Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (23. Langkah pertama Rangga)


__ADS_3

Zea pun mengamati pria itu, ia bisa melihat jika pria di depannya tidak begitu suka dengan mie yang ada di depannya.


"Apa bapak tidak biasa makan mie instan?"


Pak Beni tersenyum, sebenarnya lambungnya sering bermasalah. Ia memesan mie hanya untuk alasan saja agar mereka bisa mengobrol.


"Terlihat sekali ya?"


Zea tersenyum dan menganggukkan kepalanya,


"Kalau bapak nggak biasa makan mie, nggak usah di paksain. Kasihan lambungnya, apalagi bapak minum kopi juga!"


"Terimakasih sudah mengingatkan, bagaimana kalau mie ini untukmu saja, kamu temani bapak ngobrol!" Pak Beni menyodorkan satu cup mie itu untuk Zea.


"Jangan pak!"


"Nggak pa pa, nanti aku yang bayar! Itung-itung ini upah karena kamu sudah dengan rela hati temani bapak tua ini ngobrol bagaimana?"


"Saya tidak bisa menerimanya dengan cuma-cuma, bagaimana kalau saya punya gantinya buat bapak?"


Zea pun langsung beranjak dari duduknya, ia mengambil kotak makan siang yang belum sempat ia makan dan ia simpan di laci mejanya, tadi pas jam makan siang ia tidak sempat membukanya. Ia sampai lupa jika belum makan siang, karena kerap melewatkan makan siangnya, ia harus sering mengkonsumsi obat pereda maag.


"Maaf ini sudah dingin, tapi sepertinya ini lebih sehat dari pada mie instan!"


"Kamu belum makan siang?"


"Tadi tidak sempat pak!"


Zea dengan telaten membukakan kotak makan siang itu, pak Beni langsung terpana melihat nasi dan lauk yang di hias itu. Itu sama persis seperti milik seseorang.


Rangga dulu kerap membuatkan makan makan siang untuk papanya setiap kali akan pergi bekerja, di luar negri rangga sempat kursus memasak untuk mengisi waktu libur panjangnya dari pada pulang kembali ke Indonesia. Ia punya cita-cita untuk membuka rumah makan sendiri saat sampai di Indonesia tapi ternyata ibunya malah memintanya untuk melamar pekerjaan di perusahaan besar sekelas finityGroup.


Walaupun awalnya ragu tapi akhirnya Rangga mendapatkan posisi yang cukup bagus di perusahaan itu, setidaknya ia menjadi salah satu dari hanya sekian puluh orang kepercayaan finityGroup dan ia mendapatkan kehormatan yang istimewa.


Mendapatkan gaji yang fantastis, fasilitas yang istimewa dan tentunya pengamanan, hal itu juga harus ia bayar dengan dedikasinya yang tinggi terjadi perusahaan dan keluarga finityGroup tentunya.


Tiba-tiba sudut mata pria tua itu berair, dengan cepat ia menghapusnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.


"Pasti seseorang yang istimewa yang sudah memberikan ini padamu!"


"Begitulah!" walaupun ragu tapi Zea mengakuinya.


"Baiklah, ayo makan! Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, jika kerap mengabaikan makan siangmu itu tidak baik untuk kesehatan! Lain kali minta suamimu untuk lebih memperhatikanmu, minta dia untuk jangan egois!"


Mendengar penuturan pria tua di depannya, ia hanya bisa tersenyum. Ia seperti sedang berhadapan dengan papanya sendiri walaupun ia belum tahu gimana rasanya memiliki seorang papa tapi setidaknya melalui pria di depannya ia bisa merasakan kehangatan itu.


Sepanjang makan mereka pun mengobrol kan hal-hal kecil, sesekali mereka tertawa saat ada hal lucu yang sedang di bahas.


"Oh iya sedari tadi kamu menemani saya makan, memberikan makan siang mu untuk ku, tapi kamu belum memberitahu siapa nama kamu?"


Zea pun menunjukkan tag nama di bajunya, "Nama saya Zea pak!"


"Nama yang bagus, kamu juga baik!"


"Terimakasih atas pujiannya!"


"Sepertinya kita akan sering bertemu setelah ini!"


"Mintalah seseorang untuk mengantar bapak kalau ingin ke sini, jarak rumah bapak ke sini cukup jauh!"


"Kaki bapak yang renta ini masih cukup kuat hanya untuk jalan ke sini, terimakasih ya untuk waktunya!"


"Sama-sama!"

__ADS_1


Pak Beni segera berpamitan saat langit sudah mulai berubah menjadi orange.


Zea terus memandangi pak Beni dari kejauhan, rasanya begitu hangat bisa berbicara banyak dengan pria itu.


"Begitu ya rasanya punya ayah?" gumamnya pelan.


"Rasa di perhatikan, hehhhh ....!"


...***...


Langit sudah berubah menjadi gelap mentari sudah bersembunyi di peraduan berganti dengan bintang dan bulan yang saling bersaing menampakkan sinarnya.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah berlantai dua itu,


"Papa pesan taksi?"


"Enggak! Mama kali?"


"Enggak pa, memang mama mau ke mana malam begini!"


"Ya siapa tahu mau pergi sama teman-teman arisan!"


Di sela debat mereka tiba-tiba asisten rumah tangga itu berbicara dengan keras sedang menyapa seseorang di depan.


"Ya Allah den Rangga, akhirnya pulang juga!"


"Papa sama Mama di rumah, bi?"


"Iya den, itu sedang santai di depan tv!"


Sepasang suami istri itu segera berdiri dan hendak menyambut putranya.


"Ya ampun Ga, dari mana saja? Mama khawatir sama kamu!"


"Memang kamu mau ke mana?"


"Rangga nggak akan tinggal di sini lagi!"


"Kamu ngomong apa sih? Bagaimana papa sama Mama kalau kamu pergi?"


"Mama bisa kasih kabar sama Rangga kalau ada apa-apa!"


"Jadi kamu baru mau datang kalau mama atau papa kenapa-kenapa?"


"Sudah ma, Rangga capek berdebat terus sama mama, Rangga ke kamar dulu!"


Rangga pun segera meninggalkan papa dan mamanya. Papa Rangga terlihat lebih santai dari pada mamanya, ia tahu ke mana putranya itu akan pergi, ia juga tahu kemana ia akan mencari putranya saat merindukannya.


Setidaknya ini lebih baik ....


Mama Rangga segera menoleh pada suaminya,


"Pa ...., papa kok tenang aja gini sih!?"


"Memang papa harus apa?"


"Bujuk Rangga dong pa agar dia tidak pergi! Rangga kan lebih nurut sama papa di banding sama mama!"


Pak Beni pun meletakkan koran yang sedari tadi ia pegang, ia pun segera berjalan menghampiri kamar putranya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Ga, ini papa!"


"Masuk aja pa, nggak di kunci!"


Pak Beni pun segera membuka pintu kamar itu, melihat Rangga sedang memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam koper.


"Kamu yakin mau pergi dari sini?"


"Iya pa, Rangga nggak bisa terus begini! Rangga sudah dewasa, Rangga harus bisa memutuskan semuanya sendiri."


"Papa dukung apapun keputusan kamu, papa tahu ini yang terbaik buat kamu!"


Mendengar ucapan papanya, Rangga segera menghentikan kegiatannya.


"Jaga dia dengan baik jika menurutmu dia yang terbaik buat hidup kamu!"


"Papa tahu?"


"Papa tahu apapun yang terjadi pada putranya, kamu besar di pangkuan papa, di dekapan papa, apa yang kamu senangi apa yang kamu tidak suka, papa tahu!"


Rangga benar-benar terharu dengan ucapan papanya, dengan cepat ia memeluk papanya.


"Terimakasih pa!"


"Segera kenalkan dia dengan resmi pada papa!"


"Rangga tahu, Rangga harus segera melakukannya!"


"Kalian sudah menikah?"


Rangga pun mengangukkan kepalanya.


"Maafkan Rangga karena telah mengecewakan papa!"


"Tidak, papa tahu kamu punya banyak pertimbangan melakukan hal ini, pasti salah satunya karena mama!"


"Papa tahu sendiri bagaimana mama, Zea bukan wanita yang sesuai dengan kriteria mama, tapi Rangga bisa jamin kalau Zea wanita yang sangat baik!"


"Papa tahu, papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kalian!"


"Terimakasih pa!"


"Papa tunggu kabar baiknya!"


"Maksudnya?"


"Memang sampai kapan kamu membiarkan papa menunggu seorang cucu!?"


Rangga tertawa hari mendengarkan penuturan papanya.


Setelah selesai mengemas barang-barangnya, Rangga pun segera berpamitan untuk pergi tidak peduli bagaimana mamanya penghalanginya.


"Jaga diri kalian baik-baik!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2