Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 ( 7. Ijab Qabul)


__ADS_3

Suara mobil mulai memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas itu, rumah lantai dua yang berdesain modern itu langsung heboh dengan kedatangan mobil itu.


"Dasar anak tidak tau diri, dari mana saja dia, benar-benar bikin Mama kesal!"


"Sudah lah ma, biarkan Rangga masuk dulu, nggak usah marah-marah! Anak belum masuk sudah mau di omelin!"


"Ini nih, ini ...., karena papa yang terlalu memanjakan Rangga jadinya anak itu nggak tahu aturan!"


"Rangga sudah besar loh ma, sudah dewasa, sudah waktunya dia menentukan hidupnya sendiri!"


"Justru itu pa, karena Rangga sudah kelewat dewasa jangan sampai gara-gara masih mengharapkan cinta Felic dia jadi nggak nikah-nikah!"


Suara pintu di buka menandakan pemilik mobil itu sudah memasuki rumah, seketika perdebatan itu teralihkan pada sosok yang baru saja masuk.


Mama Rangga segera menghampiri Rangga,


"Dari mana aja kamu? Lusuh begini!"


"Dari rumah teman!" Rangga hanya menjawab sekenanya.


"Kamu tahu tidak, Miska sudah nungguin kamu seharian, bisa-bisanya kamu tinggalkan dia sendirian di mall!"


"Rangga capek ma, Rangga mau tidur!" Rangga berlalu begitu saja tapi mamanya tidak mau menyerah. Ia mengejar putranya itu.


"Mama nggak mau tahu ya, kamu besok harus minta maaf sama Miska, mama nggak enak Ga sama mamanya Miska, apa kata Tante Rara nanti kalau tahu anaknya kamu gituin!"


"Lihat besok aja lah ma!"


Rangga segera membuka pintu kamarnya dan menutupnya lagi, terdengar ia juga mengunci pintu kamarnya.


"Kebiasaan kamu Ga!" mama Rangga masih terus menggerutu, pria yang sedang membaca koran itu terlihat menggelengkan kepalanya.


...***...


Pagi-pagi sekali mobil Rangga sudah terparkir di depan kontrakan Zea. Zea yang hendak berangkat ke toko tercengang melihat Rangga yang sudah rapi.


"Ga, kamu di sini?"

__ADS_1


"Panggilnya yang mesra dong sayang!" protes Rangga yang tengah berjalan menghampiri Zea dan memeluknya tidak lupa memberi kecupan selama pagi di kening wanita itu.


"Ga, pagi-pagi jangan bikin gara-gara deh, kamu nggak kerja?"


"Hari ini aku ijin, kamu juga sudah aku ijinin, dan ini_!" Rangga menyerahkan sebuah paper bag di tangannya pada Zea.


"Ini apa?"


"Ini kebaya untuk pengantin aku!"


"Kebaya?"


"Iya, cepat balik lagi dan aku tunggu di sini lima belas menit lagi!"


Zea masih terlihat bingung, tapi tetap ia kembali masuk ke dalam rumah untuk memakai kebaya yang di berikan oleh Rangga, ia juga memoles wajahnya dengan make up tipis agar tidak terlalu polos, rambutnya yang tadi ia kuncir kuda sekarang ia sedikit memberi hiasan dan menekuknya agar terlihat rapi dengan menyisakan anak rambut di bagian depan agar terlihat lebih manis.


Tepat lima belas menit Zea keluar dengan penampilan barunya, Rangga sampai tercengang melihat penampilan Zea, wanita yang tidak pernah memakai make up saat memakai make up benar-benar membuat pangling.


"Ga, ayo!" ucapan Zea menyadarkan lamunan Rangga, ia benar-benar terpaku dengan kecantikan Zea. Wanita yang biasa tampil sederhana dengan kuncir kudanya itu sekarang menjelma menjadi pengantin cantik.


"Biasa aja!"


"Mari masuk tuan putri!" Rangga segera membukakan pintu mobil untuk Zea, Zea hanya bisa pasrah pria itu akan membawanya ke mana.


Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama setengah jam mereka sampai juga di depan sebuah masjid besar dan yang membuat Zea semakin terkejut adalah kedatangan koh Chang di sana, setahu Rangga keluarga dekat Zea hanya koh Chang.


"Koh, koh Chang di sini?"


"Iya pasti dong, masak saya nggak datang di hari bahagia kamu!" koh Chang bicara dengan logat Chinese nya.


Zea kemudian menoleh pada Rangga yang berdiri di sampingnya, penampilan Rangga tidak ada bedanya dengan penampilan biasanya, ia memakai stelan jas hitam dan kemeja putih persis seperti yang ia kenakan saat setiap hari hal itu tidak membuat Zea curiga.


"Ini maksudnya yang nikah kita, Ga?"


"Iya, seperti yang aku katakan semalam, kita akan menikah hari ini dengan atau tanpa restu orang tua aku!"


"Kalau mereka marah?"

__ADS_1


"Biar itu menjadi tanggung jawab aku!"


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam masjid, di dalam masjid sudah ada pak ustad yang akan menikahkan mereka.


Ijab Qabul pun berjalan dengan hikmat, pernikahan itu hanya di hadiri oleh pak ustadz sebagai penghulu, dua orang saksi dan koh Chang. Selain itu Rangga juga mengundang fotografer untuk mengabadikan moment itu. Ia bahkan tidak memberitahu Div atau Ersya karena ia tahu jika Zea sangat menghindari mereka. Ia tidak mau membuat Zea tidak nyaman dengan kedatangan mereka.


"Sekarang kita ke mana lagi Ga?" Zea merasa heran karena mereka tidak melewati jalan yang menuju ke rumah mereka.


"Kita harus merayakan pernikahan kita dong sayang!"


"Maksudnya?"


"Nanti kamu juga tahu!"


Jalan yang mereka lalui cukup jauh, mereka melewati jalan yang berliku-liku untuk sampai di tujuan.


"Tidur saja, nanti kalau kita sampai pasti akan aku bangunkan!"


"Aku penasaran Ga, kita mau ke mana?"


"Masih jauh, tidurlah!"


"Pemandangannya sangat indah, sayang kayang kalau terlewatkan!" Zea malah menatap ke arah luar, hamparan kebun teh sangat luas, "Boleh nggak aku buka jendelanya?"


"Buka aja!"


Rangga fokus menyetir, sambil sesekali menoleh pada wanita yang tengah berbahagia itu. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang sama yang seperti yang di rasakan oleh Zea.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2