
...Aku pikir aku cukup kuat untuk tidak akan menangis tapi ternyata hatiku terlalu rapuh untuk ini, air mata ini seolah menandakan jika aku masih berharap semua kebenaran ini bukan sebuah mimpi yang datang belakangan sebagai penawar karena aku sudah terlalu banyak menangis....
...🌺🌺🌺...
Dua Minggu itu akhirnya datang, pak Seno dan ajudannya sudah berdiri di teras rumah Zea.
"Bisa nggak saya nggak usah ikut, saya di rumah saja!"
"Apa kamu tidak ingin tahu hasilnya?"
"Sudah saya bilang apapun hasilnya dari awal tidak akan berpengaruh pada saya!"
"Saya mohon, untuk sekali ini saja kamu ikut kami, jika memang nanti ternyata hasilnya tidak sama, aku akan memberi imbalan lagi padamu!"
Pak Seno terus memaksa Zea untuk ikut bersamanya, bibi yang kasihan melihat kegigihan pak Seno pun ikut memaksa Zea.
"Nggak pa pa lah buk, ikut! Kasihan, dia begitu berharap bisa menemukan putrinya yang hilang!"
"Tapi bi_!"
"Nggak baik membuat orang tua memohon!"
"Tapi sungguh Zea tidak mengharapkan apa-apa dari mereka!"
"Tuhan yang maha tahu apa yang ibuk butuhkan, jangan sia-sia kan apapun kesempatan itu, mungkin ini memang jalan ibuk!"
Akhirnya setalah cukup lama, Zea setuju untuk ikut ke rumah sakit.
"Baik, saya akan ikut ke rumah sakit. Tapi apapun nanti hasilnya tidak akan merubah sikap saya terhadap anda!"
Mereka pun meninggalkan rumah, hanya tinggal bibi di rumah itu.
"Silahkan nona!" seperti biasa ajudan pak Seno membukakan pintu untuknya dan meminta Zea untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju memecah jalanan yang cukup panjang, mereka yang ada di dalam mobil hanya saling diam dengan pemikirannya masing-masing.
Hingga akhirnya setelah satu jam mereka sampai juga di rumah sakit yang di tuju.
Dokter yang dua Minggu lalu mengambil sampel darahnya kini kembali menemui mereka.
"Selamat datang pak Seno!"
"Terimakasih!"
__ADS_1
"Mari ke ruangan saya!"
Suasana hati Zea sedang tidak menentu sekarang, meskipun mulutnya mengatakan tidak tapi ia tidak yakin dengan hatinya. Cukup sulit bagi Zea bisa menerima orang baru dalam hidupnya apalagi jika tiba-tiba mengaku sebagai ayahnya yang sudah tiga puluh tahun tidak ia temui.
"Bagaimana dok hasilnya?"
Pak Seno pun sebenarnya tidak jauh beda dengan Zea. Ia juga merasakan harap-harap cemas yang luar biasa. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia yakin jika Zea adalah putrinya tapi ia takut jika putrinya itu tidak akan bisa menerima kehadiran dirinya. Melihat bagaimana sikap dingin yang di tunjukkan oleh Zea. Ia bahkan tidak yakin semua akan baik-baik saja setelah ini.
"Surat ini masih tersegel, hanya yang bersangkutan yang boleh membukanya, jadi lebih baik pak Seno atau nona Zea sendiri yang membukanya!"
Pak Seno menatap amplop berwarna coklat yang masih tersegel dengan rapi itu lalu beralih menatap Zea.
"Bukalah nak!" suara lembut pak Seno membangunkan Zea dari lamunannya.
"Akan lebih baik jika bapak saja yang buka!"
"Bapak sudah tahu hasilnya, jadi yang butuh keyakinan adalah kamu, jadi bukalah!"
Zea akhirnya membukanya dengan sangat hati-hati, ia tidak tahu apa yang sedang di inginkan hatinya sekarang tapi yang pasti ia belum siap untuk mengetahui hasilnya saat ini.
Tapi hidup harus tetap berjalan, ia harus menerima apapun itu.
Hingga sebuah kertas putih sudah ia keluarkan dari dalam amplop, perlahan bibir dan matanya mengarah pada tulisan bercerai tebal yang di cetak paling menonjol di banding dengan yang lainnya.
Sembilan puluh sembilan persen hasilnya menyatakan jika terjadi kecocokan.
"Bagaimana nak hasilnya? Cocok kan?"
Zea tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kertas itu di atas meja,
"Apapun hasilnya saya sudah mengatakan tidak akan merubah apapun! saya permisi!"
Pak Seno segera mengambil kertas itu, tangannya mulai bergetar lalu mengejar Zea yang sudah pergi terlebih dulu.
Ia segera memeluk Zea, berharap Zea bisa menerimanya sebagai seorang ayah walaupun ini sudah sangat terlambat.
"Nak, papa ini sungguh papa yang tidak beruntung. Papa tidak berharap untuk cepat kamu maafkan tapi papa berharap kamu bisa menerima papa!"
"Maaf aku tidak bisa!"
Mata Zea saat ini sudah berkaca-kaca, tapi ia tidak mau menunjukkan kalau ia sedang lemah di depan orang yang telah menghadirkan dia ke dunia itu.
"Untuk saat ini, biarkan saya pergi! Mungkin lain kali saya akan mencoba untuk menerima apapun itu, tapi bukan sekarang!"
__ADS_1
Perlahan pelukan dari pak Seno terlepas, ia tahu pasti saat ini Zea hanya sedang syok dengan apa yang terjadi.
Zea berhenti di trotoar menunggu kendaraan yang lewat, beruntung sebuah taksi datang tepat waktu. Ia segera melambaikan tangannya dan taksi pun berhenti.
Pak Seno masih berdiri di tempatnya menatap taksi yang sudah membawa Zea pergi.
Zea menumpahkan air matanya di dalam taksi dengan tangis yang tak bersuara.
Ia bisa menebak apa hasilnya jauh sebelum ini, ia kira ia akan kuat tapi ternyata ia salah, hatinya tidak sekuat itu untuk menerima semuanya. Ia kira ia tidak akan menangis untuk mengetahui kenyataannya tapi nyatanya air matanya bahkan tidak mau berkompromi dengan dirinya.
Hingga akhirnya ia sampai juga di rumah, kedatangannya langsung di sambut oleh bibi,
"Bu, bagaimana hasilnya?"
Zea hanya diam, menatap raut wajah Zea bibi pun tidak berani bertanya lagi,
"Jika ibuk mau istirahat, bibi akan tetap di rumah!"
Masih tidak mau menjawab, Zea berlaku begitu saja masuk ke dalam kamar, ia segera merebahkan tubuhnya di sana menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ia kenakan saat ini.
...***...
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan!"
"Biarkan saja untuk saat ini, saya tidak mau terlalu memaksakan dia untuk bisa menerima saya, besok saja kita temui dia lagi, mungkin dia akan berubah pikiran!"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi!"
"Iya, dan satu lagi jangan membicarakan hal ini pada siapapun dulu, saya takut ini akan berbahaya untuknya dan kirim beberapa orang untuk mengawasi rumahnya, bukan tidak mungkin seseorang sudah tahu kebenarannya lebih dulu di banding kita!"
"Iya tuan!"
Sebenarnya ia begitu bahagia karena akhirnya bisa menemukan istrinya tapi di sisi lain ia juga merasa cemas akan keselamatannya, untuk saat ini ia tidak bisa mempercayai siapapun sampai Zea sendiri yang datang padanya dan bersedia dia umumkan untuk menjadi putrinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1