
Setalah mengambil foto berkas itu, Miska segera mengembalikan berkas itu ke tempatnya dan menyusul papanya agar tidak curiga.
"Sudah siap, sayang?"
Miska segera mengangukkan kepalanya. Mereka pun menuju ke salah satu restauran terdekat dari kantor.
"Mau makan apa sayang?"
"Seperti biasanya aja pa!"
Pak Seno pun segara memesankan berbagai makanan kesukaan putrinya itu. Ia begitu hafal dengan apa saja yang di sukai putrinya.
Selang beberapa waktu akhirnya pesanan mereka datang.
"Makanlah yang banyak! Papa lihat akhir-akhir ini tubuh kamu semakin kurus saja!"
"Miska sengaja diet pa!"
"Jangan terlalu banyak diet sayang, tubuh kamu sudah sangat ideal! Semua pria pasti sangat mengagumimu berharap bisa kamu jadikan pasangannya!"
"Siapa bilang pa, buktinya Rangga malah memilih wanita minimarket itu dari pada Miska, Miska benar-benar kesal!"
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal ini pada Miska ....
"Sayang!"
"Hmm?"
"Tadi papa baru saja ketemu sama Rangga!"
Miska segera meletakkan sendoknya dan menatap pak Seno,
"Rangga? Serius pa?"
"Iya. Papa minta rangah buat menerima kamu dan membujuknya!"
"Pasti gagal kan pa?"
"Hmm, dia mengatakan kalau sudah punya istri dan akan segera menjadi seorang ayah!"
Bahkan dia mengatakan hal itu....
"Apa kamu kenal dengan istrinya Rangga?"
"Ya kenal lah pa, dia gadis minimarket itu!"
"Namanya?"
Jangan-jangan papa sengaja lagi mancing aku buat bicara tentang Zea, nggak ..., pokoknya aku nggak boleh sampai terpancing ....
"Ya mana Miska peduli. Bodo amet sama namanya!"
Ternyata sulit juga mengorek informasi dari Miska ....
Akhirnya pak Seno pun tidak lagi membahas mengenai istri Rangga agar Miska tidak semakin curiga.
...***...
Miska sudah berada di atas tempat tidurnya sambil mengamati layar ponselnya
"Jadi benar dia dari panti asuhan?"
"Hehhh, seandainya saja Zea tidak berada dalam nama itu, ini akan menjadi kabar yang sangat bagus untuk nenek sihir itu. Ia pasti akan semakin membenci Zea tanpa aku ikut campur pasti nenek sihir itu berusaha keras untuk menyingkirkan Zea!"
__ADS_1
"Tapi sekarang malah datang masalah lain."
"Aku harus mencari cara agar bisa dekat dengan wanita minimarket itu, kayaknya cara keras tidak akan membuahkan hasil, benar kata Rizal. Aku harus bermain cantik mulai sekarang!"
...***...
Zea menatap layar ponselnya. Menatap jepretan foto yang di ambil oleh Anha tadi siang.
Apa benar dia papa ku? Kalau iya, aku harus apa? Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku saat ini, bagaimana jika aku benar putrinya malah akan mendatangkan masalah lain ....
Rangga yang melihat istrinya terus melamun segera menegurnya dengan memeluknya dari samping.
"Ada masalah apa sayang?"
"Hmmm?"
"Aku lihat sedari tadi kamu terus melamun!"
"Tidak pa pa, hanya kepikiran sesuatu saja, Ga!"
"Apa hari ini kamu melupakan hukumanmu?"
Zea tersentak, ia sampai menjauhkan tubuhnya dari sang suami,
"Kamu kan nggak marah, kenapa harus di hukum?"
"Jadi syaratnya harus aku marah dulu ya, baiklah aku akan marah!" Rangga menjauhkan duduknya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa senyum sama sekali.
Marah kok di rencana ....
"Baiklah, aku akan tidur saja!" Zea segara meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya.
Melihat sang istri sama sekali tidak terpancing, Rangga segera menyusul Zea tidur dan memeluknya dari belakang karena kini Zea sedang tidur membelakanginya.
Rangga malah semakin mengeratkan pelukannya dan lagi tangannya pasti selalu tidak bisa di kondisikan.
Zea tersenyum dan membiarkan suaminya melakukan apa saja yang ia mau hingga akhirnya malam itu berakhir dengan begitu hangat.
...***...
Zea mulai mengeluarkan barang-barang lamanya. Ia tidak punya banyak barang kecuali sebuah foto.
Berkali-kali ia mencocokkan foto itu dan benar saja. Hampir mirip, dengan penutup kepala yang sama. Foto itu hanya berselang beberapa bulan saja sepertinya karena besarnya tidak terlalu berbeda.
Jadi benar dia papa ku? Tapi aku harus apa? Aku tidak mau hidupku bertambah satu lagi masalah ..., tidak mungkin keluarga barunya akan menerimaku dengan baik ...
Zea memilih mencarikan. pigora untuk foto lamanya itu dan memajangnya di ruang keluarga tepat di samping tv dan juga foto pernikahan mereka.
"Kalau begini lebih mirip anak kami, jadi penasaran dengan foto masa kecil rangga!"
"Hehhh, seandainya saja hubungan aku dan mamanya Rangga baik!"
Tiba-tiba ponselnya berdering mengalihkan perhatiannya dari foto yang ada di depannya itu.
"Ada apa Ga?"
"Aku kirim paket buat kamu, bisa kan turun sebentar untuk mengambilnya? Atau minta bantuan bibi, bibi ada kan?"
"Ada, tapi kayaknya lagi sibuk. Biar aku ambil sendiri aja deh!"
"Baiklah, segera kasih tahu aku kalau paketnya sudah di terima!"
"Iya!"
__ADS_1
Zea pun lagi-lagi mematikan sambungan telponnya tanpa permisi.
"Bi aku ke bawah dulu ya, Rangga yang minta buat ambil paket!"
"Benar buk, nggak bohong kan?"
"Nggak percaya banget sih bi, telpon Rangga deh bi kalau nggak percaya!"
Zea langsung meninggalkan apartemennya. Ia begitu penasaran dengan paket yang di maksud suaminya.
Sesampai di lantai bawah, ia mendapati keribukan di pintu masuk membuatnya tertarik untuk melihat keributan itu.
"Nona Miska!?"
Miska yang tengah berdebat dengan penjaga tersenyum senang dengan kedatangan Zea.
"Zea, Zea ...., aku datang buat minta maaf. sungguh! Biarkan aku masuk, aku ingin bicara!"
"Maaf, anda akan saya usir dengan kasar kalau tetap memaksa menerobos masuk!"
"Saya mohon pak, saya mau minta maaf. Sungguh!"
Tapi para penjaga itu segera menarik tangan Miska. Sebelum benar-benar keluar tiba-tiba tubuh Miska limbung dan hampir terjatuh.
"Nona Miska!" Zea dengan cepat menghampiri Miska yang tidak sadarkan diri.
"Dia kenapa pak?"
"Sepertinya nona ini pingsan, nyonya!"
"Pingsan?" Zea memikirkan hal yang harus ia lakukan sekarang, "Dia datang dengan siapa?"
"Sepetinya sendiri nyonya!"
"Begini saja, tolong bawa dia ke apartemen saya!"
"Tapi nyonya, wanita ini ada dalam daftar nama orang yang tidak boleh masuk ke apartemen ini, terutama apartemen anda nyonya!"
"Tidak pa pa, dia kan sedang pingsan, kasihan kalau di sini!"
"Biar kami bawa ke klinik saja nyonya!"
"Jangan, ke apartemen saya saja, di sana ada bibi, saya jamin tidak akan terjadi apa-apa, saya mohon!"
Zea benar-benar merasa kasihan dengan Miska yang pingsan itu. Sejahat apapun dia, dia tetaplah wanita yang butuh cinta.
"Baiklah, nyonya!"
Akhirnya penjaga setuju dengan usulan Zea. Mereka membopong tubuh miska dan membawanya ke apartemen Zea.
Dasar bodoh, polos sekali dia. Mudah sekali mengelabuinya ....., ternyata Miska hanya pura-pura pingsan. Hanya dengan begini ia bisa masuk ke tempat Zea.
Ia tahu jika Rangga sedang menyiapkan kejutan untuk Zea dan Miska memanfaatkan hal ini untuk menyusup masuk.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1