
Setelah Maira pergi, Tisya pun hendak kembali ke dalam rumah tapi Wilson sudah lebih dulu menghadangnya di depan pintu, Wilson menatapnya dengan tatapan tajam.
"Wil!"
"Apa yang kamu katakan sama Maira?" tanya Wilson masih dengan tatapan yang sama.
"Aku_!" Tisya memberi jeda pada ucapannya, "Aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Maksudnya?"
"Ya aku mengatakan kalau pernikahan kita cuma_!" belum sempat Tisya melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja Wilson membungkam mulut Tisya dengan bibirnya.
Tisya terkejut, ia bahkan tidak berani melawan saat pria itu mencium paksa bibirnya. Atau memang ia tidak ingin menolak ciuman itu.
Cukup lama, hingga akhirnya Wilson melepaskan ciumannya, Tisya masih terdiam. Ia terlalu terkejut.
"Jangan mengatakan apapun pada orang lain, mengerti? Termasuk Maira!"
Wilson terlihat begitu marah lalu ia masuk ke dalam rumah. Ternyata pria itu mendengar semua percakapan mereka.
Ia merasa tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Tisya pada Maira.
Tisya pun mengikuti langkah Wilson.
"Kalian kemana saja sih, bisa-bisanya kami masih di sini kalian main tinggal-tinggal saja!"
Nyonya Tania terlihat begitu bersemangat menyambut mempelai itu.
Kini di dalam rumah tinggal beberapa pelayan yang merapikan kembali rumah itu seperti sedia kala dan juga keluarga inti.
"Duduklah!" Felic menepuk tempat duduk kosong di sampingnya, Tisya yang masih terdiam segera duduk.
Wilson juga duduk di samping dokter Frans mereka di pisahkan oleh nyonya Tania yang berada di tengah.
Kini Wilson dan Tisya saling berhadapan hanya di pisahkan oleh sebuah meja kecil.
Nyonya Tania, dokter Frans dan Felic saling bercakap-cakap, sedangkan Wilson dan Tisya hanya diam mendengar kan dan sesekali menanggapinya dengan tersenyum.
Apa maksudnya coba, tiba-tiba menciumku seperti itu ..., batin Tisya.
Kenapa juga aku mencium si tikus tadi ...., batin Wilson.
Kenapa dia marah padaku, seharusnya dia senang kan karena kak Maira nggak jadi salah faham ...., hehhh sulit di mengerti, batin Tisya.
Lagian ngapain juga aku marah, Tisya bilang jika kita akan bercerai nantinya, bukankah itu lebih bagus, kami tidak akan saling jatuh cinta ...., batin Wilson.
Mereka malah sibuk perang batin sendiri. Tidak mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh mama dan kakaknya.
Dua pengantin itu sudah mengganti bajunya dengan baju biasa, mereka mengantar semua tamunya untuk pulang saat sudah hampir sore.
"Kami pulang dulu ya, datanglah ke rumah mama saat tidak ada makanan di rumah, mama akan masak untuk kalian!"
"Terimakasih ma!"
"Terimakasih nyonya!"
"Jangan panggil nyonya lagi, panggil ma, seperti Tisya memanggil mama!"
"Baik ma!"
"Kami pulang dulu ya!" pamit dokter Frans juga. "Jangan terus bertengkar!"
"Iya kak!"
"Iya tuan!"
"Oh iya!" nyonya Tania yang sudah berjalan kembali berbalik. "Jangan lupa, Tisya pindah ke kamar Wilson, mama sudah nggak sabar liat cucu-cucu mama!"
__ADS_1
Wilson dan Tisya malah saling pandang-pandangan.
cucu .....
Wilson dan Tisya kembali beralih menatap nyonya Tania dan tersenyum.
"Jangan senyum aja!"
"Iya ma!"
Setelah semua tamu pergi, Wilson dan Tisya sepertinya masih perang dingin. Wilson masuk ke kamarnya sendiri sedangkan Tisya juga melakukan yang sama.
Hingga malam tidak ada yang berencana untuk keluar kamar.
"Ahhhh lapar ....!" gumam Tisya, ia sudah memegangi perutnya.
"Tapi males ketemu sama Wilson!"
Tisya memilin terus berada di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya yang sudah entah berapa kali berbunyi.
"Tahan aja ya sampai besok pagi ...., aku mohon ....!"
Di kamar lain ternyata Wilson juga melakukan hal yang sama, ia juga sudah dari pagi belum makan karena terlalu gugup dengan pernikahannya.
"Malam pertama pernikahan, dan aku malah kelaparan kayak gini!"
"Seharusnya di pelari pendingin ada makanan! Tapi bagaimana kalau tikus itu juga sedang makan di sana!"
Wilson jadi membayangkan jika Tisya sedang makan dengan lahapnya dan menghabiskan semuanya.
"Ini tidak boleh di biarkan, bagaimana aku bisa kelaparan sedangkan dia makan dengan lahap sendiri ...! Aku harus makan!"
Tisya yang terus meremas perutnya, bahkan ia sampai mengikat perutnya agar tidak lapar tapi percuma.
"Ahhhh masa bodoh sama Wilson, pokoknya aku mau makan!"
Ceklek
Ceklek
Ternyata pintu di depan kamarnya juga terbuka. Mereka saling berhadapan kembali. Awalnya mereka ingin kembali masuk ke dalam kamar tapi saat mengingat perut mereka yang cacing-cacing sudah seperti zombie yang siap menghisap energi mereka.
Mereka tidak mempedulikan marahnya lagi, dengan kekuatan angin mereka berlari ke dapur dan mengambil makanan di dalam lemari pendingin, tinggal beberapa kue saja, tidak ada makanan lainnya.
"Ini punyaku!"
"Ini punyaku!"
Mereka saling berebut makanan persis seperti tom and jerry.
Hehhhhhh
Wilson menghela nafas, "Baiklah begini saja, kita kan sama-sama lapar, jadi kita bagi rata saja makanannya!"
"Baiklah!"
Mereka memutuskan untuk mengambil semua makanan yang ada di dalam lemari pendingin itu dan meletakkannya di atas meja.
"Kenapa cuma segini?" keluh Tisya. Ia sudah duduk di kursi kosong itu.
"Kalau mau banyak besok, sekarang sudah malam, jadi makan seadanya!"
Di atas meja itu hanya ada sepotong kue brownis, satu cup salat buah, dan beberapa kue kering yang tidak akan membuat perut mereka kenyang.
"Apa kau juga tidak punya mie instan?"
"Kamu kan tahu, kemarin kita tidak jadi belanja bulanan, kenapa masih tanya!" jawab Wilson sewot.
__ADS_1
"Kenapa sewot!"
"Abis tanya terus, orang lapar di tanya terus!"
"Susu, apa kau juga tidak punya susu?"
"Memang kamu pernah melihatku minum susu?" Wilson malah balik bertanya dan Tisya pun menggelengkan kepalanya, Wilson bukan orang yang suka minum susu, kalaupun susu ia akan meminum kopi susu.
"Kita bagi rata saja!" ucap Wilson dan ia mulai mengambil brownies itu dan menggigitnya.
"Eh eh eh ...., kenapa di gigit?"
Setelah mengunyah kue yang di gigit, Wilson mengacungkan ke mulut Tisya.
"Aaaaaa!" Wilson meminta Tisya untuk membuka mulutnya.
Terpaksa Tisya melakukan apa yang di inginkan oleh Wilson,
"Bukankah kita bisa memotongnya, kenapa menggigit bergantian?"
"Kalau begini lebih adil!" ucap Wilson sambil menggigit kue itu untuk yang ke dua kalinya dan melakukan bergantian pada Tisya hingga kue itu habis oleh mereka.
"Kau mengerjai ku ya?" protes Tisya.
"Mengerjai apa?"
"Jelas gigitan mu lebih besar, mulutmu kan lebih besar dari aku!"
"Bagaimana kau tahu kalau mulutku lebih besar?"
"Tadi kau mel*mat habis bibirku!" ucap Tisya tanpa sadar membuat mereka kembali terdiam.
"Maksudku_!" ucapan Tisya menggantung, ia tidak tahu kenapa tiba-tiba pria itu menciumnya dan membuat suasana jadi Secanggung ini.
"Maafkan aku, itu tadi aku_! Aku cuma mau kasih pelajaran sama kamu karena udah berani buka rahasia kita ke orang lain, bukankah sudah aku bilang jika hanya kita yang boleh tahu tentang perjanjian uang itu!"
"Tapi Wil, kak Maira bisa salah faham!"
"Memang dia akan salah faham apa?"
"Kak Maira menyukaimu kan?!"
"Tapi aku tidak menyukainya!"
Mereka kembali terdiam, Tisya jadi merasa bersalah pada Wilson karena sudah mengkhianati perjanjian mereka.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi, lagian aku sama Maira tidak ada hubungan apa-apa, jadi jangan salah paham, aku ngantuk aku mau tidur!"
Wilson pun segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan juga Tisya.
"Tapi Wil, ini masih ada!" ucap Tisya sambil menunjuk beberapa makanan yang masih tersisa.
"Habiskan, aku sudah kenyang!"
Wilson memilih untuk masuk ke dalam kamar, setidaknya sekarang sudah tidak ada salah faham lagi dengan Tisya, ia sudah sangat lega.
Bersambung
...Suatu saat nanti kita akan teringat dengan hari ini, betapa sulitnya hari ini dan kita mampu untuk melaluinya, untuk selanjutnya kita pasti juga bisa melakukan hal yang sama, tetap semangat...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1