
Zea berbalik dan mencari ponselnya dan benar saja tergelatak di sana. Ia segera menghubungi suaminya.
"Hallo Ga!" ucap Zea ragu dan segar menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Masih ingat juga telpon suami!?"
Benar kan dia marah ...., Zea kembali mendekatkan ponselnya.
"Maaf, aku cuma ketemu sama Anha!"
"Yakin hanya sama Anha?"
"Iya benar!"
"Nggak bohong?"
Zea menggelengkan kepalanya. Ia tidak sadar dalam sambungan telpon jelas lawan bicaranya tidak akan tahu apa yang ia lakukan.
"Jadi benar kamu bohong?"
"Enggak sungguh!"
"Baiklah, karena kamu sudah berani berbohong jadi lakukan tugasmu dengan baik saat aku pulang!"
Dia mengancam lagi kan, dasar ....
"Bagaimana?"
"Iya, iya!" Zea segara menutup sambungan telponnya.
"Marah, marah aja deh." Zea benar-benar kesal saat ini.
...****...
Di tempat lain, setelah sambungan telpon terputus. Rangga memilih meletakkan begitu saja benda pipih itu di atas tempat tidur.
"Untuk apa papanya Miska menemui Zea? Apa ada hubungannya dengan Miska, atau mungkin ada hal lain yang aku tidak tahu?"
Rangga mengenali pria yang telah menemui istrinya tadi. Tapi ia tidak mungkin bertanya langsung pada Zea selagi Zea belum bersedia cerita padanya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan menyadarkan lamunannya,
"Masuk!"
"Maaf pak Rangga, pak Div menunggu anda di ruangannya!"
"Baiklah, aku akan segera ke sana!"
Rangga sampai melupakan berkas yang sudah di tunggu bos nya. Berkas itu sebenarnya sudah jadi sedari tadi, tapi ia tidak segera mengantarkannya.
"Ini bukankah berkas yang di kirim pihak Mtex group?"
"Iya benar!" seketika senyumnya merekah ia harus segera meminta Div untuk menandatanganinya dan mengirim kembali ke pihak Mtex group.
Rangga bergegas ke ruangan Div, dan benar saja ternyata Div sudah menunggunya dari tadi.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf pak, tadi ada sedikit masalah!"
"Dengan berkas ini?"
"Bukan, ada masalah lain. Tapi sudah terselesaikan!"
Div pun segera memeriksa berkas itu, membubuhkan beberapa tanda tangan pada berkas itu.
__ADS_1
"Aku akan menjemput Divia sendiri, kamu tidak pa pa kan mengantar ini dulu ke Mtex?"
Sepertinya Dewi portuna sedang berpihak padanya, tepat seperti yang ia rencanakan.
"Baik pak!"
Rangga membawa keluar kembali berkas itu, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pak Seno.
...****...
Akhirnya ia sampai juga di sebuah perusahaan, memang tidak sebesar milik finityGroup tapi lumayan berpengaruh di dunia bisnis.
Rangga mempercepat langkahnya dan mengatakan kedatangannya pada pihak resepsionis. Ia yakin pemilik perusahaan itu sudah kembali.
"Pak Seno menunggu di ruangannya, silahkan anda masuk!"
"Terimakasih!"
Akhirnya Rangga sampai juga di depan sebuah pintu berwarna putih.
Tok tok tok
Punggung tangannya segera ia gunakan untuk mengetuk pintu dan tidak berapa lama pintu terbuka,
"Silahkan masuk!" pria yang selalu bersama dengan pak Seno tengah berdiri di balik pintu, pria itu juga yang sudah membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih!"
Terlihat pak Seno sedang duduk membelakangi Rangga. Rangga tetap berdiri sebelum pemilik ruangan mempersilahkannya untuk duduk.
Selang beberapa detik pria itu memutar kursinya dengan kedua tangan yang berada di atas perutnya.
"Rangga, silahkan duduk!"
Rangga pun akhirnya duduk, ia mengeluarkan berkas yang ada di tangannya,
"Terimakasih!" pak Seno segara mengambil dan memeriksanya. Sudah di ACC oleh pihak Divtagroup.
"Apa masih ada yang ingin di bicarakan?" pak Seno bertanya setelah Rangga tak segera berpamitan.
"Sebenarnya ini masalah pribadi!"
"Kebetulan sekali, saya juga ingin membicarakan hal yang sama denganmu!"
Jangan-jangan pak Seno ingin membicarakan tentang Zea ...
"Kenapa hari ini bapak menghampiri istri saya?"
"Istri kamu?" pak Seno mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan siapa yang di maksud. Hari ini ia hanya menemui dua orang saja, Zea dan Anha.
Apa salah satu dari mereka?
"Jadi benar kamu sudah punya istri?"
"Iya pak, maaf! sungguh saya sudah punya istri dan akan menjadi ayah!"
"Lalu bagaimana dengan Miska, dia begitu berharap kamu menjadi suaminya? Kamu bisa mendapatkan apapun jika bersedia menjadi suami Miska? Dia putriku, saya tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya!" tampak pak Seno terpancing amarahnya setelah mengetahui kenyataannya. Walaupun Miska buka putri kandungnya tapi cintanya begitu tulus.
"Maaf, tapi cinta tidak bisa di paksakan! Saya sudah menjelaskan hal ini pada Miska! Tolong setelah ini jangan temui istri saya lagi. Saya permisi!"
Rangga sebefa bangun dari duduk ya dan keluar dari ruangan itu.
Ajudan pak Seno segera menghampiri pak Seno.
"Apa ada masalah tuan?"
"Hari ini siapa saja yang saya temui?"
__ADS_1
"Hanya nona Zea dan nona Anha, tuan!"
"Siapa salah satu dari mereka yang sudah menikah?"
"Berdasarkan data yang saya dapat, nona Zea , tuan!"
Apa mungkin istri Rangga adalah gadis yang bernama Zea itu? Bagaimana kalau dia ternyata benar putriku? Kenapa semuanya jadi serumit ini?
"Apa ada masalah tuan?"
"Cari tahu di mana Miska sekarang dan minta doa untuk menemuiku!"
"Baik tuan!"
...***...
Langit sudah mulai gelap dan pria paruh baya itu baru akan meninggalkan ruangannya.
"Papa!"
Panggilan itu segera menghentikannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memakai jas yang sedari tadi tergantung di sandaran kursi.
"Miska!"
Miska pun segara memeluk papanya,
"Katanya papa nyariin Miska ya? Ada apa pa?"
"Bukan hal yang penting, bagaimana kalau kita makan di luar?"
"Tumben papa ngajak Miska makan di luar?" Miska menatap papanya Dangan penuh curiga.
"Tidak pa pa, kita kan memang sudah lama tidak makan di luar. Papa akhir-akhir ini begitu sibuk!"
Aku tahu papa lagi sibuk apa? Aku nggak akan ngebiarin papa nemuin anak itu, tidak akan ....
"Apa sama mama juga?"
"Nggak, kali ini berdua dulu ya!"
"Baiklah!"
Mata Miska tertarik sebuah foto yang berada di tas meja papanya. Sepertinya pak Seno tidak sengaja menjatuhkannya saat akan mengambil jasnya tadi.
"Oh iya, papa duluan ya. Miska mau benerin baju Miska yang berantakan. Nggak pa pa kan kalau Miska pinjam ruangannya bentar?"
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, papa tunggu di bawah!"
"Siap!"
Setalah pak seno keluar bersama dengan ajudannya. Miska langsung melancarkan aksinya. Ia dengar melihat foto itu dan mengeluarkan ponsel dari tasnya. Menfoto foto itu dengan kamera ponselnya.
Lalu sebuah map yang terlihat berbeda semakin membuatnya penasaran. Sebuah map dengan sampul tebal berwarna hitam, itu jelas bukan berkas perusahaan.
Miska segera memeriksa map itu, dan benar saja ada nama-nama anak di sana. Miska kembali mengeluarkan kamera ponselnya dan menjepret satu persatu hingga sebuah nama yang tidak asing muncul di sana.
"Zea! Jadi Zea termasuk berada di daftar!? Nggak boleh, pokoknya nggak boleh! Apalagi jika anak itu adalah Zea! Enggak!"
Setalah mengambil foto berkas itu, Miska segera mengembalikan berkas itu ke tempatnya dan menyusul papapnya agar tidak curiga.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰 ...