
Akhirnya yang di tunggu-tunggu menghubunginya juga.
"Saya permisi dulu ya ...!" ijin dokter Frans untuk menerima telpon pada rekan sesama dokternya.
"Iya silahkan dok!"
Dokter Frans pun segera menuju ke tempat yang jauh dari keramaian agar bisa jelas mendengarkan ucapan Wilson.
Akhirnya ia memilih berdiri di depan kamar mandi, cukup sepi tanpa ada suara yang keras.
"Hallo Wil ....!" ucap dokter Frans setelah menggeser tombol hijau dan menempelkannya di daun telinganya.
"Tuan dokter, nyonya Felic sudah pergi!"
"Baiklah, terimakasih atas infonya!"
Dokter Frans pun segera menutup sambungan telponnya dan kembali ke tempatnya semula.
"Dokter Wildan, maaf saya harus pergi dulu!"
"Kenapa buru-buru sekali dok?"
"Maaf ada urusan mendadak!"
"Baiklah ...., lain waktu kita bisa ngobrol lagi!"
"Tentu!"
Dokter Frans pun segera keluar dari gedung, ia segera menuju mobilnya dan menyusul istrinya.
Dokter Frans memang sudah tahu jika Felic akan ke kafe A&A ia pun segera
menyusulnya di sana.
Sesampai di kafe, ia sengaja masuk dari pintu lain, ia cukup tahu seluk beluk kafe itu karena kafe itu milik Agra, sudah sangat sering ke sana.
Setelah melihat keberadaan istrinya, ia pun duduk di sebuah kursi yang tidak begitu jauh dari istrinya tapi cukup tertutup. Sang istri sepertinya juga baru datang. Pelayan sedang menawari Felic minuman.
Tidak berapa lama, seseorang menghampiri istrinya, ia begitu
terkejut saat melihat siapa yang menghampiri istrinya itu.
"Bagiamana?"
"Saya punya pertanyaan untuk nyonya, yang harus nyonya jawab!"
Apa yang mereka maksud ...., batin dokter Frans sambil terus mendengarkan pembicaraan mereka.
“Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan!" ucap nyonya Tania.
“Apa alasan anda meminta saya meninggalkan suami saya?” tanya Felic dengan begitu tegas tanpa merubah posisinya.
“Karena kamu bukan wanita yang pantas untuk bersanding dengan anak saya!”
Dokter Frans yang mendengarkan percakapan mereka sudah mengepalkan tangannya, ingin rasanya segera berdiri dan membawa istrinya pergi dari tempat itu, atau memberi pelajaran pada wanita yang sudah membuangnya itu.
Tapi segera ia menenangkan dirinya sendiri, ia harus tahu bagaimana akhirnya, selama wanita itu tidak menyakiti istrinya ia akan tetap diam dan mendengarkan.
"Lalu wanita yang seperti apa yang menurut anda pantas untuk suami saya?" tanya Felic lagi.
"Wanita yang sepadan dengan putra saya Frans, wanita yang berasal dari kalangan atas bukan office girl sepertimu!"
"Issstttt ....!" Felic hanya bisa mengumpat. ia tidak menyangka jika akan berhubungan dengan wanita seperti yang ada di depannya. Hanya memandang segala sesuatu dengan uang dan kekuasaan.
“Sejak kapan anda menganggap suami saya sebagai putra anda? Setahu saya anda telah membuangnya, lalu kenapa sekarang ada ingin di akui sebagai ibunya?”
“Jangan kurang ajar, saya sudah bersikap baik padamu ya ..., kamu itu bukan wanita yang pantas buat
anak saya, jadi sadar diri sedikit, akan lebih baik kamu pergi, jangan menjadi parasit dalam hidup putra saya. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah sederajat!”
"Tidak sederajat!?" gumam Felic kesal, "Sungguh hilang sudah rasa hormat saya pada anda!"
"Saya tidak butuh di hormati oleh orang rendahan seperti dirimu!" ucap nyonya Tania tidak mau kalah.
"Baiklah ...., ini pertanyaan yang harus anda jawab, apakah anda menyayangi putra anda?" tanya Felic yang sudah mulai kesal.
"Jelas saya menyayangi putra saya!"
"Lalu kenapa saat itu anda meninggalkan putra anda di panti asuhan?”
“Bukan urusan kamu!" ucap nyonya Tania yang sudah terlihat kesal.
"Tapi saya butuh jawaban anda, dan anda juga butuh jawaban saya kan?"
"Okey, karena saat itu saya tidak punya pilihan lain, ayahnya Frans meninggal dunia!”
"Sebelum itu, saat Frans masih berusia dua tahun, kenapa menitipkannya di sana?"
"Karena saat itu kami belum menikah!"
"Belum menikah?"
"Iya, kakeknya Frans tidak mau saya menikah dengan ayahnya Frans yang cuma seorang supir! Sudah cukup, ini bukan urusan kamu, kenapa kamu jadi mengorek informasi dari saya?"
“Karena saya harus yakin dulu, ibu seperti apa yang sudah meminta menantunya untuk meninggalkan anaknya!"
"Sekarang sudah tahu kan, jadi tinggalkan Frans, jangan pernah lagi menampakkan diri di depan Frans!"
"Belum, pertanyaan saya belum selesai!"
"Apa lagi?"
"Kenapa anda memilih menikah lagi dengan laki-laki kaya dan meninggalkan Frans?”
“Cukup ya! Saya tidak akan menjawab lagi!”
“Lalu apa bedanya saya dengan anda, anda meninggalkan anak laki-laki anda demi laki-laki kaya! Mungkin anda terlahir dari keluarga kaya, tapi apa hidup anda bahagia dengan menikah tanpa cinta? Atau memang anda menduakan cinta ayah Frans?”
“jangan kurang ajar ya!” ucap nyonya Tania begitu marah saat ini, ia sudah mengepalkan tangannya tidak menyangka jika wanita yang ia kira bar-bar dan tidak akan berani menghadapinya ternyata malah membuatnya kehilangan jawaban.
“Saya tidak pernah kurang ajar terhadap orang tua, Saya memang terlahir dari keluarga miskin, tapi orang tua saya mengajarkan pada saya untuk menghormati orang tua termasuk orang tua suami saya!"
__ADS_1
Felic mengakhiri ucapannya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah amplop warna coklat,
"Dan ini …, saya mengembalikannya!
Itu sudah cukup kan untuk menjadi jawaban! Saya mencintai Frans terlepas dia orang kaya atau bukan, jadi jangan harap bisa membeli cinta saya dengan uang yang anda miliki! Itu tidak akan cukup!” ucap Felic yang sudah berdiri hendak meninggalkan tempat itu, tapi nyonya Tania menahannya.
“Tunggu ...!"
"Ada apa lagi nyonya?"
"Saya akan menambahnya jika kurang, berapa pun! Asal tinggal kan putra saya!”
Felic pun kembali duduk dan menatap nyonya Tania, ia sudah cukup merasa di rendahkan.
“Berapapun uang yang anda punya tidak akan bisa membeli cinta saya, maaf!
Dan anda, jangan tiba-tiba datang dan mengaku sebagai seorang ibu jika anak anda sudah sukses,
lalu kemana anda dulu?, kemana anda dua puluh tujuh tahun yang lalu saat anda meninggalkannya di panti asuhan? Di mana anda saat anak laki-laki itu menangis karena merindukan ibunya? Di mana?”
Kali ini Felic sudah benar-benar emosi, ia tidak bisa lagi bersikap lembut. Ternyata nyonya Tania tidak kalah kesal ya.
“Jaga mulut kamu …!” ucap nyonya Tania dan meraih gelasnya, menyiramkannya pada Felic, Felic dengan reflek menutup wajahnya.
Sebelum air itu mengenai Felic, tiba-tiba dokter Frans berdiri tepat di depan Felic, sehingga jus jeruk itu mendarat di baju dokter Frans.
Felic yang merasakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, ia pun kembali membuka matanya.
“Frans…!”
“Frans …!”
Nyonya Tania dan Felic berucap bersamaan. Mereka sama-sama menatap pria itu.
“Apa yang anda lakukan?” tanya dokter Frans dengan tatapan yang begitu kesal.
‘"Frans maafkan mama…!" ucap nyonya Tania yang sudah hampir memeluk dokter Frans tapi segera di tangkisnya.
"Ini mama Frans ...., masihkah kau mengenali mama?!” tanya nyonya Tania saat dokter Frans hanya diam.
Ia bukan tidak mengenali, tapi sangat mengenali, ia wanita yang sudah sangat ia harapkan kedatangannya untuk menjemputnya waktu itu, hingga harapan itu benar-benar pergi dan tidak tersisa, rindu itu telah mengering dan berubah menjadi hamparan tandus dan gersang.
Cinta dan rasa hormat itu sudah menguap bersama dingin nya malam dan membeku bersama hilangnya rasa percaya.
"Frans ...., ini mama, bicaralah ...., katakan kalau kau juga merindukan mama!" ucap nyonya Tania dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Saya tidak punya mama seperti anda, mama saya sudah mati bersama hilangnya hak saya untuk memanggilnya mama! Jadi jangan berharap saya akan mengaggap anda mama…!” ucap dokter frans begitu dingin tanpa mau menatap nyonya Tania.
“Frans…!”
"Anda juga tidak saya beri hak untuk memanggil nama saya dengan mulut kotor anda!"
Kali ini nyonya Tania benar-benar terpukul, Dokter Frans segera menarik tangan Felic dan hampir meninggalkan nyonya Tania. Saat berada tepat di samping nyonya Tania, dokter Frans kembali menghentikan langkahnya.
“Dan satu lagi, jangan berharap anda bisa memisahkan saya dengan istri saya, anda bukan siapa-siapa bagi saya! Berapa banyak uang anda hingga bisa bersikap sombong di depan saya!”
“Ayo Fe …!”
Dokter Frans segera menarik tangan Felic keluar dari sana meninggalkan nyonya Tania yang masih terpaku.
"Mama ..., jadi mama ....!" gumamnya.
Dokter Frans dan Felic sedikit melambatkan langkahnya saat melewatinya. Mata dokter Frans dan Tisya bertemu, tapi dokter Frans tidak berniat untuk menyapanya.
Dokter Frans kembali membawa Felic keluar dari kafe dan menuju ke mobilnya, ia segera membuka pintu mobil untuk Felic.
“Masuklah …!” ucap dokter Frans, Felic menatap suaminya tapi tetap saja suaminya itu tidak bicara hingga mereka berdua berada di dalam mobil.
Nyonya Tania terduduk di tempatnya, ia terus menangis. Ia tidak menyangka akan sesakit ini di tolak oleh putranya sendiri.
Tisya yang menghela nafasnya, mengatur nafasnya agar tidak terlihat kalai dia mendengarkan semuanya.
Mama nggak boleh tahu jika aku tahu semuanya .....
Tisya segera menghampiri mamanya,
"Ma ....!"
Nyonya Tania yang mengenali suara itu segera menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara.
"Tisya ...! Kamu di sini sayang?"
"Iya ma ...., tadi di luar panas banget makanya Tisya ke sini mau cari minuman dingin!"
"Duduklah sayang ....!" perintah nyonya Tania sambil menepuk bangku kosong di sampingnya dan memindahkan tas kecilnya.
Tisya pun segera duduk dan menatap mamanya, "Mama tidak pa pa?"
"Tidak sayang, mama tidak pa pa, sungguh!"
"Jika mama pengen cerita sesuatu, ceritalah ma, Tisya akan mendengarkannya!"
"Tidak sayang ...., biar mama pesankan minuman ya?"
"Iya ...!"
Kenapa mama tidak pernah cerita sama Tisya, apa itu artinya pria itu saudara laki-laki Tisya beda papa ...?
...***...
Dokter Frans sama sekali tidak mengeluarkan suaranya saat di dalam mobil. Felic bingung harus memulainya dari mana.
“Frans maafkan aku!" ucap Felic kemudian.
Kali ini dokter Frans menoleh sebentar, "Minta maaf kenapa?"
" Karena tidak jujur sama kamu!” ucap Felic, walaupun begitu ia tidak menyesal. Ia tidak mau membuat suaminya itu semakin kecewa pada ibunya, mau bagaimanapun sifat nyonya Tania, dia tetaplah ibu dari suaminya.
“Lain kali jangan pernah sembunyikan apapun dariku, apalagi jika kau ingin menukarkan aku dengan uang seratus juta!”
Uang seratus juta ...., jadi Frans tahu tentang uang itu ...., bodohnya aku ..., kenapa aku lupa jika suamiku ini punya seribu mata ....
__ADS_1
“kamu mengetahuinya?” tanya Felic meyakinkan.
“hemmm …!” jawab dokter tanpa beralih dari menatap jalanan.
“Maaf …! Aku kira jika aku akan mendapatkan lebih dari itu ....!” ucap Felic kemudian sambil tersenyum.
"Tidak lucu ya ....!"
Mereka kembali diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tapi kemudian Felic mengingat sesuatu.
“Frans …!” ucap Felic.
“hemmm!”
Felic memegang lengan dokter Frans agar suaminya itu memperhatikannya.
“Kita harus ke rumah sakit!” ucap Felic.
Dokter Frans akhirnya menoleh padanya, “Kenapa?” terlihat jika ia khawatir.
“Ada yang mau aku tunjukan padamu!” Felic tersenyum, dokter Frans merasa lega saat melihat istrinya baik-baik saja.
Dokter Frans menarik kepala Felic agar mendekat dan mengecup keningnya, “Apa?”
“surprise dong!”
"Baiklah ...., aku harus tahu apa surprise nya!"
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Felic segera menarik tangan dokter Frans menuju ke sebuah ruangan.
"Mau kemana sih Fe?" tanya dokter Frans, dan Felic hanya diam dan terus menariknya.
Mereka pun akhirnya sampai juga di depan sebuah ruangan.
"Ini ruangan siapa? Apa kamu kenal salah satu pasien di sini?" tanya dokter Frans lagi.
"Bukan aku, tapi kamu yang kenal!"
"Siapa?"
"Kita masuk saja!"
Mereka pun langsung menuju ke ruang perawatan bu Narti.
“Kamu ingat dia?” tanya Felic saat mereka sudah berada tepat di depan tempat tidur bu Narti.
“Bu Narti …!” gumam dokter Frans.
"Iya ..., kau benar!"
Mereka pun menghampiri bu Narti dan dokter Frans pun duduk di sebelah bu Narti.
"Bu ....!" sapa dokter Frans dengan bibir yang bergetar.
Bu Narti yang sudah tidak bisa melihat jelas segera meraih kaca mata yang ada di atas nakas dan memakai kaca matanya itu.
Ia mulai memperhatikan wajah dokter Frans, memperhatikan dengan seksama. Walaupun sudah banyak berubah, tapi bu Narti tetap mengenalinya.
“Frans …!” ucap bu Narti, tanpa terasa tangannya yang bergetar itu meraih wajah dokter Frans, mengusapnya dengan begitu lembut.
"Frans ...., ini beneran Frans ..., kami benar-benar Frans ...?"
"Iya bu ...., ini Frans ....!" ucap dokter Frans sambil meraih tangan yang renta itu dan menciuminya. Felic hanya terus berdiri dari kejauhan dan mengabadikan moment itu, moment yang begitu indah.
"Frans ....!" ucap bu Narti beberapa kali, ia seperti begitu merindukan memanggil nama itu, sejak kecil ia sudah merawat pria di depannya itu.
“bu …, aku merindukanmu!” ucap dokter Frans lagi , Dokter
Frans segera memeluk bu Narti dengan begitu erat.
Mereka menumpahkan segala kerinduannya.
“bagaimana kabar mu bu?” tanya dokter Frans sambil terus memeluk wanita itu
“seperti yang kamu lihat, ibu sudah sangat tua, tapi ibu senang di masa tua ibu, ibu bisa di pertemukan lagi dengan mu, anak-anak ibu!”
"Frans juga sangat senang bu!"
Tidak berapa lama beberapa perawat datang menghampiri mereka karena perintah dokter Frans.
"Kalian pindahkan ruangan bu Narti di ruang VIP!" ucap dokter Frans.
"Baik dokter!"
"Dan satu lagi, beritahu keluarganya juga jika ruangan bu Narti di pindahkan!"
"Baik dok!"
"Nak ...., jangan!" ucap bu Narti sambil menahan tangan dokter Frans.
"Kenapa bu?"
"Nak ...., anak-anak ibu itu cuma karyawan biasa, mereka tidak akan sanggup membayarnya. Ini saja mereka harus bekerja keras untuk mencari uang!"
"Bu ...., ibu menganggap ku sebagai anak ibu juga kan, jadi biarkan aku yang menanggung semua biayanya!"
"Frans!"
"Jangan pikirkan apapun kecuali kesembuhan ibu!"
"Terimakasih ...!"
Dokter Frans pun memindahkan ruang perawatan bu Narti ke ruang VIP.
...rindu itu telah mengering dan berubah menjadi hamparan tandus dan gersang. Cinta dan rasa hormat itu sudah menguap bersama dingin nya malam dan membeku bersama hilangnya rasa percaya~dr. Frans...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰