
Setelah membuat heboh seluruh rumah, Felic segera berpamitan untuk jalan. Wilson sudah
siap menunggu di depan rumah, berjaga-jaga kalau-kalau si nyonya barunya itu
akan kabur lagi.
“Silahkan nyonya!” ucap Wilson sambil membukakan pintu mobil.
“Bisa pakek motor aja nggak?”
“hahhhh?” pasti nih si Wilson mikir gini nih (dasar mak mak rempong ….)
“Pakek motor!?” Felic memastikan jika Wilson mengerti dengan ucapannya.
Jangan macam-macam nyonya …, aku
bisa di jadikan dadar gulung hidup-hidup kalau sampai ketahuan boncengin istrinya ….
Wilson jadi ngeri sendiri mikirinnya.
“Jangan nyonya …! Saya mohon!”
Felic nyengir sendiri, “Nggak kok .., aku cuma becanda!” melihat wajah pucat Wilson
membuatnya kasihan.
Felic pun segera masuk ke dalam mobil, ia bisa melihat Wilson menghela nafas lega
sambil meletakkan tangannya di depan dadanya setelah menutup pintu mobil.
Wilson segera berlari mengitari mobilnya dan masuk dari pintu lainnya yang ada di
depan dan duduk di balik kemudi.
Mobil yang di tumpangi Felic sudah melaju memecah ramainya jalan Jakarta, sepertinya
memang tidak ada ceritanya jalan Jakarta sepi. Felic sudah menunjukkan alamat
yang akan di tuju.
Hingga mereka sampai di depan sebuah kafe yang memang tidak terlalu mewah tapi
lokasinya dekat dengan tempat kerja Ersya. Mereka sudah janjian ketemu pas jam
makan siang, tapi Felic sengaja datang lebih cepat karena suntuk di rumah terus
tanpa melakukan kegiatan apapun selain menulis dan itu pun tidak bisa setenang
seperti di rumahnya dulu,
dulu yang gangguin Cuma ibunya tapi jika di rumah besar, Bi Bolly lebih parah dari ibunya, mampir tiap setengah jam sekali bi Molly
pasti akan mendatanginya dengan membawa anak buahnya di belakangnya lengkap
dengan minuman, makanan, buah, camilan, handuk.
Felic harus ini, harus itu, harus begini, harus begitu hingga Felic kadang lebih
memilih menghabiskan waktunya untuk tidur saja, untung saja sudah dari sononya dia bukan tipe orang yang mudah melar. Mau makan banyak atau kebanyakan tidur tidak akan mempengaruhi berat badannya.
“Wil …, tunggu di sini saja ya!” ucap Felic saat turun dari mobil, “Atau lo bisa
pergi dulu kemana gitu!”
Felic memberi saran pada Wilson supaya ia punya kesempatan hanya berdua saja sama Ersya.
“Maaf nyonya, tapi Tuan tidak mengijinkan saya meninggalkan nyonya sedetikpun!”
Ahhhh …, seandainya yang ngomong
kayak gitu Frans, berbunga-bunga pasti gue …, ‘fe aku nggak akan ngijinin kamu
__ADS_1
pergi sedetik pun dari ku …’ nah …, nah …, gue jadi halu sendiri ….
“Apa kah itu berarti lo akan duduk satu tempat sama gue?”
“tidak begitu nyonya, saya akan duduk di tempat lain yang jaraknya jauh tapi masih
bisa melihat nyonya!”
Inih nih …, aja-ajarannya Frans
…,’aku jauh tapi aku masih bisa melihatmu dalam hatiku …’ cie …, jadi baper lagi gue ….
“Ok lah gue ijinin!”
Dari pada terus berdebat dengan Wilson, Felic memilih segera masuk ke dalam kafe dan
mencari tempat duduk, ia paling tidak suka keramaian makanya ia memilih untuk
duduk di tempat yang sedikit tersembunyi. Di balik jendela dan dinding pemisah
tapi juga sangat nyaman untuk bisa mengawasi semua pengunjung masuk.
Wilson pun membuktikan ucapannya, ia duduk di jarak aman dari Felic tapi masih bisa
memperhatikan gerak-gerik Felic.
Felic memesan satu gelas minuman dingin karena di luar sangat panas. Saat di dalam ia
seperti baru saja jalan-jalan di gurun pasir dan ngadem di kutub utara. Jauh banget ngayalnya.
Sesekali memainkan ponselnya, memang tidak baru-baru banget tapi entah sejak kapan pria
gondrong itu tiba-tiba mengganti ponsel bututnya tanpa seijin pemiliknya.
“kenapa kamera ponsel ini bagus banget ya? Apa memang gue nya yang emang cakep ya!”
Feli terus menjepret kan kamera ke wajahnya sendiri, ia jadi punya kebiasaan narsis
Kali ini pun sama, ia memilih foto yang menurutnya bagus dan mengunggahnya ke sosial media miliknya.
“Ihhhh …, dia nge like postingan gue!” senyum mengembang di bibirnya saat suaminya
sudah nge like saja postingan dengan chapter ‘cantik nggak pakek bohong’.
Padahal baru aja beberapa detik lalu, serasa di perhatiin nih sama suami.
Saat mendapat notif direct message nya ia bisa melihat ada dua yang masuk. Buru-buru
Felic membukanya, ternyata dari dua orang yang berbeda.
Felic mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang me DM dia, “Rangga?!”
Felic hanya melihatnya tanpa berkeinginan untuk membukanya.
Tapi respon berbeda saat ia melihat DM an
dari suaminya dengan cepat ia membukanya.
//Kucing kecil, jangan suka umbar wajah cantik di sosmed ya, biar aku aja yang liat
wajah cantiknya//
“Gue wajib baper nggak nih ya …, ahhhhh …, nggak bisa nih …., gue baper beneran….! Kenapa
dia so sweet banget sih …!”
Felic malah baper sendiri, ia sampai menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil memukul-mukul nya, ia juga segera
menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Nyonya…, nyonya tidak pa pa?” suara seseorang segera menyadarkannya, ia sampai lupa jika sedang berada di tempat umum. Dengan perlahan Felic mengeluarkan wajahnya, ada Wilson di depannya.
__ADS_1
he ….
Felic nyengir kuda deh ketahuan baper sama anak buah,
“nggak pa pa, lo kembali aja! Yakin gue nggak pa pa!”
Di kira nyonya-nya lagi kena saraf atau kerasukan penunggu pojokan kafe kali.
Untung nyonya kalau bukan udah di timpuk kali sama Wilson.
“Saya ke sana nyonya!”
“Iya …, sana …, hussst hussst ….!” Ucap Felic sambil mengibaskan tangannya persis
seperti orang yang sedang ngusir nyamuk.
Setelah Wilson kembali ke tempatnya, Felic kembali melihat direct message dari dokter
frans, senyum kembali mengembang. Memang gombalan suaminya itu paling bisa
bikin hati berbunga-bunga.
Tapi ada direct message yang belum di baca, itu dari Rangga. Penasaran nggak ya?
Penasaran lah ..
//Senyum itu ternyata benar bukan untukku, semangat ya Fe! Tetaplah tersenyum walau
bukan untukku lagi//
Ya ampunn …, kenapa dua pria ini
suka banget bikin gue baper …! Atau memang gue yang suka baperan ….?
Felic lebih memilih menjauhkan ponselnya, dari pada baper berkepanjangan. Ia memilih
memperhatikan sekitar saja sambil sesekali menatap jalan masuk. Tapi matanya
tertuju pada seseorang yang berada di privat room sepertinya karena di sana hanya
ada satu buah meja. Walaupun begitu felic bisa melihat semuanya karena dindingnya berbahan kaca transparan.
Jaraknya juga tidak jauh dari tempat duduknya.
“Mereka cipika cipiki…., keterlaluan sekali mereka …!”
Felic segera bangun dari duduknya dan mengambil gelasnya yang masih terisi penuh
dengan minuman dan berjalan mendekati ke ruangan itu.
“Gue harus bikin perhitungan nih sama mereka!”
Felic mempercepat langkahnya dan berhenti di belakang mereka,
“hey .., kalian!” teriak Felic membuat dua orang itu menoleh pada Felic dan dengan cepat air yang berada di dalam gelas beralih ke wajah mereka.
Byuuuuuuurrrrrrr
Bersambung
Penasaran nggak? Kalau aku sih penasaran!!!!!
Yang penasaran besok lagi ya .....😁😁😁
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1