
Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Zea, ia sudah menghabiskan uang yang cukup banyak untuk hari ini.
"Ahhhh, jadi sayang sama uang-uangnya!" gumamnya sambil menatap paperbag yang begitu banyak berserakan di lantai.
Terlihat bibi sedang memerintahkan pada bawahannya untuk membereskan semua itu ke dalam lemari Zea.
Bibi berjalan mendekati Zea dan duduk di samping Zea yang duduk berselonjor di atas tempat tidur,
"Biar bibi pijitin ya nyonya!"
"Nggak usah bi!"
"Nggak pa pa!" bibi tetap memijit kaki Zea, memang kakinya begitu capek karena seharian ia terus saja berjalan.
"Nyonya lagi sedih ya?"
"Tadi Zea ketemu sama Rangga bi!"
"Bapak_, ehhh maksudnya tuan Rangga? Bagaimana kabarnya?"
"Dia terlihat baik, tapi aku tidak yakin. Wanita itu terus saja mengekorinya!"
"Jangan khawatir nyonya, yang benar pasti yang menang!"
"Semoga ya bi!"
...***...
Ternyata benar saja apa yang di duga Ersya,
Miska benar-benar tidak bisa tidur, ia hanya terus saja mondar-mandir di teras memikirkan apa yang terjadi hari ini,
"Wanita itu beli gaun pengantin, buat apa?"
"Atau jangan-jangan ada hal yang bahkan aku tidak tahu dan dia sudah merencanakan banyak hal tentang ini!?"
"Kalau iya bagaimana? Trus dia rebut lagi Rangga dari aku!"
"Enggak, enggak, pokoknya ini nggak boleh di biarkan, aku harus cari tahu!"
"Tapi gimana? Dia tinggal di mana aja sekarang aku tidak tahu!"
"Apa mamanya Rangga tahu ya tentang tempat tinggal wanita itu sekarang?"
"Iya, sepetinya aku harus hubungi mama Rangga!"
Miska terus saja bermonolog sendiri, ia benar-benar di buat pusing dengan pemikiran-pemikirannya sendiri.
Akhirnya Miska pun mencari ponselnya dan menghubungi mama Rangga,
"Malam Tante!"
"Ya ampun, malam Miska. Ada apa? Ada terjadi sesuatu sama Rangga?"
"Nggak Tante, sebenarnya Miska mau undang om sama Tante buat makan malam aja besok di sini!"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, sekalian Miska mau minta maaf, karena sudah membatasi pertemuan kalian, lagi pula Tante tahu sendiri kan apa alasan Miska lakuin itu!"
"Iya, Tante bisa ngerti kok. Tante juga sudah ngomong sama mama kamu!"
"Ya udah, itu aja ya Tante. Aku mau istirahat dulu!"
Miska dengan cepat mematikan sambungan teleponnya sebelum mama Rangga meminta untuk bicara dengan Rangga.
...***...
Hari ini sudah mulai kelas belajar Zea, pak Seno benar-benar mendatangkan karyawan terbaiknya untuk mengajari Zea tentang perusahaan.
"Kita bisa mulai sekarang nona?"
"Iya, saya siap!"
Di depan Zea saat ini sudah ada setumpuk berkas dan buku-buku yang harus di pelajari Zea, selain itu Zea juga harus belajar bagaimana menghadapi orang banyak.
Satu per satu berkas itu mereka bahas, mulai dari seluk beluk perusahaan dan beberapa kolega perusahaan, produk-produk yang berada di bawah naungan perusahan, cabang-cabang dan beberapa posisi penting di perusahaan.
Zea belajar dengan sangat antusias, ia bahkan mempelajari semua hal yang tidak berhubungan dengan proyek yang akan dia tangani.
"Bagaimana nona Zea, apa ada masalah?"
"Baiklah,s Aya kurang faham di bab ini!"
Wanita cantik itu kembali menjelaskan hingga Zea benar-benar faham, beberapa kali bibi terlihat terus mengantarkan makanan, minuman bahkan camilan agar Zea tidak sampai kehabisan nutrisi.
Di tempat lain, Miska sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk menyambut calon mertuanya, ia memesan banyak makanan dari restauran agar terkesan dia menjadi calon menantu yang baik.
"Pokoknya mereka tidak boleh sampai berubah pikiran terutama si nenek tua itu, kalau si pria itu aku rasa tidak terlalu berpengaruh!"
"Aku harus mendapatkan informasi juga tentang wanita itu, sepertinya sekarang dia sudah jadi wanita papan atas, atau semua ini karena si Ersya itu?"
"Kalau memang iya, pasti akan sangat sulit. Jangankan aku, papa aja tunduk banget sama suaminya!"
Ia juga ingin mengorek informasi dari mama Rangga di mana kira-kira Zea tinggal saat ini.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa saya harus pulang lebih awal?" Rangga terpaksa pulang lebih awal karena Miska terus saja menghubunginya.
Semenjak Rangga pergi bekerja, ia terus saja memanfaatkan waktunya untuk lembur karena merasa tidak nyaman berada dalam satu rumah dengan Miska.
"Pokonya ada surprise buat kamu, jadi sekarang bersiap-siaplah dan segera sambut tamunya!"
"Kamu jangan macam-macam ya!" Rangga selalu curiga dengan Miska karena memang wanita itu selalu melakukan hal-hal yang sulit untuk di pikirkan.
"Enggak, emang aku macam-macam apa!?"
"Isssttt!?"
Walaupun curiga, akhirnya Rangga menuruti permintaan Miska. Ia segera membersihkan diri dan bersiap untuk menyambut tamu Miska.
Tepat jam tujuh malam, pintu apartemennya di ketuk dari luar, dengan malas Rangga beranjak dari duduknya dan membukakan pintu itu.
"Mama, papa!?" Rangga benar-benar surprize kali ini.
"Ya ampun Rangga, mama kangen!" dengan cepat mamanya memeluknya begitu erat, papa Rangga masih berdiri di tempatnya sedangkan tangannya sedang membawa berbagai bingkisan untuk Rangga.
__ADS_1
"Masuk ma, pa!"
Rangga segera mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam apartemen, mereka jarang sekali bertemu seperti ini. Bahkan saat ia ingin ke rumah orang tuanya, Miska selalu saja punya cara agar rangga tidak sampai datang ke rumah orang tuanya.
"Miska sudah siapkan makan malam spesial untuk papa sama Mama!"
"Benarkah? Oh iya, mama bawakan oleh-oleh buat kamu, ini semua makanan kesukaanmu dan juga buah-buahan segar!"
Papa Rangga menyerahkan semua itu, membuat Rangga merasa tidak enak,
"Seharusnya papa sama Mama nggak perlu kayak gini, cukup papa sama Mama ke sini saja Rangga sudah sangat senang! Bagaimana kabar kalian?"
"Seperti yang kamu lihat! Kami baik!"
"Syukurlah!"
Belum sampai selesai mereka saling bertukar kabar, Miska segera datang.
"Kalian sudah datang, ayo kita makan. Makan malamnya sudah siap! Baru nanti ngobrol lagi."
Miska bicara dengan nada semanis mungkin, tapi tetap saja hal itu tidak akan mempan bagi papa Rangga. Pria itu tetap saja bersikap dingin, ia bahkan tidak mau menyapa wanita ular itu.
Mereka pun akhirnya makan malam sambil mengobrol tapi sayang setiap kali papa atau mama rangga ingin bertanya pada Rangga, Miska akan selalu mengambil alih jawabannya.
Miska selalu saja berusaha untuk menjauhkan Rangga dari orang tuanya, ia tidak mau sampai ada pembicaraan yang mengarah pada Zea.
Hingga makan malam pun selesai, Miska mengajak mama Rangga untuk membantunya mengambil camilan untuk teman mereka ngobrol.
"Tante, sebenarnya ada yang Miska mau omongin sama Tante!"
"Apa?"
"Tadi aku ketemu sama Zea!?"
"Benarkah?" terlihat mama Rangga juga cukup terkejut, karena semejak mereka mengusir Zea waktu itu, mereka tidak pernah lagi bertemu dengan Zea.
"Iya, dia ngrebut gaun pengantin aku!"
"Kok bisa? Buat apa?"
"Miska juga nggak tahu. Tante tahu nggak sekarang wanita itu tinggal di mana?"
"Mana Tante tahu, semejak hari itu Tante tidak pernah bertemu dengan dia!"
"Kalau paman?"
"Dia_, Tante nggak yakin, tapi sepertinya juga nggak deh!"
"Jangan sepertinya dong Tante, yang yakin gitu loh. Atau Tante bisa kan cari tahu, pasti om ada hal-hal yang di sembunyiin!"
"Mungkin, ya udah nanti biar Tante cari tahu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...