
...Mungkin aku lupa siapa kamu, tapi hati aku tidak akan pernah lupa siapa pemiliknya. Dan hati inilah yang akan membawa aku kembali padamu...
...🌺🌺🌺...
Zea tampak udah siap dengan pakaian rapinya, ia memakai flat shoes dan baju yang sedikit longgar dengan rambut yang di ikat satu di belakang, menyisakan beberapa anak rambut di sisi kanan dan kiri.
"Buk, ibuk mau ke mana?"
Bibi yang baru saja dari pasar segera menghampiri Zea.
"Zea pergi dulu bi, ada yang mau Zea temui. Jangan khawatir tidak sampai sore Zea kembali!"
"Tap apa ibuk sudah makan tadi?"
"Sudah bi, bahkan Zea sudah meminum susunya juga!"
"Ya udah, ibuk hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi bibi!"
"Iya bi!"
Zea sudah memesan sebuah taksi yang menunggunya di luar rumah.
"Kita ke daerah xxx ya pak!"
"Baik mbak!"
Taksi pun mulai melaju meninggalkan tempat tinggal Zea yang baru, Zea hari ini begitu merasa yakin. Ia berharap nanti setidaknya sekali saja bisa di pertemukan dengan Rangga tanpa sengaja
Ia begitu merindukan suaminya, walaupun hanya sekali tanpa menyapa sudah akan membuatnya senang. Oleh karena itu Zea sengaja mengambil tempat di dekat apartemen.
Anha sudah menghubungi dirinya beberapa kali, karena Zea berjanji akan bertemu pagi sekali agar tidak menggangu pekerjaan Anha.
Akhirnya ia sampai juga di taman yang di maksud, taman yang lokasinya tepat di depan apartemen suaminya. Biasanya jika di hari libur seperti ini suaminya akan turun dan lari mengelilingi taman, ia berharap hari ini pun sama.
"Zea, aku merindukanmu!" Anha langsung memeluk Zea begitu melihatnya. "Bagaimana kabar kamu?"
"Sekarang jauh lebih baik!"
"Duduklah, ini aku bawakan minum tadi. Biasanya ibu hamil gampang haus!"
"Kamu perhatian sekali!"
"Biasa aja, bagaimana pak tajir sudah menanggapi kan?"
"Iya, siang ini juga dia akan menghubungiku dan kita janjian di dekat-dekat sini!"
"Baguslah, oh iya kamu mau cerita apa?"
"Mengenai suamiku!"
Zea pun langsung menceritakan semuanya pada Anha.
"Ya Allah, jadi yang di dalam sana manusia rubah, bener-bener ya!" Anha begitu kesal sampai meremas handuknya.
"Jadi kamu bisa kan bantu aku!?"
"Aku harus bantu apa?"
"Mertuaku kesulitan buat mengetahui perkembangan Rangga, kamu yang paling dekat tempat tinggalnya, bisa kan bantu mengawasi suami aku?"
__ADS_1
"Siap, aku pasti akan lakukan!"
"Terimakasih banyak ya!"
Anha kemudian melihat jam tangannya,
"Ya ampun sudah jam sebelas, maaf ya aku harus pergi. Kamu tahu kan aku nggak di kasih libur sama bosku!?"
"Kayaknya bos kamu yang modus tuh, masak hari Minggu juga nggak libur!"
"Ya nggak pa pa sih, untung dia ganteng jadi nggak bikin bosan seharian Deket sama dia!"
"Waduh, kayaknya ada bumbu-bumbu cintanya nih!"
"Udah ah jangan ngaco, kamu mah tetep di sini atau ke tempatku aja!"
"Aku di sini aja, bentar lagi juga akan pergi. jadi jangan khawatir!"
"Sampai jumpa lagi!"
Anha pun berjalan cepat sedikit berlari meninggalkan Zea, dia harus segera pergi ke kantornya.
Zea memilih tetap duduk di taman itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, "Biasanya ia akan melihat Rangga dari jendela atas itu!"
Zea mendongakkan kepalanya tepat menghadap ke apartemen tempat Rangga tinggal,
"Dan sekarang aku berharap Rangga bisa melihatku dari sana juga!"
Zea kembali menundukkan kepalanya, kemudian mendengar suara seseorang yang tidak begitu asing sedang berbicara di telpon,
"Rangga!?" gumamnya lirih.
Apa itu artinya Rangga sudah mulai bekerja? Syukurlah kalau begitu ....
Ia bisa melihat suaminya sudah baik-baik saja sudah cukup membuatnya senang. Ia terus menatap suaminya, rasanya tidak akan bosan menatapnya.
Hingga akhirnya Rangga menutup telponnya dengan cepat Zea kembali berbalik sebelum Rangga menyadari jika dia sedang memperhatikannya.
Zea masih tidak beranjak dari tempatnya, ia melirik ke tempat Rangga.
Dia masih duduk, syukurlah ...., aku harus cari cara agar bisa bicara sama Rangga ....
Tetap saja perasaan serakah menghampiri, ia tidak mau hanya sekedar bisa melihatnya.
Zea menatap dompetnya, dan muncul sebuah ide.
Zea segara berjalan mendekati ke arah Rangga, ia sengaja berjalan di depan Rangga dan menjatuhkan dompetnya.
Satu ...., dua ...., ti ....
"Mbak ...., mbak ....!"
Zea tersenyum dan menoleh ke arah Rangga,
"Iya?"
"Dompet anda jatuh!"
Rangga hampir berjalan menghampiri Zea, tapi Zea dengan cepat berjalan mendekat,
__ADS_1
"Ya ampun, terimakasih banyak ya mas, nggak tahu kalau nggak ada mas, aku pasti nggak bisa pulang!"
Zea berusaha bersikap biasa saja seperti tidak saling kenal, tapi Rangga sepertinya mengingat sesuatu.
"Mbak ini yang di rumah sakit waktu itu kan?"
Zea diam, ia berusaha mencari alasan sekarang,
"Iya!"
"Jadi anda kenal sama saya?"
Aku harus ngomong apa ya?
"Enggak, waktu itu aku hanya salah kamar aja mas!"
"Tapi papa saya mengenal anda kan?"
"Mungkin!"
"Kok mungkin, nggak yakin banget! Kenalkan aku Rangga!" Rangga langsung mengulurkan tangannya, persis seperti saat pertama kali mereka bertemu, Rangga yang bersikap sok kenal dengan dia.
Mungkin aku harus mengulang kejadian itu agar Rangga bisa mengingatku kembali ....
"Terimakasih ya dompetnya!" Zea langsung menarik dompetnya dari tangan Rangga, "Tapi maaf, aku nggak tertarik tuh kenalan sama kamu!"
Zea berlalu begitu saja meninggalkan Rangga yang masih terdiam di tempatnya. Zea segera bersembunyi di balik tiang besar dan mengamati Rangga dari kejauhan.
"Maafkan aku, ingin sekali aku memegang tanganmu, bukan hanya itu, aku juga ingin memelukmu. Tapi aku harus melakukan ini, aku harus buat kamu kembali ingat sama aku!"
Zea mulai menghapus air matanya yang keluar tanpa di perintah.
Terlihat Rangga memegangi tangannya,
"Dia sombong sekali! Aku kan cuma pengen kenalan, apa susahnya!?" gumamnya.
Tapi tanpa ia sadari, bibirnya tersenyum tipis. Ia menyukai ini ada getaran yang tiba-tiba hadir saat menatap wajah Zea. Getaran yang tidak pernah ia rasakan saat dekat dengan Miska.
Tiba-tiba suara ponsel yang berdering dari tas Zea mengalihkan perhatiannya dari Rangga.
Ia dengan cepat merogoh tasnya dan itu telpon dari ajudan pak Seno.
"Iya hallo!"
"Saya sudah mengirimkan lokasinya, kita bertemu di sana sambil makan siang!"
"Baik!"
Zea kembali mematikan sambungan telponnya saat ia kembali menatap ke arah Rangga ternyata Rangga sudah tidak berada di tempatnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1