Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
dia menyusahkan


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang yang menguji kesabaran pria itu akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah yang tidak besar tapi terlihat begitu asri dengan banyaknya bunga di halaman.


"Cari kunci rumahnya di tas itu!” perintah pria itu pada anak buahnya saat sudah membawa Ersya turun dari dalam mobilnya.


“Baik tuan!”


Anak buah pria itu segera mengambil tas Ersya yang masih tertinggal di bangku belakang mobil mereka. Ia mencari benda yang di sebut sebuah kunci itu.


"Apa wanita ini cuma tinggal sendiri, kenapa rumahnya gelap sekali?" tanya pria itu saat melihat rumah itu masih sangat gelap. Bahkan lampu depan rumah itu pun belum di nyalakan.


"Ketemu apa belum?" tanya Pria itu yang merasakan tangannya sudah sangat kebas karena terlalu lama membopong Ersya, apa lagi Ersya terus saja menggelayut pada pria itu.


"Sudah tuan!"


"Cepetan buka!"


"Baik tuan!"


Anak buah pria itu pun segera memasukkan kunci itu satu persatu ke dalam lubang kunci. Kunci yang lebih dari sepuluh macam itu tentu sulit untuk menemukan yang pas.


Ceklek


Akhirnya pintu terbuka juga


"Silahkan tuan!" ucap anak buahnya, pria itu pun membawa tubuh Ersya ke dalam rumah yang masih begitu gelap itu.


"Cari tombol lampunya!"


"Baik tuan!"


Setelah menemukan apa yang di cari, akhirnya lampu mulai menyala saru per satu hingga rumah itu menjadi terang, rumah kecil yang rapi dan khas seorang wanita dengan banyaknya bunga di hidup dan juga bunga plastik yang menjadi pajangan di setiap sudut ruangan.


"Silahkan tuan!" ucap anak buahnya saat membukakan pintu sebuah kamar untuk mereka.


“Tunggulah di luar, saya tidak akan lama!” ucap pria itu saat ia dengan entengnya membopong tubuh Ersya ke dalam kamar.


"Baik tuan!"


Setelah anak buahnya meninggalkan mereka, pria itu segera menidurkan Ersya di tempat tidur, di rumah itu hanya ada dua kamar. Ia memilih kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.


Pria itu menidurkan Ersya di atas tempat tidurnya.


"Ahhhh ...., dia benar-benar menyusahkan!" ucap pria itu sambil menggerak-gerakkan ototnya yang terasa kaku.


Ia menyelimuti tubuh Ersya hingga sebatas leher, "Cantik ....!" gumamnya saat memperhatikan wajah Ersya.


Tanpa terasa tangannya terulur begitu saja untuk menyingkirkan anak rambut Ersya yang menutupi sebagian wajahnya.


"Sepertinya dia sangat tertekan!" ucapnya sambil memperhatikan wajah Ersya yang terlihat sekali jika wanita itu sedang menutupi luka yang begitu besar.


Pria itu pun sebelum meninggalkan kamar itu memilih untuk melihat-lihat sekeliling kamar itu dan memperhatikan kamar itu, ada foto pernikahan Ersya terpajang di di dinding begitu besar.


“Jadi dia sudah menikah! Lalu di mana suaminya? Apa pria yang bernama Rizal itu suaminya? Apa mungkin dia di campak kan oleh suaminya? Mengenaskan sekali hidupnya ....!" ucap pria itu sambil terus memperhatikan foto itu. Melihat dengan seksama pria yang ada dalam foto itu.


Setelah memastikan jika Ersya baik-baik saja. Pria itu pun hendak beranjak dari duduknya meninggalkan Ersya, tapi dengan cepat tangan Ersya malah melingkar di pinggang pria itu.


"Jangan pergi ...., jangan tinggalkan aku ....!"


"Sial ....!" umpat pria itu.


"Mas ...., jangan pergi ....! Jangan pergi ....!"


Mendengarkan rancauan Ersya, membuat pria itu merasa tidak tega. Tapi setan yang tiba-tiba berbisik padanya saat ia melihat bibir Ersya yang merah merona dengan sedikit basah terlihat begitu menggoda.


Pria itu pun mendekatkan bibirnya pada Ersya, ia begitu tertarik dengan bibir mungil itu, begitu menggoda.


"Hoekkks .....!"


Sebuah muntahan keluar dari mulut Esya begitu saja hingga mengenai kemeja dan jas pria itu. Dengan cepat pria itu pun berdiri dan menjauh dari ranjang Ersya.


"Aaaaa ...., sial .....!" umpat pria itu yang terlihat begitu jijik dengan muntahan yang mengenai kemeja dan jasnya.


"Eghhhhh ....!" pria itu terus menutup hidungnya dan melepas jas dan kemejanya.


"Dia benar-benar menyusahkan ku!"" umpat pria itu dengan begitu kesal, ia kini sudah bertelanjang dada. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa muntahan itu.


Pria itu keluar rumah untuk menghampiri anak buahnya.


"Tuan ...!"


"Ambilkan bajuku di mobil, jangan berpikir macam-macam, wanita itu memuntahkan seluruh isi perutnya ke bajuku!"


"Baik tuan!"


Anak buahnya kembali ke mobil dengan mengambil sebuah kaos berwarna putih dan menyerahkan kembali pada tuannya.


Pria itu kembali masuk ke dalam kamar itu setelah memakai kaosnya, ia memperhatikan Ersya, sisa-sisa muntahan itu masih ada di bibir dan baju Ersya.


"Kenapa juga aku harus peduli sama dia!"


Tapi saat memperhatikan lagi, ia jadi merasa tidak tega, ia juga tidak mungkin meminta anak buahnya untuk membersihkannya.


"Kalau dia masuk angin, ahhhh aku lagi yang kena!"


Akhirnya pria itu pun kembali mendekat pada Ersya, ia mengelap bibir Ersya dan kemeja Ersya.


"Ini aku terpaksa ya ...., nggak maksud ya ....!" ucap pria itu sambil melepaskan kemeja yang di kenakan oleh Ersya hingga menyisakan kaos ketat melekat di tubuhnya dengan bahu terbuka.


"Tuan ....!" tiba-tiba anak buahnya memanggil membuatnya dengan cepat menutup tubuh Ersya dengan selimut.


"Apa?" tanya pria itu sambil menoleh pada anak buahnya.


"Nona Divia tidak mau tidur sebelum tuan pulang!"


"Astaga ...., aku hampir lupa! Ayo kita pulang!"


"Lalu bagaimana dengan nona itu, tuan?"


"Kita kunci saja dari luar! Sepertinya dia tinggal sendiri!"


"Baik tuan!"


Mereka pun meninggalkan rumah itu


dan mengunci kembali rumah Ersya dari luar.


"Berhenti dulu!" ucap pria itu saat sampai di depan pos satpam. Pria itu pun keluar dari mobil dengan membawa kuncinya.


"Selamat malam pak!"


"Selamat malam!" sahut pria yang berpakaian satpam.


"Saya mau nitip kunci rumah dengan nomor 16A ya pak, tolong besok pagi bapak buka dan tunggu sampai pemiliknya keluar rumah!"

__ADS_1


"Anda siapa?"


"Saya temannya!" ucap pria itu dan kemudian merogoh saku celananya mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan pada pak satpam itu.


"Ini untuk bapak ngopi!"


"Terimakasih, tuan!"


"Sama-sama, terimakasih atas bantuannya!"


"Baik tuan!"


Pria itu pun kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan area komplek perumahan Ersya.


“Nggak bisa minum aja, sok-sokan minum. Bikin repot aja!” gumam pria itu saat mengingat betapa polosnya Ersya tadi.


“Ini sudah sangat malam, Divia masih menunggu ku, kasihan sekali gadis kecil ku!” gumamnya lagi saat melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, sudah hampir tengah malam dan putri kecilnya belum tidur gara-gara menunggunya pulang.


Sesampai di rumah, kedatangannya langsung di sambut oleh sang putri, putri kecilnya segera memeluknya.


“Dad…, tenapa puyangnya telambat lagi?” ucap gadis kecil itu dalam gendongan sang daddy.


“Maaf sayang, tadi dady banyak kerjaan! Maaf ya, princess daddy kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam!” ucap pria itu sambil meninggalkan beberapa kecupan di wajah gadis kecilnya.


"Iiiiih ....., dad! Daddy bau ....!" keluh gadis kecil itu saat mencium bau yang menyengat dari bibir daddy nya.


"Maafkan daddy sayang, tadi daddy cuma minum sedikit! Selebihnya di habiskan oleh wanita sinting itu!"


"Wanita cinting ciapa yang dad macut?" tanya gadis kecil itu sambil berkacak pinggang dan berdiri di atas tempat tidurnya.


"Nggak tahu sayang, daddy ketemunya nggak sengaja!"


"Apa dia calon mammy Iyya ...!"


"Bukan sayang! Daddy saja tidak mengenalnya bagaimana bisa jadi calon mammy buat Iyya ...!"


"Iyya nggak cuka kalau dad minum, kata ayah lendi itu tidak baik, dad!" keluh Divia.


"Maaf deh ...., daddy janji nggak akan minum lagi, janji!" ucap pria itu dengan mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji ....?"


"Janji sayang ....!"


Akhirnya gadis kecil itu menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya.


“Iyya nggak bica tidul kalau tidak di bacakan celita cama, dad Div!”


“Baiklah, princess dad yang paling cantik, ayo sekarang biar Dad yang bacakan dongen untuk princess ya!” ucap pria itu sambil tidur di samping putri kecilnya itu, menutup tubuh kecil putrinya dengan selimut tebal bermotif frozen.


"Iyya mau daddy ceritakan tentang apa?"


"Iyya mau celita tentang putli calju!"


"Baiklah ....!"


Akhirnya pria itu pun menceritakan kisah tentang putri salju menemukan pangerannya. Hingga tanpa terasa ia iku tertidur di samping putri kecilnya itu.


***


Pagi ini Felic sudah bersiap-siap menunggu jemputan dokter Frans. Dokter Frans sebenarnya sangat menghindari saat-saat ini. Ia tidak ingin Felic datang ke acara itu, tapi Felic terlalu keras kepala.


Tinnn


“Kenapa lama sekali sih Frans?” tanya Felic sambil berkacak pinggang, ia merasakan tubuhnya malah semakin baik saja setelah pergulatannya semalam.


“Maaf ya pacar! Tadi ada sedikit urusan!” ucap dokter Frans mencari alasan, alasan sebenarnya adalah ia tidak ingin istrinya itu datang ke acara pertunangan mantan suami Ersya.


“kalau kita terlambat ke dokternya, bagaimana aku berangkatnya ke acara pertunangan itu! Kamu ini alasan aja supaya aku nggak bisa datang!” ucap Felic kesal saat ia sudah masuk ke dalam mobil.


Cup


bukannya menjawab kemarahan Felic, dokter Frans malah meninggalkan kecupan di bibir Felic agar istrinya itu tidak terus mengeluh dan ternyata cara itu ampuh. Felic seketika terdiam dan menatap suami tampannya itu.


Cup


Belum juga tersadar dari keterkejutannya, dokter Frans kembali mengecup bibirnya untuk kedua kalinya.


Cup


Cup


Cup


Cup


Dan kembali mengecupnya untuk beberapa kali lalu tersenyum penuh kemenangan.


"Fraannnnnnsssss!" teriak Felic sambil memukul lengan dokter Frans.


"Kenapa memukulku?"


"Kamu curang, aku kan belum siap kamu cium!" ucap Felic sambil tersipu .


"Ahhhh ...., aku kira ....!" ucap dokter Frans merasa lega.


"Ini tidak adil Frans!"


"Trus adilnya gimana dong?" tanya dokter Frans tidak mengerti maksud istrinya itu.


"Sini ....!" ucap Felic meminta dokter Frans untuk mendekat dan ...


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Felic melakukan apa yang di lakukan oleh suaminya, tapi ia memilih mengecup seluruh wajah suaminya itu. Entah kenapa ia semakin mengagumi ketampanan suaminya itu, rasanya tidak cukup hanya memandang saja, kalaupun bisa di habiskan wajah itu. Dia akan menghabiskan untuknya saja dan tidak mau berbagi dengan lainnya.


"Sekarang impas kan kalau begini ....!" ucap Felic setelah menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya itu. Dokter Frans kembali tersenyum, ia hari ini menang banyak.


Dokter Frans segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Setelah melewati jalanan yang tidak terlalu padat karena mungkin hari sabtu jadi kebanyakan orang malas untuk keluar rumah dan memilih menghabiskan waktu liburnya dengan anggota keluarga saja. Akhirnya mereka sampai juga di parkiran rumah sakit.


Dokter Frans melepaskan sabuk pengaman milik Felic, ia kembali menatap istrinya itu begitu dekat. Ia ingin sekali istrinya itu mengubah keputusannya walaupun sangat kecil kemungkinannya istrinya itu akan mau.


"Lebih baik nggak usah datang aja lah pacar! Kita jalan-jalan malam ini, gimana?”

__ADS_1


“kenapa sih kamu ngotot banget biar aku nggak datang! Jangan-jangan ada yang kamu sembunyikan ya dari aku?” tanya Felic curiga.


"Nggak gitu pacar!"


"Lalu gimana dong?"


"Aku khawatir dengan keadaan kalian!"


"Kalau khawatir, ya temani aku dong!"


"Nggak bisa!"


"Kenapa?"


"Ada beberapa alasan yang nggak bisa aku jelaskan sekarang!"


"Ya udah kalai gitu jangan larang aku untuk datang!"


"Baiklah ...., aku menyerah!"


Mereka pun turun dari mobil dan seperti biasa, dokter Frans mendorong Felic di atas kursi rodanya, walaupun ia merasa sudah sangat baik, tapi tetap saja suaminya tidak mengijinkannya untuk berjalan.


Felic sengaja tidak meminta dokter Frans sendiri yang memeriksanya karena bisa jadi suaminya itu akan mengada-ada. Felic memilih


dokter Sifa untuk memeriksanya.


Akhirnya mereka sampai juga di ruangan dokter Sifa.


“Selamat pagi bu Felicia, bagaimana kabarnya?”


“Baik dok!”


“Kalau begitu, silahkan bu Felucia bersiap di sana ya, biar saya periksa


kandungannya!”


“Iya dok!”


Dokter Sifa melakukan pemeriksaan mulai dari hb, detak jantung tensi, lingkar perut dan yang terakhir adalah melihat pertumbuhan janin.


"bagaimana dok?” tanya Felic saat dokter Sifa telah selesai melakukan pemeriksaan. Mereka sudah duduk di tempat di mana dokter Sifa menerima pasien-pasiennya. Dokter Frans sudah duduk di samping Felic untuk ikut mendengarkan penjelasan dokter Sifa.


“janinnya tumbuh dengan baik, bu! Seperti yang bu Felicia lihat tadi di layar. Dan pendarahannya bagaimana bu, apa sudah tidak terjadi lagi?”


“sudah tidak dok!”


“sepertinya dokter Frans benar-benar menjaga bu Felic, makanya perubahannya begitu besar!


Sudah berusia sepuluh minggu masih ada dua minggu lagi untuk lulus trimester pertama ya bu! Tetap di jaga biar janinnya tambah sehat!”


“Sudah boleh jalan belum dok?” itu sebenarnya pertanyaan intinya, ia tidak mungkin ke acara itu dengan kursi roda.


“Untuk saat ini sudah boleh, tapi ingat masih dengan gerakan yang wajar saja ya buk. Tapi akan lebih baik jika di buat istirahat!”


"Baik dok ...., terimakasih atas penjelasannya ya dokter!"


"Sama-sama, bu!"


Akhirnya Felic bisa merasa lega, ia sudah bisa terbebas dari masalah besarnya.


***


Pagi ini Ersya begitu terkejut karena


bangun sudah dalam keadaan di rumah padahal seingatnya ia belum pulang semalam.


"Aughhhh ...., kenapa kepalaku pusing banget?!" keluhnya sambil memijat-mijat kepalanya.


"Kenapa aku bisa sampai di rumah?"" gumamnya lagi saat memandangi sekitarnya tapi ia begitu terkejut saat mendapati kemejanya yang sudah tergeletak di lantai.


"Aaaaaa ......!" teriak Ersya, ia segera memeriksa bajunya tidak ada yang lepas kecuali kemejanya.


Ia pun memeriksa sampingnya, tidak ada siapapun, padahal berdasarkan film-film yang pernah di tonton, saat seorang wanita mabuk pagi harinya pasti ada seorang pria yang tidur telanjang di sampingnya.


"Aaahhhh aman tidak ada ....!"


Ersya pun segera bagun dan memeriksa tasnya yang tergeletak di atas nakasnya dan ternyata semua barang-barang berharganya masih utuh.


"Tidak ada yang hilang!"


Saat ia turun, ia melihat baju lain di lantai kamarnya, ia memeriksa baju itu. Sebuah kemeja dan jas pria.


"Ini milik siapa?"


Lalu ia melihat ada bekas muntahan barulah ia teringat sesuatu yang memalukan itu.


"Ini pasti baju pria itu!"


Ersya dengan cepat mencari cardigannya, mungkin saja pria itu masih di rumahnya dan membuatkan sarapan seperti di film-film.


Ersya menyusuri seluruh rumahnya, tapi tidak ada siapa pun di sana. Kemudian ia memutuskan untuk memeriksa keluar rumah dan ternyata sudah ada satpam komplek yang duduk di depan rumahnya.


"Pak Seno ....!?"


Pak Satpam itu segera berdiri dari duduknya saat melihat Ersya keliar dari rumaj.


“Pagi mbak Ersya!”


“Pagi pak, kenapa pak seno ada di sini?”


“Ini mbak…, semalam masnya kasih kunci rumah mbak Ersya sama saya. Dan ini mbak kuncinya!”


“jadi yang bukain kunci rumah saya pak seno?”


“Iya mbak! Ya sudah ya mbak saya mau pulang dulu!”


“Iya …, makasih ya pak!”


“Sama-sama mbak, saya permisi!”


Setelah pak seno pergi Ersya memilih duduk di teras, mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam.


“aaaaaaa ….., malunya aku! pasti aku bicara banyak deh semalem! Bicara apa aja ya gue!”


...Bisa nggak cinta itu datang seperti skenario yang telah kita buat? Jawabnya tentu saja tidak, Cinta datang tanpa di undang tapi dia akan pergi tanpa kita minta~DTIS...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2