
SELAMAT MEMBACA
Sore itu Fahri datang kerumah Rania dengan membawa satu buah pizza pesanan Rania.
Begitu bel berbunyi Rania langsung turun dan menghampiri Fahri yang sudah berdiri didepan pagar.
"Maaf gak terima sumbangan" ucap Rania bercanda.
Fahri hanya tersenyum menanggapi candaan Rania.
"Nih pesenan loe" ucap Fahri sambil menyerahkan dus yang ia bawa pada Rania.
"Wah ada yang bawa pizza" Ardina yang baru tiba dari salon mamanya langsung menyambar dus yang Fahri bawa dan duduk dibangku sambil membuka pizza yang tadinya untuk Rania.
"Dih itu punya gw" Rania langsung ikut memakan pizza begitu juga dengan Fahri.
"Kalau kalian mau kita keluar yuk jalan-jalan sambil cari jajanan" ajak Fahri.
"Sebentar ya gw tanya mama dulu" Ardinapun langsung mengirim sebuah chat kepada Mamanya untuk meminta ijin.
Setelah mendapatkan ijin mereka pun keluar untuk berjalan-jalan.
Saat dalam perjalanan tiba-tiba saja Rania ingat dengan mimpinya beberapa hari belakangan ini.
Ia pun menceritakan mimpinya kepada Fahri dan Ardina.
Fahri hanya tersenyum mendengar cerita Rania.
Sedangkan Ardina menanggapi serius yang diucapkan oleh Rania.
"Gw serius RI,kok loe malah ketawa sih" protes Rania.
"Iya maaf, gw aja gak ada firasat apa-apa Ran, lagi juga itu cuma mimpi,cuma bunga tidur" jawab Fahri
"Terserah lah loe mau percaya apa gak, yang penting gw udah peringtin loe" ucap Rania kesal.
"Jangan ngambek dong, iya gw bakal hati-hati dari sekarang" ucap Fahri sambil mengelus rambut Rania.
"Ehm mm gw jadi obat nyamuk ini"celetuk Ardina yang duduk dibangku belakang.
Rania dan Fahri pun tertawa secara bersamaan.
Tanpa sengaja Rania melihat sosok wanita itu lagi dan kini ia duduk disebelah Ardina.
"Udah denger sendiri kan,anaknya aja gak percaya tuh apa yang aku bilang" ucap Rania sambil melihat kearah sosok itu.
"Loe ngomong sama siapa Ran?"tanya Ardina heran.
"Itu sebelah loe" jawab Rania
Ardina langsung merasa merinding saat Rania bilang jika saat ini sosok itu duduk disebelah Ardina.
Setelah puas jalan-jalan mereka pun pulang dan Fahri pun langsung pamit pulang setelah mengantar kedua gadis itu.
Saat pulang sekolah Rania dan Fahri dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis cantik yang sedang berdiri disamping mobil Fahri.
"Ngapain loe kesini?"tanya Fahri dingin
"Gw mau bicara sama loe Ri" ucap gadis itu sambil menatap Rania.
"Oh jadi ini pacar loe yang sekarang,manis juga" ucap gadis itu lagi.
Rania yang masih belum tau siapa gadis didepannya itu hanya tersenyum saat gadis itu menyapanya.
"Gw gak ada waktu buat ngobrol sama loe"ucap Fahri dingin
Fahri lalu menyuruh Rania untuk masuk kedalam mobil.
Tanpa banyak kata Rania pun langsung masuk dan menutup pintu.
Dari dalam mobil Rania memperhatikan Keduanya.
Entah apa yang mereka bicarakan namun saat Fahri masuk kedalam mobil wajahnya terlihat begitu marah dan ia pun menutup pintu mobil dengan sangat kasar.
Ingin rasanya Rania bertanya namun melihat wajah Fahri yang seperti sedang marah ia pun mengurungkan niatnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
Kebetulan hari ini Ardina tidak ikut pulang bersama mereka,ia pulang bersama Rahmat.
Begitu tiba dirumah Rania langsung turun,tanpa banyak kata Fahri pun langsung menjalankan mobilnya.
Rania pun sedikit heran kenapa Fahri begitu terlihat marah bahkan tanpa kata-kata ia langsung meninggalkan Rania di depan rumahnya.
Karena tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi Fahri Raniapun memilih diam dan berpura-pura cuek.
Makin hari Fahri semakin dingin, bukan hanya pada Rania makin kepada Ardina juga.
"Ran,si Fahri kenapa sih,kok dia jadi kaya dulu lagi sih, dingin" tanya Ardina
"Gw juga gak tau Ar, waktu itu ada cewe yang nemuin dia,terus gak tau mereka ngobrol apa soalnya Fahri nyuruh gw masuk mobil, tapi dari situ dia jadi marah-marah terus" ucap Rania menjelaskan.
"Loe gak coba-coba nanya,siapa tau diabutuh teman curhat atau bantuan gitu" ucap Ardina
"Bisa jadi juga ini maksud dari mimpi loe kemarin Ran" lanjut Ardina
"Bisa jadi juga sih"jawab Rania
"Apa salahnya loe coba nanya, tapi pelan-pelan aja.
"Iya deh besok gw coba nanya" ucap Rania
Malam itu mereka asik ngobrol diruang tengah, kedua gadis itu asik menggoda Radit yang saat ini sedang di kejar-kejar cewe.
__ADS_1
"Gimana nasib kak Karin tuh Kalau banyak saingan kaya gitu"
"Yang jelas harus lebih giat lagi dong pdkt nya" sambung Ardina.
"Kaya papa dulu waktu ngejar mama kamu perlu perjuangan banget" ucap Adit yang ikut bergabung bersama anak-anaknya.
"Ayo dong Pah cerita" desak ketiga anaknya yang penasaran dengan kisah cinta orang tua mereka.
"Papah kalian itu dulu ceweknya banyak loh" Nayla langsung ikut menimpali sambil membawakan cemilan.
"Wkwkkwk mana ada banyak, mamah tuh yang cowok nya banyak" ucap Adit membalikkan ucapan Nayla.
Akhirnya Aditpun menceritakan kisah perjuangannya untuk mendapatkan Nayla.
"Wah mama keren ya selain bisa naklukin hantu bisa juga naklukin papa yang playboy" ucap Rania sambil tertawa.
"Mana pernah mama kamu naklukin hantu,kalau kabur iya" ucap Adit sambil tertawa.
Susana rumah Rania yang hangat berbanding terbalik dengan Fahri yang saat ini sedang merasa kesepian.
Bayang-bayang wanita yang datang dari masa lalunya beberapa hari lalu membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.
Tanti, wanita yang beberapa hari menemuinya adalah mantan cinta pertamanya.
Ia menyukainya sejak kecil, ya mungkin banyak yang bilang cinta monyet namun saat ia tau jika Tanti malah menyukai saudara sepupunya membuat ia akhirnya menjauh dan pindah sekolah dan akhirnya mengenal Rania, gadis yang kini mengisi kekosongan hatinya.
"Ran maafin gw"ucap Fahri yang saat ini berada didepan rumah Rania namun ia tidak turun dari mobil, ia hanya memandang rumah itu dari dalam mobilnya.
Keesokan harinya Rania dan Ardina berangkat dengan diantar oleh Adit.
Karena masih pagi mereka pun langsung ke kantin dan memesan makanan.
Rahmat yang baru datang langsung ikut bergabung bersama mereka.
Ia bahagia saat tau jika saat ini Fahri tidak mau bergabung bersama kedua gadis itu.
"Gw udah kaya raja ya yang punya dua permaisuri" ucap Rahmat sambil nyengir.
"Males banget gw jadi permaisuri loe" ucap Rania sambil membuang muka .
"Awas aja ya loe Ran kalo nanti malah jadi cinta sama gw" ucap Rahmat sambil tertawa.
"Gak akan pernah gw suka sama loe Mamat" ucap Rania kesal.
Ardina hanya tersenyum mendengar perdebatan keduanya.
Fahri yang baru saja tiba, tidak disangka langsung ikut bergabung duduk disebelah Rania.
"Haii gimana kabar loe" sapa Rania basa basi.
"Alhamdulillah baik, maaf ya kemarin-kemarin gw lagi badmood"
"Santai aja Ri, kita juga ngerti kok" jawab Ardina.
"Ran.."panggil Fahri
"Iya"
"Maaf ya" ucap Fahri
"Buat apa?" tanya Rania bingung.
"Sifat gw yang kemarin,loe masih mau kan jadi yang spesial dihati gw" tanya Fahri.
Rania hanya tersenyum mendengar penjelasan Fahri.
Mereka pun berjalan bersama masuk kedalam kelas.
Sore itu Fahri mengajak Rania untuk menemaninya keluar.
Setelah mendapatkan ijin dari Nayla mereka pun pergi kesebuah pasar malam yang lumayan ramai.
Karena Ardina sedang belajar memotong rambut ia pun tidak ikut untuk menemani Rania.
Dipasar malam mereka terlihat bahagia.
Saat sedang asik menikmati semangkuk bakso tiba-tiba saja seorang wanita menghampiri mereka dan mengur Fahri.
"Hallo RI,kita ketemu lagi" sapanya dengan nada ceria.
"Oh iya kamu kan cewe yang kemarin ya,kamu pasti pacarnya Fahri ya" tebak wanita itu lagi.
"Gak kok kita cuma temanan aja" jawab ku sambil tersenyum.
"Oh iya kenalin gw Tanti" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Fahri nampak tidak senang saat Rania menyambut uluran tangan wanita itu.
Ia langsung menarik tangan Rania untuk menjauh dari wanita yang bernama Tanti.
"Kita pulang aja" Fahri pun langsung ngajak Rania menuju mobilnya.
Dalam perjalanan mereka hanya diam.
Rania yang penasaran dengan wanita itu ingin sekali bertanya namun melihat wajah Fahri yang nampak kesal ia pun langsung mengurungkan niatnya.
"Ri,boleh nanya gak sih" ucap Rania ragu
"Apa?" jawab Fahri singkat.
"Janji ya jangan marah" pinta Rania
"Tergantung"
__ADS_1
"Sebenarnya siapa sih cewe itu,kok loe kayanya kesel terus sama dia?" tanya Rania yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Fahri hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Rania
"Pasti dia orang yang spesial ya" ucap Rania lagi
"Bisa gak loe gak usah bertanya soal dia" jawab Fahri dingin.
"Kok loe marah sih, gw cuma nanya aja juga"
Fahri tidak menjawab.
Rania melihat spion yang ada di tengah mobil, ia kembali melihat sosok mamanya Fahri duduk di jok belakang.
"Pasti dia mantan pacar loe ya" tanya Rania lagi yang masih penasaran.
Tanpa Rania duga Fahri langsung menginjak pedal rem dan mobil pun berhenti mendadak.
"Aaawww bisa gak sih kalo ngerem itu pelan-pelan" decak Rania kesal sambil memegang dahinnya yang terbentur dasboard.
"Gw udah bilang jangan bahas dia Ran" ucap Fahri sambil menatap lurus kedepan.
"Apa salahnya sih kan gw juga cuma nanya aja" jawab Rania tidak mau kalah.
"Mending loe turun disini aja Ran" ucap Fahri tanpa melihat kearah Rania.
"Apa Ri?" tanya Rania masih tidak percaya jika Fahri memintanya untuk turun ditempat yang begitu sepi.
"Turun gw bilang Ran" sentak Fahri lagi dengan suara sedikit tinggal.
"Loe gak salah nyuruh gw turun disini" tanya Rania kesal.
"cepet turun Ran" ucap Fahri dengan nada tinggi.
Rania yang kesal akhirnya ia pun turun dari mobil Fahri, dan sesaat setelah Rania turun mobil Fahri pun meninggalkannya.
"Ri....Fahri loe gak serius kan ninggalin gw disini" teriak Rania sambil mengejar mobil Fahri yang telah menjauh.
Rania yang kelelahan mengejar mobil Fahri akhirnya berhenti untuk mengambil nafas nya yang sudah tersengal-sengal, bahkan kini mobil Fahri pun sudah tidak terlihat lagi.
Rania baru ingat jika saat ia turun tidak membawa apapun, tas dan juga ponselnya ada didalam mobil.
Ia pun hanya bisa pasrah,ia berharap ada tukang ojek yang lewat namun sialnya jalan yang ia lalui begitu sepi bahkan sejak tadi belum ada lagi kendaraan yang melintas.
Karena begitu lelah ia pun berhenti sesaat untuk mengatur nafasnya.
Sosok anak kecil itu ikut menemani Rania
"Fahri berengsek gw ditinggalin ditempat sepi kaya gini, kalau mau ninggalin gw ya ditempat yang rame kek" ucap Rania kesal.
Setelah sekian lama akhirnya ada sebuah sepeda motor yang melintas, Rania pun mencoba menghentikan motor itu namun sialnya motor itu berlalu begitu saja.
Namun tidak jauh dari tempat Rania tiba-tiba saja motor itu berhenti akibat dari ulah sosok anak kecil itu yang menjahilinya.
Mungkin sosok itu kesal karena mokess itu tidak mau berhenti saat Rania berhentikan.
Saat Rania melintasi motor itu, sang lpengendara menyapanya.
"Mbak bisa temenin saya sebentar gak, saya takut disini sendirian,nanti biar saya anterin mbak" ucap pengendara motor itu yang ternyata seorang pria muda, mungkin seumuran dengannya.
"Maaf ya mas saya lagi buru-buru" jawab Rania yang jual mahal
"Plis mbak, temenin saya sebentar aja,nanti saya antar deh" ucap pria itu lagi.
Rania yang tau jika motor itu berhenti akibat ulah sosok anak kecil itu lagi akhirnya setuju untuk menemani pria itu.
Tidak beberapa lama akhirnya motor itu pun kembali nyala dan sesuai janji ia pun mengantar Rania hingga rumah.
Sementara itu Fahri yang baru sadar jika dompet dan ponselnya Rania tertinggal didalam mobilnya merasa begitu bersalah.
Ia pun segera masuk kedalam mobil dan kembali ke jalan yang tadi ia lalui dan tidak menemukan Rania.
Ardina yang dari tadi tidak dapat menghubungi Rania akhirnya bisa bernafas lega saat melihat Rania turun dari sebuah motor.
"Assalamualaikum" ucap Rania saambil membuka pintu pagar.
"Terimakasih ya mas udah anterin saudara saya pulang" ucap Ardina
Pria itu pun hanya tersenyum lalu meninggalkan rumah Rania.
Ardina yang melihat wajah Rania begitu kusut dan berantakan langsung menarik tangan Rania untuk duduk di bangku yang ada diteras depan.
"Loe kenapa kok berantakan banget sih?" tanya Ardina
"Gw benci sama Fahri" ucap Rania kesal
Rania pun menceritakan semuanya pada Ardina.
"Ih kok Fahri tega baget sih ninggalin loe, untung juga ada orang baik yang nganterin loe,liat aja besok gw marahin tuh anak" ucap Ardina ikut merasa kesal.
Rania yang terlanjur benci dengan Fahri hanya acuh saja saat pria itu mengembalikan tas dan juga ponselnya.
"Maaf soal kejadian tadi malem,loe mau kan maafin gw Ran" ucap Fahri dengan nada menyesal.
Rania hanya diam saja sambil mengambil tasnya.
Ardina yang baru kembali dari toilet langsung memarahi Fahri karena telah meninggalkan Rania ditengah jalan sendirian.
Rahmat pun tidak tinggal diam, ia ikut memaki Fahri.
"Apa loe gak mikir kalau ada orang jahat yang apa-apain Rania, itu tempat sepi Ri" ucap nya kesal.
"Iya gw ngaku salah, gw minta maaf" jawab Fahri.
__ADS_1
Rania hanya diam saja, ia malah keluar kelas dan menuju perpustakaan.