
Kini Rangga sudah berada di depan sebuah apartemen, ia menatap apartemen yang tidak sebesar seperti miliknya. Seharusnya akan sangat mudah untuk mencari tahu.
Bukan tempat tinggal sepupunya yang menjadi tujuannya kali ini, tapi sebuah ruang kecil yang menjadi pusat informasi dari gedung bertingkat itu.
Tok tok tok
Tangannya mulai mengetuk, seorang pria berbaju keamanan tengah duduk di dalam ruangan itu. Ia mendongakkan kepalanya begitu menyadari ada yang tengah memperhatikannya.
"Silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu?"
Rangga pun akhirnya memilih untuk duduk di kursi yang berbentuk lingkaran itu.
Rangga pun akhirnya mengutarakan tujuannya,
"Maaf pak, tapi rekaman cctv tidak bisa di berikan oleh sembarang orang!"
"Percayalah ini tidak akan menjadi masalah untuk anda, saya jamin ini!"
Akhirnya dengan sedikit uang, pria itu menyerahkan rekaman cctv yang terjadi pada hari itu di base ment dan juga pintu masuk.
Mau bagaimana lagi, semua akan di permudah dengan uang.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Rangga pun segera meninggalkan tempat itu.
"Rangga!?"
Seseorang sepertinya mengetahui keberadaan Rangga, Rangga terpaksa menghentikan langkahnya.
"Bang!"
Rizal sepertinya baru saja masuk, "Kamu dari mana?"
Rangga harus beralasan, ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya, "Aku sengaja ke sini!"
"Ke sini?"
"Ya, tadi dari restauran kamu. Tapi ternyata kamu tidak ada. Jadi aku pikir mungkin kamu di sini!"
Rizal mengerutkan keningnya, "Tidak biasanya?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan sama bang Rizal!"
"Baiklah, kalau begitu kita masuk. Kita bicara di dalam saja, sekalian minum kopi. Kita sudah lama kan tidak melakukannya!" sikap Rizal benar-benar seperti saudara yang sangat akrab.
...***...
Di tempat lain, Zea yang tidak ingin segera pulang jadi punya ide.
"Pak kita ke toko kue ya!" ucapnya pada bodyguard nya.
"Baik nona!"
Mobil yang ia tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah toko kue.
"Tunggu sebentar ya pak, tidak usah ikut masuk. Zea nggak lama!"
"Baik nona!"
Zea akhirnya masuk sendiri, ia memilih beberapa kue dan meminta pelayan toko untuk mengemasnya dengan rapi.
Hanya beberapa menit saja dan Zea sudah keluar kembali.
"Silahkan nona!" seperti biasa sopir akan membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Terimakasih pak!"
"Kita mau ke mana nona?" tanya bodyguard nya lagi setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Tolong antar saya ke rumah papa Beni, ya!"
"Baik nona!"
Akhirnya mobil itu kembali melaju menuju ke sebuah rumah yang sudah hampir satu Minggu ini di tinggalkan pemiliknya,
Saat ia turun, ia melihat rumah yang terlihat sepi itu.
"Kenapa rumahnya sepi ya pak?"
"Biar saya cek dulu nona!"
Bodyguard Zea pun akhirnya masuk dan mengecek ternyata hanya ada satu pembantu rumah tangga yang tengah bersih-bersih di halaman belakang.
Dan tak lama bodyguard Zea kembali,
"Bagaimana pak?"
"Pak Beni dan keluarga ternyata sudah meninggalkan rumah ini satu Minggu yang lalu."
"Karena apa?"
"Katanya rumah dan toko sudah di jual!"
Kenapa?
Zea sampai memundurkan langkahnya karena terkejut, menyandarkan tubuhnya ke mobil,
"Nona, nona tidak pa pa?"
"Kalau tidak salah, rumah yang pernah nona tempati waktu itu."
"Kita ke sana, pak!"
Zea segera meninggalkan tempat itu, ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan ayah mertuanya. Setidaknya mengetahui kabar mereka sekarang.
Kenapa mereka menjual semuanya? Apa karena hutang itu? Lalu kenapa Rangga tidak mengatakannya?
Zea pun kemudian mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas. Ia ingin menghubungi papanya dan memberitahu semuanya pada papanya.
"Pa!"
"Iya nak, ada apa? Kenapa denganmu?"
"Pa, Zea baru saja dari rumah papa beni. Tapi ternyata mereka_!"
"Papa sudah tahu nak!"
"Jadi papa tahu? Kenapa papa nggak cerita sama Zea?"
"Maafkan papa nak, papa tidak ingin kamu kepikiran. Papa sudah menawarkan bantuan pada Rangga tapi Rangga masih menolaknya!"
"Apa semua itu karena hutang mama pada nyonya Widya?"
"Jadi kamu juga tahu soal itu?" tuan Seno malah kembali bertanya. Ia tidak menyangka jika Zea tahu.
"Iya pa, Zea tidak sengaja dengar waktu itu!"
"Ya udah kamu jangan khawatir, kamu sekarang di mana?"
__ADS_1
"Zea mau ke rumah papa Beni yang lama."
"Tapi kamu tidak pa pa kan?"
"Tidak pa pa, pa! Papa jangan khawatir!"
"Baiklah, hubungi papa jika ada apa-apa!"
"Iya pa, pasti!"
Zea pun mengakhiri panggilannya saat mobilnya sudah mulai memasuki halaman rumah itu. Terlihat di depan rumah, papa beni dan istrinya tengah duduk berdua menikmati suasana sore hari di pinggiran kota.
Tampak mereka segera berdiri begitu melihat mobil yang berhenti tepat di halamannya, Zea pun segera turun membuat pak beni tersenyum melihatnya.
"Zea!?" pak Beni segera menghampiri Zea dan menyambutnya berbeda dengan sang istri yang masih berdiri di tempatnya.
"Papa, apa kabar papa?"
"Seperti yang kamu lihat, papa sangat baik!" ucap pak Beni sambil meregangkan kedua tangannya.
"Kenapa papa tidak cerita kalau papa menjual rumah dan toko?"
"Tidak masalah Zea, begini lebih baik. Ayo masuklah!"
Hingga akhirnya langkah Zea terhenti tepat di samping mama Rangga,
"Tante, bagaimana kabar Tante?"
"Saya baik, bagaimana kabar kamu_?" tampak mama Rangga menghentikan ucapannya sejenak lalu melanjutkannya lagi, "_dan kandungan kamu?"
"Zea dan kandungan Zea baik Tante. Oh iya terimakasih ya Tante, makanannya kemarin enak!" Zea tersenyum agar suasana tidak lagi canggung.
Tiba-tiba mama Rangga menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di kaki Zea, beruntung Zea segera menghentikannya,
"Tante apa-apaan, jangan seperti ini bangunlah!"
"Zea, maafkan saya ya. Maafkan semua khilaf yang pernah saya buat sama kamu!"
"Iya, tapi Tante bangun dulu. Nggak enak di lihat tetangga!"
"Iya ma, bangun. Malu sama tetangga!" ucap pak Beni ikut memperingatkan istrinya, "Sebaiknya kita masuk dan bicarakan ini di dalam!"
Akhirnya mereka pun setuju untuk masuk. Mama Rangga masih menggenggam tangan Zea dan terus memohon,
"Sungguh kesalahan mama tidak pantas untuk dimaafkan, tapi beri kesempatan buat mama untuk berbuat yang lebih baik."
"Pasti ma, Zea juga tidak sepenuhnya benar ma, seandainya saja saat itu Zea dan Rangga bertanya dulu pada mama sebelum menikah. Pasti kejadiannya juga tidak akan seperti ini, jadi berhenti menyalahkan mama sendiri!"
"Mama benar-benar tidak tahu diri Zea, bisa-bisanya mama dibutakan oleh sayang mama pada wanita yang jelas-jelas tidak tulus mencintai rangga dan keluarganya, tapi mama malah menyia-nyiakan kamu yang jelas-jelas begitu baik!"
"Mama Jangan terlalu banyak memuji, Zea juga tidak sebaik itu!"
"Sudah-sudah, papa jadi pusing sendiri lihat kalian seperti ini. Baiklah sekarang kita bisa menjadi keluarga yang utuh, papa senang!"
Akhirnya mereka bertiga pun saling berpelukan selayaknya keluarga yang bahagia. Ternyata kesederhanaan telah mengubah semuanya, mengubah keras kepala seseorang begitu pula dengan pandangannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...