
Mereka menikmati malam mereka dengan di temani langit yang bertabur bintang, mereka sedang ingin menikmati malam berdua saja tanpa siapapun.
"Sudah larut, kita masuk yuk!"
Zea menganggukkan kepalanya dan dengan cepat ringan berdiri, membantu Zea untuk berdiri.
"Biar aku gendong ya!"
"Aku bisa sendiri!"
"Tapi aku ingin!"
Tanpa permisi Rangga pun langsung menyusupkan lengannya di balik punggung dan paha Zea, mengangkat tubuh mungil itu dengan sekali hentakan.
Apa yang terjadi sore tadi kembali terjadi, mereka benar-benar menyatu dalam keheningan malam.
...***...
Matahari sudah setinggi orang dewasa, cukup hangat untuk keluar rumah. Terlihat dua sejoli itu sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak bersiap untuk jalan-jalan.
Rangga sengaja menyewa sebuah motor untuk mereka tumpangi selama di puncak.
Saat ini Zea sudah memakai setelan celana dan jaket hudy, entah dari mana Rangga bisa menemukan baju-baju ganti untuk Zea yang masih terlihat baru itu.
"Kita berangkat sekarang?" Rangga memastikan kembali jika Zea sudah siap untuk berangkat.
"Iya!"
Sebelum pergi, ia sudah memberitahu penjaga villa untuk menjaganya selama di tinggal dan membersihkannya.
Tidak banyak motor yang lalu lalang, kebanyakan warga sekitar beraktifitas dengan jalan kaki. Zea sibuk mengabadikan tempat-tempat yang menurutnya indah. Sesekali mengajak Rangga berhenti dan berfoto di beberapa sport yang bagus untuk berfoto.
"Kita ke sana ya!" Zea menunjuk ke sebuah air terjun.
"Airnya dingin loh!"
"Nggak pa pa! Di kota ngga ada kan yang kayak gini!"
Rangga bisa memaklumi sikap keras kepala Zea.
"Baiklah!"
Zea pun dengan cepat menarik tangan Rangga. Mereka meninggalkan motornya di atas karena tidak bisa ke bawah menggunakan motor.
Jika kamu hidupku, aku akan selalu berdoa pada Tuhan agar tetap menjagamu di sampingku, Rangga menatap wajah cantik Zea yang sedang tertawa riang di bawah air terjun.
"Ga, sini! Ayo!"
Rangga pun bersiap menyingsingkan lengan baju dan celananya. Ia menghampiri Zea yang sedang bermain air.
"Enak kan di sini?"
"Hmm! Kamu senang?"
"Sangat senang!"
"Tetaplah tersenyum seperti itu,!"
Zea terdiam dan menatap Rangga, pria itu menurutnya cukup misterius.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Tidak pa pa, aku hanya sedang berfikir saja!"
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak berfikir!"
...***...
Malam ini mereka menghabiskan waktunya di depan perapian, setelah seharian bermain air membuat tubuh mereka sedikit dingin.
Mereka di temani secangkir kopi yang sudah tidak mengepul lagi. Mereka hanya saling diam menatap perapian dengan selimut tebal yang menyatukan tubuh mereka.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Zea mendongakkan kepalanya mencoba menggapai wajah Rangga,
"Apa?"
"Kenapa waktu itu kamu menghindari Felic dan Frans?"
Hehhhhh
Zea menghela nafas, mau sampai kapan ia menyembunyikan hal itu, cepat atau lambat ia akan tahu juga.
"Frans adalah cinta pertamaku, aku hampir menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga mereka!"
Mendengar pernyataan Zea, Rangga sampai menjauhkan tubuhnya. Ia benar-benar tercengang mendengarkan kenyataan itu.
"Ga, sudah aku duga, kamu pasti juga marah padaku!" Zea langsung menampakkan wajah sedihnya. Tanpa permisi air mata itu turun begitu saja mengalir di pipinya yang putih bersih.
"Husss, jangan menangis, kenapa menangis?" Rangga kembali menghampiri Zea yang sudah mendundukan kepalanya, ia mencakup kedua pipi Zea dan menghapus air mata itu.
"Aku bukan wanita baik Ga, aku penghancur rumah tangga orang!"
"Enggak Ze, nggak seperti itu, tenanglah jangan menangis!" Rangga menarik tubuh Zea dan membawanya ke dalam pelukannya, "Sudah jangan menangis!"
"Aku tidak pantas berada dekat dengan siapapun!"
"Siapa bilang! Apa kamu tidak mau tahu kenapa aku terkejut?"
"Aku sama sepertimu, Felic adalah cinta pertama, aku juga pernah berada di antara mereka. Bahkan aku berpikir aku mungkin tidak akan menemukan siapapun yang mampu menggantikan Felic di hatiku!"
"Ga_!"
"Iya Ze, hingga aku bertemu denganmu! Awalnya aku begitu penasaran kenapa kamu selalu bersembunyi ketikan melihat Ersya atau pak Div, sekarang aku tahu apa alasannya! Sebenarnya kita sama Ze, bedanya aku mau berjuang untuk melawannya sedangkan kamu lebih memilih untuk berlari dan bersembunyi!"
"Aku bukan wanita yang kuat Ga, mungkin bibirku bisa mengatakan aku tidak pa pa, tapi hatiku hancur, Ga!"
"Semua tidak akan selesai dengan kita menjauh dari masalah itu, jika kamu ingin melanjutkan hidup maka belajarlah untuk menghadapinya, jangan lari dan pergi karena itu tidak akan menyelesaikan masalah!"
Zea kembali berfikir keras, ia mengakui apa yang sedang ia lakukan ini salah tapi tetap saja untuk berhadapan langsung dengan Frans, ia merasa belum siap.
Mereka kembali terdiam, menatap perapian dengan pikirannya masing-masing.
Hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Rangga, Rangga segera melihat siapa pemilik pesan itu. Itu pesan dari bosnya, seandainya itu dari mama nya ia memilih mengabaikan.
Entah sudah berapa banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari sang mama.
Rangga segera membuka pesan dari Div, wajahnya berubah serius.
"Ze, maaf ya, besok kita pulang tidak pa pa ya, soalnya lusa aku ada kerjaan di luar kota!"
"Iya, tidak pa pa, pak Div pasti sudah sangat menunggumu!"
"Lain kali kita pergi ke pantai!"
"Jangan berjanji! Lebih baik saat bisa baru kamu bicara!"
__ADS_1
...***...
Pagi sekali Rangga dan Zea sudah bersiap-siap. Saat berangkat Zea hanya membawa satu tas kecil yang berisi dompet, ponsel dan beberapa peralatan pribadinya tapi saat pulang ia membawa beberapa paperbag.
"Kenapa aku bawa pulang, memang ini baju aku Ga?"
"Iya, itu aku beli buat kamu!"
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini, aku bisa mengambil bajuku kemarin!"
"Tapi aku ingin membelikannya untukmu!"
Zea tidak mau berdebat lagi, lagi pula ia memang tidak pernah menang jika berdebat dengan Rangga.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Zea.
"Aku nggak ikut masuk ya, soalnya aku harus langsung ke kantor! Kamu tidak pa pa kan?"
"Iya, pekerjaanmu memang jauh lebih penting!"
"Tapi kamu segalanya!"
"Belum saatnya kamu mengatakan hal itu padaku, nanti saat kamu yakin kamu baru boleh mengatakan hal itu, aku turun ya!"
Zea sudah hampir membuka pintu mobil tapi dengan cepat Rangga menahan tangannya.
"Tunggu!"
"Apa_!"
Tiba-tiba bibir Rangga sudah mendarat di bibir Zea, lalu beralih ke keningnya,
"Begini cara berpisah yang benar, nanti malam aku akan datang!"
"Jangan terlalu sering, aku takut orang tuamu akan tahu!"
"Itu akan lebih baik!"
"Tapi aku belum siap!"
Walaupun sebenarnya Zea suka dengan apa yang di katakan oleh Rangga di awal tetap saja ia tidak mau menguasai Rangga seorang diri, masih ada orang tuanya.
"Aku turun!"
"Tunggu! bawa ini!" Rangga menyerahkan sebuah kartu untuk Zea.
"Jangan, aku belum butuh ini!"
"Tapi ini hak mu!"
"Aku tidak mau!" Zea mendorong tangan Rangga kembali, ia segera turun dan melambaikan tangannya.
Mobil Rangga segera berlalu, Zea menatap mobil itu hingga ia tidak mampu lagi untuk menatap bayangan mobil itu.
Saat hendak memasuki halaman rumahnya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang yang duduk di teras rumahnya.
"Mas Rizal!?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...