
Zea terkejut saat membuka lemari pendingin yang sudah penuh dengan berbagai bahan makanan.
Siapa yang mengisi lemari pendingin ini, perasaan kemarin masih kosong!?
Zea kembali memeriksa, menutup dan membukanya lagi. Tapi semua bahan makanan itu masih ada.
Bukan mimpi ....
Untuk lebih meyakinkannya, ia pun memegangnya satu per satu.
Nyata!! Lalu siapa yang belanja? Apa ada orang lain di sini selain aku dan Rangga?
"Tapi aku tidak melihat siapapun?"
Zea pun segera meninggalkan dapur, ia juga merasa aneh karena tadi pagi saat bangun tidur makanan sudah tersedia di meja.
Ia mencari benda pipih miliknya dan menghubungi sang suami.
"Hallo Ga!"
"Ada apa? Sudah kangen ya sama aku? Aku masih di jalan dan siap untuk putar balik jika kamu merindukanku!"
"Stop!"
"Aku harus menghentikan mobilku?"
"Bukan!!!! Berhenti bicara dan dengarkan aku bicara!"
"Baiklah, tuan putri! Ada apa?"
"Apa kamu tahu di lemari pendingin kita ada banyak bahan makanan?"
"Iya! Aku memasak dari sana tadi pagi!"
"Apa kamu tahu kemarin lemari pendingin itu kosong?"
"Benarkah?"
"Kamu serius tidak tahu?"
"Tidak!"
"Aku tanya sungguhan, kamu jangan menakutiku!"
Hahaha ...
Terdengar tawa lepas dari seberang sana.
"Ihhhh, kamu mengerjaiku ya?"
"Sedikit! Jadi yang benar, aku tidak tahu kalau lemari pendinginnya sudah kosong, tapi jangan khawatir karena yang mengisi bukan hantu tapi seseorang yang tugasnya mengisi dan memeriksa kalau ada yang kurang!"
"Siapa?"
"Bibi!"
"Bibi? Maksudnya bibi yang ada di rumah kamu?"
"Iya, dia akan datang pagi-pagi sekali sebelum kita bangun dan mengisi lemari pendingin atas perintah dari papa, jadi kamu bisa protes sama orangnya!"
"Papa kamu?"
"Ya, dia takut kalau sampai menantunya kelaparan!"
Setelah tahu jawabannya Zea langsung menutup telponnya tanpa permisi, tidak peduli dengan orang yang menggerutu di seberang sana.
Papa sebaik itu?
__ADS_1
Zea terduduk di sofa sambil memegangi ponselnya.
Hehhhh ...., sayang sekali kenapa mama mertua begitu jahat, seandainya ....
Tiba-tiba notif pesan muncul, ternyata Rangga mengirimkan kontak nomor milik papa mertuanya.
"Ini maksudnya apa?"
Selang beberapa detik ada notif pesan masuk kembali dan sama itu dari Rangga.
// Aku sudah mengirimkan nomor papa untukmu, jika mau bilang terimakasih sama orangnya saja//
Zea termenung menatap pesan dari sang suami.
"Kalau aku telpon papa mertua, aku harus ngomong apa?"
Belum sempat Zea membalas, notif pesan kembali muncul.
//Lain kali aku akan menghukummu jika sampai mematikan telpon tanpa permisi😤//
"Isssttttt, dia benar-benar ya, nggak ngerti dengan suasana hati!"
Zea pun segera mengetikkan pesan balasan.
//Nggak takut😏🤪//
Rangga yang mendapat balasan dari Zea hanya tersenyum dan kembali menyakukan ponselnya. Ia harus segera menjemput Divia dan berencana melanjutkan percakapannya dengan sang istri nanti.
Zea menatap nomor yang baru saja di berikan oleh suaminya.
"Kau ngomongnya gimana ya? Aku telpon nggak ya? Kalau enggak, aku nggak sopan banget, nggak tahu terimakasih lagi!"
Tiba-tiba tanganya tanpa sengaja menekan tombol panggil.
"Yahh yahhhh, gimana nih?" wajahnya berubah panik di tambah panggilan itu sudah terhubung.
Zea segara mengatur nafasnya dan mendekatkan benda pipih itu ke daun telinganya.
Papa mertua sudah tahu ini nomorku?
Zea kembali mendekatkan benda pipih itu setelah menjauhkan sejenak dari telinganya.
"Iya, pa! Maaf menggangu papa pagi-pagi!"
"Nggak pa pa, papa seneng akhirnya kamu mau bicara sama papa!"
Seketika senyum Zea tak mampu ia tahan,
"Iya pa, aku baru tahu nomor papa hari ini!"
"Memang keterlaluan suami kamu itu, oh iya nak. Kata Rangga, mama Rangga buat ulah lagi ya? Maafkan mama Rangga ya!"
"Tidak pa pa, pa! Mama nggak sepenuhnya bersalah! Oh iya pa, terimakasih untuk bahan makanan yang papa kirim buat kami ya!"
"Bukan hal yang besar, papa hanya nggak mau kalau cucu papa sampai kekurangan makanan. Kata bibi kemarin lemari pendingin nya kosong, jadi papa hanya bantu isi aja, jangan sungkan!"
Akhirnya Zea dan papa Rangga terlibat perbincangan cukup lama, sungguh jauh berbeda sikap papa di banding sikap mamanya Rangga. Zea begitu nyaman saat membicarakan banyak hal dengan papa Rangga.
"Begini ternyata rasanya di perhatikan sama papa!"
Ia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, begitu mendapatkannya rasanya begitu bahagia.
Hari ini Zea memasak spesial untuk tamunya nanti malam, ia juga sudah menghubungi Anha untuk datang nanti pas makan malam.
Jam tujuh, Rangga sudah siap menyambut tamu istrinya itu.
"Bagaimana penampilanku Ga?"
__ADS_1
"Bagus, kamu tetap cantik pakek apapun!"
"Kamu emang susah ya di mintai pendapat!" Zea kembali masuk ke dalam kamar dan memastikan jika penampilannya sudah bagus. Bukan penampilan yang mewah, hanya saja ia tidak mau membuat suaminya malu di depan temannya.
Hingga suara bel berbunyi, Rangga yang sudah akan berdiri segera di tahan oleh Zea.
"Biar aku aja!"
"Hmmm!" Rangga pun kembali melanjutkan aktifitasnya.
Zea segera membuka pintu dan benar ada Anha di depan pintu.
"Hai Zee!" Anha melambaikan tangannya.
"Masuk An! Kamu sendiri?"
"Ya begitulah, ini buat kamu!" sebuah bingkisan berisi buah-buahan segar di berikan oleh Anha.
"Makasih An, seharusnya nggak perlu repot-repot. Cukup kamu datang aja sudah buat aku seneng!"
"Tidak pa pa, bukan hal yang besar. Lagi pula ibu hamil butuh banget nutrisi dari buah segar!"
"Masuklah, duduk dulu atau langsung makan malam?"
"Duduk dulu kali ya, suami kamu mana?"
"Bentar aku panggil dulu ya!" Zea pun meninggalkan Anha sambil membawa bingkisan dari Anha.
"Ga, ayo!" Zea memanggil sang suami yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Beginilah rangga, di kantor dia tidak banyak bekerja karena juga harus mengurus Divia dan dia akan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
"Baiklah, aku rapikan dulu ini!"
Zea menunggu hingga suaminya keluar, mereka pun keluar bersamaan.
"Selamat malam!" sapa Rangga membuat Anha mendongakkan kepalanya.
Anha dan Rangga seketika tersenyum bersama-sama.
"Nona Anha!"
"Pak Rangga!"
Mereka bicara bersamaan membuat Zea terpaku,
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
Rangga pun segera mengajak Zea duduk,
"Jadi begini sayang, nona Anha ini adalah sekretaris pribadi pak Pandu. Dia pemilik brand xizey cosmetic!"
Akhirnya percakapan yang zea kira akan berlangsung membosankan karena Anha dan Rangga tidak saling kenal ternyata salah.
Mereka melanjutkan percakapan mereka sampai di meja makan, Mereka bahkan sampai lupa waktu untuk saling bertukar pengalaman.
"Lain kali kalian yang harus ke tempat ku!"
"Pasti, terimakasih ya atas kunjungannya!"
"Sama-sama! Aku pergi, sampai jumpa lagi besok! Salam buat pak Rangga!"
"Hmmm!" Zea melambaikan tangannya pada temannya itu dan kembali menutup pintu saat Anha tidak terlihat lagi di balik pintu lift.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...