
Sudah berhari-hari ini Felic sedikit menjauh dari suaminya, ia ingin memberi ruang
pada suaminya dan meyakinkan pada dirinya sendiri jika dia benar masih siap
untuk bersama walau mungkin masih tanpa cinta. Dokter Frans pun sepertinya juga
menghormati keputusan Felic. Mereka memang tinggal dalam satu rumah, satu kamar
bahkan satu ranjang.
Tapi tidak ada pembicaraan hangat dari mereka, hanya bicara seperlunya saja.
“Frans …!” panggil Felic saat dokter Frans sudah siap untuk berangkat, membuat pria
itu segera menghentikan langkahnya dan menoleh padanya.
“Iya?”
“boleh nggak aku hari ini ke luar?, aku mau ketemu Ersya!”
“Boleh …, tapi sama Wilson!”
“Tapi_!”
“Nggak usah pergi kalau nggak sama dia!” ucap dokter Frans seperti sebuah ketetapan
yang tidak bisa di bantah lagi, “aku berangkat!”
Dokter Frans meninggalkan kamar begitu saja, meninggalkan Felic yang begitu kesal. Ia
segera mencari Wilson, ia tidak mau kejadian beberapa hari yang lalu terulang.
“Bi …, lihat Wilson?” tanya dokter Frans pada bi molly yang kebetulan berada di ruang keluarga hendak memanggil tuan nyonya nya untuk sarapan.
“Sepertinya di luar tuan!”
‘Baiklah …, aku berangkat dulu ya bi!” dokter Frans pun berjalan meninggalkan bi molly,
tapi langkahnya terhenti saat bi Molly memanggilnya lagi.
“Tuan!”
“Iya?”
“Tuan tidak sarapan dulu?”
“Tidak bi, Frans buru-buru! Tapi minta Felic sarapan dulu sebelum pergi ya, semalam aku lihat makan cuma sedikit!”
“Iya tuan! Pasti ....!”
Dokter Frans pun melanjutkan langkahnya mencari Wilson, ternyata Wilson sedang berada
di luar dengan paman Joy.
“Selamat pagi tuan!” sapa Wilson dan paman Joy serta memberi hormat saat melihat dokter
Frans keluar.
“Wilson!”
“Saya tuan!”
“Hari ini Felic akan keluar, jadi saya tidak mau kejadian beberapa hari lalu terulang
lagi, kalau bisa ikuti kemana saja dia pergi!”
“baik tuan!”
Dokter Frans segera menuju ke mobilnya, seseorang sudah siap di samping mobilnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
***
__ADS_1
Felic turun setengah jam setelah dokter Frans pergi, mereka sudah jarang menghabiskan
waktu walaupun hanya untuk sarapan atau makan malam.
“Selamat pagi nyonya!” sapa bi Molly yang sudah siap menunggu di bawah tangga.
“Selamat pagi, bi!”
Bi Molly segera mengikuti langkah Felic, “sarapan dulu, nyonya!”
Felic yang kakinya sudah berada di ambang pembatas antara ruang tamu dan ruang
keluarga segera menggantung begitu saja dan kembali menoleh kearah bi Molly
yang ternyata mengikuti langkahnya.
“Felic sedang nggak nafsu makan bi!”
‘tapi tuan melarang anda keluar rumah sebelum sarapan, nyonya!”
Astaga …, dia benar-benar ingin menawanku ….
Dengan begitu kesal, Felic pun berbalik dan menuju ke ruang makan. Ia merasa kurang
bersemangat untuk makan karena ia sudah terlanjur terbiasa makan bersama dokter
Frans tapi akhir-akhir ini dia sendiri yang memilih menghindar untuk makan
bersama suaminya itu.
“Biar saya ambilkan ya, nyonya!” ucap bi Molly saat melihat felic hanya diam sambil
memandangi piring kotornya itu. Begitu banyak makanan di depannya tapi tak
satupun membuatnya berselera untuk makan.
Ting
“Boleh aku minta ikan asin saja, enak deh kayaknya!” ucap Felic sambil memakan ikan asin.
“Ikan asin?”
“Iyahhhh ...., iyahhh …!” ucap Felic sambil mengedip-kedipkan matanya.
“Harus ikan asin ya nyonya?” tanya bi Molly bingung karena selama ini tidak pernah
menyetok ikan asin di rumah.
‘Tidak ada ya?!” Felic memasang wajah kecewanya.
“baiklah …, tunggu lima belas menit ya nyonya, kami pasti akan mendapatkannya!” ucap bi
Molly, ia segera mengerahkan pasukannya untuk di sebar ke seluruh penjuru warung ataupun toko yang ada di sekitar untuk mendapatkan ikan asin.
Ting
Notif pesan masuk ke ponsel bi Molly, bi molly yang sedang menunggu anak buahnya
kembali sambil menjaga Felic agar tidak pergi segera merogoh ponselnya yang tersimpan di saku depannya.
“Tuan!” gumamnya lirih agar tidak terdengar oleh Felic, felic sedang asik memainkan
ponselnya.
//bagaimana dia? Apa dia sudah sarapan? Jangan biarkan dia pergi tanpa sarapan?//
Diam-diam dokter Frans mencemaskan istrinya itu, semenjak Felic menghindar dari makan
bersamanya bi Molly mengatakan jika Felic tidak begitu bersemangat makan.
Bi Molly segera mengambil gambar Felic tanpa di ketahui oleh Felic dan mengirimkannya ke dokter Frans dengan menyertakan keterangan di bawahnya.
__ADS_1
//maaf tuan, nyonya masih belum mau makan karena menunggu ikan asin//
Dokter Frans yang menerima pesan dari bi Molly menjadi senyum-senyum sendiri melihat
bagaimana istrinya itu menyusahkan orang-orang di rumahnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Divta yang kebetulan sedang berada di
klinik kantor karena merasa pusing. Karena kebetulan hari ini ajalah jadwal dokter Frans mengunjungi klinik kantor finity Group.
“Kucing kecilku sedang mengerjai singa!”
“Aku rasa kucingmu itu cukup cerdik, jadi hati-hati jangan biarkan dia marah lama-lama!”
“Hahhh?”
dokter Frans heran Karena Divta tahu
jika istrinya sedang marah padanya.
“Aku sudah melihat bagaimana Agra dan Rendi jika dia sedang di diamkan istrinya, tanpa bertanya pun aku bisa menebaknya jika dokter tampan ini sedang dalam masalah karena telah membuat kucing kecilnya marah!”
“Dia tidak sedang marah, hanya saja _!”
"mendiamkan mu kan …? Sama saja! Itulah kenapa aku enggan berumah tangga, bikin ribet saja! Ya sudah aku kembali, makasih obatnya!” ucap Divta lalu pergi meninggalkan klinik setelah merasakan kepalanya sudah lebih baik.
Ayah satu anak tanpa istri itu sepertinya sangat menikmati perannya sebagai single daddy hingga ia tidak pernah memikirkan untuk menikah. Yang ada dalam hidupnya
kini hanya putri kecilnya dan terus bekerja.
***
Setelah setelah jam barulah salah satu dari mereka mendapatkan ikan asin, rumah besar
lokasinya cukup jauh dari pasar ataupun pantai jadi cukup sulit untuk mendapatkan ikan asin. Apalagi perumahan tempat tinggal dokter Frans termasuk perumahan elit jadi tidak ada toko atau warung kecil di sekitar rumahnya.
“Silahkan nyonya!” bi Molly segera menggorengnya sendiri dan menghidangkan pada Felic.
Felic pun segera mengambil nasi secukupnya dan mengambil ikan asin itu kemudian
meletakkannya di piringnya.
Tanpa menggunakan sendok ia segera melahap makanannya. Tapi yang membuat heran bi Molly, Felic sama sekali tidak menyentuh ikan asinnya itu walaupun ikan asin itu sudah berada di piringnya. Felic hanya
terus melahap nasinya tanpa sedikitpun menowel ikan asinnya hingga nasinya habis.
Hoooeeekkkkkk
Kebiasaan Felic bersendawa benar-benar sulit di hilangkan.
“Nyonya?”
‘Iya?”
“kenapa lauknya sama sekali tidak di sentuh?”
“Tidak pa pa bi, simpan saja untuk nanti! Aku akan memakannya!” ucap Felic tanpa rasa
bersalah kerena sudah membuat semua orang lari maraton ke sana kemari hanya untuk menemukan ikan asin. Ia segera berdiri dan berjalan menuju ke dapur untuk mencuci tangannya.
Bi Molly mengirimkan foto Felic dan piring yang masih utuh ikan asinnya itu ke pada dokter Frans dengan chapter di bawahnya.
//berasa makan lauk ikan asin padahal ikan asinnya masih utuh// 😭😭😭😭 dengan emoticon menangis di akhirnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰