada Rania.
Sedangkan Ardina yang lemah lembut menurun dari mamanya Dina.
"Ayo Ran gw udah siap" ajak Ardina yang sudah rapi.
"Pada mau kemana sih, kamu sudah mandi belum Ran?" tanya Nayla yang begitu yakin jika putrinya itu sudah mandi pagi.
"Belum mah, Ran cuma cuci muka sama ganti baju aja" jawab Rania sambil cengengesan.
"Astaga kamu tuh beneran ya masa niru mama kamu yang jeleknya aja sih" ucap Adit sambil mencubit pipi Rania.
Mereka hanya tersenyum mendengar perkataan papanya.
Kedua gadis itu pun pergi meninggalkan rumahnya menuju sekolah mereka untuk melihat anak-anak yang sedang latihan marching band.
"Wah mereka keren banget ya, seragamnya juga keren" sorak Rania sambil bertepuk tangan.
"Kenapa loe gak gabung aja Ran"
Rania hanya menggaruk tengkuknya
"Kan loe tau Ar gw gimana" ucap Rania
Saat barisan marching band lewat didepannya ia begitu terpesona saat melihat salah satu anggotanya.
Pria itu tersenyum kearahnya membuat jantung Rania berdebar kencang.
"Astaga ganteng banget ya yang itu" bisik Rania .
"Jangan ganjen,loe kan udah ada Fahri" ucap Ardina mengingatkan Rania.
Saat latihan selesai kedua gadis itupun berniat untuk pulang.
Namun saat diparkiran mereka bertemu dengan pria yang tadi tersenyum ke arah mereka.
"Haiii..boleh kenalan" sapa cowo itu
"Hai juga, boleh kok" jawab Ardina lembut.
Setelah berkenalan mereka pun lanjut ngobrol disebuah kafe yang kebetulan berat tidak jauh dari sekolah mereka.
Mereka pulang saat hari sudah siang, Adit dan juga Nayla sudah pergi ke tempat bisnis mereka masing-masing, sedangkan Radit sudah bersiap-siap hendak keluar bersama teman-temannya.
"aa mau kemana?" tanya Rania saat melihat Radit mengeluarkan motornya.
"Aa mau main, sekarang gantian Kalian yang jaga rumah ya, ingat Ran Jangan bikin rusuh ya" pesan Radit sesaat sebelum dia pergi.
Rania langsung mengunci pintu pagar lalu masuk kedalam rumah.
Baru saja ia hendak naik ke atas menuju ke kamarnya, ia mendengar suara pintu di buka.
Seingat Rania ia sudah mengunci pintu pagar, lalu siapa yang membuka pintu depan? tanya nya dalam hati.
Karena penasaran ia pun kembali menuju ke pintu depan dan terlihat pintu terbuka lebar.
Rania pun langsung waspada masalahnya di daerah rumahnya sedang banyak maling.
Ia pun mengambil sapu lalu perlahan menuju pintu.
Setelah melihat kesegala arah tidak ada siapa-siapa, akhirnya ia pun menutup kembali pintu rumahnya.
Namun lagi-lagi saat ia kan naik kekamarnya ia kembali mendengar suara pintu dibuka.
Rania pun kembali menuju pintu dan melihat pintu yang tadi ia kunci kini terbuka lagi.
"Astaghfirullah ini siapa sih yang jail" gerutu Rania kesal
Setelah menutup kembali pintu ia pun berjalan kembali menuju tangga.
Karena ia penasaran akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke pintu depan dan ia melihat sosok kecil yang biasa mengikutinya sedang memainkan pintu depan rumahnya.
Rania pun berdecak kesal karena lagi-lagi ia di kerjain oleh mahluk kecil yang selalu bersamanya.
__ADS_1