TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 397


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah kejadian itu hubungan Rania dan Fahri sedikit renggang.


Fahri yang bebarapa kali berusaha mengajak Rania untuk berbicara namun selalu di tolak oleh Rania.


Ardina yang ikut perihatin dengan Fahri ikut membujuk Rania dan mencoba memberinya pengertian.


Rania yang baru saja selesai dari perpustakaan langsung di cegat oleh Fahri dan menariknya menuju belakang gedung.


"Sakit Ri, bisa pelan-pelan gak sih loe" Rania menghempaskan tangan Fahri yang memegang pergelangan tangannya.


"Ran dengerin dulu penjelasan gw, kenapa sih loe susah banget diajak buat berbicara" ucap Fahri sambil mendorong tubuh Rania hingga terbentur tembok.


"Sakit tau RI, apa-apa sih loe" ucap Rania kesal.


"Ran gw gak mau loe terus salah faham sama gw, gw ada alesannya sendiri kenapa gw bilang belum saatnya"


"Alesan apa sih, loe takutkan kalo kita bakal morotin loe kan"


Rania yang hendak meninggalkan Fahri langsung ditarik hingga tubuh mereka pun berbenturan.


"Fahri..." sentak Rania kesal


"Dengerin gw ngomong dulu baru loe gw lepasin" ujar Fahri dengan sorot mata yang sedikit menyeramkan.


Bulu kuduk Rania pun meremang saat ia melihat mata Fahri mulai memerah menahan amarahnya.


"Astaga kenapa dia jadi serem sih" batin Rania.


"Kalo loe mau ngomong sama gw nanti aja pulang sekolah, sakarang udah mau bel" ucap Rania sedikit mengalah.


"Gw tunggu loe pulang sekolah, awas aja kalo loe bohong lagi" ucap Fahri lalu meninggalkan Rania.


Begitu suara bel berbunyi Rania pun bergegas menuju kelasnya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal ia pun duduk dikursi yang biasa ia duduki.


"Loe dari mana?" tanya Ardina sambil berbisik.


"Nanti pulang sekolah temenin gw ya, gw takut kalo sendiri" ucap Rania.


Ardina pun hanya tersenyum.


Setelah bel pulang sekolah Fahri nampak menuggu Rania didepan mobilnya.


"Rania.." panggil Fahri dengan suara yang lumayan kencang hingga beberapa orang yang berada disana melihat ke arah mereka.


"Gak usah kencang-kencang, gw gak budek juga" jawab Rania sedikit ketus.


"Ar..loe pulang sama gw aja ya, biarin aja mereka berdua" ucap Rahmat.


Ardina nampak ragu antara Rania atau Rahmat.


"Ar...." panggil Rania


"Kayanya kalian perlu bicara berdua aja deh, gw pulang bareng Rahmat ya" ucap Ardina yang langsung naik ke jok belakang motor Rahmat.


"Lama amat sih, cepat masuk" Fahri membuka kaca mobilnya.


"Iya, sabar kenapa" jawab Rania sambil membuka pintu mobil.


Mobil Fahri pun langsung jalan keluar area sekolah.


Rania yang tidak tahu akan dibawa kemana, hanya diam saja,ia tidak berani untuk bertanya.


Hening ...itu lah yang di rasa Rania, entah kenapa saat berdua dengan Fahri dan dia dalam kondisi marah membuat Rania tidak berani untuk bertanya.


Mobil Fahri pun berhenti disalah satu kafe.


"Kok kesini, mau ngapain sih?" sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulut Rania.


"Sejak kapan loe jadi oon sih"


"Kenapa galak banget sih" jawab Rania sambil mengikuti Fahri dari belakang.


"Aduhhhh kalo berenti itu bilang-bilang sih"ucap Rania kesal saat ia menabrak tubuh Fahri yang berhenti mendadak.


"Loe aja yang jalan sambil ngelamun"


Fahri pun duduk disalah satu bangku dan di ikutin oleh Rania.


"Kalau mau ngomong cepet, gw mau pulang abis ini" ucap Rania.


Seakan tidak mendengarkan perkataan Rania Fajri pun memesan makanan yang ia suka.


Sengaja ia tidak bertanya dahulu dengan Rania.


Saat makanan yang dipesan Fahri tiba Rania hanya tertegun karena cowo itu tau makanan kesukaannya.


"Makan dulu baru ngomong, gw laper soalnya " ucap Fahri yang langsung memakan hidangan yang ada didepannya.


Dengan rasa malas Rania pun ikut memakan makanannya.


Setelah selesai makan Fahri pun menatap Rania.


"Jangan kaya gitu sih liatinnya RI" pinta Rania yang merasa grogi mendapatkan tatapan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya.


"Loe mau tau alesannya kenapa gw gak mau ajak loe kerumah gw saat ini?" tanya Fahri sambil menatap Rania dalam.


Rania hanya mengangguk.


"Karena gw minder sama keluarga loe Ran"


"Maksudnya?" tanya Rania bingung.


"keluarga loe begitu hangat Ran dan saling perduli, gak kaya keluarga gw, setelah mama gw meninggal terus papa gw nikah lagi gw sendirian" ucap Fahri.


Wajahnya mendadak sendu.

__ADS_1


"Gw takut loe bakal jauhin gw saat loe tau kalo gw anak broken home" ucapnya lagi


"Gw sayang sama loe Ran, gw gak bisa kalo loe jauhin gw terus"


"Gw takut loe ajak jauhin gw saat loe tau gimana keluarga gw"


"Papa gw punya istri banyak dan hal itu juga yang bikin mama gw sakit dan meninggal saat melahirkan gw Ran" ucap Fahri sedih.


Kini Rania tau kenapa Fahri tidak ingin Rania tau soal Keluarganya.


"Satu hal yang mau gw pastiin sama loe Ran, gw gak seperti bokap gw yang suka mainin cewe, buat gw satu buat salamanya dan karena itu juga gw bakal nungguin loe sampai usia loe 17 tahun" ucap Fahri sambil mengutarakan isi hatinya.


Rania hanya diam, ia juga tidak tahu harus berkata apa.


"Sekarang loe udh tau alesannya apa, apa loe masih mau berteman sama gw?" tanya Fahri sambil menatap Rania.


"Kenapa bisa loe mikirnya begitu RI, gw berteman sama loe gak perduli dengan keluarga loe gimana, tapi yang jelas gw cukup seneng saat loe ajak buat kenal sama nenek loe dan jiarah ke makam ibu loe" tutur Rania.


"Sekarang loe udah tau gw kan, ya udah sekarang kerumah gw aja" ajak Fahri


"Gak usah sekarang,besok aja Ri" tolak Rania


"lah kan kemarin-kemarin loe yang pengen banget main kerumah gw"


"Iya sekarangkan udah sore,jadi besok aja"


"gw tau, loe takutkan?" tebak Fahri sambil tersenyum.


he.he..


Rania hanya tersenyum.


"Loe gak usah takut Ran, gw juga gak akan ngapa-ngapain loe juga sih" ucap Fahri saat mereka sudah didalam mobil.


Sementara itu Ardina yang sedang mampir di kedai bakso bersama Rahmat sedikit khawatir karena Rania tidak bisa dihubungi.


"loe kenapa sih Ar, kok kayaknya gelisah gitu" tanya Rahmat.


"Gw gak bisa nelpon Rania" jawab Ardina.


"yang namanya orang lagi berduaan yang pasti gak denger lah suara telepon" jawab Rahmat asal.


Fahri pun langsung mengajak Rania untuk mampir dirumahnya.


Saat turun dari mobil Rania sedikit kagum dengan rumah mewah milik Fahri.


"Ayo masuk jangan kaya orang norak dong Ran"Fahri pun langsung menarik tangan Rania dan mengajaknya masuk kedalam.


Rania sangat terkejut saat begitu masuk kedalam rumah Fahri dan melihat Foto seorang wanita cantik yang terpampang diruang tamu.


"Ri, boleh tanya gak?"


"Mau nanya apa" ucap Fahri sambil duduk di sofa besarnya.


"Wanita cantik itu siapa?" tanya Rania


"Gw yakin loe udah pernah ketemu sama mama gw" ucap Fahri


"Gak lucu Ri" ucap Rania


"Gw gak bercanda, wanita itu emang mama gw yang sudah meninggal Ran" ucap Fahri lagi .


Rania yang merasa takut langsung berpindah tempat duduk menjadi disebelah Fahri.


"Loe kenapa?" Fahri pun tertawa melihat Rania yang ketakutan.


Karena hari sudah sore Rania pun pamit pulang.


Awalnya ia menolak untuk di antar, karena Fahri memaksa akhirnya ia pun mau.


Begitu tiba dirumah Ardina sudah menunggu diteras depan bersama Rahmat.


Radit yang juga baru tiba langsung ikut bergabung bersama mereka.


"Ran..."panggil Fahri


"Apa"


"Anak kecil yang terus ikutin loe itu siapa sih" tanya Fahri


"Gw juga gak tau, biarin ajalah dia juga gak ganggu gw kok" ucap Rania sambil makan satu buah bakwan.


"Dih loe gak ada kenyangnya ya Ran, tadi kan udah makan banyak" ucap Fahri


"Makan banyak aja gw gak gemuk Ri, apa lagi kalo makan sedikit, yang ada tinggal tulang gw" jawab Rania sambil nyengir.


Uhukkkk


Rahmat yang merasa iri melihat kemesraan keduanya langsung berpura-pura batuk.


Rania hanya menatap sinis kearah Rahmat.


Setelah Fahri dan Rahmat pulang mereka pun masuk dan segera mandi sebelum mama dan papanya datang.


Radit yang memang sedang sibuk dengan segera kegiatannya di kampus tidak mempunyai waktu banyak untuk bersendak gurau seperti dulu dengan kedua adiknya.


"kak Radit, Kaka kan sekarang sudah lebih ya dari 17 tahun, kenapa gak pacaran aja sih sama kak Karin" ucap Rania sambil memain-mainkan ponselnya.


"Sombong banget sih mentang-mentang udah punya pacar" ucap Radit.


"Gw sih gak punya pacar aa, Ar tuh yang pacaran terus sama si Mamat"


"Lah kok jadi Ar sih, kan loe tuh yang pacaran terus sama Fahri" ucap Ardina membalikkan ucapan Rania.


"Udah malem lebih baik kalian tidur, lagi juga mama masih belum kasih ijin Ran Sam Ar buat pacaran ya" ucap Nayla mengingatkan keduanya.


"Iya mah Ran inget kok, lagi juga kita gak pacaran " sangkal Rania


"Gak pacaran tapi ngambek" ejek Ardina

__ADS_1


"Stop cepet masuk kamar masing-masing" titah Nayla.


Kedua gadis itu pun langsung masuk kamar masing-masing sebelum mamanya benar-benar marah


Malam itu Rania kembali bermimpi tentang mamanya Fahri.


Wanita itu terlihat begitu sedih.


"Tante ... bukannya tanya itu mamanya Fahri ya, kok tau sih rumah aku?" tanya Rania heran saat melihat seorang wanita cantik sedang berdiri didepan rumahnya.


wanita itu tersenyum manis" sayang tante minta tolong jagain Fahri ya" ucap wanita itu.


"Minta tolong apa tante" tanya Rania bingung.


Wanita itu tidak berbicara apa-apa lagi, saat Rania hendak bertanya lagi wanita itu sudah tidak ada.


Rania pun terbangun dari mimpinya.


Ia duduk diatas kasur mencoba mencerna maksud dari mimpinya .


Sudah beberapa malam ini memang Rania bermimpi hal yang sama.


wanita itu memintanya untuk menolong Fahri.


Namun yang ia lihat sehari-hari sepertinya Fahri tidak punya masalah apapun .


"Minta tolong apa sih, kayanya dia gak apa-apa"


"Lah terus kalo mau nolongin, nolong apaan?" tanya Rania pada diri sendiri.


"Astaghfirullah bikin pusing malah, udahlah nanti juga bakal tau mungkin cuma tinggal nunggu aja kali" akhirnya Rania pun kesal sendiri ia pun kembali merebahkan dirinya diatas kasur, namun baru beberapa saat ia memejamkan matanya suara azan subuh sudah berkumandang.


"Astaghfirullah bekum juga tidur udah subuh aja" decak Rania kesal.


Ia pun segera bangun dan mengambil air wudhu lalu sholat subuh.


Kerena masih mengantuk ia pun kembali tertidur hingga akhirnya ia kesiangan.


Jika saja Ardina tidak membangunkannya sudah dipastikan ia tidak akan masuk sekolah.


Dengan tergesa-gesa Rania pun turun untuk sarapan.


Namun karena Fahri sudah datang untuk menjemputnya akhirnya ia pun terpaksa hanya sarapan satu lembar roti itu dimakan sambil berjalan menuju mobil Fahri yang sudah menunggunya.


"Maaf lama" ucap Rania dengan mulut penuh makanan yang belum sempat ia telan.


"Telan dulu makanannya" ucap Fahri.


Setelah Rania menelan makanannya Fahripun menyodorkan gelas yang yang berisi susu yang tadi ia bawa.


Dengan tergesa-gesa ia pun meminumnya hingga menetes membasahi dagunya.


Fahri pun langsung mengambil satu lembar tissue dan mengelap dagu Rania dengan lembut.


Sesaat Rania pun tertegun.


"Dih malah main pandang- pandangan, bisa telat masal ini woii" tegur Ardina


Rania jadi salah tingkah begitu juga dengan Fahri.


Wkwkkwk


"Udah cepet jalan Ri tar kesiangan kita"ucap Ardina lagi.


Fahri pun langsung menjalankan mobil nya menuju sekolah.


Beruntung mereka tidak terlambat tiba sekolah.


Begitu turun dari mobil mereka pun harus terburu-buru karena beberapa menit lagi bel tanda masuk akan berbunyi.


Beruntung jam pelajaran pertama kosong hingga Rania pun yang masih mengantuk sempat memejamkan matanya sebentar dengan cara merebahkan kepalanya diatas meja.


Fahri yang dari tadi memperhatikan Rania hanya tersenyum.


Entah kenapa ia begitu suka saat Rania sedikit ceroboh.


Ia baru menyadari jika hari ini Rania sedikit berbeda namun apa yang membuatnya beda Fahri belum tahu.


Karena memang Rania begitu mengantuk ia pun terlelap.


Beruntung sosok kecil itu membangunkannya walaupun dengan cara yang sedikit kasar.


Rania terkejut dan langsung terbangun saat ada yang menarik rambutnya kencang.


"Aduhhhh" Rania sedikit meringis merasakan panas dikepalanya akibat sosok kecil itu.


Sosok itu pun hanya tersenyum saat Rania menatapnya kesal.


"Kalo mau bangunin bisa gak jangan kaya gitu, sakit tau" protes Rania pada sosok kecil yang selalu mengikutinya.


Lagi-lagi sosok itu hanya tersenyum.


"Rania tolong kamu maju kedepan dan kerjakan soal nomor 3" ucap guru matematika yang ternyata dari tadi memperhatikannya.


"Sial kan gw jadi kena, loe sih" maki Rania pada sosok itu lagi.


Dengan berat Rania pun berdiri dan melangkahkan menuju papan tulis.


"Mati deh gw, mana ni soalnya susah lagi" batin Rania kesal.


Fahri hanya tersenyum saat ia melihat sosok itu berdiri disebelah Rania


Saat Rania mengambil spidol tiba-tiba saja tangannya dengan mudah menulis jawaban yang diperintahkan oleh gurunya.


"Bagus Rania, ibu pikir kamu tidak mendengarkan apa yang ibu jelaskan barusan tapi ternyata kamu bisa mengerjakan, silahkan duduk kembali, dan jangan melamun" ucap gurunya lagi.


Rania pun kembali kebangkunya.


"Makannya jangan pacaran terus, ngantuk kan loe jadinya" ucap Rahmat pelan yang kebetulan duduk dibelakangnya.

__ADS_1


"Berisik loe" jawab Rania kesal.


Ardina hanya diam memperhatikan keduanya.


__ADS_2