Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
ke panti


__ADS_3

Matahari sudah lebih dulu menanpakkan sinarnya . Tapi dua sejoli itu masih tetap berada di balik selimut. Dokter Frans yang sudah lebih dulu bangun tidak berniat meninggalkan tempat tidurnya. Ia terus menatap wajah istrinya yang masih tertidur pulas itu.


Ia menjadikan tangannya sebagai bantalan kepalanya agar lebih jelas menatap wajah istrinya itu.


"Kenapa dia manis sekali ....? Rasanya ingin terus berlama-lama menatapnya!" gumam dokter Frans dengan tangannya yang sudah mulai sibuk menempelkan ujung jarinya ke wajah Felic. Ia seperti sedang melukis wajah itu.


Karena merasa ada yang memperhatikan, membuat tidur nyenyak Felic terganggu. Ia mulai membuka matanya. Tapi begitu terkejut saat melihat wajah suaminya di depannya, Felic memundurkan kepalanya karena terlalu terkejut,


"Frans ....!"


Dokter Frans tersenyum,   “Selamat pagi sayang …!”


“Sayang…?” tanya Felic, ia merasa aneh dengan panggilan itu.


“Nggak mau nih di panggil sayang?” tanya dokter Frans sambil meletakkan lengannya di atas pinggang Felic.


“Nggak pantes Frans …!”


"Baiklah ...., tidurlah lagi biar aku lebih lama menatap wajahmu!" ucap dokter Frans lagi.


"Sekarang jam berapa?" tanya Felic sedikit terkejut.


"Masih jam enam, kenapa?" tanya dokter Frans.


"Frans aku harus pergi ....!" ucap Felic dan langsung bangun dari tidurnya, ia segera mengambil selimut itu dan melilitkannya ke tubuhnya sedangkan dokter Frans segera menutup bagian bawah tubuhnya dengan bantal yang ada di sampingnya.


Felic pun segera masuk ke dalam kamar mandi, ia segera mandi dan bersiap-siap.


Dokter Frans masih dengan posisinya yang masih seperti sebelum Felic masuk ke kamar mandi, ia hanya sibuk menatap kemanapun istrinya itu berjalan ke sana kemari.


“Kok sudah rapi sepagi ini, mau ke mana?” tanya dokter Frans.


“Maaf ya aku nggak bisa sarapan sama kamu, aku ada urusan sebentar Frans sebelum ke penerbit, aku mau ke rumah ayah!” ucap Felic sambil sibuk memakai sepatunya.


“Biar aku antar ya …!” ucap dokter Frans dan hendak bangun.


“Nggak usah Frans ...., Wilson juga nggak usah antar!” ucap Felic yang sudah menyelesaikan memakai sepatunya dan beralih ke depan cermin untuk merapikan rambutnya.


“Kenapa? Mencurigakan sekali!” ucap dokter Frans.


"Bukan seperti itu, cuma aku pengen jalan sendiri aja Frans! Nggak pa pa … kan?"


"Tapi aku juga sudah lama tidak ke sana!"


"Lain waktu aja kita ke sana berdua, ya udah aku berangkat dulu ya, sekalian sarapan di rumah ayah!” ucap Felic.


Sebelum keluar kamar, ia kembali menghampiri suaminya dan mencium bibir suaminya itu.


"Bye ...., sampai ketemu nanti malam!"


Felic segera meninggalkan dokter Frans.


Sebenarnya tujuannya saat ini bukan ke rumah orang tuanya, Ia memesan taksi dan menuju ke panti asuhan.


Ada yang harus ia tanyakan pada Zea mengenai masa lalu suaminya, ia yakin Zea tahu tentang suaminya, ia harus mengesampingkan perasaannya demi mengetahui informasi itu.


...***...


 Dokter Frans yang merasa kecewa karena berharap hari ini mereka bisa libur dan menghabiskan waktu yang lebih banyak berdua, tapi ternyata istrinya malah memilih pergi lebih cepat.


Ia pun segera bergegas ke kamar mandi, ia ingin melihat apa yang di lakukan istrinya itu di rumah mertuanya.


Setelah mandi ia ingin menghubungi mertuanya dan menanyakan tentang kedatangan istrinya ke sana.

__ADS_1


"Hahhhh ...., dia bahkan lupa menyiapkan baju untukku!" gumamnya saat sudah keluar dari kamar mandi, akhirnya ia memilih untuk kembali ke ruang ganti dan memilih baju untuknya.


Akhirnya ia menemukan baju untuknya.


Tapi saat hendak ganti baju, ia melihat ada yang janggal di bagian lipatan baju milik Felic, ia pun kemudian mengambilnya, sebuah bungkusan warna coklat.


“Ini apa?” gumamnya.


Dokter Frans pun segera membukanya.


“uang …! Untuk apa Felic mengambil uang sebanyak ini, tapi kenapa gue nggak dapat notif dari bank?”


Dokter Frans segera memakai bajunya dam mengambil ponselnya, mengecek laporan keluar dari rekening Felic, tapi tidak ada daftar pengeluaran sebanyak itu.


“Lalu itu uang dari mana, sebanyak itu lagi?”


Dokter Frans pun segera melakukan panggilan ke rumah mertuanya, ia ingin memastikan apa istrinya benar-benar ke sana karena jika melihat waktu berangkatnya Felic, seharusnya sudah sampai.


“Hallo ayah mertua!” ucap dokter Frans saat sambungan telpon itu terhubung.


“Hallo Frans, ada apa tiba-tiba telpon?!” terdengar suara ayah mertuanya.


“bagaimana kabar ayah? " tanya dokter Frans berbasa-basi.


“Baik nak, gimana Felic sudah lebih sehat sekarang?” tanya ayah Dul.


“Sehat ayah!”


“Salam ya buat Felic, bilang kalau ayah merindukannya!”


“Ayah tidak di rumah?’


“bagaimana Ayah tidak di rumah kalau ayah bisa jawab telpon kamu, ini kan telpon rumah!”


Dokter Frans pun segera mematikan telponnya setelah mendapat jawaban dari sang ayah mertua.


Ia pun kembali melakukan panggilan, kali ini di tujukan kepada istrinya.


“Hallo Fe..!” sapa Dokter Frans setelah terhubung.


“hallo Frans!”


“sudah sampai?" tanyanya berusaha menyelidik.


"sudah dari tadi Frans!"


Dia berbohong ...., kenapa? batin dokter Frans.


"Dari tadi ...!" gumam dokter Frans tapi masih terdengar dari sana.


"Iya, kenapa?"


"Tidak, aku hanya merindukanmu saja!"


Apa yang sedang dia sembunyikan sebenarnya ....


"Baru juga setengah jam, Frans! Ya udah nggak enak di depan ayah, aku tutup dulu ya!”


“Iya ..!”


Sambungan telpon pun terputus, ia masih sibuk memegangi ponselnya.


"Kenapa dia berbohong? Ada apa lagi?"

__ADS_1


Dokter Frans pun melihat GPS ponsel Felic, ia memastikan di mana istrinya sekarang.


“Ini daerah sekitar panti, Apa memang Felic ada di sana, tapi kenapa Fe ke panti?"


...***...


Sesampai di panti, Felic segera menemui pengurus panti.


"hay mbak, selamat pagi!?” sapa Felic pada salah satu pengurus panti.


“Selamat pagi …, ini mbak Felic ya?” tanya pengurus yang masih terlihat seumuran dengan nya.


"Iya …, bisakah saya bertemu dengan Zea?” tanya Felic karena sedari tadi berkeliling tidak menemukan Zea.


“Zea?”


“Iya …, apa Zea nya ada?” tanya Felic lagi.


“Maaf …, tapi zea sudah satu bulan ini tidak di sini, dia memutuskan mengambil bea siswa kuliah


ke luar negri!” ucapnya.


“Jadi dia nggak mengasuh di sini lagi?” tanya Felic penasaran.


“masih mbak, Zea tetap mengirimkan uang setiap bulan, Zea  di sana juga kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan panti dan dirinya!”


Hahhhh ...., gimana dong ini ....? Aku harus gimana dong ...


"Ada apa ya mbak, kok cari Zea?" tanya mbak-mbak itu.


“apa di sini ada yang sudah di sini sama seperti Zea?” tanya Felic kemudian.


“Maaf …, tidak ada soalnya saya masih baru!"


"Sayang sekali ....!" ucap Felic dengan wajah kecewanya.


"Oh iya mbak, dulu ada tapi dia sudah terlalu tua, jadi memilih tinggal bersama anak-anaknya!”


Syukurlah ....., setidaknya gue bisa mencari tahu sedikit-sedikit, syukur-syukur banyak ....


“apa boleh saya minta alamatnya?” tanya Felic dengan begitu bersemangat.


“sebentar ya!”


Mbak itu pun mencari-cari sesuatu di catatan buku besarnya. Ia akhirnya mencatat ulang di kertas kecil dan menyerahkannya pada Felic.


“Ini mbak, tapi sudah lama sekali, bahkan sebelum mbak Zea kembali ke sini, jadi besar kemungkinan sudah pindah atau meninggal dunia!”


“Terimakasih mbak atas informasinya!”


“sama-sama mbak!”


Felic pun meninggalkan panti asuhan dengan berbekal alamat seorang pengasuh lama.


Ia memilih ke kantor penerbit dulu sebelum mencari alamat itu karena sudah terlalu terlambat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2