
Wilson yang masih berdiri di luar segera berlari masuk ke dalam mobil dan duduk di
balik kemudi. Sedangkan dokter Frans duduk di belakang sambil memangku tubuh
Felic yang semakin lemah saja.
Walaupun ia seorang dokter, tapi saat orang yang ada di sekitar kita yang sakit, tetap
saja ilmu kedokterannya tiba-tiba ngilang berubah jadi ilmu panik.
Saking paniknya sampai dokter Frans lupa dengan letak denyut nadi tuh dimana, sepanjang jalan dokter Frans hanya sibuk mengipasi wajah Felic tanpa berniat memeriksa bagaimana denyut nadi Felic atau apapun penanganan medis yang perlu di lakukan untuk Felic.
“Wil …, kenapa mobilnya berjalan lambat sekali sih!?” protes dokter Frans, ia
kembali terkejut saat ia melihat noda darah di celana yang di kenakan oleh Felic.
“Darah ….!” Pekik dokter Frans, ada darah di lengan kemejanya yang ia dapat dari
celana Felic.
“Wil …, lebih cepat lagi …, ada darah!”
Karena ikut terkejut, Wilson segera menoleh ke belakang, “Darah?”
“jangan menoleh ke belakang!” dengan cepat dokter Frans melarang Wilson untuk menoleh.
Dokter Frans segera melepas kemejanya dan menyisakan kaos tipis di tubuhnya, ia
gunakan kemeja itu untuk menutupi celana Felic.
***
Akhirnya mobil pun berhenti di depan rumah sakit, melihat dokter Frans keluar dengan
membopong seorang wanita, petugas pun segera mengambilkan brankar dan meminta
dokter Frans untuk menidurkan Felic di sana.
Dokter Frans dan tim dokter lainnya membawa Felic ke ruang instalasi gawat darurat, ia
tahu jika dirinya sekarang sedang panik, akhirnya memilih menunggu di luar saja
dari pada menggangu pekerjaan dokter yang lain.
Dokter Frans masih mondar mandir di depan ruangnya berasa Wilson. Tapi Wilson jelas
lebih tenang berbeda sekali dengan dokter Frans.
Hampir setengah jam, akhirnya tim dokter pun keluar. Dokter Frans segera menghampiri
dokter itu, dokter Frans sengaja meminta dokter wanita saja yang memeriksa
Felic, jelas karena pasti akan berhubungan dengan hal itu.
“Dokter Frans!”
“Bagaimana keadaannya?”
“Apa tidak sebaiknya kita bicara di ruangan dokter saja?” dokter Sifa malah balik
bertanya.
“Baiklah…!”
Dokter Frans kemudian menatap Wilson, mereka sepanjang menunggu tidak lagi saling
bicara dan sekarang tentu dokter Frans membutuhkan Wilson.
“Jaga dia sampai aku kembali!”
“Baik, tuan!”
Doker Frans pun menuju ke ruangannya dan di ikuti dokter Sifa, dokter Sifa bisa
melihat bagaimana paniknya dokter Frans saat ini. Penampilannya begitu
berantakan dengan kaos tipis yang melekat di tubuhnya juga terlihat belum mandi
__ADS_1
dari pagi.
***
Kini dokter Frans sudah duduk di kursi kerjanya dengan dokter Sifa yang ada di balik
meja.
“Bagaimana?”
“Selamat ya dok!”
“Apanya yang selamat? Bisa serius nggak, ini aku panik malah dikasih selamat!” dokter Frans kesal dengan ucapan dokter Sifa, ia sudah panik setengah mati malah di kasih selamat.
“Bu Felicia hamil enam minggu!”
Hahhhh …
Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya, kembang api yang saling
bersahutan di sana juga keluar dari jantungnya. Rasanya begitu meledak-ledak sampai ia bingung harus mengatakan apa, hanya sebuah senyum yang tidak mampu ia tahan lagi dan air mata yang ikut menyertai senyumnya itu.
“Hahhh …, aku benar-benar tidak percaya!”
Rasanya seperti berada dalam beberapa fase nyang berbeda dalam satu waktu, baru saja ia
merasakan penyesalan yang begitu mandala, marah, sakit, gemetar karena terlalu
cemas dan sekarang di suguhi dengan kebahagiaan yang bahkan melebihi
kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.
“Itu benar dokter, tapi …!”
“Tapi kenapa?” dokter Frans seketika kehilangan senyumnya, “Darah? Darah itu darah
apa?” saat ia mengingat kembali bagaimana darah itu sampai mengenai lengan
kemejanya.
“Ibu Felicia mengalami pendarahan dok, tanpa saya jelaskan dokter sudah faham dengan
“Apa dia akan baik-baik saja?”
“Kehamilannya sangat lemah, besar kemungkinan terjadi keguguran, mungkin bu Felic butuh bedrest untuk beberapa hari kedepan sampai kondisi bu Felic kembali pulih!”
“Baiklah …, aku mengerti!”
***
Kini dokter Frans sudah berada di dalam ruangan yang pernah di huni Felic dulu,
Felic juga masih belum sadarkan diri dengan kabel infus yang melekat di tangannya, pakaiannya juga sudah berganti dengan pakaian pasien rumah sakit.
“Tuan …, ini bajunya!” Wilson mendekat ke dokter Frans dengan membawa baju lengkap
milik dokter Frans.
Dokter Frans pun berdiri dan mengambil pakaian itu, “Kamu sekarang boleh pulang,
datang lagi besok saat aku butuhin!”
“Baik tuan!”
Setelah Wilson meninggalkan ruangan itu, dokter Frans segera masuk ke dalam kamar
mandi, ia segera membersihkan diri, nandi dan mengganti bajunya. Malam ini ia
akan menginap di rumah sakit.
Dokter Frans kembali duduk di samping Felic yang masih terlelap karena pengaruh obat
yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia kembali mengelus perut Felic yang masih rata
itu,
“Sayang …, makasih ya sudah mau bertahan! Walaupun kamu belum lahir ke dunia ini, kamu
__ADS_1
tahu …, kamu akan jadi duniaku! Aku akan benar-benar melihat bagaimana darahku
mengalir di tubuhmu! Aku bukan seorang diri lagi, kamu tahu …, sulit menerima
jika aku hanya seorang diri di dunia ini! Terimakasih karena sudah mau
menemaniku!”
Felic yang merasakan sentuhan dari tangan dokter Frans perlahan mulai membuka matanya, tangannya hendak memegang keningnya yang masih nyeri tapi tertahan karena slang infus itu, “Ughhh …!”
“Fe ….!”
“Gue di mana?” tanya Felic dengan suara yang sedikit serak. Matanya mengenal ruangan
itu, ia pernah berada di tempat itu.
“Sudah jangan bangun dulu!”
“Haus …!”
Dokter Frans pun segera mengambilkan sebotol air mineral lengkap dengan sedotannya, “Minumnya sambil tidur aja ya!”
“Mana bisa!” protes Felic, Felic tetap nekat duduk, tapi dokter Frans dengan sigap
meletakkan bantal di punggung Felic.
“Harus bisa Fe …, dokter nyuruh kamu buat bedtres dulu!”
“Kenapa? Gue nggak kenapa-napa?”
“Ya…, karena kamu hamil!”
“Emang kalau orang hamil nggak boleh ngapa-nga_!” Felic menggantung ucapannya sendiri dan mengingat kembali apa yang di ucapkan barusan,
“Hamil?”
“Iya Fe …, ada kehidupan lain di perutmu!”
He ….
Hal yang sama terjadi pada Felic, reaksinya tidak menentu, ia tersenyum tapi senyum
itu seperti menyimpan luka, ia mengingat bagaimana sebelumnya hingga ia bisa
sampai terdampar di tempat itu, bagaimana hal yang begitu menyakitkan untuknya
membekas hingga sampai ke alam bawah sadarnya, bahkan ia masih begitu marah di
mimpinya, tapi saat ia bangun ia di suguhkan dengan berita yang menggembirakan.
Bahkan lebih indah dari pada sebuah mimpi indah, sebelumnya ia tidak pernah
memimpikan akan menjadi seorang ibu tapi saat ia bangun tiba-tiba akan hadir
kehidupan lain dari dalam perutnya.
“Aku hamil?” tanyanya lagi memastikan bahwa yang ia dengar adalah sebuah kebenaran,
ia mengusap perutnya yang masih rata.
“Iya Fe …, kamu hamil! Anak kita Fe ...!”
“Tapi Frans …, maaf ! aku belum bisa maafin kamu!”
“Fe …!”
“Bisa nggak tinggalin aku sendiri, aku mau istirahat!”
Felic memilih kembali merebahkan tubuhnya dan miring membelakangi dokter Frans yang
masih tercengang di tempatnya.
Bersambung
Hayo aku udah tepati janji ya up dobel, kasih apa gitu dong sama author, kasih-kasih kopi anget biar nggak ngantuk nulisnya
Maksa banget ya othornya .....😂😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan Komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰