Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (123. Ada apa dengan 30 th lalu?)


__ADS_3

Mereka berdua pun duduk berdua di bawah pohon di kursi plastik berwarna biru itu sambil menikmati siomay kesukaan mereka,


Tapi tiba-tiba Zea menghentikan makannya, ia teringat sesuatu, "Ga, bagaimana kamu bisa sampai di sini? Apa juga mau beralasan seperti mas Rizal kalau kebetulan?"


Rangga tersenyum, "Bukan!"


"Lalu?"


"Rumah orang tuaku kan dekat sini!"


Ahhh iya, kenapa aku bisa lupa ...., tapi membahas masalah orang tua, Zea kembali teringat dengan hutang mamanya Rangga, "Oh iya Ga, bagaimana soal kemarin? Kalau kamu butuh bantuan, aku akan minta papa buat bantu!"


"Ohhh itu, sudah beres. Hutang mama sudah lunas!"


"Benarkah?" Zea begitu bahagia mendengarnya hingga membuat Rangga mengerutkan keningnya, ia tahu selama ini hubungan mamanya dan Zea tidak pernah baik.


"Kamu kenapa seneng begitu? Kayak kamu aja yang baru dapat lotre!"


"Ya seneng lah Ga, itu tandanya mama kamu nggak terjerat hutang lagi. Aku ikut seneng."


"Terimakasih ya!"


"Terimakasih buat apa?"


"Terimakasih karena kamu sudah mau peduli pada mamaku, padahal aku tahu sendiri bagaimana mama aku sama kamu!"


Zea tersenyum, "Aku bukan orang baik Ga, aku juga pernah melakukan kesalahan, bahkan mungkin kesalahanku lebih besar dari apa yang sudah mama kamu buat untuk aku, tapi orang yang pernah aku sakiti bahkan sekarang begitu baik padaku! Aku belajar banyak dari orang baik, Ga!"


Rangga benar-benar di buat kagum dengan sosok di depannya, ia tahu bagaimana mamanya menyakiti istrinya itu. Tapi istrinya masih dengan lapang dada memaafkan sang mama.


Mereka pun akhirnya kembali fokus dengan makanannya, tidak membahas apapun lagi hingga siomay yang dia makan habis.


"Setelah ini mau ke mana?" tanya Rangga setelah Rangga membayar siomay yang mereka makan. Mereka kembali berjalan menuju ke kendaraan mereka masih-masing yang kebetulan di parkir di tempat yang sama.


Sebenarnya Zea masih merasa betah bisa begitu dekat dengan Rangga hari ini, tapi ia juga tidak mungkin menahan Rangga agar menemaninya seharian.


"Aku mau jalan-jalan aja, tapi bingung mau ke mana!"


"Bagaimana kalau kita ke pusat perbelanjaan, kebetulan aku ingin membelikan baju untuk papa!"


Tawaran Rangga benar-benar seperti angin segar baginya. Zea pun langsung mengangukkan kepalanya dengan begitu bersemangat, "Aku mau!"


"Tapi kamu naik mobil ya, aku akan mengikutimu naik motor di belakang!"


"Kenapa seperti itu?"


"Ya jangan naik motor!"


"Begini aja deh, mana kunci motor kamu?" Zea pun mengacungkan tangannya.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Siniin!" akhirnya Rangga pun terpaksa memberikan kunci motornya pada Zea.


"Tapi buat apa?"


Zea pun memanggil bodyguard nya dan menyerahkan kunci motor itu padanya, "Kamu bisa naik motor kan?"


"Bisa nona!"


"Bawa motor Rangga ya, aku mau naik mobil sama Rangga!"


"Baik nona!"


Sekarang Rangga tahu apa maksud Zea, "Baiklah, saya siap mengantar anda tuan putri." ucap Rangga membuat Zea tertawa di buatnya.


Mereka pun akhirnya naik mobil menuju ke salah satu pusat perbelanjaan, sedangkan bodyguard Zea naik motor di belakang mobil mereka.


Hingga sampai di pusat perbelanjaan, Rangga pun memarkirkan mobilnya terlebih dulu dan kembali menyusul Zea yang sudah menunggunya di depan pusat perbelanjaan.


"Sekarang kita mau ke mana dulu?" tanya Rangga.


"Katanya mau beli baju buat papa, bagaimana kalau kita ke toko baju dulu?" ucap Zea memberi pendapat.


"Baiklah, ayo!"


Mereka benar-benar seperti sepasang suami istri seperti kebanyakan, bahkan saat ini Rangga tidak malu membawakan tas Zea.


"Biar aku temenin ya!"


"Nggak usah, cuma sebentar kok. Kamu pilih-pilih dulu nanti kalau sudah dapat yang cocok coba aku lihat, bagaimana ?"


"Baiklah, tapi kamu yakin ke toilet sendiri?" Rangga benar-benar merasa cemas jika membiarkan Zea sendiri. Walaupun ia belum bisa mengatakan kalau dirinya sudah ingat semuanya tapi ia tetap ingin melindungi Zea selayaknya suami pada umumnya.


"Iya!"


Zea pun akhirnya meninggalkan Rangga, ia masih belum terlalu hafal dengan pusat perbelanjaan ini sehingga ia masih harus mencari letak toiletnya.


Tapi saat melewati kedai sosis bakar, tiba-tiba ia ingin memakannya. "Itu kayaknya enak!" gumamnya. Ia pun jadi melupakan niatnya untuk pergi ke toilet, ia memilih ikut mengantri dengan beberapa pelanggan lainnya.


Mungkin karena terlihat enak membuat beberapa pelanggan tertarik, antriannya cukup panjang. Sambil menunggu antriannya sedikit berkurang, Zea pun memilih mencari tempat duduk yang kosong.


Akhirnya ia menemukan tempat duduk kosong di hampir ujung kedai itu. Sebuah sofa dengan sandaran punggung yang cukup tinggi hingga sebatas kepalanya.


"Ada apa kamu menemui saya lagi?" suara seseorang di belakang tempat duduknya terdengar begitu familiar membuat Zea menoleh ke belakang tapi percuma karena sandaran duduknya cukup tinggi hingga ia tidak bisa melihat siapa yang tengah bicara di belakangnya.


Tapi Zea begitu yakin jika itu suara nyonya Widya beberapa kali bertemu dengan nyonya Widya membuatnya menghafal suara itu. Zea pun akhirnya memilih menajamkan telinganya dari pada melihat rupa orangnya.


"Saya takut nyonya, ada orang yang mencari saya!"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Sepertinya ada yang mulai curiga dengan apa yang kita lakukan tiga puluh tahun lalu. Bagaimana kalau mereka menangkap saya?"


"Itu tidak mungkin, kejadiannya sudah tiga puluh tahu kenapa masih di ungkit. Tenang saja, mereka tidak akan pernah menemukan apapun. Lagi pula anak yang mau coba kita habisi sekarang menjadi penggangu dalam hidup saya dan keluarga saya!"


"Jadi maksudnya, bayi itu sekarang sudah besar dan bertemu dengan nyonya?"


"Iya, itu gara-gara kecerobohan kamu!"


"Nyonya, saya semakin takut nyonya. Saya mohon nyonya, beri saya uang yang cukup. Saya akan pulang kampung dan mulai kehidupan saya dan keluarga saya di sana."


"Enak aja kamu mau minta uang lagi, kamu itu sudah gagal. Jadi jangan mimpi, saya tidak punya banyak waktu. Urus saja urusanmu sendiri!"


Terdengar nyonya Widya meninggalkan pria lawan bicaranya. Zea pun dengan cepat bersembunyi dengan menutup wajahnya dengan majalah yang ada di depannya agar nyonya Widya tidak sampai melihatnya karena ia duduk tepat di samping jalan keluar.


Dan benar saja, itu adalah nyonya Widya. Setelah memastikan nyonya Widya pergi, Zea pun dengan cepat berdiri dan melihat siapa lawan bicara nyonya Widya. Ternyata seorang pria dengan pakaian khas rumah sakit. Sepertinya pria itu adalah salah satu perawat sebuah rumah sakit. Zea membaca name tag di bajunya, namanya Rusdi.


Saat Zea ingin mendekatinya, pria itu sudah lebih dulu meninggalkan tempatnya dan langkahnya begitu cepat masuk bersama kerumunan membuat Zea kesulitan untuk menemukannya.


"Yahhh, aku kehilangan jejak lagi." gumamnya pelan.


"Zee!" panggilan dari Rangga membuatnya teringat jika dia sudah meninggalkan Rangga terlalu lama,


"Ga!"


"Kamu dari mana aja, aku cari kamu di toilet tapi kamu tidak ada. Kamu tidak pa pa kan?"


"Enggak Ga, tadi sebenarnya aku melihat sosis bakar, tiba-tiba aku kepingin jadi aku ikut antri!"


"Dapat sosisnya?"


"Enggak! Soalnya rame banget!"


"Ya udah, kalau begitu kami tunggu di sini. Jangan kemana-mana, biar aku yang antri sosis buat kamu!" Rangga membantu Zea untuk duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari kedai sosis.


"Jangan kemana-mana sebelum aku kembali, mengerti!"


"Iya!"


Akhirnya Rangga pun masuk ke kedai sosis bakar, beruntung kedai itu dindingnya terbuat dari kaca yang transparan sehingga Rangga masih bisa melihat keberadaan Zea.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2