
Bu Ambar pun memberikan amplop itu pada tuan Seno.
"Buka saja nanti jika kalian sudah sampai di rumah kalian. Aku benar-benar tidak ingin melihat apapun yang berhubungan dengan penderitaan Chintya."
Atas permintaan Bu Ambar, akhirnya Zea dan tuan Seno pun mengurungkan niatnya untuk membuka amplop itu di rumah Bu Ambar.
Setelah cukup larut, akhirnya mereka pun berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, baik Zea maupun tuan Seno sama-sama diam, mereka tengah membayangkan bagaimana kehidupan Chintya yang begitu menderita selama hidupnya gara-gara ulah seseorang yang Meraka yakini adalah nyonya Widya.
Hingga hampir jam tiga pagi mereka baru sampai di rumah,
"Kamu istirahat dulu ya, nak!" ucap tuan Seno sambil mengecup kening putrinya.
"Iya pa, besok saat papa buka amplop itu, Zea juga ingin lihat!"
"Iya! Tidurlah sekarang. Sampai jumpa besok pagi."
Walaupun enggan, akhirnya Zea masuk juga ke dalam kamarnya, rasa penasarannya membuatnya jadi sulit untuk tidur.
Begitu juga dengan tuan Seno, ia benar-benar tidak sabar menunggu hingga esok hari saat matahari terbit. Akhirnya ia di temani ajudannya memilih menuju ke ruangan kerjanya, mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan semua isinya.
Ternyata ada surat visum atas Chintya, bukti rekaman suara dan juga flashdisk yang berisi beberapa bukti kejahatan. Termasuk rekaman cctv dimana dia dan bayinya hampir saja di habisi oleh seseorang yang bernama Rusdi atas perintah Widya.
"Bagaimana dia bisa Setega ini sama Chintya? Sebenarnya dendam apa yang di simpan Widya pada Chintya hingga ia bisa menyakiti Chintya hingga seperti itu?" gumam tuan Seno. Ia bahkan tidak mampu menyelesaikan Video itu saat melihatnya, hatinya ikut sakit melihat hal itu.
"Apa Tidka sebaiknya semua bukti ini kita serahkan pada polisi, tuan?"
"Kita tunggu hingga besok, setalah Zea melihatnya!"
"Tapi apa tidak pa pa jika nona Zea melihatnya?"
"Dia wanita kuat. Dia pasti bisa mengendalikan emosinya!"
"Baik tuan."
...***...
Pagi-pagi sekali, Zea sudah rapi. Ia sudah bersiap untuk berangkat kerja. Tapi ia tidak berdandan sepagi ini untuk cepat-cepat ke kantor melainkan untuk cepat-cepat menemui papanya, ia tidak sabar untuk melihat beberapa bukti itu.
"Pa, ayo!"
"Kemana nak?" tuan Seno tampak bingung saat Zea menghampirinya ke kamar dengan pakaian rapi.
"Kita harus melihat semua bukti yang mama simpan."
"Tapi kenapa harus sepagi ini?"
"Zea tidak sabar pa, biar nanti kita bisa langsung ke kantor polisi pa!"
"Baiklah, tunggu papa sebentar di ruang kerja papa, papa mau siap-siap dulu."
"Baik pa."
__ADS_1
Zea pun segera menuju ke ruang kerja papanya, ia sudah bisa melihat amplop itu di atas meja tapi ia tidak berniat untuk melihatnya sendiri. Ia takut dengan isi amplop itu, ia takut jika tidak akan kuat.
Hingga lima belas menit kemudian tuan Seno datang bersama ajudannya.
"Kamu sudah siap?"
"Siap pa!"
Tuan Seno pun meminta bantuan ajudannya untuk memutarkan beberapa rekaman cctv, dan benar saja baru setengah jalan Zea sudah menangis tersedu-sedu. Ia tidak bisa membayangkan jika ia berada di posisi mamanya saat itu.
Pasti rasa takut dan putus asa sudah melanda tapi mamanya masih begitu getol melindungi dirinya.
"Sudah pa, cukup!" akhirnya setelah mendengarkan ucapan Zea, ajudan tuan Seno segera mematikan layar tv itu.
Tuan Seno segera memeluk putrinya, "Kamu yang sabar ya sayang!"
"Pa, nyonya Widya harus mendapatkan hukuman yang setimpal pa."
"Iya, papa tahu. Selain bukti dari mama kamu sebenarnya papa juga sudah mengumpulkan bukti lain untuk semakin menjerat Widya, jadi kamu jangan khawatir!"
Tapi saat mendengar itu, tiba-tiba Zea mendongakkan kepalanya, menatap wajah papanya. Ia memastikan jika papanya sekarang sedang baik-baik saja. Mau bagaimanapun nyonya Widya tetaplah istri sah dari sang papa,
"Pa!?"
"Hmmm?"
"Papa tidak pa pa?"
"Jangan khawatir sayang, papa juga sudah mengurus surat cerai itu. Jadi apapun yang terjadi pada Widya, tidak akan berpengaruh apapun pada perasaan papa. Untuk saat ini, papa hanya ingin bahagia bersama kamu dan calon cucu papa. Itu saja!"
"Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah apapun dalam hal ini, mereka yang salah jadi mereka yang harus menanggung semuanya kesalahannya."
Zea tersenyum, "Zea bangga sama papa!"
"Papa juga bangga sama kamu, sudah ayo kita sarapan. setelah itu kita ke kantor polisi untuk membuat laporan!"
"Baik pa!"
...***...
Di tempat lain, Rangga yang sudah mengingat semuanya mulai menata kembali hidupmua. Walaupun ia tidak mengatakan kepada siapapun Tentang kesembuhannya termasuk kedua orang tuanya ia ingin segera menyelidiki kronologis kecelakaannya waktu itu.
"Ga, ini masih pagi. Kamu mau ke mana rapi sekali?" terlihat mama Rangga tengah menyiapkan sarapan di rumah lama mereka yang tampak begitu sederhana, bahkan ubinnya saja masih dari semen, tidak ada keramik yang terpasang. Bahkan dindingnya sebagian masih kayu hanya bagian bawah saja yang sudah semen.
"Rangga ada pekerjaan lain, Rangga berangkat dulu ma!"
Rangga hanya meminum susunya, ia berjalan cepat meninggalkan mamanya tapi saat baru akan mencapai pintu, tiba-tiba mamanya memanggilnya kembali.
"Ga!?"
"Iya ma?"
"Nanti ketemu Zea kan?"
__ADS_1
Rangga berpikir, tidak biasanya mamanya membicarakan tentang Zea. "Iya, ada apa ma?"
"Ini!" mama Rangga menyerahkan sebuah rantang pada Rangga.
"Ini apa ma?"
"Itu makan siang buat Zea, kalau Zea tidak mau kamu bisa makan sendiri!"
"Mama serius?" Rangga begitu terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh mamanya.
"Iya, mama serius. Ya udah lah mama mau beres-beres dulu."
"Iya ma, Rangga berangkat!" Rangga pun akhirnya membawa rantang itu, rasanya hari ini ia begitu senang. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah mamanya bersikap begitu manis dengan istrinya, walaupun sekarang statusnya masih beda.
Setelah menjalankan motornya, akhirnya ia sampai juga di tempat yang ia tuju. Bukan kantor atau rumah Zea, tapi sebuah jalan yang ada di dekat taman.
Ia kembali ke tempat kejadian waktu itu, walaupun samar ia masih ingat di mana kejadiannya, ia pun akhirnya bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar tempat itu termasuk para pedagang kaki lima, mengumpulkan keterangan dari mereka bersikap seolah-olah dia adalah reporter.
Setalah selesai dengan orang-orang di sekitar, langkah kedua ia pun mendatangi kantor keamana, ia meminta beberapa rekaman cctv yang ada di sana.
Dari rekaman itu, ia mendapatkan sebuah plat mobil yang dengan sengaja menabrak meteka.
Dan ternyata mobil itu sudah berada di kantor polisi. Dengan plat yang sudah berbeda. Jadi bisa di simpulkan Jik perlakuan sengaja menutupi plat aslinya dengan plat yang palsu.
Akhirnya polisi memberikan sebuah nama yang akhir-akhir ini menjadi pusat penyelidikan beserta alamat yang baru saja ia dapat.
Rangga pun bergegas mencari alamat rumah itu beserta orangnya. Tapi saat ia sampai di rumah itu, bahkan rumah itu terlihat sudah lama kosong.
"Dia pasti sudah kabur." gumamnya sambil menunjukkan kepalan tangannya ke dinding.
Tapi saat ia berbalik, Divta ternyata sudah berdiri di belakangnya. Ia tanpa sengaja ia bertemu dengan Divta di sana.
"Pak Div?"
"Ga, kamu di sini?"
Mereka pun akhirnya duduk di tepi jalan, Rangga terpaksa menceritakan pada Divta kalau dirinya sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Saya harap pak Divta dapat menyembunyikan rahasia ini sampai saya bisa menemukan pelaku yang sebenarnya. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat."
"Baiklah, saya mengerti. Sebaiknya kita membicarakan hal ini lebih lanjut di tempat yang aman. Sepertinya di sini hanya jebakan saja, sepertinya kita sudah melewatkan beberapa hal. Kebetulan saya sudah mendapatkan kopian dari hasil rekaman cctv dari beberapa posisi. Kita bisa memeriksanya bersama-sama, siapa tahu ada yang terlewatkan dari kita."
"Baik pak."
Mereka pun Akhirnya meninggalkan lokasi itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...