Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Mau ya?


__ADS_3

Rangga baru saja mengakhiri meeting nya dengan salah satu kolega bisnis bersama Divta. Mereka kembali lebih lebih cepat dari pada biasanya.


Seperti biasa, Rangga membukakan pintu untuk Divta sebelum Divta turun.


"Silahkan pak!" ucap Rangga.


"Terimakasih, Rangga!" pria dengan penampilan kerennya itu selalu saja membius setiap orang yang melihatnya. Pria matang itu adalah CEO perusahan namanya Pradivta Anugra Putra kakak dari presiden direktur finityGroup, Diragra Anugra Putra atau biasa di panggil Agra.


Mereka berjalan memasuki pintu masuk kantor yang di gerakan dengan magnet itu.


"Bagaimana menurutmu tentang pembicaraan kita tadi, Ga?" tanya Divta sambil melepaskan kaca mata hitamnya.


“Sepertinya akan sangat menguntungkan perusahaan jika kita memperpanjang masa kerja dengan group EH pak!” ucap Rangga yang sudah berjalan sedikit di belakang Divta itu. Ia merasa kurang pantas saja berjalan mensejajari atasannya itu, jabatannya jauh di bawah orang nomor dua finityGroup itu.


“Iya kau benar, inilah yang aku suka darimu, pekerjaanmu bagus, kamu selalu peka


dengan peluang yang bagus!” puji Divta pada Rangga. Walaupun belum lama tinggal di Indonesia tapi pengalamannya memimpin perusahaan di luar negri menjadikan Divta pria yang di segani di dunia bisnis.


“Terimakasih pak, tapi semua itu tidak akan terjadi tanpa bimbingan pak Divta!” ucap Rangga.


Mereka melewati lobby tapi langkah Divta terhenti, Rangga yang melihat atasannya tiba-tiba menghentikan langkahnya membuatnya ikut berhenti.


Divta melihat seseorang yang sedang tidur pulas di sofa lobby. Ia mengerutkan keningnya karena tidak merasa kenal dengan wanita itu.


Rangga pun ikut menoleh pada apa yang di lihat atasannya. Ia begitu terkejut saat ia menemukan Ersya di sana sedang tertidur pulas.


Ngapain nih anak di sini ….


Divta segera menoleh pada Rangga. “Apa kau mengenalnya?” tanya divta yang masih menatap gadis cantik yang sedang tertidur pulas dengan pakaian rapinya itu.


“Maaf pak, dia teman saya! Sepertinya dia menunggu saya!” ucap Rangga.


“Ya udah aku duluan ya!”


“Iya pak!"


Divta pum segera berlalu menuju ke pintu lift karena ia merasa itu bukan urusannya, ia masih ada pekerjaan lain yang harus di kerjakan ketimbang mengurus hal-hal yang menurut ya tidak penting.


Setelah Divta pergi, Rangga pun menghampiri Ersya.


“Ngapain nih anak tidur di sini?” gumam Rangga sambil mengamati wanita itu. Kemudian ia mengedarkan matanya ke sekitar tempat itu mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membangunkan wanita itu.


Rangga pun akhirnya menemukan sesuatu, ia mengambil bunga yang ada di vas itu setangkai dan mengusap-usapkan ke hidung Ersya


Haaaa haaa cing …..


Ha cing ....


Ha cing ....

__ADS_1


Karena hidungnya merasa gatal, Ersya pun segera bersin hingga beberapa kali.


Ha ha ha


Rangga tertawa melihat wajah lucu wanita yang telah ia bangunkan itu. Ia jadi teringat masa dimana mereka sekolah dulu. Ia paling sering menjahili Ersya dan Felic seperti itu.


Merasa ada yang menertawakannya, Ersya pun segera menoleh kepada pria yang sudah berani menertawakannya.


“Aahhhh ….,gila aja lo kalau bangunin orang kira-kira dong!” gerutu Ersya saat tahu siapa yang sudah menggangunya.


“Tidur tuh di kamar nggak di sini, nggak malu apa di liatin orang! Cantik-cantik


tukang tidur!” ucap Rangga sambil duduk di samping Ersya.


"Nggak pa pa lah dilihatin ...., yang penting gue cantik!" ucap Ersya sambil tersenyum bangga dan merapikan penampilannya.


“Ada apa ke sini?” tanya Rangga, ia heran karena tidak biasanya temannya itu akan mendatanginya. Dulu mereka sudah seperti musuh jarang akur apalagi setelah Rangga memutuskan pergi tanpa kabar dan meninggalkan Felic begitu saja, Ersya semakin benci saja pada pria itu.


“jalan yuk!” ajak Ersya.


Rangga mengerutkan keningnya tidak percaya, “Nggak salah lo ngajak jalan gue?”


“Ini aku minta sebagai bentuk pertanggung jawaban lo ke gue karena lo udah ngirim undangan itu ke gue sama Felic!” ucap Ersya dengan tegas.


"Jadi undangannya udah nyampek ke lo?” tanya Rangga. Ia hanya ingin memastikan jika wanita di depannya itu baik-baik saja.


“Nggak penting! Nggak usah di bahas, ayo aku lapar katanya ngajak jalan!?” ucap Rangga dan segera menarik tangan Ersya.


"Bentar ...., tas gue!" Ersya mengambil tasnya yang sempat ia letakkan di atas meja sebelum ia ketiduran, untung saja pengamanan di sana tidak di ragukan lagi. Setiap sisi ada cctv jadi jika ada kejahatan di dalam kantor itu akan berpikir ratusan kali untuk melakukannya. Jalan terakhirnya hanya dua, hidup atau mati.


Mereka akhirnya sampai juga di sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat kerja Rangga.


Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, tak berapa lama makanan dan minuman itu pun datang. Mereka mendahulukan menyantap makanannya sebelum pembicaraan inti.


"Banyak banget makan mu ternyata!" ucap Rangga melihat bagaimana cara makan Ersya persis seperti Felic. Dua wanita itu memiliki tipe tubuh yang sama, makan banyak tapi nggak gendut.


"Ha ha ha ....., memang benar! Makanya mas Rizal ceraiin aku gara-gara nggak sanggup ngasih makan aku ....!" ucap Ersya masih dengan tertawa. Begitulah Ersya, tidak suka menunjukkan kesedihannya pada orang lain kalau bukan benar-benar orang yang begitu dekat dengannya.


"Kamu beneran nggak sedih, Sya?" tanya Rangga memastikan jika tawa wanita itu benar adanya.


"Gila kali Ga, kalau gue nggak sedih! Tapi nggak perlu lah pamer kesedihan sama orang lain, karena orang lain juga belum tentu bahagia!"


“Baiklah ...., aku terima alasanmu! Sekarang katakan padaku ada apa ngajak aku jalan?”


“Lo lusa temenin gue ke acara itu ya!”


"Acara apa?" tanya Rangga yang memang belum faham dengan acara yang di maksud Ersya.


"Pertunangannya mas Rizal!"

__ADS_1


"Ya aku memang datang Sya! Tapi bukan sama kamu, apa kata orang nanti!"


"Ayolah Ga ...., lo malu ya jalan sama janda makanya nggak mau gue ajak?" tanya Ersya dengan wajah kecewanya.


"Bukan begitu Sya! Ada alasan lain yang nggak perlu aku jelasin sama kamu!"


“Ayo lah Ga ....., gue maksa beneran nih! Lo tega apa biarin gue datang sendiri ke pertunangan mantan suami gue! Gue cuma pengen nunjukin ke mereka jika aku juga punya pasangan! Cuma pura-pura aja Ga!"


“Nggak mau, Sya ....! Nanti bakal nimbulin masalah baru kalau aku datang sama kamu!”


"Kenapa? Masalah apa?"


"Sudah ku bilang, nggak perlu aku jelasin dan kamu juga nggak perlu tahu!"


“Plisssss Ga …., mau ya ...., plisss plissss plisss!”


“Nggak mau!”


Karena Rangga terus saja menolah, tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan jurus jitunya. Sebenarnya jurus ini biasa Ersya berikan pada Felic kalau Felic nolak kemauannya.


“Hiks hiks hiks .....! Lo tega banget sama gue, Ga!” rancau Ersya di sela tangisnya.


Melihat Ersya menangis, Rangga begitu panik. Ia segera bangun dari duduknya dan menghampiri Ersya. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Ersya yang bergetar.


“Ehhh .... ehhhh .... jangan nangis di sini, ntar aku di kira ngapa-ngapain kamu!”


“Gue bakal jadi bahan ketawaan di sana, lo mau liat gue kayak pecundang dan mereka


bermesraan di depan gue, sakit banget pasti Ga!” rancau Ersya lagi sambil menatap Rangga dengan pipi yang sudah basah karena air mata.


Rangga pun segera menghapus air mata Ersya. Ia juag tidak tega jika seperti itu, ini tidak akan adil untuk Ersya. "Ok ok deh …, aku temenin!”


Mendengar Rangga menyanggupi permintaannya, Ersya pun segera memeluk pria itu. “Makasih …, kamu baik banget sih!”


"Jangan meluk-melu …, ntar di liat orang!”


"Pelit banget .....!"


...Nggak perlu lah pamer kesedihan sama orang lain, karena orang lain juga belum tentu bahagia ~Ersya...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2