
"Ganti ...., atau nggak usah ikut aku saja!" ucap Wilson dengan penuh penekanan membuat Tisya begitu kesal dan kembali ke kamarnya.
"Dasar kolon ....!" gerutu Tisya.
Tisya menutup pintu kamarnya dengan begitu keras hingga membuat Wilson memegangi dadanya karena terkejut.
Hehhhhhh .....
"Memang kenapa dengan rok ku, dia tidak tahu apa kalau rok ini harganya mahal, benar-benar nggak tahu fashion!" gerutu Tisya.
Ia pun segera membuka lemarinya mencari sesuatu yang menurut Wilson pantas untuk di pakai.
"Sebenarnya si kucing garong tuh hidup di jaman apa sih, menyebalkan ...., bisa-bisa aku ikut-ikutan jadi kolon kalau kayak gini!"
Tisya pun akhirnya memilih salah satu celana panjangnya yang warnanya cocok dengan bajunya.
Wilson memilih menunggu Tisya di ruang tamu, sesekali terlihat Wilson mengintip jam tangannya.
"Cuma ganti bawahan aja kenapa lama sekali sih dia, benar-benar membuang waktuku saja!"
Ceklek
"Aku sudah selesai, ayo berangkat! Sekarang sudah sesuai kan sama kriteria aturan baju kamu?"
"Iya ...., begini lebih baik!"
Wilson pun segera menyambar ponsel dan juga jasnya yang sempat ia lepas. Ia pun kembali memakainya dan membuka pintu.
"Mama ....!" ucap Tisya begitu senang melihat siapa yang datang.
"Hai sayang .....! Selamat pagi ....!" sama nyonya Tania sambil memeluk dan mencium pipi putri ya itu.
"Selamat pagi nyonya Tania!" sapa Wilson setelah nyonya Tania melepaskan pelukan Tisya.
Nyonya Tania sudah berdiri di depan rumah mereka dengan serenteng rantang yang ada di tangannya.
Nyonya Tania menoleh padanya, "Selamat pagi Wilson!" sapanya.
Tisya sebenarnya belum terlalu siap untuk bertemu mamanya, biasanya mama nya itu akan banyak bertanya ketika melihat kantong mata Tisya begitu terlihat. Tisya semalaman memang kurang tidur karena terus menangis.
"Mama kesini ada apa?" tanya Tisya.
"Mama bawa sarapan buat kalian!" ucap nyonya Tania sambil mengangkat rantang yang ada di tangannya.
Ia sebenarnya begitu lapar, pengen langsung menyantapnya tapi pasti Wilson akan terus menggerutu, "Tapi ma, kita mau ke rumah kak Frans!"
Tisya akhirnya memilih ikut dengan Wilson ke rumah dokter Frans dari pada menikmati sarapan dari mama nya.
"Ada apa?" tanya nyonya Tania pada Wilson.
"Nyonya Fe sakit, nyonya ...!" jawab Wilson.
Nyonya Tania terlihat begitu terkejut, ingatan kembali pada kejadian di masa lalu saat Felic harus kehilangan bayinya gara-gara pertengkaran itu, "Sakit ....?"
"Iya nyonya!"
"Sakit apa?" tanya nyonya Tania yang terlihat begitu khawatir.
"Kata tuan dokter nyonya demam akibat main hujan-hujanan!"
"Ohhhh astaga ...., mama sudah khawatir banget tadi! Ya udah kalau gitu mama ikut sekalian sama kalian ya!"
"Baiklah nyonya!"
"Tapi ini kalian simpan dulu deh ke lemari pendingin biar bisa buat makan malam kalian!"
"Ya udah Tisya simpen dulu ya ma!"
__ADS_1
Tisya pun meninggalkan nyonya Tania dan Wilson di luar, ia kembali masuk dan menyimpan makanannya.
Sambil menunggu Tisya keluar, nyonya Tania pun segera bertanya pada Wilson.
"Wil ...., apa Tisya ada masalah?" tanya nyonya Tania.
"Itu bisa nyonya tanyakan langsung sama Tisya, nyonya!"
"Tapi anak itu tidak mau cerita sama mamanya kalau lagi sedih! Tapi dia terlihat kalau semalaman kurang tidur!"
Nyonya Tania pasti bisa merasakan perasaan putrinya ...., batin Wilson. Belum sampai Wilson mengatakan sesuatu, Tisya sudah kembali menghampiri mereka.
"Ayo berangkat!" ucap Tisya.
Mereka pun segera menuju ke mobil Wilson yang terparkir di halaman.
"Mama di belakang aja, kamu temenin Wilson di depan ya!"
"Baiklah ....!"
Kini Wilson sudah mulai menjalankan mobilnya saat semuanya sudah masuk.
Setelah lima belas menit akhirnya mobil mereka sampai juga di rumah dokter Frans.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh bi Molly. Bi Molly segera mengantar nyonya Tania dan Tisya ke kamar Felic.
"Sebentar ya!" ucap bi Molly. Ia segera mengetuk pintu kamar dokter Frans.
"Tuan ...., ini saya bibi!" ucap bi Molly di depan pintu.
"Masuk aja bi, nggak di kunci!"
"Tapi bibi bersama nyonya Tania dan nona Tisya, tuan!"
Dokter Frans dan Felic yang mendengar jika ibu dan adiknya datang pun saling menatap satu sama lain.
"Baiklah ...., sebentar ya!"
Dokter Frans begitu gugup saat akan menemui ibunya, ia sampai beberapa kali merapikan penampilannya sebelum membuka pintu.
Ceklek
"Ma ...., Tisya .....! Masuklah ....!" ucap dokter Frans.
"Terimakasih!"
Tisya dan nyonya Tania pun segera masuk, "Bibi ke dapur dulu ya tuan, bibi akan kembali dengan minuman buat mereka!"
"Baik bi!"
Dokter Frans pun kembali menutup pintu, ia menatap dari jauh adik perempuan dan ibunya itu.
"Fe ...., bagaimana keadaanmu?" tanya nyonya Tania.
"Sudah lebih baik ma, Fe cuma demam biasa!"
"Syukurlah ....!"
"Duduklah ma, Tisya ....!"
Akhirnya nyonya Tania dan Tisya pun duduk, nyonya Tania duduk di samping Felic di atas tempat tidur otu sedangkan Tisya duduk di kursi kecil berbetuk lingkaran itu.
"Kamu sudah sarapan?" tanya nyonya Tania yang terlihat begitu canggung.
"Sudah ma ...., bibi membuatkan bubur ayam buat Felic!"
Membicarakan bubur ayah membuat Tisya kembali mengingat perutnya yang lapar.
__ADS_1
kruuuukyuuuuuk
Perut Tisya berbunyi membuat Felic dan nyonya Tania menoleh bersamaan pada Tisya.
Ha ha ha ha ......
Nyonya Tania dan Felic pun tertawa bersamaan, dokter Frans yang sudah mulai berjalan mendekat oun ikut tertawa.
"Maaf ...., tadi belum sarapan soalnya!" ucap Tisya.
"Kamu kasihan sekali sihh sayang ....., kenapa tadi nggak sarapan dulu?" tanya nyonya Tania pada putrinya itu.
"Nggak sempat ma, kalau Tisya pakek sarapan dulu kucing garong itu pasti bakal marah-marah ma!"
"Astaga Tisya ...., sayang ...., kamu kan belum sarapan juga, temenin Tisya sarapan gihhh, aku mau ngobrol-ngobrol sama mama soal persalinan!"
"Baiklah ...., ayo Tisya biar aku temenin!" ucap dokter Frans.
"Beneran nggak pa pa nih aku numpang sarapan di sini?" tanya Tisya.
"Ya nggak papa lah Tis ....!" ucap Felic sambil tersenyum.
"Ayok ....!" ajak dokter Frans lagi.
Tisya pun berdiri, dokter Frans merangkul bahu Tisya mengajaknya menuju ke ruang makan. Makanan sudah siap di sana.
"Makanlah jangan sungkan!" ucap dokter Frans sambil membukakan piring untuk Tisya.
"He ...., iya!"
Banyak banget makanannya, jadi tambah lapar aki ...., batin Tisya tapi ia sungkan untuk mengambil makanan .
"Kalau lapar nggak usah di tahan ...., biar aku ambilkan ya!"
Dokter Frans pun mengambilkan makanan untuk Tisya, "Segini cukup?" tanya dokter Frans.
"Cukup kak, jangan banyak-banyak!" ucap Tisya.
Saat Tisya memanggilnya kak, ada rasa yang aneh. Panggilan itu begitu asing untuknya, tapi sekarang panggilan itu menjadi miliknya.
"Terimakasih ya!" ucap dokter Frans tiba-tiba membuat Tisya menghentikan makannya.
"Kenapa kak? Harusnya Tisya dong yang bilang terimakasih, kak Frans sengaja ya ngingatin Tisya, ya udah deh Tisya terimakasih ya kak udah di kasih makan, enak lagi!"
Mendengar jawaban Tisya membuat dokter Frans tersenyum, "Bukan itu!"
"Lalu apa dong?"
"Terimakasih telah memanggilku kak!" ucap dokter Frans sambil tersenyum.
Spesial visual Tisya
Semoga ini juga mewakili ya
Bersambung
...Aku sama sekali tidak menyesali karena telah jatuh berkali-kali, karena dengan jatuh aku tahu bagaimana caranya kita bangkit dan kembali memulai...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1