
Dokter Frans mengetuk-ketukkan jari jemarinya di atas pahanya, ia sudah tidak sabar menunggu Felic keluar dari kamar. Matanya tak pernah beralih dari tangga dan berharap Felic turun dari sana dengan senyum yang selalu membuatnya mabuk.
Bi Molly membukakan pintu untuk Felic, dengan perlahan felic keluar dari dalam kamar, saat sampai di tengah tangga langkahnya terhenti, mata mereka bertemu di sana. Dokter Frans sudah menunggunya semenjak tadi.
Kini dokter Frans sudah berdiri dari duduknya, ia tidak bisa beralih dari menatap istri cantiknya itu. Kali ini Felicpun demikian, ia sebelumnya tidak pernah melihat suaminya begitu rapi dengan jas tapi kali ini ia tampak begitu rapi. Dulu waktu menikah sebenarnya dokter Frans juga memakai jas, tapi saat itu dengan
saat ini rasanya begitu berbeda, sekarang ia bisa melihat betapa tampannya suaminya.
“Mari nyonya!” ucapan bi Molly berhasil membuyarkan lamunannya, Felic pun segara mengalihkan matanya dari dokter Frans, begitu pun dengan dokter Frans.
Hergggmmmm ….
Dokter Frans mencoba menormalkan detak jantungnya, melihat Felic semakin dekat jantungnya semakin berdisko ria saja.
“Frans!” ucap Felic sambil tersenyum.
Dokter Frans segera menyiapkan lengannya untuk di raih felic, ia menekukknya di pinggang, ‘Ayo berangkat!”
Felic mengerti isyarat dari dokter Frans, ia pun segera melingkarkan tangannya di lengan dokter Frans.
“Kami berangkat bi!” pamit dokter Frans pada bi Molly.
“Iya …, semangat tuan! Semoga sukses!”
“terimakasih!”
Dokter Frans pun mengajak Felic keluar dari rumah, di halaman mobil sudah siap lengkap dengan sopirnya.
“Biarkan kami berangkat berdua saja!” ucap dokter Frans.
“Baik tuan!”
Sopir pun hanya membukakan pintu untuk Felic dan dokter Frans, kali ini dokter Frans pergi dengan mobil, jika biasanya ia lebih suka nebeng dengan sahabatnya kali ini ia harus membawa pasangannya untuk ke rumah sahabatnya.
“Pakai sabuk pengamannya!”
“Tapi tidak bisa!” kali ini Felic lebih bisa jujur, dulu ia tidak bisa memakainya tapi pura-pura bisa dan akhirnya ia harus memegangnya sepanjang jalan agar tidak lepas.
Dokter Frans pun tersenyum, ia punya kesempatan lagi untuk mendekati istrinya itu, ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Felic. Tangannya sudah memegang sabuk pengaman itu.
Cklik
__ADS_1
Setelah berhasil, bukannya menjauhkan dari tubuh Felic, dokter Frans malah mendekatkan bibir nya, ia segera mencium bibir Felic, membuat Felic terpaku. Kaca mobil masih terbuka membuat semua yang ada di luar mobil segera membalik badannya tanpa aba-aba.
Cukup lama dokter Frans mencium bibir Felic, setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Feli, dokter Frans segera merapikan lipstick Feloc yang berantakan dengan jarinya. Felic masih saja terpaku, ia tidak menyangka jika suaminya itu akan semesum itu, ia benar-benar tidak tahu tempat.
Dokter Frans menutup kaca mobil dan segera melajukan mobilnya, Felic setelah tersadar dari keterpakuannya, ia segera menoleh ke belakan, ia masih mendapati semua orang yang berada di luar masih berbalik badan, akhirnya ia bisa bernafas lega.
“Mereka tidak akan berani melihat!” ucap dokter Frans dengan santainya seperti mengerti maksud hembusan nafas kelegaan dari felic.
“iihhh ….!”
“Jangan tersipu seperti itu, tambah cantik tahu …!”
“gombal banget sih ….!”
“Gombali istri ibadah tahu!”
Ucapan dokter Frans selalu berhasil membuat Felic tersipu, ia tidak menyangka jika ucapan pria itu menjadi sangat berpengaruh.
Setelah sepuluh menit akhirnya mobil mereka sampai juga di depan rumah besar itu, rumah yang besarnya dua kali lipat lebih besar dengan rumah dokter Frans. Baru di depannya saja, Felic sudah di buat terkagum-kagum dengan indahnya lampu yang tertata rapi di sepanjang masuk melewati halaman yang begitu panjang dam luas,
ia seperti masuk ke dalam dunia lain.
“Frans, ini sebenarnya rumah apa istana? Aku kira rumah kamu sudah yang paling besar tapi setelah di sini aku ngrasa masuk ke sebuah istana!”
Dokter Frans hanya tersenyum menanggapi uncapan istrinya itu, bukan hal yang aneh karena memang Felic tidak terbiasa dengan tempat-tempat seperti ii, sebelumnya ia hanya tinggal di tempat yang sederhana.
Sedangkan rumah dokter Frans memang sengaja di bangun besar, itupun atas prakarsa dari
nyonya Ratih. Rumah itu di bangun nyonya Ratih khusus untuk dokter Frans.
Dan rumah yang paling besar ini, memang rumah utama. Rumah yang di bangun oleh
kakek Agra, rumah turn temurun, begitu banyak kenangan di rumah besar itu.
Kadatangan mereka langsung di sambut oleh pelayan, seseorang sudah siap untuk memarkirkan
mobil milik dokter Frans.
“Sepertinya Rendi juga sudah datang!” ucap dokter Frans. Mendengarkan nama Rendi, Felic jadi teringat dengan insiden salah faham itu, ia begitu malu mengingat kejadian itu.
“Kenapa tiba-tiba menunduk seperti itu? Tanganku bisa patah jika kamu pegangnya kayak gitu!”
“Jadi nanti ada pak rendi juga, berarti ada istrinya juga, aku jadi malu Frans!”
Ha ha ha ….
__ADS_1
Dokter Frans malah tertawa mengingat saat itu, Felic begitu kesaal karena di tertawakan. Ia segera mencubit pinggang dokter Frans.
“Augh …., sakit!”
“Siapa suruh tertawa …!”
Mereka pun mamasuki rumah, kedatangan mereka ternyata sudah sangat di tunggu. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga. Felic semakin di buat ciut saja nyalinya.
“Itu yang kita tunggu datang juga!” ucap Agra menyambut kedatangan mereka, semua mata menatap kepada kedatangan mereka. Agra berdiri dan menghampiri dokter Frans dan Felic.
“Penganten baru memang suka terlambat ya …!” goda Agra sambil memeluk sahabatnya itu.
“Hai Felicia …!” sapa Agra pada Felic.
“Hai …, Agra!”
“Ayo gabung!”
Agra segera mengajak dokter Frans dan felic bergabung dengan mereka. Di ruang keluarga itu sudah formasi lengkap. Ada Rendi dan keluarga, Agra dan keluarga, Divta dan putrinya, ia benar-benar menjadi sibgel daddy yang luar biasa sekarang, bukan lagi seorang Divta yang suka main-main. Dan yang paling utama adalah nyonya Ratih yang sangat menonjol di sana.
Anak-anak sudah berkumpul bersama anak-anak sedangkan orang dewasa juga berkumpul bersama pasangannya masing masing, jelas saja Divta juga berpasangan dengan nyonya Ratih karena sama-sama tidak berpasangan.
“Selamat malam ibu!” orang yang pertama wajib dokter Frans sapa adalah ibu angkatnya, nyonya Ratih.
“Selamat malam, Frans, Felicia, duduklah kita mengobrol dulu, baru makam malam!”
Dokter Frans pun mengajak Felic duduk di sofa yang masih kosong, Felic mengabsen satu
persatu orang yang ada di sana, tapi ada satu orang yang ia belum kenal.
“Ibu senang jika kalian berkumpul seperti ini!” ucap nyonya Ratih.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan dengan memberikan like dan komentarnya ya, kasih vote juga yang banyak ya
follow ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading