
Setelah mengetahui bahwa Rangga kecelakaan, kedua orang tua Rangga segera bergegas ke rumah sakit, mereka tidak sabar ingin melihat keadaan Rangga.
"Ayo ma, cepetan! Papa benar-benar khawatir sekarang!" terlihat pak beni sudah siap di depan rumah, mereka menyewa pik up milik tetangga untuk mengantarnya ke rumah sakit, sekalian membawa sayuran ke kota.
"Iya pa, benar! Mama juga harus bawa makanan untuk Zea, dia pasti tidak menjaga dirinya dengan baik karena terlalu mencemaskan Rangga!" mama Rangga tengah memasukkan beberapa lauk dan sayur ke dalam rantang. Tidak lupa ia mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja.
"Sudah pa, mana mobilnya?"
"Papa juga nggak tahu, tadi katanya sudah mau datang. Tapi sudah di tunggu setengah jam nggak datang-datang juga!"
"Gimana sih pa, mama padahal sudah berburu-buru tadi."
"Nah itu Tejo!" seorang pria tengah berlari menghampiri mereka dengan nafas yang memburu.
"Ada apa sih Jo, kok lari-lari?"
"Maaf pak Dhe!"
"Maaf kenapa nih?"
"Maaf karena ternyata mobilnya lagi ngadat, kami gagal ke kota!"
"Apa?" pak beni benar-benar terkejut, padahal mereka sudah siap, "Tadi katanya bisa, kok tiba-tiba begini?"
"Saya juga tidak tahu pakdhe, tiba-tiba saja nggak bisa jalan, kata yang bengkelnya baru bisa besok pagi!"
"Ya sudah lah, mau bagaimana lagi."
"Maaf ya pak Dhe, Bu Dhe!"
"Ya wes, nggak pa pa!"
"Kalau begitu, Bejo pergi dulu. Kalau tidak terburu-buru, pak Dhe sama Bu Dhe bisa Minggu mobilnya selesai besok."
"Ya, nanti biar kami pikirkan dulu."
"Permisi ya pak Dhe, Bu Dhe!"
Setalah Bejo pergi, pak beni pun segera duduk di kursi kecil yang ada di teras rumah. Ia langsung lemas karena tidak bisa menjenguk Rangga saat ini juga, walaupun ada motor tapi kemampuan mengendarai motornya juga sudah tidak selihai dulu. Ia hanya berani mengendarainya untuk jarak-jarak dekat.
"Bagaimana sekarang pa?" mama Rangga ikut duduk, ia sudah memasak banyak untuk Zea.
"Papa juga tidak tahu, mau pesan taksi online, papa juga nggak bisa!"
Hehhhhh ....
Mama Rangga menghela nafas dalam, ia juga tidak bisa memberi solusi untuk masalah ini.
Kenalan mereka yang punya mobil di kampung itu hanya Bejo, memang ada yang punya mobil yang lainnya tapi ia tidak yakin bisa mengantar mereka.
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman mereka,
"Itu mobil siapa pa? siapa yang berhenti di depan rumah kita pa?"
"Mana papa tahu ma!"
Setelah melihat siapa yang keluar, sekarang pak beni tahu,
"Itu sepertinya ajudannya tuan Seno!"
"Benarkah seperti itu pa? Kebetulan sekali pa!"
pak beni dan istrinya pun berdiri menyambut tamunya,
"Maaf tuan, saya di minta tuan Seno untuk menjemput kalian!"
"Menjemput, maksudnya?"
"Untuk mengantar tuan dan nyonya ke rumah sakit!"
"Benarkah?" mama Rangga sampai tidak percaya, jika pertolongan akhirnya datang tepat waktu.
"Benar nyonya, mari!"
Akhirnya pak Beni dan istrinya numpang mobil itu untuk sampai di rumah sakit.
"Mari tuan, nyonya saya antar ke ruangan tuan Rangga di rawat!"
Ajudan pak Seno pun mengantar mereka ke ruangan Rangga, ia membukakan pintu untuk mereka juga.
__ADS_1
"Silahkan!"
Pak beni dan istrinya pun segera masuk ke ruangan itu,
"Rangga!" langkah mereka terhenti tepat di depan pintu ketika melihat ada Zea di sana, Zea tengah menyuapi Rangga.
Rangga yang tengah bercanda dengan Zea pun akhirnya terpancing untuk melihat ke arah pintu.
"Ma, pa, kalian tahu dari mana Rangga di sini?" pertanyaan dari Rangga berhasil membuat mereka kembali berjalan menghampiri Rangga dan Zea.
"Bagaimana keadaanmu? Mama begitu khawatir saat tahu kamu baru saja mengalami kecelakaan!"
"Tidak pa pa ma, hanya luka kecil saja. Siapa yang memberitahu papa sama Mama?"
"Anak buah tuan Seno memberitahu kami! Syukurlah kalau kamu tidak mengalami hal yang serius!"
"Tidak pa pa ma! Yang terpenting, Zea dan anak Rangga tidak pa pa!"
Mendengar perkataan Rangga, kedua orang tuanya seketika menatap ke arah Zea dan memastikan apa yang mereka dengan itu benar, dan Zea pun menganggukkan kepalanya.
"Jadi_!?" pak Beni benar-benar senang mendengarnya, ia tidak menyangka Rangga sudah mengingat Zea sebagai istrinya.
"Iya pa, rangga sudah ingat semuanya!" ucap Rangga lagi untuk meyakinkan papa dan mamanya.
"Syukurlah, papa ikut senang sekarang!" pak Beni mengusap bahu Rangga dan tersenyum, tapi kembali ia penasaran dengan bagaimana Rangga bisa celaka, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Rangga pun akhirnya menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya, menceritakan bagaimana Miska berniat untuk mencelakai Zea beruntung dirinya datang tepat waktu. Jika tidak mungkin dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Benar-benar ya anak itu, selalu saja membuat masalah! Untung rencananya gagal untuk menikah denganmu!"
Seketika ucapan pak Beni membuat suasana menjadi canggung, ada istrinya yang pernah terlibat dalam rencana itu.
Mama Rangga masih merasa tidak enak, percaya atau tidak mamanya tetaplah memiliki andil dalam segala hal yang terjadi pada Rangga dan Zea selama ini, ia benar-benar tidak bisa menutupi rasa bersalahnya.
Seandainya saja ia tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ia terlalu mudah percaya pada mulut manis nyonya Widya dan Miska hingga ia mengabaikan keluarganya sendiri.
"Maafkan mama ya, seandainya saja mama sejak awal mendengarkan perkataan kamu dan papa, semua ini pasti tidak akan terjadi!" mama Rangga menudukkan kepalanya, rasa bersalah itu telah berhasil membuat mamanya begitu berat mengangkat kepalanya.
"Iya ma, Rangga sudah memaafkan mama. Tapi untuk Zea, Rangga tidak bisa memaksanya untuk memaafkan mama, Zea di sini yang paling mama sakiti!"
Mama Rangga pun akhirnya menatap ke arah Zea , ia meraih tangan Zea.
"Nak, walaupun mama sudah pernah melakukannya. Tetap saja, mama ingin melakukannya satu kali lagi."
"Terimakasih ya nak, kamu begitu murah hati!"
"Tidak begitu juga ma!"
"Oh iya, mama tadi hampir lupa." mama Rangga kembali mengambil rantang yang sempat ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur Rangga, "Sebenarnya mama bawa ini khusus buat kamu!"
"Ya ampun, mama baik sekali. Zea akan segera memakannya!"
"Ayo, mama bantu!"
Akhirnya Zea dan mama Rangga membawa makanan itu ke meja yang ada di dekat sofa, mama Rangga membantu membukakan rantangnya,
"Ya ampun ma, ini semua kesukaan Zea!"
"Mama tahu, makannya mama bawakan untukmu! Kamu harus makan yang banyak biar cucu mama tambah sehat nanti."
Selagi Zea dan mamanya makan, pak Beni kembali membicarakan hal yang serius pada Rangga. Ia segar duduk di samping Rangga.
"Ga."
Panggilan itu berhasil mengalihkan tatapan Rangga pada Zea yang terlihat begitu bersemangat untuk makan.
"Iya pa?"
"Lalu bagaimana dengan Miska sekarang? Apa dia sudah di tangkap polisi?" tanyanya, ia begitu penasaran. Ia juga khawatir jika sampai Miska masih berkeliaran, pak Beni takut jika.keberadaanya akan sangat mengancam Zea.
"Rangga rasa sudah pa, pak Div pasti sudah melakukannya! Tapi_!" Rangga terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa?" papa Rangga begitu penasaran dengan kelanjutan ucapan Rangga.
"Rangga tidak yakin dengan bang Rizal!"
Rizal?
Nama Rizal yang di bawa-bawa dalam kasus ini, membuat pak Beni semakin penasaran.
__ADS_1
"Memang ada apa dengan Rizal? Apa dia juga melakukan kejahatan?"
Walaupun berat, tapi ia harus tetap membicarakan hal ini. Hubungan saudara di antara mereka tidak akan mempengaruhi penegak hukum yang berlaku.
"Bang Rizal juga terlibat dalam kecelakaan itu."
Pak Beni benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh keponakan istrinya itu. Selama ini hubungan Meraka baik-baik saja.
"Maksud kamu_?"
Rangga segera menutup pertanyaan papanya, ia sudah sangat yakin jika papanya akan benar-benar terkejut karena selama ini Rizal tidak pernah bersikap aneh-aneh di depan keluarga, selain memang perceraiannya waktu itu,
"Iya pa, bang Rizal juga ingin Rangga dan Zea celaka karena sakit hati pada kami!"
Pak Beni tampak mengepalkan tangannya kesal, "Keterlaluan sekali Rizal, selama ini kita sudah bersikap baik padanya, bisa-bisanya dia melakukan hal itu."
"Jangan khawatir, Rizal sudah pasti juga akan di tangkap!"
Tuan Seno tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.
"Tuan!" Rangga merasa begitu tidak enak, ini untuk pertama kalinya ia di pertemukan dengan tuan Seno sebagai seorang menantu.
"Panggil saja papa, seperti Zea memanggil saya."
"Iya pa!"
Kemudian Rangga kembali teringat dengan ucapan tuan Seno saat masuk,
"Maksud papa Seno tadi apa? Papa seno mendapatkan bukti kejahatan apa?"
"Fakta baru di temukan jika Rizal baru-baru ini juga terlibat persekongkolan dengan Miska mengenai pemalsuan beberapa dokumen atas nama Zea yang akan di alihkan kepada Miska."
"Benarkah itu?" Rangga benar-benar tidak menyangka dengan hal nekat yang telah di lakukan oleh Rizal dan Miska. Hanya demi harta, mereka rela mengubah dokumen penting.
"Iya, sudah jangan di pikirkan lagi. Setelah ini biar saya yang akan menanganinya. Kamu cukup fokus dengan kesehatan kamu saja. Jangan pikirkan macam-macam dulu!"
"Terimakasih atas bantuan papa Seno, Rangga tidak tahu harus membalasnya dengan apa!"
"Cukup bahagian putri saya dan jaga dia!"
"Pasti pa, Rangga berjanji akan menjaga Zea lebih dari nyawa Rangga sendiri."
"Papa percaya dengan hal itu. Tapi papa minta setelah kalian keluar dari rumah sakit, kalian harus segera meresmikan hubungan kalian, papa akan menggelar pesta untuk pernikahan kalian."
"Tapi pa, bukankah pesta terlalu berlebihan, lihat perut Zea aja sudah besar!"
"Tidak masalah sayang, ada gaun yang bagus untuk ibu hamil. Pokoknya papa tidak mau ada penolakan lagi, mengerti!"
"Baiklah!"
Akhirnya tuan Seno pun berpamitan, ia masih ada pekerjaan lain yang harus di kerjakan sekaligus memberi kesempatan untuk besannya ngobrol dengan bebas.
Tapi baru saja keluar, Zea ternyata menyusulnya.
"Pa!?"
"Hmmm? Kenapa kamu ikut keluar?"
"Kalau papa ke kantor polisi, Zea boleh ikut nggak?"
"Buat apa?"
"Zea ingin bertemu dengan nyonya Widya!"
"Untuk apa, nak?"
"Nanti di sana papa juga akan tahu!"
"Baiklah, papa sekarang mau ke sana. Apa kamu mau ikut sekarang?"
"Baiklah, Zea ikut sekarang. Mumpung ada papa dan mamanya Rangga!"
"Baiklah, ayo!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...