Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Bagaimana? Mau tinggal di rumahku


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dari ayah mertuanya, dokter Frans pun segera mengejar Felic, ia


ingat saat itu Felic suka sekali menyendiri di gang buntu itu.


Walaupun sedikit jauh tapi dokter frans memilih untuk jalan kaki, ia sekalian ingin


melihat sekeliling tempat itu yang mungkin sebentar lagi akan ia tinggalkan. Setelah


mereka semua tahu siapa dia sebenarnya dan Felic bisa memaafkannya, ia


berencana untuk memboyong felic dan keluarganya ke rumah besarnya.


***


Felic mengayuh sepedanya begitu cepat melewati begitu saja para tetangga yang


menyapanya.


*Bodohnya aku ....., kenapa aku bisa nggak tahu sih .....


Kenapa aku dulu tidak cari tahu dulu sih siapa Frans sebenarnya? Kenapa juga aku berani-beraninya memintanya menikah dengan ku? Lancang banget sih lo Fe* .....


Sekarang otaknya sedang di penuhi berbagai banyak pertanyaan.


Malang bener nasib gue ...., nggak bisa nikah sama Rangga eh malah minta di nikahi sama sultan ....., mati kutu gue ....


Ia segera menjatuhkan sepedanya begitu saja begitu sampai di tempat yang sedang ia tuju,


gang buntu yang sepi itu, hanya ada ladang dan tanaman tak terurus di sana, di tempat itu ia bisa bebas mengekpresikan perasaannya karena jarang ada yang berani datang ke sana.


Brekkkk


Ia bahkan tidak peduli dengan sepedanya yang tergeletak begitu saja di tanah tanpa ia meletakkan jagangnya.


"Hehhhhh .......!"


Felic hanya bisa diam di sana, ia belum bisa mengucapkan apapun ia hanya terus menghembuskan nafas kasarnya beberapa kali untuk mengurangi rasa penatnya.


“Aaaaaaaa …..!” Felic berteriak membebaskan segala perasaan yang ada di dalam hatinya.


“Aaaaaaa….!” Felic kembali berteriak hingga ia merasa lega.


Felic menatap hamparan rumput luas itu dengan banyak pohon liar di sana. Ia menatap nanar ke tempat yang tak berujung itu.


“Ya Allah …, gue bingung ….., ingin ketawa tapi juga pengen nangis ….!” keluhnya pada Allah. Ia tidak pandai berdoa, tapi sholat adalah kewajiban yang tidak bisa ia tinggalkan walaupun ia bukan pribadi yang religi.


“Ya Allah …, ini kebenaran yang bagaimana? Gue bahkan bingung harus bersikap


bagaimana? Siapa suami yang telah Engkau kirimkan untuk gue? Kenapa rasanya


seperti mimpi gini …!”


Cukup lama Felic terdiam, ia mencoba kembali mengingat kebodohan-kebodohan yang telah


ia lakukan selama ini, ia sering sekali mengerjai pria yang sudah menjadi suaminya itu, jika ia tahu dari awal jika suaminya itu bukan orang biasa, ia mungkin akan berfikir ribuan kali untuk meminta pria itu menikahinya.


“Ya Allah …, bagaimana ini? Gue malu untuk ketemu sama dia!” keluh Felic.


Puk


Tiba-tiba


kepalanya di pukul dari belakang membuat felic terkejut karena ternyata ada orang lain di tempat itu dan mendengarkan semua keluhannya.

__ADS_1


“Kalau malu tutup tuh muka pakek sarung!”


Felic mengenali suara siapa itu suara yang sedang malu untuk ia dengar saat ini, ia semakin memejamkan matanya. Ia benar-benar tak sanggup untuk menoleh ke belakang, tapi sepertinya pria itu malah duduk di


sampingnya.


“Buka mata lo!” perintahnya membuat Felic menggelengkan kepalanya.


Pria itu adalah dokter Frans, dari kejauhan ia bisa melihat wanita yang sudah


menjadi istrinya itu sedang duduk di tanah sambil berteriak-teriak seperti orang


gila membuatnya geli sendiri mendengarnya.


"Yakin nih tetep nggak mau buka mata?" tanya dokter Frans lagi dan lagi-lagi Felic kembali menggelengkan kepalanya.


"Baiklah ...., kalau gitu jangan salahkan gue kalau cium lo!" ucap dokter Frans sambil mendekatkan bibirnya ke pipi Felic, Felic yang dapat merasakan hembusan nafas dokter Frans di pipinya segera menahan bibir dokter Frans dengan tangannya.


"Upssss ....!"


"Jangan macam-macam ya di sini, banyak setan!" ucap Felic sambil terus menahan bibir dokter Frans walaupun matanya masih terpejam.


"Nggak dosa kali Fe, sudah halal juga!" keluh dokter Frans sambil menjauhkan bibirnya, "Ya udah kalau nggak mau di cium, buka tuh mata!"


“Frans!” ucap Felic sambil perlahan-lahan membuka matanya, ia mulai memberanikan diri


menatap dokter Frans.


‘kenapa?”


tanya dokter Frans melihat wajah Felic yang merona merah tampak sekali kalau dia sedang malu.


“Maaf karena gue selama ini selalu ngerjain lo, tapi kalau lo mau ceraiin gue, gue


nggak akan nglarang lo karena gue jelas-jelas bukan tipe lo kan!” ucap Felic


dengan pria di sampingnya itu. Ia hanya seorang office girl sedangkan pria di


sampingnya adalah seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit besar itu.


Mendengarkan ucapan Felic membuat dokter frans berdecak, ia kesal sekaligus gemas dengan kepolosan wanita di sampingnya itu. Setelah tahu siapa sebenarnya dia bukannya


meminta rumah atau mobil ia malah minta di ceraikan.


"Pengen banget gue ceraiin!" gumam dokter Frans.


"Nggak bukan gitu!" teriak Felic kemudian, jelas saja ia tidak ingin di ceraiin. Ia sudah mulai nyaman dengan pria di sampingnya itu terlepas dari dia itu siapa.


"Kalau nggak mau, nggak usah lah ngomongin cerai segala!"


"Emang nggak pa pa?" Felic benar-benar nggak ngerti jalan pikiran pria di sampingnya itu, jika dia orang kaya kenapa memilihnya untuk jadi istrinya yang jelas saja wanita cantik mana pun pasti mau jadi istrinya. Dia kaya, berkuasa, tampan sudah pasti, pintar dan soleh juga.


"Memang ada yang larang lo nikah sama gue?"


"Nggak sih ....!"


"Ya udah berarti aman kan, asal lo nggak terus harapin si Rangga buat gantiin gue aja!"


"Siapa juga yang harapin dia!" ucap Felic sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena dokter Frans membahas Rangga di antara mereka.


"Ya siapa tahu, kan beberapa minggu lalu lo masih nangis-nangis gara-gara gagal nikah sama dia!"


"Sudah masa lalu, nggak usah di bahas!"

__ADS_1


"Ya udah deh, sekarang kan lo udah tahu siapa gue, lo boleh minta apa aja sama gue sebagai suami lo!"


"Emang gue harus minta apa?"


“Ya apa gitu! Emang lo nggak pengen apa-apa gitu dari gue?”


“hehhh?’


Felic bingung dengan pertanyaan dokter Frans.


Kalau boleh gue minta hati lo ......, batin Felic tapi jelas itu masih sulit karena yang ia tahu suaminya menikah bukan karena cinta.


Melihat Felic tetap terdiam, dokter Frans pun menjadi penasaran. Ia ingin tahu apa yang paling di inginkan oleh Felic.


“Ya misalnya apartemen, rumah, uang atau mobil?”


Heh ...., emang gue sematre itu apa ....., kenapa hati nggak ada di pertanyaan itu? mengecewakan saja ....


“kenapa?”


Felic benar-benar tidak paham dnegan pertanyaan yang di ajukan suaminya itu.


“Ya lo kan tahu gue kaya, gue punya segalanya. Hanya tinggal bilang saja gua akan ngasih!”


“Emang gitu ya kalau jadi istri orang kaya? Semuanya bisa minta?”


“Iya!”


“Enak banget …!” gumam Felic sambil menatap kembali ke depan ke arah rumput liar itu.


“Sekarang


gimana mau tetap jadi istri gue apa enggak?” tanya dokter Frans ingin


memastikan.


“kalau bonusnya lo kaya, gue boleh seneng nggak?”


“Jadi senengnya cuma gara-gara gue kaya?”


“Ya salah satunya!”


“hehh …, tadi aja teriak-teriak bingung bagaimana hadepin gue, eh sekarang matrenya


keluar!”


Mendengar ucapan dokter Frans membuat Felic tercengang, ia tidak menyangka jika pria itu mendengar semua ucapannya.


“Jadi lo mendengarnya?”


“Ya …, bagaimana? Mau ke rumah gue?”


“Rumah lo bukan kos-kosan?”


“Menurut lo, apa ada pemilik rumah sakit yang tinggal di kos-kosan!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya


Kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘


__ADS_2