
Setelah memastikan jika Felic tidak marah lagi dokter Frans pun mengajak Felic untuk menemui Nadin dan memberi selamat.
Di dalam ruangan itu hanya tinggal beberapa orang saja, ada Agra dan Ara, Rendi dan juga paman Salman.
Ayah Roy dan ibu Dewi sudah lebih dulu pulang karena nenek Nani tidak bisa di tinggal lama-lama.
Sebenarnya Agra dan Rendi sudah meminta nenek Nani untuk di rawat di rumah sakit saja, tapi ternyata nenek Nani tidak mau, beliau ingin menghabiskan sisa umurnya di rumah saja bersama keluarga, putranya dan juga cucu-cucunya. Usia nenek Nani memang sudah tidak muda, raganya sudah terlalu lemah.
Dokter Frans juga sudah menyiapkan dokter khusus untuk memeriksa kesehatan nenek Nani.
Felic begitu ragu untuk masuk, ia tidak merasa dekat dengan keluarga besar finityGroup, ia merasa masih sangat baru.
"Ayo ....!" ajak dokter Frans sambil melingkarkan tangannya di pinggang Felic yang sudah tidak bisa sampai di ujung lagi sekarang.
"Frans ....!" Agra yang menyadari kedatangan mereka segera menyapa. Ara pun juga demikian, ia segera tersenyum dan menyapa Felic.
"Fe ...., kamu di sini? Kesinilah ....!" ucap Ara dan Felic pun berjalan mendekati Ara dan Nadin sedangkan dokter Frans memilih menyusul kedua sahabatnya yang sedang duduk di sofa.
"Hai Nad, selamat ya atas kelahiran bayi kamu!" ucap Felic tampak masih begitu canggung.
"Terimakasih kak Fe ...., kak Fe juga periksa kandungan ya tadi? Kata dokter Frans gitu, kandungannya juga sehat katanya! Semoga nanti anaknya kak Fe lahir sehat seperti anak aku ya!" ucap Nadin panjang lebar, sepertinya level kecerewetan Nadin semakin naik saja semenjak hamil kedua ini.
"Cowok apa cewek?" tanya Felic lagi sambil mengusap pipi anak Nadin.
"Cewek kak, lengkap sudah pokoknya!"
"Sudah di siapin namanya?" tanya Felic lagi.
"Sudah dong kak, namanya Keyra, Keyra Nadinda putri!"
"Nama yang cantik untuk baby yang cantik juga!"
"Terimakasih aunty!" ucap Nadin menirukan suara anak-anak.
Saat para perempuan sedang membicarakan anak-anak mereka. Para laki-laki juga sedang membicarakan hal yang tidak kalah serunya terlihat dari beberapa kali dokter Frans dan Agra tertawa, sedangkan Rendi hanya akan memilih menjadi pendengar yang setia dan sesekali mengutarakan pendapatnya yang tiba-tiba saja bisa bikin kedua sahabatnya bungkam.
"Gimana, bini lo marah nggak tadi?" tanya Agra sambil melirik pada Felic dan istrinya.
"Ya nggak lah!" ucap dokter Frans berlagak sombong.
"Jelas, aku ini terlalu tampan untuk di marahi ...., mana tega istriku marah padaku!"
"Yakin ....? Kalau sampai aku lihat nanti istri kamu marah, aku bakalan jadi orang pertama yang memelukmu deh!" ucap Agra lagi.
"Nggak perlu, gue nggak butuh pelukan lo,.pelukan istri gue lebih mantap!" ucap dokter Frans.
Saat Agra dan dokter Frans tertawa, Rendi hanya menghela nafas dalamnya.
__ADS_1
"Kenapa ekspresinya gitu amet?" tanya dokter Frans pada Rendi.
"Memang aku harus bagaimana?" tanya Rendi dengan nadanya yang kalau nggak begitu kenal pasti langsung gemetar.
"Tertawa!"
"Nggak ada yang perlu di tertawakan juga kan!"
Hehhhhhhh .....
Jawaban Rendi berhasil membuat Agra dan dokter Frans menghela nafas dalam.
"Ayah lendi .....!" seorang gadis kecil tiba-tiba saja memeluk Rendi dari belakang, Rendi memegang tangan mungil itu dan segera berjongkok mencium tangan lembut nan lentik itu.
"Sayang ...., ayah sangat merindukanmu? Bagaimana kabar kamu?" tanya Rendi sambil mengusap wajah cantik gadis kecil berusia empat tahun itu.
"Iyya baik ayah ...., daddy biyang iyya punya dedek bayi balu!" ucap gadis kecil itu dengan cadel khas anak-anak itu.
"Iya sayang, dia juga akan secantik Via nanti! Via sama siapa ke sini?" tanya Rendi lagi saat gadis kecil itu hanya seorang diri masuk ke dalam ruangan itu.
Gadis itu pun segera menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di belakangnya.
"Tadi Iyya cama daddy Div dan mammy Sya!"
Rendi mengerutkan keningnya, "Mammy Sya?"
Agra dan dokter Frans hanya saling berpandangan, mungkin Agra tahu sesuatu karena dia adiknya, tapi Agra juga sama. Ia menggelengkan kepalanya.
Diamnya mereka bertiga berhasil menarik perhatian ketiga wanita yang juga sedang bercengkerama itu.
"Ada apa bby?" tanya Ara.
Tapi belum sampai Agra menjawabnya, pintu sudah lebih dulu di ketuk.
Tok tok tok
Semua mata menoleh padanya, ada Divta di depan pintu itu dengan bunga dan keranjang buah di tangannya. Kemudian yang menjadi pusat perhatian bukan Divta nya tapi wanita yang bersamanya.
Felic yang duduk tiba-tiba terlojak berdiri karena begitu terkejut,
"Ersya!" gumam Felic membuat Ara dan Nadin menoleh padanya.
"Kak Fe mengenalnya?" tanya Nadin sambil menarik tangan Felic.
"Ersya sahabatku!" ucap Felic.
"Hai semua ...!" Sapa Divta, ia segera mendekat ke Nadin dan juga di ikuti oleh Ersya yang menyembunyikan dirinya di balik Divta.
__ADS_1
"Sya ....!" panggil Felic, Ersya pun menoleh ia begitu terkejut karena ada sahabatnya juga di sana.
"Fe ....!"
Felic pun segera menarik tangan Ersya,
"Ikut aku sebentar!"
Sekarang Felic dan Ersya sudah berada di luar ruangan, Felic menatap Ersya penuh pertanyaan. Ia ingin tahu apa yang terjadi dan sejauh apa perkembangan yang tidak ia ketahui.
"Jelaskan sama gue!" ucap Felic.
"Apanya Fe?"
"Sejauh mana, terakhir kali kalian bertemu di pesta itu, lalu?" tanya Felic begitu penasaran sejauh mana hubungan sahabatnya itu dengan Divta.
"Ceritanya panjang Fe, intinya gue sama dia tidak ada apa-apa, semua ini cuma karena Divia!"
"Siapa Divia?" tanya Felic, ia tahu sahabatnya itu baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidupnya. Di tinggalkan oleh suaminya gara-gara wanita lain dan tidak mungkin jika secepat itu sahabatnya itu mendapatkan pengganti.
"Divia itu gadis kecil yang malang itu, dia putri pak Divta, aku tidak tahu kalau Divia akan menganggap gue sebagai mammy nya Fe!"
"Jadi lo ngasih harapan palsu sama anak kecil itu?"
"Gue nggak ada maksud Fe, tapi gue juga nggak tega pas liat dia nangis dan merengek sama gue! Gue seorang wanita yang entah bisa punya anak atau tidak! Tapi kehadiran Divia mengisi tempat kosong di hati gue Fe!" ucap Ersya dengan begitu berapi-api, penantiannya untuk mendapatkan seorang anak selama hampir empat tahun, dan akhirnya ia di pertemukan dengan malaikat kecil itu.
"Gue cuma nggak mau lo kecewa lagi Sya!" ucap Felic sambil memeluk sahabatnya itu.
"Semua ini hanya demi Divia, Fe! Gue janji nggak akan pakek hati selain sama Divia!"
"Gue percaya sama lo!"
"Makasih ya Fe ....!"
Setelah percakapan panjang itu akhirnya Felic dan Ersya masuk ke dalam ruangan itu.
Terlihat sekali bagaimana kedekatan Ersya dengan Divia, bahkan sepanjang menjenguk Nadin dan bayinya di rumah sakit. Bahkan Divia terus minta di gendong oleh Ersya.
Bersambung
Di sini ada sedikit bocoran tentang kisah Ersya dan Divta ya, kira-kira sudah bisa menebak belom bagaimana kisah mereka nantinya, selamat berpenasaran ria ya ....
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰