
Zea sudah menyelesaikan masakannya, ia begitu senang saat melihat papanya masih setia menunggu di rumah itu,
"Ayo pa, kita makan malam dulu!"
"Iya pasti!"
Rasanya seharian kebersamaan mereka hari ini benar-benar waktu yang sangat berharga bagi pak Seno.
"Wahhhh senengnya papa, akhirnya bisa merasakan masakan putri papa!"
"Zea masih belajar masaknya pa, jadi nanti papa harus kasih penilaian!"
"Baiklah!"
Zea sudah mengisi pori g kosong pak Seno dengan makanan, dengan cepat pria paruh baya itu menyantap makanannya. Senyum langsung mengembang seiring dengan kunyahannya.
"Gimana pa?" Zea sudah khawatir masakannya tidak akan enak.
"Kamu tahu ini masakan terenak kedua yang papa makan!"
"Ihhh papa berlebihan, tapi memang siapa terenak pertamanya pa?" Zea jadi penasaran dengan ucapan papanya,
"Mama kamu!"
"Ihhhh papa romantis banget, pantes mama cinta mati sama papa!"
"Papa juga!"
Walaupun awalnya meragukan karena sang papa telah menikah lagi bahkan ia rela melepaskan mamanya demi wanita baru itu, tapi dari sorot mata sang papa, Zea bisaa melihat ketulusan cinta itu saat mereka berada di makan kemarin.
Setelah selesai makan malam, akhirnya pak Seno berpamitan, ia tidak mungkin terus tinggal di sana karena bisa membuat istri dan anak tirinya curiga. Zea pun memilih mengantarkan pak Seno sampai di depan rumah.
"Selamat malam putriku, mimpi yang indah ya. Papa akan datang lagi besok!"
"Selamat malam pa!" Zea melambaikan tangannya hingga mobil itu benar-benar menghilang dari pelupuk mata.
Senyum terus mengembang meskipun Zea sudah memasuki rumah mewahnya itu. Seakan kesedihan yang ia lalui beberapa Minggu ini menguap begitu saja berganti dengan kebahagiaan, walaupun belum sempurna setidaknya ia bisa bersyukur dengan cinta ia ia miliki saat ini.
Ia sudah melihat sekilas kamar barunya, kali ini ia bisa puas mengamati kamar itu, begitu luas bahkan kamar itu lebih luas di bandingkan dengan kontrakan lamanya.
"Wahhhh rumah ini kalau di kontrakan per petaknya pasti bisa di huni lebih dari sepuluh penyewa!" jiwa bisnisnya seolah meronta melihat betapa luasnya rumah ini dan hanya di huni oleh dirinya dan beberapa pelayan saja.
Tok tok tok
"Nyonya, ini bibi!"
"Masuk bi!"
Zea menatap ke arah pintu dan benar bibi masuk dengan membawa segelas susu hangat di tangannya,
"Ini bibi buatkan susu hamil nyonya, diminum ya nyonya!"
"Terimakasih ya Bi, duduk dulu bi. Zea mau tanya nih!"
"Saya berdiri saja nyonya!"
"Jangan kaku gitu ah bi!" Zea langsung menarik tangan bibi agar ikut duduk di tepi tempat tidur king size nya itu.
"Ada apa nyonya?"
Zea langsung menatap pada bibi, "Bi, sekarang cerita sama Zea, bagaimana bisa bibi tiba-tiba ada di sini?"
"Sebenarnya beberapa hari ini, pria yang selalu bersama dengan tuan Seno, papanya nyonya. Dia selalu datang ke rumah dan meyakinkan bibi untuk tinggal di rumah ini karena nyonya Zea juga akan ke sini. Melihat betapa foto yang di berikan, bibi jadi yakin makannya bibi langsung menerima tawaran tuan itu!"
__ADS_1
"Ohhh bibi curang, bibi malah lebih tahu dari Zea!"
"Sesekali bikin surprise buat nyonya kan nggak pa pa!"
"Ihhh nyonya, nyonya! Zea canggung bi dengernya!"
"Harus terbiasa nyonya, ini keren!"
"Bibi juga keren, apalagi seragam baru bibi, jadi tampak sepuluh tahun lebih muda!"
"Ahhh nyonya berlebihan!"
"Tidak bi, sungguh!"
...***...
Pagi ini Zea sudah bersiap-siap untuk menemui papa mertuanya, ia sudah membuat janji untuk bertemu tapi bukan di rumah.
Tapi saat ia membuka pintu, di depan ternyata ajudan papanya Sudja berdiri di depan pintu,
"Anda?!"
"Maaf nona, pagi-pagi sudah menganggu waktu anda!"
"Ada apa ya?"
"Saya di minta tuan untuk menyerahkan ini!" ajudan pak Seno menyerahkan sebuah kartu gold yang sudah siap di pakai.
"Ini apa?"
"Nona bisa menggunakan kartu itu untuk apa saja, kodenya tanggal lahir nona! Nona bisa menggantinya apa saja nanti!"
"Tapi saya tidak perlu ini!"
"Baiklah jika anda memaksa!"
"Baiklah kalau begitu saya permisi, sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!"
Ajudan pak Seno segera pergi, ternyata ia pagi-pagi datang hanya untuk menyerahkan kartu itu.
Zea segera memanggil supir pribadinya yang sudah di tunjuk oleh sang papa,
"Pak tolong antar saya ke xx ya!"
"Baik nyonya!"
Zea benar-benar di perlakukan layaknya tuan putri, bahkan pintu mobil pun di bukakan oleh sopir. Walaupun tidak nyaman, Zea harus terbiasa dengan semua itu.
Hari ini selain bertemu dengan papa mertuanya, dia juga akan menemui Ersya, karena Ersya yang akan membantunya mempelajari cara hidup orang kalangan atas.
Akhirnya mobil melaju dan setelah seperempat jam mobil berhenti di depan sebuah restauran yang menyajikan sarapan.
"Selamat datang!"
"Terimakasih, meja yang saya pesan atas nama Zea!"
"Mari nona saya antar!" pelayan restoran itu segera mengantar Zea ke meja yang sudah ia pesan sebelumnya dan ternyata papa mertuanya sudah di sana.
"Silahkan nona!"
"Terimakasih!"
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, Zea pun segera duduk. terlihat pak Beni begitu terkagum dengan penampilan baru Zea, tampak begitu elegan dengan dress selututnya di lapisi dengan blezzer polos yang menutup bagian atas tubuhnya,
"Zea! Papa sampai pangling!"
"Bagaimana kabar papa?"
"Papa baik, kamu? Dan cucu papa?"
"Semua baik pa!"
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Zea segara mengangkat tangannya memanggil pelayan,
"Saya pesan ini, papa mau makan apa?"
"Sama seperti punya kamu saja!"
"Baiklah, ini, ini, ini, ink, semuanya dua porsi!"
"Baik nona!"
Pak Beni masih terus saja mengamati perubahan menantunya itu. Dari menantu yang begitu sederhana dan sekarang tampak luar biasa dan berkelas,
"Nak, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Papa tidak usah khawatirkan Zea pa, Zea baik-baik saja. Nanti papa juga tahu sendiri. Sebaiknya kita sarapan dulu pa!"
Dua pelayan datang dengan membayar berbagai macam makanan yang sudah di pesan oleh Zea,
"Ayo pa, kita sarapan!"
"Nak, bukankah ini terlalu berlebihan? Ini semua makanan mahal!"
"Sesekali makan makanan seperti ini tidak pa pa kan pa!"
"Tapi nak_!"
"Zea tidak melakukan hal yangs alah atau melanggar norma pa, jadi jangan khawatir!"
"Baiklah papa percaya sama kamu!"
Mereka pun akhirnya melanjutkan sarapan, walaupun sedikit was-was tapi pak Beni berusaha untuk mempercayai menantunya itu.
"Sekarang jelaskan sama papa apa yang terjadi?"
Zea pun memilih merogoh tasnya dan memberikan sebuah undangan eksklusif untuk papa mertuanya itu,
"Papa harus datang, jika papa ingin tahu semuanya!"
"Ini undangan apa?"
"Itu undangan salah satu kolega bisnis Rangga, di sana nanti papa juga bisa bertemu dengan Rangga, ajak mama juga ya pa!"
Pak Beni tampak mengusap matanya yang berkaca, harapannya untuk bertemu dengan putranya seakan terbuka. Meskipun bisa ia tidak ingin menemui Rangga di kantor karena takut menggangu pekerjaan Rangga.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1