
"Apa ada yang bisa saya bantu?" seseorang sudah berdiri di dalam ruangan Rangga. Rangga yang baru saja selesai meeting cukup terkejut karena memang hari ini ia tidak ada janji dengan siapapun.
Pria itu segera memutar badannya dan menghadap Rangga,
"Tuan Seno!"
"Iya!"
"Pak Div sudah kembali dari Surabaya, apa anda ingi bertemu dengannya?"
"Tidak, saya ke sini khusus untuk menemuimu!"
"Saya!" Rangga segera tersadar jika tamunya itu belum duduk, "Silahkan duduk tuan!"
"Terimakasih!"
Mereka pun akhirnya duduk di sofa,
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Sedikit, sebenarnya bersifat pribadi, ini tentang Miska!"
"Miska?"
Apa hubungan pak Seno dengan Miska? Rangga mulai mengerutkan keningnya mencari jawaban dalam benaknya sendiri.
"Miska adalah putri saya!"
"Tapi tuan!"
"Saya mohon, saya sangat sedih melihat putri saya terus mengurung diri di dalam kamar. saya tidak akan menuntut tentang kecelakaan itu, tapi bisa kan untuk saat ini kamu temui putri saya!"
"Kebetulan sekali tuan, memang ada hal yang penting yang ingin saya bicarakan dengan Miska!"
Setelah jam makan siang, akhirnya Rangga pun menyempatkan diri ke rumah Miska. Tepatnya rumah keluarga Miska, karena yang ia ketahui Miska jarang tinggal di rumahnya, wanita itu lebih suka tinggal di apartemen dari pada di rumah.
Kedatangannya langsung di sambut bahagia oleh nyonya Widya. Mama Miska.
"Langsung saja ke kamarnya, dia ada di kamar!"
"Baik Tante!"
Rangga pun segera menuju ke kamar Miska.
Tok
Tok
Tok
"Boleh aku masuk?"
Miska yang sedang berselancar dengan gaway nya segera meletakkan begitu saja benda pipih di tangannya itu.
"Rangga!" wajahnya tampak begitu senang, sebenarnya kakinya memang hanya terkilir tapi ia sengaja memalsukan laporan medisnya agar terlihat parah, "Masuklah!"
Rangga mengamati kaki Miska yang berbalut gift,
"Bukankah kemarin hanya terkilir? Kenapa di gift segala?"
Miska memang selalu memiliki seribu macam cara untuk memberi alasan,
"Sebenarnya pemeriksaan malam itu dokternya salah Ga, siangnya aku ke klinik terpercaya aku dan katanya ada yang retak jadi aku harus istirahat untuk beberapa bulan ke depan!"
__ADS_1
"Ohhhh!"
"Duduklah Ga!" Miska menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Aku duduk di sini saja!" Rangga memilih duduk di tempat duduk kecil berbentuk tabung yang ada di sisi tempat tidur.
"Kamu datang pasti sangat mengkhawatirkan aku ya? Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tapi aku akan semakin baik saat bisa liat kamu kayak gini!"
"Enggak! Aku ke sini ada urusan lain!"
Skakmat, Miska mati kutu saat ucapannya langsung di bantah mentah-mentah oleh Rangga.
"Jadi, ada urusan apa?"
"Miska, sama seperti yang aku katakan malam itu. Aku dan kamu tidak ada hubungan apapun, bahkan tidak ada pembicaraan tentang pertunangan atau perjodohan jadi ku harap setelah ini kamu bisa mengerti kalau aku sudah memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupku, dia adalah Zea!"
"Kenapa harus gadis itu sih Ga, kenapa? Apa kurangnya aku?"
"Kamu tidak kurang apapun, hanya saja cinta tidak dapat di paksakan. Beberapa hari lagi kamu juga akan meresmikan hubungan kami di kantor catatan sipil, karena kami akan segera punya bayi!"
"Tapi Ga_!" Miska sudah mengeluarkan air matanya, ia menarik tangan Rangga, memohon agar Rangga tidak melepaskannya.
"Maaf!" Rangga melepaskan tangan Miska lalu berdiri, "Aku rasa semuanya sudah jelas, aku pergi!"
Rangga pun segera meninggalkan kamar Miska, meninggalkan Miska yang menangis histeris.
Mendengar keributan di kamar putrinya, nyonya Widya pun segera menghampiri Rangga yang baru turun dari tangga.
"Rangga, apa yang terjadi? Kenapa dengan Miska?"
"Maaf Tante, saya ke sini hanya untuk memutuskan semuanya. Tolong beri pengertian pada Miska, saya permisi!"
...***...
"Ini keterlaluan, aku tidak mau memiliki cucu dari wanita seperti dia. Harus wanita terhormat yang melahirkan cucuku kelak!"
"Miska punya ini Tante!" Miska menunjukkan botol yang di bawanya.
"Itu apa?"
"Ini jamu herbal yang bisa membuat seseorang keguguran hanya dengan sekali minum!"
"Jadi_!?" terlihat mama Rangga tiba-tiba ragu.
"Kita harus menggugurkan anak itu, sebelum tumbuh besar. Tante nggak mau kan Rangga terus terjerat dengan wanita itu!?"
Mama Rangga tampak menganggukkan kepalanya, "Baiklah aku setuju!"
Akhirnya mereka pun menuju ke rumah Zea, ia tahu sekarang Zea sudah tidak lagi bekerja di minimarket.
Tok
Tok
Tok
Zea yang baru saja membersihkan rumahnya segara membuka pintu. Zea sudah hampir menutupnya kembali saat melihat siapa yang datang, tapi ternyata Miska lebih kuat mendorongnya hingga tubuh Zea terpental ke belakang, beruntung tubuhnya membentur Sandara sofa.
Mereka berdua pun masuk membuat Zea semakin ketakutan,
"Mau apa kalian kemari?"
"Jadi begitu yang cara menyambut ibu mertua!" mama Rangga mengeluh dan ia pun duduk di sofa dan di ikuti oleh Miska.
__ADS_1
Zea yang masih ketakutan enggan untuk duduk.
"Duduklah, Kami ingin bicara!" ucap Miska.
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan antara kita!"
"Ada!" ucap mama Rangga dengan begitu tegas.
Zea pun terpaksa ikut duduk,
"Ada apa?"
"Kami membawa ini!" mama Rangga menyodorkan sebuah botol yang tadi di berikan oleh miska.
"Itu apa te?"
"Kamu harus menggugurkan kandungan kamu, aku tidak mau mempunyai cucu dari kamu!"
"Tante!" Zea begitu terkejut hingga ia berdiri dari duduknya dengan suara yang keras, "Ini cucu Tante, tega ya Tante mau memusnahkan cucu Tante sendiri!"
"Aku tidak akan pernah menganggap itu cucuku, aku nggak mau cucu yang lahir dari rahim kamu!"
"Sampai kapanpun saya akan menjaga anak ini, apalagi dari orang-orang seperti kalian. Jadi tolong tinggalkan rumah saya, saya mohon!"
"Issstttt, dasar tidak tahu diri!" gumam mama Rangga, "Kamu mau minum sendiri atau kami akan memaksanya?"
"Jangan memaksa karena saya tidak akan pernah melakukannya!"
Akhirnya Miska dan mama Rangga pun bangun dari duduknya, mama Rangga mengambil botolnya sedangkan Miska bertugas untuk memegangi Zea.
"Berhenti, kalian mau ngapain? Tetap di tempat jangan sampai aku teriak ya, biar semua orang. datang ke sini!" Zea ingin menghindar tapi dengan cepat tangan Miska sudah lebih dulu menahannya.
"Lepaskan!" Zea meronta tapi terlambat, tangannya sudah di kunci, ternyata Miska begitu kuat hingga ia tidak punya tenaga lebih untuk melepaskan diri.
"Ayo Tante, cepetan!" Miska menahan tubuh Zea agar tetap duduk di sofa.
Mama Rangga dengan cepat mengambil botol itu dan membukanya, perlahan mendekati Zea. Air mata Zea tidak mampu ia tahan lagi sekarang, ia hanya bisa berdoa agar seseorang datang dan menolongnya.
"Tante, aku mohon jangan lakukan ini, ini cucu Tante, anak Rangga. Aku mohon, kasihani dia Tante!" Zea hanya bisa memohon dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Nak, kamu kuat ....
Sekuat tenaga, Zea terus meronta meminta pengampunan atas anaknya.
"Aku mohon, aku bisa lakukan apa saja asal jangan sakiti anakku!"
"Ayo Tante, cepetan! Keburu ada yang datang!" Miska begitu gemas melihat mama Rangga yang tampak ragu untuk meminumkannya.
Tapi saat mendengar Omelan Miska, mama Rangga pun kembali mendekat. Ia nekan kedua ujung bibir Zea agar terbuka tapi Zea dengan sekuat tenaga menahannya agar tidak terbuka.
"Ayo cepat buka mulutnya!"
Zea menggelengkan kepalanya, tapi ternyata cengkeraman mama Rangga begitu kuat, air mata Zea semakin menjadi saat cairan yang ada di dalam botol itu sudah hampir tumpah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1