Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Prolog


__ADS_3

Bersembunyi adalah keahlian gadis itu, setiap hari ia lebih suka menghabiskan waktunya di


depan layar laptop bututnya, namanya Felicia Daryl. Usia sudah dua puluh


delapan tahun, cukup mapan untuk membina sebuah rumah tangga. Bahkan


teman-temannya yang seusianya sudah banyak yang mempunyai anak usia tujuh


tahun, bahkan banyak dari mereka sudah ada yang memiliki anak dua atau tiga.


“Hay …, kemana kamu ide …?” keluh Felic sambil memukuli kepalanya sendiri, ia


sepertinya sedang mengalami “Writers block” yaitu kehilangan ide di tengah jalan, gadis dengan kepribadian supel dan cuek itu tak pernah mempermasalahkan statusnya, bahkan hingga usia ini belum pernah sekalipun ia berpacaran.


Dulu pernah satu kali pas masih duduk di bangku SMA, hanya sebuah cinta monyet. Tapi


cinta monyet itu ternyata berdampak pada kehidupannya sekarang, ia seperti tak


bisa move on dengan cinta monyet itu.


“Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini …., belum lagi ibu! Dia akan mengomel


sepanjang hari jika aku tidak segera turun!”


Felic meregangkan tubuhnya saat tak dapat ide lagi, Felic biasa menghabiskan hari


libur kerjanya dengan berjam-jam duduk di depan layar komputer. Ia suka


menulis, penulis novel on line, hanya sebagai kesenangan saja.


Tapi sebenarnya itu impiannya, tapi itu semua harus terhalang dengan pekerjaannya, ingin


rasanya fokus dengan menulis, tapi ia juga harus bekerja, membantu memenuhi


kebutuhan keluarganya dan juga dirinya sendiri.


Rumah yang ia tinggali saat ini


bersama keluarganya adalah rumah yang mereka beli dengan mengangsur setiap


bulan, untung saja pemilik rumah sangat baik hingga mereka tidak mematok biaya


yang harus di angsurkan, jadi saat ayah felic tidak bisa mengangsurnya di bulan


itu, pemilik rumah tidak akan menagihnya hingga ayah Felic punya uang untuk


mengangsurnya kembali.


Rumah lamanya dulu di gusur dan mereka harus mencari rumah baru, mereka tak punya cukup uang untuk membeli rumah secara kontan.


Dan saat itu adalah saat di mana seharusnya ia mendaftarkan diri ke perguruan


tinggi akhirnya felic memilih melepaskan impiannya mendaftarkan diri ke


perguruan tinggi.


Felic memilih membantu orang tuanya dengan bekerja kerabutan demi membatu perekonomian keluarganya, adiknya saat itu juga masih baru masuk SMA. Keluarganya


membutuhkan banyak biaya, ayahnya hanya bekerja sebagai satpam komplek


perumahan sedangkan ibunya hanya membuat kue pesanan.


“Felic …..!” teriak dari bawah, Felic tahu itu suara siapa itu suara ibunya. Ibunya


sudah memanggil, jadi sudah waktunya itu Felic keluar dari persembunyiannya.


Padahal ia belum menulis Setengah bab pun untuk di up date hari ini.


“Iya bu sebentar!” sahut Felic.


Lagi-lagi ia harus mendengus setiap kali suara kencang itu memanggilnya, Felic adalah dua


bersaudara. Adiknya juga perempuan, tapi ia sudah menikah dan mempunyai seorang


anak, adik perempuannya sudah tinggal bersama suaminya di luar kota dan akan datang satu bulan sekali itupun cuma satu atau dua malam.


Felic dengan langkah gontai menuruni tangga yang hanya terbuat dari kayu itu.


Kamarnya di atas karena ia memilih kamar di atas supaya tidak ada yang akan


menggangunya saat sedang menulis, tapi ternyata itu pilihan yang salah.


Nyatanya Felic keasikan dengan dunianya sendiri sehingga melupakan dunia luar. Orang


tuanya menyesali keputusan mereka.


“Ada apa bu?” Tanya felic malas, ia duduk di depan ibunya yang sedang sibuk mengaduk


adonan kue di dapur.

__ADS_1


Ibu Felic adalah pembuat kue, ia sering menitipkan kue-kuenya di toko-toko dan warung-warung dekat rumah selain menunggu pesanan, ibunya bernama Yani. Bu Yani si pembuat kue begitu tetangga mengenalnya,


walaupun baru sepuluh tahun mereka tinggal di tempat itu.


Tapi keluarga Felic cukup di kenal tetangga, salah satu penyebabnya adalah karena status Felic yang belum menikah.


“Tepung ibu habis, kamu belikan di warung ya! Ini uangnya!” ucap ibu Felic sambil


meletakkan selembar uang sepuluh ribuan di depan felic.


“Felic males bu, felic nggak suka sama omongan mereka! Kuping Fe panas ….!” Felic


kesal setiap kali keluar, yang di tanyakan topiknya selalu sama dan sama


membuatnya malas bertemu dengan tetangga.


“Makanya kalau nggak mau di omongin kayak gitu, nikah!” ucap ibu Felic, ia sudah tahu


apa yang di maksud putrinya itu.


Ia pun juga mengalami hal yang sama, bukan


cuma Felic, ibu dan ayahnya pun juga selalu di Tanya-tanya kapan mereka akan


menikahkan putri sulungnya itu, sedangkan putri bungsunya sudah menikah lebih


dulu.


“Lalu Felic mau nikah sama siapa bu?, sama sapi!” ucap Felic kesal.


“Kalau kamu mau nggak pa pa, ibu nikahkan kamu sama sapi, ibu malu terus di omongin


orang, punya perawan tua nggak nikah-nikah, mau taruh di mana muka ibu coba!”


Astaga bukannya mendapat pembelaan


sekarang malah gantian di ceramahi …, dasar emak-emak ….


“Jangan mengatai ibu, ibu tahu apa yang kamu pikirkan!” ucap ibu Felic tanpa menatap


pada felic, ia masih sibuk dengan adonannya.


“Baiklah …, baiklah …, Felic ke warung. Tepung apa?” Felic menyerah. Ia sudah cukup


kesal, tidak mau bertambah kesal lagi dengan ucapan ibunya yang selalu memintanya untuk menikah.


pesanannya.


“Iya …, iya …! Aku mengingatnya!” jawab Felic sambil berlari. Ia sudah cukup malas


mendengar ocehan ibunya, menikah, menikah dan menikah.


Aku heran kenapa semua orang ingin


aku cepat menikah…, apa enaknya menikah, nggak bisa bebas, kemana-mana harus


ijin, bawa bayi …, ya ampun …..


Felic terus menggerutu sepanjang jalan, ia tidak suka melihat pandangan orang


padanya. Seakan-akan setiap melihatnya orang-orang itu sedang menghakiminya.


Felic mempercepat langkahnya agar cepat sampai di warung. Teman-teman satu kompleknya memang sudah menikah semuanya, tinggal dirinya saja yang belum menikah.


Hal itulah yang membuat Felic selalu menjadi omongan tetangga, ia tidak menyangka


ia akan tinggal di lingkungan seperti ini.


Akhirnya sampai juga di warung yang di tuju. Felic melihat sekeliling, terlihat sepi


tidak ada yang akan belanja selain dirinya.


Untung sepi …..


“Bu …, tepung terigu nya ya!”


“Eh…, Felic. Libur ya?”


“Iya bu!”


“Berapa?”


Astaga aku lupa …, berapa ya tadi….?


“Setengah kilo kayaknya, bu!”


Pemilik warung segera menyiapkan pesanan Felicia, tak berapa lama pemilik warung pun


menyerahkan sebungkus tepung.

__ADS_1


“Kok di rumah saja, nggak jalan-jalan? Biasanya kalau hari minggu gini suka pergi


jalan-jalan loh sama cowoknya!”


“Nggak bu! Di rumah aja …!” jawab Felicia dengan senyum yang tampak di paksakan.


“Cepetan nikah makanya Fe …., biar ada yang ngajak jalan-jalan. Sudah ada calon belum


nih? ibu punya sepupu cowok loh …., mau ibu kenalin?”


Dan benar saja pertanyaan yang sama dan topik yang sama. Felicia hanya bisa tersenyum


penuh kegetiran.


“Nggak usah bu, Fe belum ingin menikah!”


Dan kesialan pun bertambah saat segerombolan ibu-ibu ikut-ikutan ke warung, dan alhasil Felicia menjadi bulan-bulanan ibu-ibu.


“Mbak Felic …., sendiri aja?”


“Iya nih Felic …, kapan nikah, itu si Ningrung saja usianya masih dua puluh tahun


sudah punya satu anak loh …!”


Apa untungnya menikah muda? Memang


dia bahagia ….?mau beli susu anaknya aja kesulitan, apa yang di banggakan coba



“Iya loh …, si Niken teman kamu satu sekolah baru saja melahirkan anaknya yang ke


tiga!”


“Bu tepungnya tadi berapa?”


“Enam ribu …!” Felicia segera menyerahkan uangnya dan mengambil kembaliannya, ia pun


meninggalkan warung itu, dari pada berlama-lama di sana membuat hatinya panas


saja. Tapi belum juga jauh, suara mereka masih terdengar membicarakannya.


“Ya gitu deh kalau terlambat menikah, nggak laku-laku jadinya!”


“Iya …, padahal cantik loh ya …, tapi kok nggak ada cowok yang mau sama dia ya?”


“Kelangkahan itu sama adiknya, gitu tuh kalau adiknya menikah duluan. Dianya jadi nggak


laku-laku!”


“Iya jadi susah dapet jodoh ….!”


Menjadi perawan tua sepertinya menjadi kutukan bagi warga tempat tinggal Felic padahal siapa yang bisa menjamin kebahagiaan seseorang, menikah muda bukan jaminan seseorang bisa bahagia.banyak yang menikah muda dan berakhir dengan perceraian,


ada juga yang nikah muda dan jadi korban KDRT gara-gara nggak bisa biayai


kehidupan rumah tangganya.


 Sering kali ibunya bahkan malu untuk keluar


rumah karena selalu di tanya kapan putri pertamanya itu akan menikah.


Sebelum melepaskan putri keduanya menikah sebenarnya orang tua Felic sudah


mengultimatum pada Felic untuk mencari pasangan, setelah memberi waktu selama


satu tahun ternyata hasilnya nihil. Felic tak juga mendapatkan pasangan, akhirnya Felic mengijinkan adiknya untuk menikah terlebih dahulu, tapi sekarang ternyata pernikahan adiknya menjadi topik gunjingan baru di lingkungannya.


🌷🌷🌷🌷


Kehidupan yang keras sering kali di hindari, tapi tahukan kita jika kehidupan yang keras


ini akan menjadikan manusia yang lebih baik dan tangguh. Bersyukurlah dengan


kehidupan yang sering kali kita keluhkan ini, bisa jadi kehidupan yang seperti


ini di dambakan oleh orang lain


🌷🌷🌷🌷


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2