Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Aku bukan orang jahat


__ADS_3

Felic yang selesai membersihkan diri, ia segera keluar dari dalam kamar mandi. Ia


melihat kembali pria yang sedang berada di atas tempat tidurnya, tidak ada


pergerakan di sana membuat felic terpancing untuk mendekatinya. Ia melihat mata


pria itu sedang terpejam, Felic pun semakin mendekat, dengan sedikit


mengendap-endap. Ia menggoyang-goyangkan telapak tangannya di atas mata dokter


Frans yang sedang terpejam.


“Cepat sekali dia tidurnya!” gumam Felic, ia pun hendak meninggalkan pria yang


sekarang sudah berstatus suaminya itu tapi segera ia urungkan. Ia kembali


menatap pria itu.


“Sebenarnya dia tidak buruk, dan lagi mas kawinnya, dari mana dia punya uang sebanyak itu, membayangkan saja aku tidak pernah mampu, dan sekarang dia , pria ini memberiku


uang cuma-cuma sebanyak itu!” Felic terus mengamati wajah tampan pria itu,


begitu tenang dengan sedikit dengkuran halusnya, Felic memicingkan matanya,


menduga-duga sesuatu.


Setelah pikirannya sudah mulai mengalahkan logika, ia pun segera menggelengkan


kepalanya dengan cepat. “Tidak-tidak …., aku harus memastikannya!”


Felic pun benar-benar meninggalkan pria itu, ia mencari mas kawin yang di berikan


oleh suaminya itu, di meja dengan kotak kecil yang membungkusnya.


“apa ini uang lima ratus juta? Kecil sekali!” ucap Felic sambil memutar-mutar kotak


kecil itu, kotak kecil yang hanya selebar buku tulis itu, tebalnya juga tidak begitu tebal hanya sepuluh centi an, begitu indah dengan di lapisi kain bludru berwarna merah tua. Felic pun mencari tempat duduk, ia dengan perlahan membuka kotak


kecil itu.


Ternyata apa yang dia harapkan tidak sama dengan kenyataannya, ia membayangkan uang yang di masukkan ke dalam kotak dengan lembaran seratus ribuan yang di lipat


kecil-kecil hingga ia akan kesulitan untuk kembali menutupnya karena terlalu


banyaknya.


“heh …., aku kira. Padahal aku sudah membayangkannya …!”


Felic tersenyum sendiri dengan kebodohannya, Felic mengambil sebuah buku kecil itu


lengkap dengan sebuah kartu. Ia membuka buku kecil itu, matanya langsung


membelalak setelah melihat banyaknya nol di belakang angka lima itu. Bukan Cuma


itu, angka limanya tidak hanya satu, ada dua angka lima di ikuti nol yang


jumlahnya sama.


“satu …, dua …, tiga …., empat …., lima …., enam …., tujuh …., delapan ….!” Dengan


perlahan Felic menghitungnya.


“Ini benar kan ada delapan nolnya dengan anka lima di depannya sebanyak dua kali!


Itu berarti satu milyar!”


Melihat angka-angka itu semakin membuatnya bingung, ia memilih meletakkan begitu saja


buku itu di atas meja, bulu kuduknya malah berdiri.


Ia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur dinding, matanya bergantian menatap buku itu dan pria yang tidur pulas di atas tempat tidur secara bergantian dengan cepat, saat ini sangat sulit baginya hanya untuk menelan kembali salivanya.


“Siapa dia sebenarnya? Kenapa punya uang sebanyak itu?” Tangan Felic mulai bergetar.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan dia ******* yang menyamar jadi dokter, atau dia seorang perampok


bank dan berusaha mencuci uangnya dengan mengalih namakan menjadi namaku agar


tidak di curigai!”


“Ahhhh …., pemikiran-pemikiran ini benar-benar membuatku takut …, bagaimana kalau dia


menyandraku dan keluargaku agar tidak di kejar polisi?!”


Felic mengeluh sambil menjambak rambutnya, membalik tubuhnya dan membentur-benturkan


kepalanya ke dinding di depannya. Cukup lama, ia terus meratapi nasibnya, mengacak-acak rambut  dan membenturkannya


ke dinding.


Tiba-tiba sebuah tangan yang tiba-tiba menempel di bahunya membuatrnya begitu terkejut hingga membuat jantungnya serasa meninggalkan tubuhnya.


“Lo kenapa? Lo sudah mulai gila ya karena telah menikah dengan pria setampan gue?” suara barito itu semakin membuat Felic panik, ia memejamkan matanya, dengan perlahan ia membalik badannya setelah tubuhnya merasa siap.


“Ada apa?’ tanya dokter Frans lagi sambil mengangkat kedua alisnya saat melihat wajah pucat Felic.


“Em …e …, ti-dak …!” ucap Felic gugup sambil meninggalkan dokter Frans seorang


diri, Felic memilih menghindar.


Melihat tingkah aneh Felic, dokter Frans memilih masa bodo. Ia yang masih memakai


kemeja pengantinnya segera mengambil tas ransel yang sebelumnya sudah ia


siapkan. Ia mengambil sepasang baju santai dan meletakkannya di atas tempat


tidur lalu ia mengambil handuk dan membawanya ke kamar mandi. Ia memilih untuk mandi karena hari sudah mulai malam.


Felic memilih membantu ibunya menyiapkan makan malam, walaupun sebelumnya begitu


jarang ia di dapur. Ia begitu takut menghadapi dokter Frans, ia begitu takut membayangkan hanya berdua saja dengan pria itu.


“Fe…, panggil suamimu!” perintah ibu Felic.


“bentar lagi juga turun bu!”


Dan benar saja, belum sampai mendapat perintah ke dua, dokter frans sudah lebih


dulu turun dari kamarnya.


“Malam ibu mertua, ayah mertua…!” sapa dokter Frans secara bergantian, kemudian ia melihat Felic yang tidak berani menatapnya seperti biasanya. "Malam istriku!"


Sapaan dokter Frans membuat jantung Felic berdebar lebih kencang lagi.


“Malam Frans …., ayo makan!” ajak ayah Felic. Dokter Frans pun duduk di samping Felic,


Felic yang masih kepikiran dengan yang tadi, ia begitu tegang.


“Kenapa sayang ….? Apa ada masalah?’ tanya dokter Frans dengan manisnya, membuat Felic


semakin merinding. Ia dengan senyum terpaksa menatap suaminya.


“Di tanya suaminya, itu jawab Fe, Masih gugup ya karena pengantin baru? Dulu ibumu juga begitu!” ucap ayahnya sambil tertawa mengingat masa-masa itu.


“Nggak kok yah, bukan begitu. Felic hanya sedikit kurang nyaman saja!” jawab felic dengan gugup.


“Yang tanya suami kok jawabnya ke ayah!” ayah Felic tersenyum menggoda dan di sambut


senyum juga oleh ibu dan dokter Frans.


“Tumben-tumbenan Fe jadi pemalu gitu ya yah …!” guda ibunya.


“Maklum lah bu, pengantin baru! Ya masih malu-malu gitu, kayak ibu dulu tidak saja!”


Felic sama sekali tidak berani menimpali ucapan ayah dan ibunya. Ia terlalu takut


dengan pikirannya sendiri. Sesekali dokter Frans melemparkan candaannya selama

__ADS_1


makan malam, sekarang rumah itu tidak sehening biasanya.


Setelah selesai makan malam, dokter frans dan ayah Felic memilih mengobrol di depan


rumah sedangkan Felic dan ibunya membersihkan meja makan dan mencuci piring.


“Felic ke atas dulu ya bu!” ucap felic saat semua pekerjaannya sudah selesai.


“Nggak nunggu suami kamu?”


“Nggak ah bu, Felic ngantuk!”


Felic pun segera berlari ke kamar, ia memilih ke kamar dan mencoba meyakinkan dirinya


agar bisa bertanya langsung pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


“Aku harus memastikannya, kalau mati mati aja deh …., asal jangan bawa-bawa keluarga


gue …., gue harus nyelesaiin semuanya sekarang juga sebelum terlambat kan!”


Felic mondar-mandir di dalam kamar, ia menunggu hingga dokter Frans masuk. Tapi


laki-laki itu tak juga naik ke kamarnya.


“lama sekali sih dia ….., gue sudah deg degan banget nih …, rasanya nafas gue tinggal hari ini saja!” Felic meremas ujung


piama nya, ia terus saja mondar-mandir tidak jelas, hingga suara pintu terbuka


membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Ceklek


Felic terdiam di tempatnya sambil menatap lurus ke pintu. Pria tampan dengan


perawakan putih tinggi dengan rambut sebahunya mulai mendekat ke arahnya.


“Hallo …., kenapa menatap gue seperti itu, kayak liat setan aja!!” ucap dokter Frans


sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Felic.


Gue harus berani …., kalau nggak …,


bisa-bisa terlambat dan semuanya menjadi semakin buruk …


“Kenapa malah kayak gitu? Emang gue nyeremin banget ya?” tanya dokter Frans sambil memegangi wajahnya. “Perasaan tampan…, sudah dari sananya sih tampan!” gumam Dokter Frans kemudian.


“Gue mau tanya sesuatu, tapi jawab yang jujur ya!”


“Serius amet!”


“Ini mengenai hidup dan mati gue, gue janji kalau lo jujur gua nggak bakalan laporin


lo ke kantor polisi!”


“Kantor polisi? Emang salah gue apa?” mendengar kata polisi, dokter Frans begitu terkejut.


“Asal lo nglepasin gue dan keluarga gue!”


“Sebenarnya lo ngomong apa sih, gue nggak ngerti! Ngigo ya lo?” ucap dokter Frans sambil berlalu, tapi Felic segera menahan tangannya.


“Lo penjahat kan?”


“Penjahat …? Gue bukan penjahat! Gila aja lo, keren begini di bilang penjahat …!” ucap dokter Frans kesal.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘

__ADS_1


__ADS_2