
Tisya adalah karyawan baru di sebuah perusahaan yang bekerja di bidang transportasi semacam penyewaan bus atau mobil, selain itu perusahaannya juga bergerak di bidang properti, semacam renovasi interior rumah seperti kitchen set, kamar tidur, kamar mandi atau ruang-ruang khusus yang di buat seunik mungkin, taman dan sebagainya.
Pekerjaan Tisya hanya mengawasi orang-orang yang bekerja kasar, mengarahkan penempatan beberapa barang persis seperti yang di inginkan pelanggannya.
"Sayang ...., kamu sibuk banget ya?" tanya nyonya Tania sambil menyiapkan sarapan untuk putrinya itu.
"Iya ma, ada proyek baru dan kata bos aku yang harus menanganinya, hari ini Tisya harus meeting sama pemilik rumah sekalian lihat rumahnya supaya bisa cocok apa enggak sama desain Tisya dan yang di minta klien!"
"Sayang sekali ya!" ucap nyonya Tania yang ikut duduk dan menuangkan seentong nasi ke dalam piringnya.
"Ada apa ma?" tanya Tisya sambil menghentikan makannya.
"Hari ini mama gajian, mama mau ngajak kamu makan di luar, akhir-akhir ini kan kita tidak pernah makan enak, kita cuma punya tempe sama telur, jadi mama berencana buat ngajak kamu makan di restoran kesukaan kamu!" ucap nyonya Tania, ia benar-benar merasa kasihan dengan putrinya itu. Putrinya itu terbiasa dengan hidup mewah, makanan enak dan sekarang harus terbiasa tinggal di kontrakan yang sempit dan makan seadanya.
"Nggak usah ma, mama simpan saja uangnya buat kebutuhan mendadak, nanti saja kalau Tisya sudah punya uang kita makan di luar!" ucap Tisya, ia sebenarnya ingin makan enak di restoran mahal, tapi mulai sekarang ia harus bisa hidup sederhana.
Ia ingat bagaimana papa yang begitu ia sayangi tiba-tiba mengabaikannya, ia seperti terbuang ketika tunangannya memutuskan pertunangan mereka saat ia sedang terpuruk. Hidupnya sekarang terasa begitu menyedihkan.
Aku sudah berjanji ma sama diri Tisya sendiri, Tisya akan jadi anak mama yang mandiri, biarkan saja mereka mengabaikan Tisya ....., Tisya sudah nggak peduli, ini hidup Tisya, berarti Tisya sendiri yang harus bertanggung jawab dan belajar dari keadaan ....
"Sayang ....., mama tidak pa pa! Bagaimana mau ya?" nyonya Tania tetap memaksa.
Ia juga tidak ingin melihat mamanya kecewa, tapi ia juga tidak bisa menghabiskan uang hasil jerih payah mamanya hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri.
"Baiklah ...., begini saja ma hari ini Tisya usahakan buat pulang cepat, Tisya akan langsung mampir ke kedai mama, nanti pas mama istirahat kita makan mie ayam yang ada di seberang jalan, sepertinya mie nya enak ma, Tisya jadi pengen ....!" ucap Tisya berusaha memberi solusi pada mama nya.
"Ok ...., mama setuju!"
"Ya udah, Tisya udah telat, Tisya berangkat dulu ya ma!" Tisya pun bangun dari duduknya dan segera mencium pipi kanan mamanya.
"Iya sayang, hati-hati! Semoga sukses ya ....!"
"Bye ma ...., sampai jumpa nanti!"
Tisya pun segera keluar dari kontrakannya, ia harus berjalan sekitar seratus meter untuk sampai di jalan depan. Gang rumah ya sebenarnya jalan yang lebar tapi hanya di lalui oleh kendaraan pribadi saja, jika mencari ojek atau kendaraan umum ia harus berjalan dulu ke ujung gang, di sana ada pangkalan ojek selain itu dia juga bisa menunggu bus kecil lewat.
Ojek itu mangkal untuk orang-orang yang rumahnya jauh di belakang gang rumah Tisya, jika malas untuk jalan kaki mereka bisa naik ojek atau jiga becak.
"Pagi neng Tisya, mau berangkat ya!" sapa kang ojek yang biasa mangkal di sana, mereka mengenal Tisya karena selain Tisya yang cantik dan terlihat menonjol dari pada anak-anak kompleks lainnya.
Selain itu nyonya Tania kerap menyewa jasa ojek jika ia di minta pemilik kedai baksonya untuk belanja ke pasar.
__ADS_1
"Iya kang ....! Saya numpang duduk ya kang!" ucap Tisya sambil matanya menatap bangku kosong yang ada di pangkalan ojek itu.
"Oh silahkan neng!"
Tisya pun segera duduk sambil menunggu bus datang.
"Kerjanya di mana sih neng?" tanya kang ojek yang terdiri dari dua orang itu, satu kurus dan satunya gemuk.
"Saya di perusahan Trans & Griya Hoki, kang!"
"Ohhh perusahaan baru itu ya?"
Mana aku tahu itu baru atau tidak, aku kan juga baru ...., Tisya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan kang ojek yang gendut itu.
"Ehhh iya kang, kang ojek tahu nggak alamat ini?" tanya Tisya sambil menunjukkan sebuah map yang berisi alamat serta model rumah yang akan di renovasi interiornya.
Kang ojek yang kurus itu pun melihatnya, "Ini mah ...., tidak jauh neng dari sini, cuma beberapa gang saja dari sini!"
"Benarkah ....?" tanya Tisya terlihat begitu senang,
"Bagaimana kalau kang ojek antar saya saja ke sana?"
"Siap neng ....! Ayo saya antar!"
...****...
Pagi ini dokter Frans menemani istrinya untuk jalan pagi, setelah sholat subuh mereka langsung ke luar rumah untuk jalan-jalan di sekitar kompleks.
Tangan dokter Frans terlihat tidak sedetikpun melepaskan tangan istrinya itu, ia terus menggandengkan nya dan sesekali terlihat dokter Frans mengusap perut besar istri nya itu.
"Capek belum Fe? Kita duduk sebentar ya di sana!" ucap dokter Frans sambil menunjuk sebuah bangku yang ada di pinggir jalan.
"Baiklah ...!" terlihat pelipis Felic sudah mulai berkeringat.
Mereka pun duduk di sana, di bangku bercat coklat tua itu, tepat di bawah pohon palem.
"Minumlah ...!" dokter Frans membukakan tutup botol yang berisi air putih yang sengaja ia bawa dari rumah.
Felic pun segera mengambilnya dan meneguknya hingga beberapa kali tegukan,
"Capek banget ya?" tanya dokter Frans sambil mengusap keringat yang ada di pelipis istrinya itu.
__ADS_1
"Biasa aja Frans!"
"Biasa aja tapi keringatan, nafasnya juga ngos-ngosan!" gumam dokter Frans tapi masih bisa di dengar oleh Felic.
"Bagaimana nggak keringatan, lihat nih perut sudah segede ini, tubuhku juga melar kayak gini!" ucap Felic sambil memperlihatkan perut dan tubuhnya yang terlihat lebih berisi. Bahkan baju lamanya sudah tidak ada yang muat di badannya, ia harus beberapa kali membeli daster karena daster yang ia beli di awal kehamilan sudah tidak muat lagi.
"Tidak pa pa Fe, aku suka kalau kamu seperti ini, lebih terlihat menggoda!" ucap dokter Frans dengan mata yang ia kedip kan untuk menggoda istrinya itu.
"Frans ...., jangan mulai ya! Ini di jalan jangan sampai kita di grebek warga gara-gara ketahuan berbuat mesum di tempat umum ...!"
"Tapi kamu selalu menggodaku ..., bahkan aroma tubuhmu saja sudah berhasil membuat juniorku berdiri tegak!" ucap dokter Frans sambil menunjuk tubuh bawahnya, Felic pun tertarik untuk melihat ke arah celana suaminya itu dan benar saja ada yang keras di sana.
Bug
Felic segera memukul perut suaminya itu dengan keras.
"Augh ...., apaan sih Fe?!" keluh dokter Frans sambil mengusap perutnya.
"Frans ...., kau benar-benar membuatku malu ....!" ucap Felic sambil melihat sekeliling mereka, untung saja orang-orang lainnya yang juga sedang jalan-jalan pagi berada cukup jauh dengan mereka jadi tidak ada yang mendengarkan ucapan mesum suaminya itu.
"Bagaimana kalau kita pulang saja sekarang dan melanjutkan yang semalam?!" ucap dokter Frans memberi saran pada istrinya itu.
"Nggak!" ucap Felic dengan tegas.
"Ayo lah ....!!!"
"Enggak ya enggak, nggak usah maksa!"
"Tapi pasti anak kita juga sangat merindukan ayahnya!"
"Itu cuma alasan aja, dasar mesum ...!"
"Baiklah ...., tapi aku nggak mau ya nanti di ajak jalan-jalan, jalan saja sendiri aku mau di kamar saja sambil bayangin tubuh kamu ...!" ucap dokter Frans dengan penuh kemenangan.
"Coba aja kalau berani!" ucap Felic sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰