
Selamat Membaca.
Nayla nampak begitu bahagia karena sudah kembali kerumahnya.
Ia berencana besok akan pergi kesalon untuk menemui Damra.
Susi yang tahu Nayla sudah ada dirumahnya lagi langsung saja menerobos masuk tanpa permisi.
" Heii Gonayy loe balik juga, gw pikir loe bakal terus disono" teriak Susi dari ambang pintu kamar Nayla.
" Aduhh nene cempreng pake masuk lagi, berisik tau gak" gerutu Nayla lalu mengambil bantal dan menutup telinganya.
" Ehh Nay..gw denger loe udah kawin ya, ngapa gak ngundang gw sihh" protes Susi lalu menarik bantal yang ada di wajah Nayla.
" Iya gw udah nikah bukan kawin" jawab Nayla singkat
" Gimana rasanya???" tanya Susi menggoda Nayla
" Astagfirullah ini loe ciuman sampe gini, gile bener ye lakilu mang gak bisa pelan-pelan apa sampe ancur gini bibir" ucap Susi yang kaget melihat luka di bibir Nayla.
" Ishh berisik amat si loe Si, pulang gihh gw mau tidur besok kita ngobrol lagi" usir Nayla yang memang sudah mengantuk.
" Dih ngusirr...awas ya kalo besok pagi loe gak bangun gw timpukin kaca kamar loe" ancam Susi sambil tertawa dan keluar dari kamar Nayla.
" Dasar kaleng rombeng ganggu aja padahal tadikan udah mau pules" gerutu Nayla walaupun tak didengar oleh temannya itu.
Entah karena hatinya sangat tenang atau apa lah Nayla tidur sangat lelap hingga tak terasa gelapnya malam berganti terangnya cahaya pagi.
Suara dering ponselnya membangunkan Nayla, dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka ia meraih ponselnya dan mengintip sedikit siapa gerangan yang menelfonnya sepagi ini.
Alangkah senangnya Nayla begitu melihat nama Adit tertera dilayar ponselnya
" Hallo Assalammualaikum" Sapa Nayla pada Adit di layar ponselnya
"Wa'alaikum salam kamu baru bangun sayang?"
" Iya, aku enak banget tidurnya Dit sampe gak kerasa" jawab Nayla
" Kamu gak kangen apa sama aku yang, kok biasa aja sih kalo aku nelfon"
"Ya kangen lah Dit tapi mau gimana lagi" tiba-tiba raut wajah Nayla berubah sedih karena memang ia sangat rindu dengan Adit
" Hei....kamu kenapa sayang, sabar ya yang aku gak sampe dua bulan lagi kita bisa ketemu, aku juga kangen banget ama kamu, tapi tenang aja yang sekarang aku bisa nelpon kamu setiap hari" ucap Adit dari seberang sana ingin rasa saat ini Adit mendekap Nayla namun mau bagaimana lagi jarak yang jauh membuat mereka harus terpisah sementara waktu.
Akhirnya percakapan merekapun harus diakhiri karena Adit harus mulai bekerja.
Sebuah kecupan jarak jauh dilayangkan Adit untuk Nayla, gadis itu pun tersenyum bahagia walau hanya disun dari jauh oleh suaminya itu.
Nayla yang kangen dengan segala suasana di kota ini mulai dari teman-temannya,kenangan bersama keluarganya serta aneka kulinerannya.
Ia membuka lebar jendela kamarnya, menikmati suasana pagi di rumahnya lagi, bertepatan dengan itu tukang ketoprak yang biasa ia belipun melintas.
Ia memberhentikan tukang ketoprak untuk sarapan paginya.
Siangnya Nayla pergi kesalon untuk ketemu dengan Damra.
" Mikumm" Nayla mendorong pintu salon dan nampaklah Damra yang sedang memotong rambut seorang pelanggan.
__ADS_1
" Sabar ya mbak, silahkan duduk dulu" ucap Damra tanpa melihat ke arah Nayla
" He...he ini gw Ra..." jawab Nayla
Damra yang mendengar suara sahabatnya langsung menoleh dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Nayla yang tersenyum kearahnya.
Merekapun saling melepas kangen dengan bercerita apa saja.
" Gak nyangka ya Nay akhirnya loe beneran dikawinin sama si Adit" ucap Damra menggoda Nayla.
Saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba pintu salon terbuka dan masuklah seorang pria yang ternyata adalah Rian.
" Hallo mbak kemana aja kok gak pernah keliatan sihh" sapa pria itu basa basi.
"Dihh pura-pura gak tau loe" celetuk Damra
Rian tersenyum bahagia karena bisa melihat Nayla kembali, ia membelikan banyak jajanan kesukaan Nayla dan nampak Nayla begitu menikmati aneka makanan yang sudah lama ia inginkan.
Saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba ponsel Nayla berdering.
Saat melihat nomor yang tidak dikenal Naylapun mengabaikannya.
Entah untuk yang keberapa kali ponsel itu berdering hingga akhirnya terdengar dering bertanda ada pesan masuk.
Dengan malas Naylapun membuka pesan yang baru saja masuk.
" Angkat telponnya Nayla" begitulah isi pesan dari no yang tidak Nayla kenal.
Lalu ponsel itupun kembali berbunyi
Akhirnya dengan malas Naylapun menjawab panggilan Vidio call
Alangkah terkejutnya Nayla saat tau siapa yang menelfonnya
" Hallo ada apa" tanya Nayla ketus
" Kamu dimana?" tanya Anto dengan wajah datarnya
"Bukan urusan kamu aku ada dimana" sahut Nayla tak kalah ketusnya
"Kembali kesini sekarang Nayla" titah Anto
"Kamu tuh bukan siapa-siapa aku jadi gak usah ngatur-ngatur aku" jawab Nayla kesal
Nampak Anto tersenyum lalu mengarahkan kamera ponselnya kesuatu tempat.
Alangkah terkejutnya Nayla saat melihat seorang wanita yang mulutnya di ikat dengan kain sedangkan kaki dan tangannya di ikat dengan tali pada sebuah bangku.
"Dasar kurang ajar, kamu apa'in Lilis" bentak Nayla marah yang melihat kondisi
Lilis melalui layar ponselnya.
"Ha...ha siapa suruh kamu pergi sayang, aku pernah bilangkan sama kamu, jangan macam-macam dengan aku kalau mau keluarga suami kamu selamat" ucap Anto penuh dengan ancaman
"Jangan sakitin Lilis brengsek" ucap Nayla kesal
"Cepet kembali kesini kalau mau adik kesayangan kamu gak apa-apa" ancam Adit
__ADS_1
Wajah Nayla nampak cemas mengkhawatirkan keadaan adik ipar dan juga keluarga Adit disana.
"Ada apa Nayla" Rian nampak cemas begitu melihat Nayla yang bingung
" Siapa pria itu Nayla" terdengar suara Anto yang marah saat tau ada seorang pria yang sedang bersama Nayla
"Temen aku, kenapa?" jawab Nayla kesal
" Kamu ingin adik ipar kamu baik-baik saja kan? lebih baik sekarang juga kamu cepat kembali kesini Nayla" ancam Anto sambil memainkan sebilah pisau dileher Lilis.
Nampak dengan jelas oleh Nayla melihat ketakutan di wajah Lilis.
" Jangan sakitin adik gw berengsek" bentak Nayla sambil menangis saat melihat ada darah yang mengucur dari leleh Lilis.
"Jangan buang-buang waktu sayang aku tunggu sampai nanti sore, kalau kamu belum ada disini jangan harap semua baik-baik saja" ancam Anto dengan mimik wajah yang menyeramkan menurut Nayla.
"Mana bisa aku sampai disana sore To, dari sini ke sana tuh paling cepet 6 jam" protes Nayla
" Kalau begitu katakan selamat tinggal pada adik iparmu yang cantik ini Nayla" ancam Anto
"Jangan....Anto, jangan sakitin Lilis, iya gw kesana tapi gak bisa kalau sampai disana sore" pinta Nayla seperti memohon pada Anto
"Pliss To kasih gw waktu, besok gw sampe sana" pinta Nay memohon karena ia melihat di layar ponselnya wajah Lilis yang menahan perih akibat luka di lehernya dan rona ketakutan yang tergambar jelas diwajahnya.
" Gak Nayla...untuk hal ini aku gak mau nego, datang kesini nanti sore atau adik kamu end" ucap Anto dingin sambil tangannya memperagakan leher yang disayat.
"Ahhh dasar orang gila mana bisa gw nyampe disana sore" teriak Nayla sambil menangis antar kesal dan takut terjadi sesuatu pada Lilis
" Anto pliss To, gw janji pasti akan kesana besok, jangan sakitin Lilis" Nayla sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
"Anto....pliss gw mohonn" kini air mata Nayla mengalir deras ia tak tahu harus bagai mana lagi, ia begitu khawatir dengan keadaan Lilis saat ini.
"Jangan menangis Nayla sayang, semua ini salah kamu sendiri, kenapa kamu pergi tanpa ijin dari aku, baiklah kirim alamat rumahmu sekarang aku yang akan jemput kamu" kini suara Anto melembut ia tak tahan melihat Nayla yang menangis.
Mau tak mau Nayla akhirnya mengirim alamat salon pada Anto, ia tak ingin Anto tau rumahnya.
Nayla pun menceritakan apa yang dialaminya saat Adit mulai pergi merantau.
Nampak wajah Rian yang kesal mendengarkan cerita Nayla
" Nay gw emang suka ama loe, tapi sekarangkan loe udah jadi bini orang jadi gw mundur" ucap Rian
" Dulu waktu loe masih pacaran sama Adit gw emang bertekad bakal rebut loe dari dia, tapi sekarang loe udah jadi bininya pantang buat ge jadi pebinor"
" Apa loe perlu bantuan gw Nay?" tanya Rian yang melihat Nayla kebingungan.
Nayla pun minta ijin pada Damra untuk menunggu Anto disalon.
**Haiii aku dah up Nihh...
Jangan bosen ya sama ceritaku
Tetap beri dukungan ya buat aku biar tembah semangat ngetik ceritanya.
Salam Maniss
Amellajj/authorr**
__ADS_1