
Rangga mulai memperhatikan mobil itu, itu adalah mobil yang cukup familiar baginya,
"Aku tahu itu mobil siapa!" ucapan Rangga berhasil membuat Divta dan Rendi menoleh padanya. Yang awalnya hanya dugaan dari Rendi kini menjadi sebuah bukti baru.
"Siapa?"
"Rizal." sebenarnya Rangga tidak begitu percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan. Selama ini ia sama sekali tidak mencurigai Rizal,. ia tahu jika Rizal menyukai Zea tidak mungkin jika Rizal sampai merencanakan untuk mencelakai Zea.
"Baiklah, mungkin kita butuh camera cctv rumah Rizal pada hari kejadian itu atau setidaknya satu atau dua hari sebelumnya." ucap Rendi lagi.
"Baiklah, aku tahu. Aku akan melakukannya!" ucap Rangga dengan begitu yakin.
Setalah selesai urusannya dengan cctv itu. Rangga pun segera berpamitan dan meninggalkan Rendi juga Divta. Ia berpikir harus bergerak lebih cepat supaya semuanya segera terungkap.
Rendi menatap kepergian Rangga, lalu beralih pada Divta.
"Bang!" panggilnya pada Divta.
"Hmmm?"
"Bukankah dia masih kehilangan ingatannya?"
"Menurutmu?"
"Ingatannya sudah kembali?"
"Hmmm! Aku juga baru tahu hari ini."
...***...
Hari ini hari di mana Zea kontrol kehamilannya. Ia tidak mungkin mengajak Rangga atau bibi. Lagi pula sudah dua hari ini bahkan Rangga tidak menemuinya. Ia berencana untuk datang ke rumah orang tua Rangga sekalian untuk mengembalikan rantang dari mamanya Rangga.
Zea terlebih dulu pergi ke rumah sakit. "Saya masuk sendiri saja ya pak!" ucapnya pada bodyguard nya.
"Tapi nona zea_!"
"Di dalam pasti aman, jadi jangan khawatir!"
Zea pun akhirnya masuk sendiri ke rumah sakit. Ia menemui dokter kandungannya.
"Tidak sama suaminya lagi, bunda Zea?"
"Maaf dok, suami saya sedang sangat sibuk!"
Hingga tiba-tiba pintu di buka dari luar, tampak seorang pria tergesa-gesa membuka pintu,
"Rangga!?" karena begitu terkejut, hingga Zea pun berdiri dari duduknya.
"Maaf saya terlambat!" kedatangan Rangga membuat dokter kandungan Zea tersenyum.
"Silahkan duduk pak Rangga!" ucap sang dokter dan Rangga pun segera berjalan mendekati Zea, mengusap bahu Zea dan ikut duduk sampingnya.
Ini untuk kedua kalinya Rangga menemani Zea kontrol kandungan.
Hingga pemeriksaan selesai , mereka pun keluar dari ruangan. Mereka berjalan beriringan, Zea benar-benar tidak sabar ingin bertanya pada Rangga,
"Ga!"
"Hmmm!"
"Bagaimana bisa kamu_?"
"Ohhh ini, tadi aku ketemu sama Ersya di kantor."
"Nona Ersya?"
"Iya, dia minta tolong saya buat temenin kamu periksa kandungan, karena saya udah tidak ada pekerjaanya jadi saya bersedia. Tapi kamu tidak keberatan kan?"
"Ahhh, tidak! Aku malah seneng kamu temenin!"
"Baiklah, kalau begitu lain kali aku akan temenin kamu lagi!"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya!"
"Makasih ya Ga!"
"Sama-sama!"
Zea pun segera teringat dengan ucapan sang suami. "Aku juga harus berterima kasih sama nona Ersya!"
"Ahhh nggak perlu!"
"Kenapa?"
"Ya aku rasa berterimakasih akan lebih bagus kalau kalian ketemu!"
"Begitu ya?"
"Iya!"
Sebenarnya tentang Ersya hanya alasan Rangga saja. Yang sebenarnya ia bahkan sudah hafal jadwal periksa kandungan Zea.
"Oh iya Ga, sebenarnya hari ini aku berencana mau ke rumah mama kamu!"
"Buat apa?"
"Mau ngembaliin rantang, sekalian bilang terimakasih!"
Gawat, kalau sampai Zea tahu papa sudah jual rumah bagaimana?
"Lain kali aja deh Zee!"
"Kenapa?"
"Soalnya papa sama Mama hari ini lagi nggak di rumah, mereka lagi ke rumah kerabat jauh!"
"Begitu ya? Sayang sekali!"
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan aja sekarang!"
"Baiklah!"
Selagi Zea dan Rangga jalan-jalan, rupanya di tempat lain tuan Seno tengah mendatangi rumah nyonya Widya dengan beberapa polisi.
"Pa, kamu ke sini?" nyonya begitu senang melihat tuan Seno datang.
"Iya, aku sengaja ingin menemuimu!" ucapnya dan nyonya Widya segera memintanya untuk duduk.
"Aku tahu, papa pasti akan melakukan ini." nyonya Widya bergelayut manja di lengan tuan Seno. Ia berpikir kalau tuan Seno akan kembali padanya.
"Ya kamu benar, seharusnya aku melakukan ini dari dulu."
"Aku benar-benar senang akhirnya papa mau kembali sama mama. Mama kangen banget sama papa!"
"Benarkah? Bagaimana kalau dengan ini?" tuan Seno menoleh ke belakang dan beberapa polisi ikut masuk membuat nyonya Widya terkejut. Ia sampai berdiri dari duduknya, kemudian menatap pada tuan Seno lagi,
"Ini apa-apaan pa, apa yang papa lakukan?"
"Duduklah, kalau kamu ingin tahu semuanya!"
Akhirnya terpaksa nyonya Widya kembali duduk dan tuan Seno pun mempersilahkan polisi itu untuk duduk.
"Jadi kedatangan kami ingin mengantar ini!" seorang polisi mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkan pada nyonya Widya.
Dengan ragu nyonya Widya mengambil amplop itu dan mulai membukanya. Tangannya mulai bergetar membacanya, "Ini apa-apaan?"
"Itu adalah surat penangkapan untuk anda, nyonya!"
Nyonya Widya segara berdiri dari duduknya, "Kalian jangan asal bicara, kalian punya bukti apa hingga berani menangkap saya? Kalian tidak tahu siapa saya? Saya bisa menyewa pengacara terbaik untuk ini!"
"Itu bisa anda lakukan nanti, tapi sekarang sebaiknya nyonya ikut dengan kami!"
"Tidak!" tolak nyonya Widya dengan tegas.
"Kamu tidak bisa mengelak lagi Widya. Rusdi, orang suruhanmu juga sudah berada di sana. Jika kamu ingin melakukan pembelaan, sebaiknya lakukan di persidangan!"
__ADS_1
"Kamu tega sekali sih, pa! aku masih istrimu!"
"Tenang saja, surat cerai dari saya akan segera turun!"
"Pa, aku mohon jangan lakukan ini!" nyonya Widya menarik tangan tuan Seno meminta perlindungan.
"Pak, segera bawa dia!" ucap tuan Seno membuat nyonya Widya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Mari nyonya, jangan sampai kami melakukan tindakan!" ancam salah seorang polisi.
"Jangan tarik tangan saya, saya bisa jalan sendiri!"
"Baiklah, mari!"
Akhirnya nyonya Widya dengan pasrah di giring oleh para polisi itu. Meninggalkan tuan Seno yang masih duduk di tempatnya.
Ia segara berdiri dan memperbaiki jasnya yang sedikit berantakan karena ulah nyonya Widya.
Akhirnya satu per satu masalah terselesaikan.
Di tempat Zea dan Rangga, tanpa sengaja mereka di lihat oleh Miska dan teman-temannya.
"Miska, bukankah itu calon suami kamu?" tanya salah satu dari teman Miska.
"Mana?"
"Itu!" tunjuk teman Miska ke arah kedai es krim. Tampak mereka tengah menikmati es krim bersama.
Miska mengepalkan tangannya begitu kesal. "Bisa-bisanya mereka melakukan ini." gumamnya kesal.
"Kamu harus bikin perhitungan, Miska!"
"Ya, kalian benar!"
Miska sudah berdiri dan hendak menghampiri mereka tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Nomor tidak di kenal? Miska mengerutkan keningnya. Ia tampak ragu untuk menjawabnya tapi akhirnya ia menjawabnya juga.
"Hallo!"
"Hallo sayang, ini mama!"
"Kenapa mama panik seperti itu?"
"Tolongin mama!"
"Ini nomor siapa ma?"
"Ini nomor kantor polisi!"
"Kenapa mama bisa di kantor polisi?"
"Nanti mama jelasin, yang terpenting sekarang kamu harus ke sini, mama di kantor polisi xxx!"
"Baik ma, tunggu Miska!"
Miska pun segera mematikan sambungan telponnya, wajahnya berubah panik.
"Ada apa, Miska! Apa yang terjadi sama mama kamu?"
"Aku juga tidak tahu, aku harus temui mama dulu!"
"Baiklah, hati-hati!"
Akhirnya Miska mengurungkan niatnya untuk melabrak Rangga dan Zea. Ia harus segera menemui mamanya di kantor polisi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...